102. Semakin Menjadi.

 Bab 102. Semakin menjadi


★★★★


Rombongan Alex the gank tentu saja menjalani hukumannya sedangkan murid murid yang lain yang tidak tahu menahu persoalannya hanya bertanya tanya, sesungguhnya apa yang terjadi sehingga Alex dan ganknya kena hukuman lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali.


Cewek cewek yang melihat keadaan Alex yang bermandikan keringat makin histeris dan makin kegatelan. Mereka mengagumi sosok Alex yang begitu mempesona dimata para cewek cewek ganjen. Mereka tidak tahu apa yang terjadi jika mereka sampai masuk dalam perangkap Alex.


Terlebih sikap Alex yang tidak perduli asal buka baju menyisakan kaos oblong tanpa lengan membuat para gadis melihatnya dengan tatapan gemas.


"Haduh, gue jadi sange liatnya"


"Gue pengen usap keringatnya itu"


"Pengen gue jilat, pasti endes"


"Seksi banget Alex, ala-mak"


"Gue mau jadi pacarnya"


"Gue rela di apain aja"


Aku dengar mereka bicara terang terang tanpa rasa malu. Sekolah disini hanya sebagai kedok dari kemunafikan akhlaq mereka.


Sikap para cewek di kelasku ternyata lebih parah, mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan buaya kelas kakap karena Alex akan memangsa satu persatu untuk di jadikan korbannya.


"Heh,,, kalian kesini?" sentak pak Surya membulat matanya. Pada Alex the gank yang terlihat lelah karena habis keliling lapangan sepuluh kali.


Aku suka pak Surya yang tegas, menghukum tidak pandang bulu.


Alex juga yang lainnya yang kelihatan kelelahan matanya melotot sesaat pada pak Surya yang terlihat santai.


Walaupun aku bersikap biasa, tapi aku memperhatikan gerak gerik semuanya yang sedang berkumpul.


"Ayo push up sepuluh kali!" perintah pak Surya pada Alex the gank.


"Tapi pak, kami masih lelah" protes Alex tak terima karena baru saja berhenti dari lari kini harus melakukan push up sepuluh kali.


Banyak para cewek yang penuh tanda tanya karena Alex dan teman teman mendapat hukuman yang sangat melelah.


"Sebenarnya ada apa sih, ayang beb Alex kena hukuman?"


"Iya, gue heran deh?"


"Mungkin bikin ulah?"


"Setahu gue, gak pernah ada masalah kok"


"Bener tuh. Orangnya coolnya gitu"


"Bikin meleleh"


"Gue mau di jadiin pacar"


"Ganjen"


"Gatel"


"Biarin"


"Huuhhh,,,"


Itu lah debat para cewek yang membicara Alex, hanya Sarah yang terlihat diam saja sedari tadi, bahkan tidak merespon sama sekali.


Kasihan dia harus menanggung beban batin dan tak ada yang tahu nasib apa yang di alaminya. Bahkan Alex tak menatap pun Sarah yang terlihat tertunduk sedih.


Tak ada yang menggubris nya, tak ada mau tahu keadaannya.


Kini para cewek cewek malah sibuk dengan Alex seolah memuji dan memujanya penuh cinta.


Dasar cewek begok!


Sudahlah, mendingan aku fokus pada belajarku, aku tidak peduli dengan Alex sekalipun mengancam ku selama tidak membahayakan jiwaku, maka aku tidak akan bertindak. Jika Latifah masih mau berteman sebisanya aku akan coba melindunginya dari rencana Alex the gank.


Ku perhatikan Latifah nampak terdiam bahkan jarang interaksi dengan yang lain. Sesekali menatapku, canggung.


Hukuman Alex the gank sudah sudah selesai. Alex menatap kearahku tajam. Pak Surya ikut memperhatikan ke arah Alex yang menatapku membuat ciut nyalinya.


Aku bersikap seolah tidak terjadi apa apa, tapi ku yakin Alex sangat dendam padaku karena telah membuatnya dihukum bersama ganknya.


"Saya harap kejadian tadi tidak terulang lagi. Ingat Alex dan kalian, karena bisa saja kalian dikeluarkan dari sekolah ini" kecam pak Surya.


"Silah kan pak, saya tidak takut dengan peringatan bapak. Silahkan saja keluarkan saya dari sini" tantang Alex seperti tidak takut dengan peringatan dari pak Surya.


Tentu saja para siswa yang belum tahu seluk beluk Alex jadi bertanya tanya terlebih disini dia murid pindahan dari sekolah lain sama hal aku juga murid pindahan.


"Kenapa?"


"Aneh?"


"Siapa dia, ngomong kayak gitu?"


"Heran, dia tidak takut ancaman pak Surya"


"Kepala sekolah saja segan pak Surya"


"Ada something?"


"Pasti"


Heboh para murid yang sedang berkumpul menunggu instruksi selanjutnya dari pak Surya.


Aku juga bertanya tanya seperti yang dihebohkan oleh teman satu kelasku, seakan Alex jera pun tidak malah menantang pak Surya.


Pak Surya sedikit maklum dengan keadaan karena dia mungkin sudah tahu latar belakangnya Alex.


",,, Alex, jangan mentang mentang kamu-,,,"


"Kenapa tidak jadi pak, bapak takut ya dengan saya karena telah tau siapa saya sesunguhnya?" ejeknya jumawa, seakan dia punya kekuasaan disini.


Pak Surya tidak ingin berdebat lagi....


"Silahkan kamu dan juga kalian tidak usah ikut pelajaran saya!" usir pak Surya menahan geram karena Alex tidak mengindahkan perkataannya sebagai gurunya terlebih dibidang olah raga.


"Oke, saya pergi!" balas Alex termakan emosi.


"Saya senang tidak mempunyai murid seperti mu yang tidak punya etitude!" geram pak Surya, menahan luapan emosinya.


Hanya Alex yang pergi sedang ya teman ganknya masih tetap bertahan. Membuat Alex gusar dan makin emosi.


"Saya pastikan bapak tidak akan bertahan lama disini" ancam Alex sepertinya tidak main main.


"Saya tidak takut atas ancaman kamu Alex. Kita lihat saja siapa yang akan bertahan disini" mata pak Surya sampai memerah menahan amarah didalam dadanya sedang berkobar.


Alex cepat berlalu, namun ada salah satu cewek yang meminta ijin untuk pergi ke toilet.


Pak Surya memberi ijin pada gadis tersebut, namanya Oktavia.


Berjalannya juga agak tergesa desa seperti ada yang dikejarnya.


Aku tidak peduli dengan cewek itu karena telah mencibirku bahkan ikut menghinaku didepan kelas


Ku perhatikan Sarah pandangannya mengikuti kepergian si gadis, penuh curiga.


Ku lihat Sarah menitikan air mata, entah apa yang membuatnya bersedih dan akhir akhir ini tidak ada senyum diwajahnya seperti dirundung duka.


"Okta,,," suara Sarah tertahan, tangannya menggapai tapi sosok Oktavia telah tidak ada, sepertinya ingin memberi peringatan.


Ya Tuhan!


Kini aku baru sadar, apa sesungguhnya yang akan terjadi. Kenapa Oktavia berjalan cepat dimana itu mengikuti langkah Alex dimana cowok maniak itu pergi dan menghilang karena arena menuju ke area toilet sekolah.


Tentu saja, aku dilanda ke panikan, tapi menolong juga rasanya percuma karena Oktavia seperti cewek gak bener. Jika pun terjadi sesuatu padanya itu resiko dia karena jadi cewek gampangan serta keganjenan dengan Alex yang jelas jelas tebar pesona.


Setelah semuanya berlalu tatapanku mengarah ke Latifah pas kepergok dia sedang melihat kearahku, dia terlihat grogi serta tidak berani menatapku lagi.


Sepertinya Latifah juga menyadari sesuatu tapi memilih untuk membiarkannya.


"Karena sedikit terjadi kesalahan teknis, maka materi kali ini saya ganti. Kita akan melakukan lompat jauh. Ini untuk latihan kalian karena pada pertemuan ketika akan saya adakan pengambilan nilai" titah pak Surya dan semua langsung antusias untuk belajar mendalami lompat jauh.


Aku sudah mengira ngiranya, terlebih lapangan disini selain memang luas, fasilitasnya juga mendukung dan memadai karena akreditasinya mendapatkan nilai A+ untuk sekolah Permata Bangsa.


____________


Sudah hampir dua jam lebih, Oktavia tak kembali lagi padahal tadi pamitnya cuma sebentar.


Kalau Alex memang disuruh oleh pak Surya untuk mengikuti pelajarannya karena telah membikin ulah serta membuatnya marah. Aku tahu penyebabnya pak Surya marah pada Alex karena telah melihatku dibully oleh Alex itulah yang membuat pak Surya menghukum Alex the gank.


Pelajaran olah raga, yaitu latihan Lompat jauh telah usai dengan tujuan untuk pengambilan nilai pada pelajaran berikutnya.


Kini semua berkumpul serta beristirahat, tentu tidak ada yang berani meninggalkan lapangan sekalipun rasa dahaga menyerang karena energi telah terkuras, begitupun pak Surya juga menahan rasa hausnya demi untuk menghormati para murid tidak mau enaknya sendiri.


"Untuk pelajaran hari saya cukupkan sekian. Jika belum paham boleh ditanyakan. Silahkan,,," pak Surya memberi kan waktunya pada siswa untuk bertanya jika belum mengerti dengan materi yang baru saja di ajarkan.


Semua siswa terdiam, mungkin memang tidak perlu ada yang ditanyakan lagi.


Apalagi keadaan siswa termasuk aku juga merasa letih. Jadi untuk bertanya pun rasanya enggan, memilih untuk diam.


"Ada yang tau kemana Oktavia?" tanya pak Surya diantara para siswa yang saling ngobrol berbisik membicarakan hal hal gak penting.


Aku memilih untuk diam, sekalipun banyak yang memandangku dengan cibiran karena tidak suka dengan keadaanku, juga orang tua terlebih statusku yang telah dibeberkan oleh Alex didepan kelas, membuat sebagian besar siswa membenciku karena statusku.


"Tidak pakkk,,,!" serentak semua siswa terutama yang cewek menjawabnya karena sosok Oktavia tidak kelihatan apalagi kembali.


"Ya sudah, sekarang kalian boleh istirahat, setelah itu kita lanjut pelajaran didalam kelas"


"Iya pakkk,,," kembali siswa ribut menyahut dengan antusias dan segera membubarkan diri langsung ada yang menuju ke kantin.


Ku lihat Latifah akan mendekatku tapi keburu pak Surya memanggilku hingga niat Latifah diurungkan karena tidak enak dengan pak Surya karena akan mengajaku ngobrol. Ku lihat Latifah pergi.


"Bening, jadi kan nanti ke apartemenku,,," ucap pak Surya mengingatkan ku akan janjinya mengajakku ke tempatnya.


"Apa nginap pak,,?" tanyaku dengan rasa canggung terlebih kita sudah lama tidak dekat seperti dulu karena insiden Riko yang tidak suka kedekatan pak Surya denganku. Dulu, aku memanggilnya dengan mas ketika sedang berdua, tapi kali ini ada kecanggungan ku rasakan.


Namun, sikap pak Surya terlihat biasa saja bahkan seperti tidak bermasalah padahal dadaku bila dekat detaknya tak karuan.


Ku lihat pak Surya pun terlihat menghela nafas dalam dalam, mungkin merasakan hal yang sama ku rasakan.


"Aku berharap kamu mau nginap,,,"


Hatiku makin berdebar tak menentu,,,


Pikiranku sudah melayang layang entah kemana?


Kejadian ketika aku nginap di apartemennya kini membayang dengan jelas.


Namun....


"Hiks, hiks, hiks,,,"


#bersambung....


Minggu 31 Juli 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.