312, S2. Rasa Bersslah 2.
312, S2. Rasa bersalah bag 2.
★★★★
Sebenarnya aku melakukan hal itu, bagi bagi hadiah untuk menarik simpati bagi teman temannya Bening, antusiasnya bagus banget, belum lagi nanti aku akan bagi bagi sembako bagi warga sekitar.
Aku melakukan hal itu dengan ikhlas tanpa pamrih.
Aku berharap dengan bersedekah, usaha yang dilakukan oleh tuaku makin lancar dan berhasil. Itulah tujuanku.
Bila perlu aku akan usaha disini, bisa juga nanti jadi boss pengepul getah karet atau padi yang dijual oleh masyarakat disini saat panen tiba.
Menurutku itu usaha yang bagus, untuk di kelola serta bisa menjanjikan maju, itu juga demi kesejahteraan masyarakat sekitar supaya hidup lebih layak. Peningkatan ekonominya yang pas pasan biar lebih baik lagi.
Ini salah satunya untuk menarik perhatian dan simpati tetangga serta warga sekitar. Aku punya tujuan seperti itu.
Tapi yang jadi masalahnya Bening bisa memaafkan aku atau tidak. Itulah yang menjadikan ku ragu saat ini.
Aku coba saja nanti.
Sebenarnya, aku coba untuk tidur sedari tadi, tapi belum bisa lena. Bahkan aku sangat gelisah.
Walaupun tadinya, aku merasa bahagia karena telah berbagi bagi, tetap aku merasa resah karena Bening tidak peduli.
Aku merasa senang, saat Bening tadi bantu bantu, aku bahagia sekali bisa dekat bersamanya.
Namun, saat ini perasaan sedih ku rasakan..
Lama kelamaan, rasa kantuk menyerangku, terlebih lagi baru saja sembuh dari sakit Typus, kini harus begadang, aku takut kambuh lagi. Namun, aku coba tidur karena saat ini aku bersama sama dengan temannya Bening karena kini mereka juga jadi teman aku. Mereka sangat baik baik banget dan pengertian. Ku akui mereka juga sangat tulus dalam berteman.
Akhirnya karena lelah, aku pun tertidur lelap.
******
Seakan aku tidur hanya sebentar, terlebih lagi diluar tampak sedang ramai, padahal udara masih terasa dingin menyentuh kulit.
Entah mengapa tiba tiba aku terbangun.
Mungkin dipikiranku, masih kepikiran tentang Bening semalam. Bahkan tidurpun aku tidak bermimpi apa apa. Atau mungkin lupa tentang mimpiku.
Hari ini aku harus selesaikan masalahku dengan Bening.
Aku harus meminta maaf padanya atas semua kesalahanku padanya.
Aku berharap Bening mau memaafkan aku, dan keadaan bisa baik baik seperti semula.
Kenangan demi kenangan dimasalalu bagai layar film bermain dipikiranku.
Hal itu membuatku mendesah, berat. Sungguh kejadian kejadian yang tak terduga dari awal pertemuan sampai kenal baik satu sama lain hingga timbul dan dan tumbuh benih benih cinta.
Aku sampai terobsesi ingin memiliki Bening.
Namun, godaan selalu datang. Itu berasal dari Raya mantan pacarku, tapi aku tidak benar benar putus dulunya. Tapi, karena perasaanku pada Bening, aku putuskan buat melupakan Raya pacarku, dulu.
Bahkan aku rela ikut kesini demi Bening.
"Riko kamu sudah bangun" sapa Tono padaku, padahal dulu anaknya banyak diamnya. Tapi kini suka nyapa duluan, anaknya juga asik.
"Iya,,," jawabku singkat.
"Aku, kami sangat berterima kasih atas pemberianmu ini pada ku juga yang lainnya" ucapnya lagi dengan senyum tulus.
Aku tahu kalau muda mudi disini sangat tulus dalam berteman. Aku bisa rasakan hal itu dan tidak memandang statusnya, kaya atau miskin yang penting baik, pasti akan punya banyak teman.
Aku belajar itu semua dari sini, terlebih lagi masyarakat di kampung, rasa toleransinya masih tinggi.
Yang lainnya pun juga ikut ngobrol sama aku, aku coba ramah sekalipun keadaan hatiku tidak baik baik saja.
Ada Sugeng, Agus Maksum dan Nur Yanto dalam satu tenda. Mereka asik mainin hpnya baru yang ku beri. Namun, prioritasnya tetap pada obrolan, tidak cuek, lebih memperhatikan, melihat ke layar hp hanya sekedarnya saja, tidak lupa dengan keadaan.
"Menurut kalian bagaimana Bening sekarang?" tanyaku karena ingin tahu pendapat dari mereka. Ingin mendengar dari sudut pandang mereka tentang Bening.
"Hmm,,, menurutku sekarang Bening jadi aneh. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi, entah apa yang disembunyikannya" kata Tono.
"Iya, aku juga rasakan hal itu si. Terlebih lagi, kalau Bening itu banyak diamnya berarti sedang ada masalah dengan siapa, gitu" sela Sugeng.
"Aku tahu, kalau Bening tidak suka dengan seseorang maka ia tidak akan ngomong sama sekali dengan orang itu" tambah Nur Yanto.
"Betul, betul, betul. Bahkan lihat saja tidak mau. Aku dulu juga begitu. Pernah mengalaminya. Makanya, sebisanya aku tidak buat masalah dengan Bening. Terlebih lagi buat dia tidak suka. Untuk itu, aku belajar dari kesalahan dan tidak niat masalah lagi denganya" imbuh Agus Maksum.
"Jadi, aku belajar dari kesalahan yang aku buat, juga yang lainnya. Karena sudah tahu karakter Bening seperti itu, jadinya aku harus hati hati. Karena Bening itu jarang sekali bikin kesalahan, orang baik, pengertian lagi. Bahkan saking baiknya, malah sering ngajari aku dan yang lainnya. Orangnya juga gak pelit" ujar Tono panjang.
Kini aku tahu bagaimana Bening dalam pandangan teman dan para sahabatnya.
"Sepertinya, kalau ku perhatikan Bening itu sedang marah sama kamu Riko. Terus, sama Alex juga Ferdy. Karena saat ku lihat Bening itu, natap ke kamu, terus ke Alex dan Ferdy itu tak biasa" tutur Sugeng.
"Aku perhatikan si seperti itu. Kamu ada salah apa sama Bening Riko?" tanya Nur.
"Iya Riko, karena Bening itu tidak akan seperti itu" telisik Agus Maksum.
Kini aku yang salah tingkah untuk menjawab cercaan pertanyaan yang ditujukan padaku. Terlebih itu masalah sensitif buat ku. Tentu aku harus hati hati, terlebih jika tahu kesalahan apa yang telah ku perbuat, takutnya malah mereka akan membenciku karena hal itu. Tapi, jika tidak aku jawab, mereka akan curiga padaku.
Terlebih lagi mereka sudah tahu kebenarannya tadi, yang disebutkan siapa yang tidak di ajak bicara oleh Bening siapa saja itu tandanya dia sedang marah.
"Masalah apa Riko kamu sama Bening?" desak Sugeng. Penasaran. Menatapku tajam, sejenak.
Aku merasa tidak enak, dengan tatapan mereka padaku, seolah sedang mengintrograsiku.
"Tidak mungkin Bening akan bersikap seperti itu sama kamu. Dulu, ku lihat Bening itu sangat sayang sama kamu saat pertama kali kamu kesini. Tapi kini Bening lebih sayang sama mas Kharisma" ujar Tono.
"Iya Riko. Aku aja sampai iri melihatnya" celetuk Nur.
"Aku juga kok. Bening itu kalau sayang sama seseorang kayak cinta, gitu" tambah Agus Maksum.
Sampai sedetail itu Tono menilai Bening, bahkan juga ingat kejadian dulu. Padahal itu sudah cukup lama sekali tapi mereka masih ingat.
"Ceritanya panjang. Maaf aku belum bisa cerita ke kalian. Gak apa apa kan" balasku tak ingin memperpanjang masalah.
Mereka hanya menggeleng saja, kalau mereka mengerti perasaanku saat ini.
"Riko, saranku, kamu jangan berlarut larut memendam masalahnya karena itu akibatnya gak baik. Jika Bening tidak bisa memaafkan mu, selamanya dia akan membencimu seumur hidupnya. Secara, dulunya dia sayang padamu, buat hal itu kembali lagi" kata Tono.
"Karena, jika Bening sudah tidak mau bicara, maka akan sulit buat dekat lagi. Malah, akan tidak enak. Aku pun bisa rasakan hal itu dulu" tambah Sugeng.
Kini, aku merasa dilema. Kesalahan ku perbuat sangat fatal pada Bening. Tentu tidak mudah bagi Bening memaafkan ku begitu saja. Tentu butuh waktu. Namun, aku akan berusaha untuk memperbaikinya, dan meminta MAAF.
"Aku juga akan memperingati Ferdy, entah apa yang di perbuat Ferdy sama Bening, hubungan Bening dan Ferdy seperti musuh" ucap Nur.
"Terima kasih sarannya. Sekali lagi aku minta maaf karena belum bisa cerita sama kalian. Oiya, nanti siang bisa bantu bantu kan buat bagi bagi sembako" kataku.
"Siap,,, boss" seru mereka kompak.
Hal itu membuatku tersenyum.
Kami pun akhir keluar tenda, saat diluar disambut udara dingin yang segar.
Perasaanku kini sudah lega, dan itu juga berkat saran dan sharing dari mereka. Beruntung sekali memang punya teman dan para sahabat yang mau memperingati ketika kita punya masalah.
Hupffff,,,,,
(POV Riko end)
(Sn 12/6/2023).
-------------
Tokoh:
Tono Al aska
Sugeng
Agus Maksum
Nur yanto
Komentar
Posting Komentar