313, S2. Bibir yang terasa Manis.

 313, S2. Bibir yang terasa manis

★★★★★★


Karena kepala batang kontol Gimen cukup lumayan gede dimulutku hingga terasa penuh. Tapi entah mengapa aku merasa begitu puasnya. 


Terlebih saat ku kenyot, beuh, rasanya mantap jiwa cuy. 


Sebisanya aku kenyot, ku empotkan mulutku. 


Tubuh Gimen kelojotan saat sekuatnya aku kenyot. Dia seperti menahan nafasnya, dadanya bergemuruh, detak jantungnya, kembang kempis perut ratanya, tidak selalu kotak kotak, rata tipis. 


Bahkan saat ku kenyot,sambil ku sedot, hal itu membuatnya makin tak karuan. Tentu saja tubuhnya makin berkeringat, hingga aromanya menyeruak. Tapi tidak menghentikan aksiku untuk mengeluarkan isi pelernya. 


Bahkan hanya sebagian yang mampu ku telan batang kontolnya, itu pun sudah sangat keras bak pentungan milik pak satpam sekolahku. He he heee...


Tubuhnya makin mengejan hebat, sudah tentu sebentar lagi isinya akan menembak, keluar. 


Satu


Dua


Tiga....


"Oughhh!" dengusnya tertahan, kepala ku sambil dipeganginya. Hingga ku rasakan semprotan pejuhnya yang hangat, kental dan banyak sekali.


Aroma khasnya tentu terasa, belum lagi rasa khasnya, tak bisa ku bayangkan begitu subur pejuh milik Gimen. Pasti sudah cukup lama ia pendam pejuhnya hingga kini baru ia keluarkan itu pun didalam mulutku. Karena begitu banyaknya.  Sebagian langsung tertelan, sebagian masih tertampung di mulutku. 


Gimen seolah bertahan, dan tidak keberatan batang miliknya didalam mulutku. Padahal, mulut ku rasanya sudah pegal pegal, ngilu. 


Ku kenyot kembali, membuat Gimen belingsatan kembali. Dengusan lirih lolos dari mulutnya. Kontolnya masih saja ngaceng keras dalam mulutku. 


Kini kembali kontol Gimen digerakannya pelan, dadanya yang semula normal pun detak jantungnya kini mulai perpacu kembali. Gimen sepertinya sesi kedua. Belum puas. 


Dimas sendiri sudah anteng, tidak ada yang mengusiknya. Aku juga tidak ingin menggangunya lagi. 


Entah sudah tidur apa belum, aku tidak tahu. Karena terlihat diam, tanpa beraksi. 


Fokus pada Gimen saja saat ini. Ku nikmati kebersamaan ini karena aku tahu, hal ini tidak akan pernah terulang kembali. Jika esok sikap Gimen dan Dimas berubah, maka akan aku terima karena itulah resikonya, karena hal itu sering terjadi bahkan pada Ferdy terjadi seperti itu. Juga Alex, yang sangat egois dengan perasaan hatinya. 


Kini batang kontol Gimen sudah mengeras, maksimal. Masih dalam keadaan miring.


"Ough,,," lenguhnya lirih, sangat menikmati emutanku. 


Digerakan maju mundur karena tak sanggup ku telan seluruhnya. Tapi akan aku coba. Pelan. Apakah batang kontolnya yang panjang dan gede itu masuk seluruhnya dalam mulutku.


"Huummm,,," pelan tapi pasti, ku coba masukan seluruhnya. Aku kehabisan nafas, karena ronggaku tertutup. Aku sampai megap megap kekurangan oksigen. Mulutku bahkan sampai kerongkonganku tersumpal batang kontol milik Gimen. Penuh dan sesak. 


Buru buru aku lepaskan, karena aku tidak tahan.


"Oughhh,,, hahhh,,," dengus Gimen tertahan. Keenakan atas perlakuanku dengan batangnya. 


Rasanya, jika suruh mengulang aku tak sanggup. Kerongkonganku sakit, mungkin terluka. Lecet. Terasa perih dan tidak nyaman karena akibat desakan batang kontol milik Gimen yang berdiameter tak biasa. 


Ku tarik nafas dalam dalam, mengisi udara dalam dadaku yang habis. Megap megap dibuatnya. 


Ketagihan. Itulah yang ku rasa, pada Gimen yang ingin meminta kembali dari gesture-nya. 


Rasanya aku sudah tak sanggup lagi. Padahal tadi cuma ujungnya sampai seperempatnya saja, tapi gegara aku coba dan berhasil membuat Gimen ketagihan ingin mengulang. 


Bahkan batang kontolnya di acung acungkannya. Antara ragu, mau atau tidak. Karena tak sanggup. 


Karena di aju ajukan, aku merasa tak enak, padahal aku sudah ogah lagi  melakukannya. Lama lama kasihan juga. 


Ku singkirkan tangannya, yang memintaku. Ku emut, sembari ku kocok kocok dengan ritme.


Aku tidak mau melakukan hal seperti tadi lagi. Karena tempatnya, aku kurang nyaman. Andai berdua saja, aku bisa lakukan dengan slow motion. Tapi kalau disini aku tidak leluasa melakukannya. Dan juga waktunya terbatas. Aku harap entah kapan sebelum aku balik lagi ke Jakarta aku bisa mengulang lagi. 


Sejadi jadinya aku kocok, kuat. Lembut. Keras. Turun naik. Benar saja, Gimen mulai ngos ngosan. Batangnya mengeras banget. Seperti sebentar lagi akan memuncratnya isinya. "Oughhh, hahhhh,,,," dengan lenguhan panjang dan lirih. Untuk kedua kalinya semburan pejuhnya keluar dan membanjiri dalam mulutku.


Gimen kelojotan untuk beberapa saat, hingga Gimen mengejan dalam dirinya karena kenyotanku, tetesan dari pejuh terakhirnya. 


Ku pencet pencet pelan, untuk membersihkan isi dalamnya. Sampai bersih tanpa sisa.


Kemudian ku lepas, hingga aku hanya terlentang memandang keatas langit langit tenda. 


Ku rasakan, Gimen lalu merangkulku, memelukku dalam pelukan hangatnya. Perhatian. Seperti halnya yang lain ketika sesudah ngecrot juga peluk hangat aku. Begitu pun Gimen juga memelukku saat beringsut. Langsung mencium keningku hangat. Aku berharap esok hari sikapnya tidak berubah, aku berharap biasa biasa saja setelah kejadian ini. 


Entah jika dengan Dimas, apa dia akan berubah atau hanya bersikap biasa saja. Lihat besok saja, bagaimana sikap keduanya?. 


Aku tidak tahu apakah yang barusan ku lakukan dengan Gimen dan Dimas yang lainnya tahu, yaitu Dirga, Tarmuji dan Supriyanto. 


Kini aku benar benar lelah dan ngantuk sekali. Aku tidak tahu sekarang jam berapa. Karena saat tidur tadi jam dua belas, atau mungkin lebih. Terlebih lagi kini dingin mulai merasuk sampai ke tulang, tapi aku hangat karena sedang dipeluk oleh Gimen. Dibelakang ku ada Dimas yang merapatkan tubuhnya cari kehangatan. 


Aku tidak tahu cerita besok pagi ketika bangun tidur. Terlebih lagi jika aku sedang dipeluk oleh Gimen, entah bagaimana reaksinya mereka yang satu tenda denganku. 


Besar harapanku sikapnya mereka biasa saja atau boleh baik baik saja, tanpa ada rasa curiga. 


Karena lelah, ngantuk juga merasa nyaman, aku pun mulai terlelap dalam mimpiku. 


Bisa ku rasakan kontol Gimen masih ngaceng walaupun tidak sekeras saat akan nembak pejuhnya. Dasar maniak seks, seorang  hyper. 


Entah berapa lama aku tidur, rasanya nyaman sekali. Terlebih perasaanku sedang bahagia ku rasakan. 


Maka saat kumandang adzan subuh terdengar aku terbangun. Entahlah, bagiku itu seperti alarm alami yang selalu saja membangunkan ku saat aku tidur dan kebiasaanku langsung terbangun saat mendengarnya. 


Ku kerjabkan mataku. Masih agak ngatuk sedikit karena tidurnya sangat larut. Tentu saja yang terbangun cuma aku saja yang lainnya masih asik ngorok, mungkin juga masih di alam mimpinya masing masing. 


Benar saja aku masih saja dipeluk oleh Gimen, bahkan wajahnya sangat dekat dengan ku, hingga bisa ku rasakan hembusan nafasnya. Dibelakang ku Dimas meringkuk, karena hawa dingin.


Iseng aku mencium bibir Gimen, ingin tahu reaksinya bagaimana?. Istilah KISS MORNING. 


Pertama tidak ada reaksinya, terlebih dia masih tertidur lelap memelukku. Aku tersenyum geli melihat wajah pas pasannya. Wajah  Indonesia, cowok lokal yang alami. 


Semakin lama, ku lumat bibirnya. Dia pun akhirnya merasakan ciumanku juga, karena menurut yang pernah ciuman denganku, bibirku rasanya manis. Bahkan mereka yang pernah ciuman itu seolah tidak mau melepaskannya. 


Matanya terbuka, ada rasa heran juga terkejut. Tapi aku hanya diam saja, masih dalam posisi lumat bibirnya. 


Benar dugaanku Gimen, menerimanya bahkan kini yang gantian melumatku. 


Lama lama Gimen nampak agresif, mengecup, melumat tanpa rasa puas. 


Sepertinya ia heran merasakannya. Apa benar jika rasa bibirku itu manis hingga membuat yang ciuman dengan ku KETAGIHAN. 


Berati memang benar perkataan mas Kharisma juga yang lainya, mengakui kalau bibirku itu rasanya manis saat dicium, terlebih lagi jika aku memulainya terlebih dahulu. 


(Sl 13/6/2023).



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.