310. S2. Eh, Ini apa?.
310, S2. Eh, Ini apa?.
★★★★★
Terasa makin dag-dig-dug tak karuan di dalam dadaku. Betapa tidak keduanya, Gimen dan Dimas ke-SANGE-an AKUT.
Keduanya telah memiringkan tubuhnya masing masing menghadapku.
Aku berharap kejadian ini tidak pernah terjadi. Aku tidak menyangka hal ini terjadi.
Padahal sekuatnya aku menahan godaan, tapi ternyata apa? Aku disuguhkan hal yang tak terduga seperti sekarang. Apa yang musti aku lakukan? Menikmati saja, atau menolak atau memilih pergi dari tenda. Tapi, bukan kah ini tadi keputusan buat tidur bareng mereka. Jadi tidak ada alasannya buat ku untuk pergi. Apa kata mereka nanti jika tahu aku pergi, tentu akan timbul pertanyaan. Malah nantinya curiga padaku. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kemungkinan hal itu yang nantinya akan ditanyakan padaku.
Lalu aku akan tidur dimana, aku tidak tahu mas Kharisma tidurnya disebelah mana, jika aku menyusulnya tidur. Aku tidak tahu. Jadi, ku nikmati saja.
Bahkan yang membuatku shock. Keduanya, tanganku dipegang. Tentu ada maksud. Dan perlahan dituntun, kesuatu tempat. Bisa ku duga, itu di area....
Dag-dig-dug...
Guncangan dalam dadaku makin tak karuan, saat telapakku menyentuh benda kenyal, lagi mengeras persis pentungan kayu, keras, bertekstur lembut. Alot. Mengacung. Bahkan sedikit basah oleh oil dari dalam batang kontol mereka berdua.
Berkedut tak karuan. Dada keduanya sudah bergemuruh dibawah pengaruh gairah syahwat yang menguasai.
Batang mengeras sejadi jadinya, hingga detak jantung yang berpacu pun sangat ku dengar sekali terasa.
Aku tidak tahu apakah, yang lainnya, yaitu, Dirga, Tarmuji dan Supriyanto mengetahui apa yang terjadi. Toh, jika pun tahu, juga mau ngapain? Mau bilang apa? Karena mereka suka sering ngocok bareng tanpa ada masalah, dan dipermasalahkan.
Tentu akan lain ceritanya jika yang ini, karena ada campur tanganku. Mereka berdua ingin dikocok denganku, mungkin juga minta lebih dari itu, seperti di EMUT seperti halnya Ferdy dulu. Karena, tidak mungkin mereka tidak tahu hal itu, sekalipun Ferdy rapat rapat merahasiakan dari mereka, toh, akhirnya ketahuan juga. Lagian, sampai sekarang tidak ada masalah, bahkan baik baik saja.
Mereka masih suka lubang memek ketimbang lubang pantat. Pada akhirnya mereka juga akan menikah serta melupakan hal hal yang pernah terjadi saat bersama seperti ini.
Namun, aku juga tidak tahu apakah mereka nantinya benar benar bisa melupakan hal tersebut, terlebih lagi jika pasangannya nanti tidak mau melakukannya, seperti ngemut, hanya pasif saja. Tentu akan kecewa karena aku pernah melakukan akan hal itu. Tentu akan sangat kecewa jika sampai menolak. Terlebih aku sebagai laki laki tapi dengan suka rela emut batang kontol mereka.
Sejenak, aku seperti melupakan keberadaan mas Kharisma.
Adakah rasa bersalah ku rasakan saat ini karena telah mengkhianati. Entahlah, aku merasa tidak begitu. Karena bukan pasangannya, masih mencari jati diri yang sesungguhnya.
Ku nikmati saja saat saat ini...
Kedepannya, terserah Tuhan yang mengaturnya.
Kini, kedua tanganku kiri kanan melonco batang yang ngaceng, keras, maksimal.
Dada, detak jantung, perut yang kembang kempis serta nafas yang tersendat, itu yang dirasakan keduanya saat ini.
Milikku juga sudah tegang sedari tadi, mendesak didalam celanaku, menggeliat, dan rasanya itu tidak enak.
Ku kocok turun naik, secara beraturan, penuh ritme, terkadang juga pelan, cepat sedang. Tangan ku dituntun masing masing oleh tangan keduanya, bahkan diberi arahan, seolah aku anak kecil yang tidak bisa ngocok kontol.
Padahal aku ahlinya, bahkan soal emut-mengemut JAGO-nya.
Keduanya seolah meremehkan kemampuanku. Padahal mas Kharisma, dan yang lainnya tidak bisa berpaling juga termasuk Ferdy yang egois tidak mau mengakuinya.
Jika ingat hal itu, ingat Ferdy membuatku enggan melakukannya, aku takut jika esok hari sikap keduanya berubah total padaku. Seperti hal nya Ferdy yang langsung berubah drastis hingga membuatku MANGKEL (red: bahasa Jawa). Tapi, apa mau dikata, Ferdy sekarang jauh berubah hingga aku biarkan saja dia, bahkan aku enggan menyapanya.
Marah, tentu.
Siapa yang tidak marah pada Ferdy jika tidak punya pendirian, maunya egois.
Sudahlah...
Tubuh keduanya sedikit naik keatas, ku rasakan dalam temaram gelap didalam tenda, air madzi keduanya tumpah ruah, tak tertampung lagi.
Keduanya sudah kelojotan karena gairah sudah mencapai ubun ubun.
Ku rasakan, yang ku pegang sudah sangat keras sekali, itulah saatnya akan ngecrot.
Ternyata Dimas, yang akan ngecrot duluan karena batang kontolnya sudah tegang dan keras sekali.
Kini ku punya inisiatif mengulumnya cepat, dan dia langsung lesaknya batangnya yang keras kedalam mulutku.
"Oughhh,,,, yeah, haaa, aaahhh,,," lenguhnya tertahan, dan benar saja. Pejuhnya langsung terpancar banyak sekali, bahkan sampai ada yang langsung ke tenggorokanku. Masuk. Karena batangnya tertelan mulutku semuanya. Ku diamkan beberapa saat lamanya, hingga dia kembali agak tenang, walaupun nafasnya masih agak ngos ngosan setelah klimaks. Lalu ku pencet pencet pelan untuk mengeluarkan sisanya sampai bersih. Setelah itu ku kenyot penuh rasa, membuatnya kelojotan, griming griming, ngilu dan itu rasanya teramat nikmat, baru setelah aku lepaskan.
Tadi kontol Dimas agak standar lah, dia sudah puas setelah klimaks terlebih dengan suka rela aku emut, tentu ada kepuasan tersendiri dibatinnya.
Kini giliran ku memanjakan batang kontol milik Gimen, yang cukup lumayan gede dari yang lainnya.
Dulu aku membayangkan bisa melakukan ini dengan nya, tapi kali ini hal itu tercapai. Aku juga tidak menyangka jika sekian lama, butuh waktu. Dan aku hampir lupa akan hal itu, tapi kali ini, itu semua ada didepan mataku.
Setelah puas menikmati pejuhnya Dimas dengan aroma yang khas pejuh, serta rasanya yang legit nano nano gitu, tapi tidak pahit karena jarang ngerokok jadi rasa pejuhnya enak, nikmat.
Ku biarkan Dimas menikmati sisa klimaksnya.
Kini giliran Gimen, aku pun berbalik ke arahnya, masih ku pegang batang kontolnya yang cukup gede. Bahkan hampir sama dengan kepunyaan Riko, ataupun Alex juga mas Surya, karena rata rata batang kontol mereka diatas rata rata. Ada yang tebal dan agak tebal.
Tapi, perasaanku punya Gimen itu lebih dari milik ketiganya. Bahkan bisa ku rasakan urat urat nya yang menyembul di batang nya, menambah kesangarannya. Terlebih lagi, jembutnya juga sangat lebat, tidak seperti milik Dimas yang sangat rapi, tidak rimbun, mungkin dirawat, atau pun dicukur.
Kini aku ingin menikmatinya dengan penuh rasa, terlebih lagi ku rasakan kepala yang mirip jamur. Ingin rasanya aku melihatnya dalam terang bagaimana bentuknya juga warnanya, apakah gelap, hitam, coklat, atau kuning bersih.
Aku sedikit ragu, ketika aku akan mulai ngemut milik Gimen, nanti pasti akan lebar mulutku. Pasti pegal karena ukurannya. Ujung kepalanya sudah lumer air madzinya. Rasanya asin, gurih. Tapi tetap rasanya sungguh nikmat.
Ku jilati ujungnya, sekedar icip icip, eh, mendadak tubuh Gimen laksana kesetrum. Dia sampai bergidik. Mungkin baru kali ini ia merasakan hal itu, di emut oleh mulut. Tentu belum pernah di emut seorang cewek.
Apakah sebuah keberuntungan buatku karena bisa ngemut pertama kalinya batang kontol milik Gimen.
Padahal masih ujungnya, tapi hal itu membuat Gimen belingsatan.
Setelah itu, ku coba emut bagian kepalanya, pastinya sangat mengkilap karena tegang, mengeras, lagi gede.
"Hmmm,,," gumamku. Benar saja, mulutku termoyong moyong saat emut, masih kepalanya, belum lagi batangnya. Pasti tidak akan muat seluruhnya. Bisa bisa jika aku masukka , aku tidak bisa nafas dan mulutku pasti penuh, bahkan sesak oleh batang kontolnya yang panjang dan gede itu.
Sungguh beruntung cewek yang nantinya nikah sama Gimen, pasti malam pertama akan menjerit kesakitan karena diameternya milik Arab atau pun Amerika, rata rata.
Belum lagi panjangnya, aku tidak mengukurnya, karena hanya bikin aku penasaran saja.
Ujung kepala, sampai lingkar kepala saja sudah sesak dimulutku. Hampir tidak muat. Namun, aku nikmati. Ku kulum penuh rasa. Ku kenyot sebisanya. Gimen menggerakan pantatnya. Ingin mendesakan maju, ingin memasukan lebih dalam. Aku ragu, kurang yakin apakah aku sanggup.
(Mg 11/6/2023).
Pemain:
Bening
Gimen
Dimas
Komentar
Posting Komentar