73. Berakhir.
Bab 73. Berakhir...
★★★★
Ku putuskan untuk tidak pulang....
Aku tidak boleh egois karena hal sepele.
Entah mengapa Riko selalu bikin ulah serta masalah dimanapun berada?
Kini, makan ayam panggang dengan suasana bisu, mereka asik dengan pikirannya masing masing...
Untung orang tua Ferdy sedang berada ditempat saudaranya sehingga saat ramai seperti ini tidak mengganggu sehingga aman.
Hampir setengah jam acara makan makannya...
Para cewek ceweklah yang membereskan...
Para cowoknya membereskan tempat tadi buat manggangnya.
"Mas kalau pulang gak apa apa, sama Riko. Aku mau nginap bareng sahabat sahabatku disini" setelah aku santai karena acaranya juga selesai.
Para ceweknya nantinya akan pulang kerumahnya masing masing karena tidak boleh nginap, takut terjadi apa apa sama mereka.
"Nanti kita tidur bareng bareng dilantai saja gelar karpet" ucap Ferdy duduk didekatku.
"Yap, betul malah enak itu' sahut Gimen.
"Wah asikkk,,," girang Nur.
Yang lain juga setuju...
"Riko kamu pulang saja sama mas Kharisma" pintaku namun tetap saja Riko dan mas Kharisma diam tanpa ekspresi.
"Mas pulang aja ya" pintaku sedikit memaksa.
"Tapi dek, aku,,,?" terlihat mas Kharisma kikuk seakan tidak ada alasan buat nolak.
"Bening, aku pulang dulu ya,,," tiba tiba Latifah datang dari belakang habis bersih bersih. Pun dengan empat cewek lainnya juga pamit pulang.
"Terima kasih ya Tif atas bantuannya" balasku karena yang lain sepertinya menyuruhku untuk menjawab.
"Gak usah sungkan sungkan jika kamu repot, minta bantuan saja padaku" Latifah tersenyum manis mengulurkan tangan buat pamit.
"Sekali lagi terima kasih Tif"
"Iya, aku pulang duluan. Assalamualaikum" pamitnya setelah ku balas jabatan tangannya yang hangat, tentu hal itu dilihat oleh semuanya terutama Riko dan mas Kharisma.
Kini suasana sedikit hening tidak sebrisik ketika ada para ceweknya.
Tapi, tetep sedikit rame karena ada tiga belas orang.
"Dek aku pulang duluan ya" akhirnya mas Kharisma pamit untuk pulang mungkin merasa tidak enak karena lebih dewasa dari yang lain.
"Iya mas hati hati"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam. Mas, jangan lakukan lagi" mas Kharisma mengangguk sepertinya mengerti apa yang ku maksud.
Tinggal Riko yang terlihat ragu, karena kini sedang duduk diruang tengah bersama para sahabat. Menggelar karpet juga ada bantal jika ada yang mau tidur dulu.
Tapi, mereka sibuk dengan hpnya masing masing.
"Kamu gak pulang Riko. Ngapain masih disini?" ucapku setengah mengusir. Dia tampak nyengir biasa, tidak terjadi apa apa.
"Aku pengen nginap juga Bening, bareng teman temanmu. Aku pengen akrab dengan mereka" balas Riko kekeh dengan keinginannya.
"Yah, tadi lupa buat selfie bareng" ingat Ferdy yang kelupaan hal buat kenangan.
"Gimana kalau sekarang aja" timpal Dimas.
"Iya, buat kenang kenangan. Siapa tau nanti Bening balik lagi ke Jakarta, kita gak ada kenangan" jelas Dirga
"Ya, rasanya kurang afdhol" tambah Gimen.
"Yang jadi masalah siapa yang mau memfoto" kini yang bicara Tono, sekarang malah sering ngomong padahal dulu sering diam.
Semua mata tertuju pada Riko sambil tersenyum penuh tanda tanya.
"Oke, aku yang foto kalian" desahnya pasrah. Seakan tau arti tatapan para temanku hingga mereka bikin posisi masing masing.
"Sudah, foto" seru Ferdy supaya cepat foto jadi masalahnya hp siapa. Maka hpku ku berikan.
Mode otomatis biar cepat!
Sudah banyak jepretan dengan berbagai gaya, kadang senyum, tawa heboh masih banyak lagi.
"Sama Riko masa gak, sekali saja" Tono ngasih ide karena sedari tadi yang fotoin Riko mungkin kasihan.
Kami hanya mengangguk setuju saja ide Tono...
Benar saja, foto sama Riko sekali saja. Kasihan, tapi apa boleh buat karena itu kemauan mereka, aku tidak bisa memaksa kehendak mereka.
"Saatnya MABAR!" seru Ferdy girang seperti nemu harta Karun.
Riko kayak orang hilang tidak ada yang gubris, biasanya juga paling heboh serta bikin onar, kalau disini mana berani kalau tidak dihajar oleh mereka.
Lama lama kasihan juga, sedari tadi Riko belum mengeluarkan hpnya, tentu saja jika mereka tau maka mereka akan terkejut kalau mah sudah biasanya bukan hal yang baru.
"Boleh ikut mabar gak?" pinta Riko seperti memelas karena sedari tadi dicuekin semenjak mas Kharisma pergi.
"Hp kamu mana?" Tono yang menganggapi tentu yang lain masih cuek.
Riko agak ragu...
Dalam hati aku menghitung...
Satu...
Dua...
Tiga...
Taraaa,,,,
Tono yang melihat pertama terbengong tak percaya jika tidak melihat sendiri didepan matanya...
"Hah, Apple pro 13 max, coy,,," sentak Tono heboh.
Tentu saja yang lain yang tadi tiduran pada bangun menatap dengan kagum hp Apple yang tentu hanya anak orang tajir yang bisa memilikinya. Berarti benar dugaan Latif jika memang Riko anak orang kaya.
"Kenapa, ini hp jelek kok?. Gak usah heran. Hp murah"
ucapnya merendah sambil menimang nimang hpnya dengan bangga karena tidak ada yang menyamainya.
Aku yang sudah terbiasa dengan kesombongannya hanya diam saja tanpa menatapnya hingga dia sering melirikku atas decak kagum dari sahabatku.
"Hess, Bening kamu kok gak heran gitu?" tanya Sugeng yang aku balas geleng kepala.
"Ini nih efek ngambek. Jarang ngomong" lanjutnya tidak bisa ngomong lagi. "Sudahlah, percuma,,," desahnya lirih.
Aku tidak mau menanggapi bukan karena aku ngambek, tapi aku memang ingin diam.
"Fer, siapa yang akan mabar sama aku,,? Ini aku sudah login" karena mereka asik melihat hp Riko yang sedang pamer hpnya karena tidak ada saingannya.
"Eh, oiya,,, aku saja yang ngudang, hoee,,, siapa yang udah login" seru Ferdy yang nantinya ngajak di roomnya.
"Aku,,," ucap Tono semangat.
"Boleh gak aku gabung" kata Riko yang sedari tadi memamerkan hpnya.
"Pemain noob!" ejekku membuat Riko langsung terdiam.
"Kok kamu tau Bening kalau Riko noob?" ungkap Nur penasaran.
"Skin doang bagus!" sungutku kesal.
"Gini, entar aku kasih skin epic kalau aku di ajak, gimana?" Pancingnya pada sahabatku, tentu mata mereka langsung cerah mendengar perkataan Riko.
Ini nih yang aku tidak suka langsung main sogok buat cari pendukung serta perhatian.
"Bening, di ajak ya. Aku pengen punya skin epic, harga itu mahal. Kamu tau sendirikan keadaan kita,,," keluh Dimas yang memasang wajah memelas. Ini yang bikin aku tidak tega lagian gak mungkin aku bisa nolak.
"Ayolah, Bening sekali saja,,," rayu Ferdy yang ikut terhasut.
"Syaratnya tiga kali permainan, dan itu harus menang. Gimana?"
Ku bilang juga apa, syaratnya pasti ada. Bikin tambah kesel.
"Main aja sendiri. Ogah,,,!" balasku jutek dan cuek. Aku akan logout gak mau main lagi.
"Lho kok logout Bening?" keluh Dirga lemas.
"Lha kenapa? Tinggal main aja kok, ribet!" Aku sudah kesal dengan kelakuan mereka yang kena bujuk Riko yang kadal buntung.
"Hayolah Bening, syaratnya main tiga kali doang" pinta Supri.
"Gak mau!" Teriakku hingga mereka terkejut begitupun Riko.
"Riko,,,! Apa ingin aku bongkar kebobrokan mu didepan sahabatmu. Cukup kamu bikin ulah disini. Aku tidak peduli lagi siapapun kamu, sekalipun kamu anak boss dimana orang tuaku kerja dirumahmu!" teriakku kencang dengan membulatkan mataku.
"Bening apa maksudmu?"
Sebagian sahabatku bertanya tapi aku masih menatap Riko tajam.
"Lo boleh pamer kekayaan didepan teman teman gue. Asal Lo tau Riko, gue sudah muak dengan kelakuan Lo. Lebih baik Lo pergi dari sini. Kalau gak gue yang akan pergi!" Seruku dengan menahan emosi, tak tau kenapa mataku rasanya perih. Tak terasa air mataku menggenang tanpa bisa ku tahan lagi air mataku luruh bagai aliran sungai.
"Ya Alloh Bening, kenapa kamu sampai menangis dan sesedih ini?" ucap Ferdy prihatin melihat keadaanku.
Semuanya jadi kacau...
"Aku akan pulang!" tegasku, tak ada yang bisa mencegahku kali karena aku sudah sangat emosi akibat kelakuan Riko.
"Kalian boleh main, aku tidak akan melarang kalian buat main dengan dia. Assalamualaikum!" Aku pun bangkit berdiri serta melangkah kearah pintu untuk pulang.
"Bening, maafkan aku,,,"
#bersambung,,,
******
Ikuti kisah selanjutnya "MAAF"
Minggu 15 Mei 2022
Komentar
Posting Komentar