100. Apa Yang Sebenarnya Terjadi?.

 Bab 100. Apa yang sebenarnya terjadi?


★★★★


Dalam perjalanan pulang hanya diam yang terjadi, ayahku tidak berani mengusikku.


Ayahku berhak marah atas apa yang ku lakukan selama ini, itu sungguh sangat keterlaluan serta sangat memalukan, aib, terlebih untuk keluargaku.


Namun, ayahku seakan menutup apa yang terjadi, terlebih kejadian yang ku alami antara aku dan Riko, itu menurut ayahku hal lumrah.


Terkadang dalam hati kecilku bertanya, ada apa dengan ayahku? Kenapa mendiamkan dengan kejadian yang ku alami?.


Selang beberapa menit kami telah sampai...


Tangisku sudah reda, aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan. Ayahku masih menatapku. Aku sangat bersyukur karena selama ini ayah yang selalu menjemputku.


Ketika aku akan melangkah ayah menghentikan langkahku.


"Nak, maafkan ayah, karena tidak bisa membantumu ketika kamu dalam masalah. Ayah seakan tutup mata dengan apa yang kamu alami selama ini. Ayah tau kamu kuat, tegar, bisa melalui segala rintangan"


"Ayah, aku hanya manusia biasa. Aku bukan dewa, juga bukan malaikat. Dimana aku bisa terpuruk, aku butuh dukungan dari ayah juga ibu"


"Ayah harus bagaimana, nak? Ayah tidak bisa membantu banyak"


"Tidak perlu ayah-"


"Ayah tidak bisa kemana-mana" keluh ayahku menatapku iba.


"Aku tau ayah. Tapi, ayah,,, apa ayah tidak marah dengan apa yang ku alami?"


Ayah menggeleng, ada kesedihan terpancar dari sorot matanya yang tajam, tidak menyembunyikan rasa kesedihannya. "Ayah minta maaf nak"


"Ayah tidak perlu minta maaf. Ayah tidak bersalah"


"Seharusnya ayah yang menanggungnya, bukan kamu" jelas ayah. Tapi, aku belum mengerti arah ayahku bicara karena penyesalannya begitu dalam.


"Ayah selalu menutup mata dan tidak peduli dengan yang kamu alami selama ini"


"Maksud ayah apa?"


"Ayah tau apa yang kamu alami. Tapi, ayah tidak bisa membantumu karena ku yakin kamu bisa menyelesaikan masalah sendiri. Tapi, ayah salah, kamu butuh dukungan, tapi aku tidak bisa membantumu, ayah sibuk dengan kerjaan tanpa memperhatikanmu. Ayah sayang kamu nak" ku lihat ayahku menangis kemudian memelukku hangat.


Aku hanya bisa menangisi keadaan terlebih apa yang ku alami selama ini.


"Ayah begini untuk kamu nak, supaya kamu jadi orang sukses tidak ayah ataupun ibumu. Ayah hanya lulusan SD, sedangkan ibumu cuma SMP, kami mengadu nasib di Jakarta dan bisa bekerja di rumah keluarga Sanjaya itu sudah sangat luar biasa. Suatu keberuntungan karena jarang ada yang diterima disini. Semua gak betah. Kami beruntung bisa kerja disini"


"Iya ayah. Makanya aku tidak ingin melibatkan persoalanku dengan ayah, ibu maupun paman dan bibi disini. Biarlah aku yang menanggungnya"


"Sebenarnya, apa yang kamu alami nak?. Ayah hanya tau, ceritanya dari ibumu. Ayah ingin tau dari kamu"


Kami masih sama sama berdiri,,,


Ayah ingin tahu hal sebenarnya dari mulutku.


"Ayah,,,"


Aku pun menceritakan mulai dari awal aku masuk sekolah, serta semua kejadian yang ku alami disekolah, tanpa terlewatkan.


Ayahku makin sesenggukan setelah ku ceritakan semuanya, bahkan aku pun ikut nangis terharu, membuat ayah sampai terduduk dibawah seakan tidak percaya dengan semua yang ku alami.


Ayah tidak bisa berkata apa apa, terlebih dengan Riko, ayah juga mungkin membencinya sekalipun aku tahu jika ayah sangat membencinya. Tapi, ayah tidak bisa berbuat banyak.


"Ayah, permisi aku masuk dulu" ku cium tangan ayahku. Tubuhnya bergetar, lututnya gemetar seakan memikul beban perasaan.


"Nak,,," lirik ayah, tangannya seperti menggapaiku. Aku terus saja masuk, bukan aku tak peduli dengan perasaan ku tapi aku sendiri mengalami, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.


_____________


Alhamdulillah!


Telah usai ku laksanakan kewajibanku, hatiku sudah menjadi tenang seperti tak punya beban, semua ku serahkan pada Tuhan.


Rasanya aku enggan untuk pergi ke rumah besar, karena aku tidak ingin bertemu Riko lagi.


Kasihan ayah, setelah ku ceritakan semuanya serta tahu kenyataan, hanya bisa meminta maaf.


Ah, Angga rasanya aku merasa bersalah karena aku telah mengabaikannya.


Putri tentu kangen padaku karena sudah lama aku tidak berkunjung.


Ah, mungkin besok aku kesana, bila perlu bareng Angga.


Kenapa hidupku sekarang bertambah masalah, disini lain aku ingin selesai masalah bahkan tidak ingin bermasalah, tapi pada kenyataan, aku dihadapkan pada masalah yang cukup pelik. Bagaimana caraku menghadapi Alex, atau....


"Assalamualaikum,,,," suara ibu dari luar dengan mengetuk pintu.


Syukurlah, ibu membawakan makan siang untukku jadi aku tidak perlu pergi ke dapur serta bertemu dengan Riko.


Aku sedikit tahu banyak watak Riko yang pantang menyerah sekalipun dengan ancaman.


Aku tahu akhir akhirnya Riko jarang mengancam ku mungkin sudah berpikir masak masak jika bertindak, tidak seperti pertama kali aku bertemu. Walaupun sikapnya masih tetap ada.


"Waalaikum salam" balasku sedikit terlambat, paling tidak aku sudah menjawabnya salam karena itu wajib hukumnya, dan kita berdosa jika tidak menjawab salam ketika ada orang yang akan masuk rumah dengan mengucapkan salam, kita dengar.


"Nak, ada apa? Apa yang kamu pikirkan?"


Menghela nafas,,, "Banyak bu"


"Apa nak?, coba, cerita sama ibu"


"Bu, apa yang harus ku lakukan jika disekolah asa segerombolan anak, bahkan sekelas dengan aku punya niat tidak baik-"


"Maksudnya? Niat tidak baik, apa?"


"Ibu tidak akan tersinggung jika aku ngomong hal ini?"


"Kamu tidak perlu takut. Katakan saja sama ibu, nak"


"Bu,,, aku tidak sampai hati. Ini masalah harga diri seorang wanita yang akan dirusak oleh teman satu kelasku, namanya Alex. Aku dengar sendiri rencana Alex, kalau Alex ingin mendapat keperawanan  para gadis satu kelasku, bu. Aku harus berbuat apa?"


"Apa? Masyaalloh nak. Benar itu nak" ibuku sampai menutup mulutnya tak percaya mendengar mendengar ceritaku.


"Apa sudah ada buktinya, nak. Kamu mungkin telah berbohong sama ibu"


"Ibu, ayah tidak mangajariku  untuk berbohong kan. Sudah ada buktinya bu. Sarah salah satu korbannya. Sedangkan satu kelasku ada dua puluh cewek. Aku tau korban pertama Alex itu Sarah karena ku lihat waktu itu Sarah menangis tanpa sebab serta diam tanpa ekspresi bahkan tidak semangat hidup. Aku tau  Alex dan ganknya telah mencabuli Sarah" kelasku dengan serius ku bikin ibu percaya dengan ceritaku.


"Apa kamu punya foto cewek yang bernama sarah"?"


Ku gelengkan kepalaku, karena itu keteledoran ku, seharuskan aku  memfotobya juga cewek yang lainnya.


Ah, aku punya rencana untuk meminta mereka satu persatu lalu ku perlihatkan sama ibuku.


"Maaf bu, aku tidak pikiran sejauh itu. Kapan kapan aku akan foto semua cewek dikelas ku dengan hati hati jangan sampai ada yang tau"


"Iya, kasihan mereka jika hal buruk sampai menimpa mereka. Pasti masa depannya akan hancur" mendadak  ibu terisak menangis dengan sendirinya.


"Tapi buat apa bu?"


"Ibu hanya sekedar ingin tau dan melihat wajah mereka"


"Tidak ada yang jelek bu, rata rata semua cantik" terangku karena cewek satu kelasku selain pintar juga cantik cantik diatas standar, karena perawatan.


Hari ini orang tuaku jadi aneh? Ketika aku menceritakan masalah yang tengah ku hadapi. Belum lagi mengenai Riko, aku tidak ingin membuat beban pada ibu, biarlah aku yang memikulnya akan ku hadapi masalahku terutama dengan Riko.


"Bu apa yang harus ku lakukan untuk menyelamatkan mereka?"


"Ibu tidak tau, nak. Ibu bukan Tuhan, jadi ibu tidak bisa memberi mu saran. Kalau rencanamu bagaimana nak?"


"Entahlah bu?, aku sendiri juga bingung untuk menolong mereka. Karena target Alex  selanjutnya, aku tidak tau siapa yang di incar olehnya.  Tapi ada satu cewek yang baik serta dekat denganku, namanya Latifah Ariani, memakai jilbab lembut serta perhatian banget"


"Kamu naksir ya nak? Kayak Latifah nur khasanah anaknya pak Sarjio dan bu Tumini di kampung"


"Ah ibu ini apaan sih. Gak lah bu, aku ingin fokus belajar"


"Bagaimana kabarnya Latif dikampung? Ibu tau kalau Latif itu cinta sama kamu nak"


"Ah ibu ini kepo banget. Latif pacarnya Ferdy kok bu"


Mendengar penjelasan ku ibu langsung melongo tak percaya.


"Iya bu, ibu tak percaya,,, kalau Latif pacaran sama Ferdy"


Antara percaya dan tidak, ibu hanya menggeleng pelan, akan mengangguk karena tidak mungkin aku berbohong.


"Tapi nak, sudah lah,,," ibu menyerah, tidak meneruskan argumennya. Aku tahu ibu tidak percaya dengan ucapanku, tapi aku tidak mungkin jujur mengenai perasaanku yang berbeda ini. Aku tahu ibu sudah tahu keadaanku bahkan ayahku karena aku telah menguasai ilmu penjerat mimpi. Tentu orang tuaku konsekuensi yang harus ku tanggung.


Tapi, aku tidak pernah cerita kalau aku juga telah memiliki ilmu yang lain lagi dan itu ku rahasiakan dari orang tuaku.


Aku tahu kalau Latifah juga bakal jadi target Alex selanjutnya tapi Latifah tidak tahu hal itu karena aku tidak pernah jujur padanya. Aku hanya berpesan pada Latifah selama disekolah harus ada didekatku karena aku takut terjadi apa apa dengannya. Aku begitu peduli padanya karena Latifah baik padaku.


"Ibu sudah tau keadaanku kan,,,,"


Ibu hanya mengangguk, air matanya leleh dengan sendirinya.


"Ibu tidak perlu menangisiku. Aku juga tidak bisa menolak takdirku sebagai pewaris ke tujuh dari kitab ilmu penjerat mimpi. Karena setelah tidak ada lagi ilmu itu dimuka bumi ini. Akulah pewaris terakhir serta harus menanggung beban seumur hidupku"


Ku tahan air mataku sekuat tenaga, tapi ibu malah semakin deras cucuran air matanya karena tahu aku bakal tidak punya keturunan seumur hidupku.


Entah, bagaimana hari hari selanjutnya kehidupan yang ku jalani?


Hanya Alloh yang tahu!


#betsambung.....


Rabu 27 Juli 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.