101. Keanehan.
Bab 101. Keanehan
★★★★
Pagi ceria, tidak terdengar kicau burung disini saat sinar mentari muncul diufuk timur, namun yang terdengar suara bising deru suara kendara. Sekalipun ada ada burung burung kecil namun masih kalah dengan suara kendaraan.
Aku sudah bersiap untuk sekolah, di antar oleh ayahku.
Aku sudah sarapan supaya keadaan fit saat belajar dan itu semua disiapkan oleh ibuku, tak lupa minum susu coklat hangat karena kini aku punya kebiasaan baru.
"Nak ini uang saku buatmu, terimalah, tapi tidak seberapa"
"Terima kasih bu. Ini sudah cukup. Nanti sisanya buatku tabung"
Ibu hanya tersenyum saja, ku cium punggung tangannya sebelum aku berangkat ke sekolah di antar oleh ayahku.
"Mas, hati hati ya. Kamu juga nak" nasehat ibuku mengikuti langkahku menuju keluar. Karena ayahku berada diambang pintu menunggu.
"Iya bu, assalamualaikum,,," salamku berpamitan pada ibu yang menatapku dengan bangga.
"Belajar yang rajin ya nak" ucap ibu lagi, aku tersenyum membalasnya.
"Iya bu, aku akan berusaha. Doa kan ya bu supaya aku bisa juara"
"Insyaallah nak, doa ibu selalu dalam setiap langkahmu"
"Amin!"
___________
"Terima kasih ayah" ku cium punggung tangan ayah sebelum aku masuk kedalam area sekolah elite Permata Bangsa.
"Yang rajin belajarnya, nak"
"Iya ayah, assalamualaikum,,,"
"Waalaikum salam" balas ayahku saat aku melangkah melewati gerbang sekolah bahkan sudah ada banyak anak berada digerbang juga sudah berada didalam banyak yang memperhatikanku, tapi aku cuek saja.
Namun, ada seorang yang memanggilku, siapa lagi kalau bukan Latifah,,,
"Bening, pr kamu sudah kamu kerjakan?" tanya Latifah.
"Waduh, aku kelupaan nih Tif. Punya mu sesudah belum" tanyaku balik.
"Ada beberapa yang belum, sulit banget sih, kamu bisa bantu kan"
"Sudah, ayo ke kelas, mumpung belum masuk"
"Cepet, ayok,,,, tinggal beberapa menit lagi masuk, nanti bisa kena marah" Latifah terlihat agak panik.
"Santai aja kali,,,"
"Kamu kan tau sendiri Bening, kalau kita gak ngerjakam pr konsekuensinya kayak apa?"
Tentu saja aku ikut khawatir, bahkan tanpa ku sadari Latifah menyeret sambil pegangi tanganku erat menuju ke kelas yang jaraknya cukup lumayan.
Aku berharap tidak ada halangan karena kalau sampai apa yang dikatakan Latifah benar aku tidak bisa bayangkan hukuman apa yang bakal aku terima nanti.
Setelah sampai di kelas tentu saja aku langsung membuka buku pr-ku yang ku lupa buat mengerjakan kemarin karena banyaknya permasalahan yang ku hadapi.
Lebih baik aku fokus dulu sama pr-ku baru nanti ke hal yang lainnya. Termasuk...
Alhamdulillah!
Selesai...
"Otakmu memang encer, gak salah aku temenan sama kamu" mungkin Latifah keceplosan, hingga aku menatapnya.
Dia merasa tidak enak dengan tatapanku...
"Apa maksudmu? Jadi, kalau aku gak pintar kamu tidak akan mau berteman denganku. Aku salah menilai mu selama ini"
"Bening, buk- bukan seperti itu, aku tidak bermaksud menyingung perasaanmu. Aku memang,,,"
"Sudahlah Latif, aku tau aku bukan orang kaya, wajar jika kamu juga memperalatku, mempermainkan aku karena aku hanya anak seorang art, aku sadar itu"
"Bening, please maafkan aku. Aku tau aku salah telah menyinggung perasaanmu"
Karena aku kecewa dengan sikap Latifah maka aku duduk ditempatku karena aku duduk sendirian disana.
Latif hanya diam saja saat aku melangkah untuk duduk ditempatku sambil memperhatikanku.
"Huuhhh,,, sombong, dasar anak babu, sok sekolah disini"
Ku lihat Alex barusan datang, mungkin dengar percapanku dengan Latifah. Dia menghinaku di kelas saat sudah masuk.
"Lo itu pantasnya memang buat di manfaatin, dasar anak kacung,,, babu" ejek Alex makin jadi.
Aku tahu maksudnya untuk memprovokasi ku dengan Latifah karena nantinya ada maksud tertentu. Kasihan Latifah jika sampai terkena perangkap Alex karena ku tahu Latifah memang paling cantik dari cewek cewek yang ada di kelasku. Ku yakin Alex sedang mengincarnya makanya kini berusaha menjauhkan Latifah dari aku.
"Gak usah sok sok-an Lo kamseumpay"
"Iya, heran gue kenapa ada gembel dikelas kita ya"
"Bener juga, seharusnya di usir aja dari sini, ngerusak pemandangan"
"Huuuuhhhh,,, gembel!"
"Huuhhh, anak babu"
Cibir yang ada didalam kelas terutama para cewek ceweknya yang tidak suka denganku karena statusku.
Aku memilih untuk diam saja. Inilah alasannya kenapa aku tidak ingin memberitahu perihal rencana Alex yang akan membuat para cewek di kelasku tidak perawan. Karena mereka rata rata tidak menyukaiku terlebih setelah tahu keadaanku yang sesungguhnya. Bahkan dikelas ini hanya Latifah gadis yang ku kenal serta baik padaku sedangkan Alex the gank terang terangan memusuhiku.
Mereka seperti respek dengan Alex serta tindakan yang Alex lakukan itu benar menurut mereka.
Mereka tidak kalau ada udang dibalik batu yang di rencana oleh untuk Alex untuk para cewek sungguh mengenaskan.
Betapa terkejutnya aku saat mendapati guru yang akan mengajarku, yaitu pak Surya guru olah raga ku dulu kini mengajar dikelas ku. Biasanya juga selalu ganti tapi ini tidak. Seperti ada sesuatu keanehan terjadi.
"Pagi anak anak, hari ini kita kelapangan, tolong untuk ganti pakaian kalian dan saya tunggu di lapangan secepatnya karena kita akan adakan lari estafet" titah pak Surya sesekali menatap kearahku tidak berani berlama lama.
Namun aku menangkap tatapan pak Surya yang tak biasa.
Begitupun dengan Alex juga yang lainnya menatapku dengan lirikan penuh selidik.
Aku hanya diam saja selama mereka tidak mecibirku karena aku tahu watak pak Surya jika ada murid yang melanggar akan kena hukuman dan hukumannya tidak main main, itulah mengapa aku suka dengan pak Surya yang tegas.
Alex kembali menatapku penuh arti, seperti suatu hal yang disembunyikan dan direncanakan.
Aku seperti merasakan hal tidak baik dari Alex. Tapi, aku tidak takut dan harus berhati hati supaya aku tidak kenapa napa.
Kelas sangat ramai karena pak Surya sudah keluar duluan tapi sebelumnya sempat melirik kearahku sejenak, baru kemudian keluar dengan senyum tersungging, bahagia.
Alex the gank datang mendekat sedang murid yang lain sudah tidak ada karena menuju keruang ganti, tujuanku ingin ganti di kelas saja ketika sepi, karena aku gak mau keruang ganti pasti ribut dan berisik belum lagi harus nunggu jika ruangnya penuh. Pasti nanti kena marah pak Surya karena terlambat datang karena nunggu yang lainya beres ganti pakaian.
Kini aku dihadapkan dengan Alex the gank, entah apa mau mereka dan itu ada lima orang lebih.
"Heh anak babu, gue peringati sama Lo, Lo jangan turut campur dengan urusan kita. Lo paham itu,,," sentak Alex dengan menahan emosi.
"Lo gak usah ngehina gue Alex. Gue tau gue cuma anak babu dirumah Riko. Tapi itu pekerjaan halal. Apa salahnya?" balasku karena tak terima selalu dihina dan ejek oleh Alex the gank.
"Hey, anak songong, Lo itu siapa disini. Lo belum tau siapa yang Lo hadapi sekarang?" sela teman ganknya Alex kesal karena bossnya aku jawab.
"Huh, pengen tampol wajahnya yang sok polos itu" tambah temannya yang lain.
"Iya, lama lama gue emosi liatnya" geram yang lainya ikut menyahut.
"Sekapa aja digudang boss. Lama lama ngelunjak tuh anak jongos"
Ku tatap satu persatu mereka...
"Apa salah gue sama kalian? Gue tidak pernah berurusan dengan kalian, kenapa kalian benci ama gue, hah,,," tuding gue, geram juga lama lama aku dipojokkan oleh mereka seakan aku ini sampah yang harus dibersihkan serta dibuang.
"Nyolot juga Lo,,," Alex emosinya terpancing. Detik selanjutnya mencengkram kerah bajuku hingga membuat tubuhku naik keatas.
"Lepaskan gue, Alex" seruku tertahan karena leherku agak nyeri karena ketarik krah bajuku sehingga agak menyempit.
"Pegang!" seru Alex pada ganknya.
Apa yang mereka lakukan padaku?
Apa yang harus ku lakukan?
Apa sebaiknya aku menggunakan?
Tidak!
Aku tidak ingin keadaanku di ketahui oleh Alex dan ganknya, biar rahasiaku ku sembunyikan dari mereka, karena aku tak ingin ada yang tahu kecuali orang orang tertentu seperti Riko.
Kini, tubuhku sudah dipegang kuat kuat orang kaki tangan Alex serta siap untuk mengeksekusi ku.
Aku merasa terjepit, tapi aku tidak ingin ada yang tahu keadaanku sesungguhnya.
Aku harus berpikir keras untuk menghindarinya. Tapi, bagaimana caranya?
Tiba tiba,,,,
Bug, bug, bug!
Perutku di tinju dengan keras oleh Alex hingga rasanya isi perutku mau keluar semua.
Hekkgggg,,,,?
Mataku rasanya panas, hingga tak air mataku keluar karena menahan nyeri diperut merambat kesekujur tubuhku.
"Hentikannnn,,,,!" bentak suara yaitu pak Surya datang sebagai penolong.
Tentu saja Alex kalang kabut dibuatnya karena ke pergok sedang menganiayamu.
Aku terduduk sambil pegangi perut yang masih terasa nyeri, sakitnya ku tahan hingga pak Surya mendekat kearahku.
"Bening, kamu tidak apa apa?" nadanya terlihat khawatir.
Ku gelengkan kepala, baru kali ini aku bisa melihat pak Surya sedekat ini setelah sekian lama aku tidak bertemu itupun karena ancaman dari Riko. Tapi, kali ini ceritanya sudah berbeda lagi tidak seperti dulu.
"Terimakasih pak" ucapku dengan agak grogi. Ku akui pesona pak Surya memang ku akui luar biasa. Pak Surya hanya tersenyum simpul.
Kini menatap kearah Alex dan ganknya yang baru saja mengerjai ku.
"Kalian semua, lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali. Cepat ganti pakaian kalian. Saya hitung sampai sepuluh.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...
Enam...
Tujuh....
Delapan...
Sembilan...
Ada jeda sejenak...
Alex dan ganknya telah selesai ganti walaupun itu cepat cepat, dilihat oleh pak Surya dengan rasa emosi karena memergoki sedang membullyku.
Sepuluh....
"Cepat keluar!" bentak pak Surya emosi. Melotot kearah mereka dengan garang.
Keadaan kelas sepi tinggal aku dan pak Surya dalam suasana canggung.
"Terimakasih p-pakk,,,!" ulangi, mungkin tadi pak Surya tidak mendengarnya jadi ku ulangi mengucapkan rasa terima kasih karena telah menyelamatkan ku.
"Sama sama. Kamu tidak apa apa kan?"
"Tidak, hanya sedikit nyeri di perut tapi sudah sembuh" aku tidak berani menatapnya langsung karena grogi juga ada rasa malu.
"Keterlaluan sekali mereka, masih saja melakukan hal hal seperti itu" kelihatan pak Surya masih dongkol setelah melihat apa yang dilakukan Alex dan the ganknya.
"Mereka patut dapat hukuman. Kenapa kamu tidak melapor ke guru BK, Bening" kini tatapnya kearahku. Intens. Aku tidak berani lama lama karena dadaku langsung berdebar debar tak karuan. Pak Surya juga terlihat menghela nafas dalam dalam seperti mengalami apa yang ku rasakan.
"Sebenarnya banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu. Tapi, waktunya tidak banyak. Mau tidak kamu datang ke apartemenku?"
"Maaf pak, s-saya,,," sumpah, aku jadi grogi seperti ini. Seperti menghadapi pacar dan akan menyatakan cinta. Itulah yang ku rasakan.
Menghela nafas,,,
"Kenapa kamu nervous seperti ini?"
"Bapak juga sama" balasku membuatnya terlihat kikuk.
"Yaudah, gimana tawaranku, kamu bisa datang kan"
"Aku ijin dulu sama ayahku, karena nanti yang akan menjemputku"
"Kalau begitu nanti bareng aku saja"
"Masalah Riko"
"Nggghhhmmmm,,," gumamnya. Melangkah pergi meninggalkan ku sendiri didalam kelas.
#bersambung....
Sabtu 30 Juli 2022.
Komentar
Posting Komentar