103. Coba Cerita.
Bab 103. Coba cerita?
★★★★
Gadis cantik dengan rambut hitam sebahu datang sambil menangis.
Dari yang ku lihat tidak terjadi apa-apa, kelihatan keadaannya baik-baik saja.
Namun, Oktavia datang serta menangis tanpa sebab ketika aku dan pak Surya sedang ngobrol.
"Dari mana saja kamu Okta?" tanya pak Surya ingin tahu, bahkan tidak menaruh rasa curiga.
Aku sendiri sedikit banyak sudah dapat menduga apa yang di alami oleh Oktavia.
Ternyata Alex bermain sangat rapi dan bisa mencari waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.
Aku yakin kalau Oktavia telah jadi korbannya Alex.
Oktavia hanya bisa tertunduk tanpa bisa berkata apa apa.
"Kenapa kamu tidak kembali lagi kesini? Ini untuk materi besok ketika ada ujian praktek dua pertemuan lagi" jelas pak Surya memarahi Oktavia yang tertunduk diam masih menangis.
"M- m-maaf, pak. Saya salah, tidak mengindahkan ucapan bapak, saya siap menerima hukuman" Oktavia masih saja menunduk.
"Ya sudah, saya tidak akan menghukum kamu. Sekarang kamu boleh pergi,,,"
"Terima kasih pak, saya permisi,,," Oktavia bersiap membalikan tubuhnya, dan akan pergi.
"Tunggu,,,? Kamu melihat Alex tidak " pak Surya menghentikan langkahnya.
Mendadak muka Oktavia memucat dengan tubuh bergetar hebat.
"Tidakkk,,,,!" ucapnya tegas, air matanya deras membasahi pipinya yang tanpa makeup. Kemudian buru buru pergi tanpa menoleh lagi bahkan tidak melihatku sama sekali.
Ini sudah dua kali aku melihat cewek di kelasku menangis. Pertama Sarah, kedua Oktavia yang telah jadi korbannya Alex. Itu baru dugaanku saja. Entah siapa korban Alex selanjutnya?.
"Bening,,, kenapa melamun dari tadi?. Apa yang kamu pikirkan?" pak Surya membuyarkan lamunanku.
"Ehhh,,, gak ada apa apa kok, pak. Yasudah pak saya pamit dulu. Assalamualaikum,,,"
"Waalaikum salam"
Aku pun melangkah meninggalkan pak Surya di area lapangan.
Belum jauh aku melangkah aku lihat Oktivia duduk di dekat taman sekolah dikursi panjang. Tentu saja aku prihatin melihat keadaannya yang perlu dukungan moril. Aku coba mendekatinya. Aku ingin tanya dan tahu apa yang di alaminya.
"Hmmm,,, Okta,,, boleh duduk"
Tak ada jawaban, tapi dari sorot matanya memperbolehkan aku duduk.
Aku duduk juga jaga jarak, ku tahan rasa dahagaku, karena waktunya masih panjang sampai istirahat.
Oktavia masih saja menangis bahkan dengan wajah tertunduk seperti malu.
"Hiks, hiks,,, Be-Bening,,, hh,,, ak- ku minta maaf karena sikapku,,,"
"Hubungannya apa Okta?"
Aku tidak mengerti...
"Aku salah,,,"
Kini, Oktavia tidak gue-lo lagi seperti yang lainnya kecuali Latifah.
Aku masih saja mengkhawatirkan keadaannya. Ya Tuhan!
"Okta kamu gak ada salah sama aku. Kamu kenapa nangis seperti ini?"
Oktavia semakin nangis sesenggukan. Membuatku bingung, aku tak bisa menenangkannya. Maka aku biarkan dia tenang dulu sekalipun tangisnya belum reda sedari tadi.
Ku tanya hati hati supaya tidak menyinggungnya, aku tahu dia cewek sensitif karena rata rata disini begitu, terlebih dengaku mereka langsung nyolot. Tapi kali ini berbeda, beda masalah...
"Apa yang telah dilakukan oleh Alex ke kamu?" tanyaku pelan, sambil ku edarkan pandanganku keliling takut ada yang tahu karena aku tak ingin terjadi masalah, hanya untuk berjaga jaga.
"Hiks, hiks,,, maksud kamu apa?" Oktavia sedikit emosi dengan mata membulat.
"Maaf, aku hanya ingin tau saja. Tadi pak Surya tanya ke kamu mengenai Alex, apa kamu tau mengenai Alex, namun bukannya menjawab kamu langsung pergi. Aku sedikit menaruh curiga"
"Aku tau Alex, dia,,, dia,,,hiks, hiks, hiksss,,," air mata Oktavia makin bercucuran bahkan meremas remas roknya.
"Oktavia, maaf sebelumnya. Aku tidak bisa memberitahu ini kepada siapapun termasuk ke kamu. Kamu tahu sendiri sikap siswi kelas kita ke aku kayak apa. Sebenarnya,,,,"
Kini Oktavia menatapku penuh tanya, matanya merah sembab, karena terus menangis tanpa henti.
Belum sempat aku menjelaskan...
"Hey, rupanya kamu ada disini?" suara bass-nya jelas, aku tahu siapa dia. Alex dengan nyengir kuda kearah Oktavia lalu sinis kearahku.
",,, Manis, kemana kamu malah kesini, ayo ikut aku?"
"Tidak, aku tidak mau,,,"
"Oo,,, jadi kamu mau melawan aku. Oke,,, kamu tau apa yang akan aku lakukan dengan foto, kit,,, Upas,,,?"
"Aku mohon, jangan lakukan itu. Baiklah, aku ikut kamu?"
"Bagus, ayo,,," ajaknya tegas dengan senyum miring, penuh kemenangan.
"Be-Bening maaf,,," angguk Oktavia berlalu dari hadapanku menggandeng Oktavia layaknya kekasihnya.
Aku hanya menggeleng kepala melihatnya. Ya Alloh, Alex semakin menjadi. Dia benar benar melancarkan semua rencana untuk membuat para cewek disini tidak perawan terutama para gadis di Permata bangsa.
___________
Pelajaran telah usai, sesuai rencana pak Surya akan mengajakku ke apartemennya.
Aku menuju ke gerbang sekolah karena memang sudah siang beranjak sore. Tadi aku sholat dulu di mushola sekolah. Jadi kini aku telah tenang.
Banyak siswa yang menunggu jemputan karena ini sudah hampir jam dua.
Ayah belum juga datang, aku mencari carinya tapi sosoknya tidak kelihatan.
Malah kini ada Riko baru saja keluar dari dalam sambil tersenyum simpul, kelihatan bahagia terukir di wajahnya yang kini kumisnya makin bertambah macho bahkan tubuhnya kelihatan makin berisi. Sejenak aku terpana melihat, dan aku pura pura tidak melihat kehadirannya.
"Eh Bening, kamu sedang nunngu ya,,,?" sapa Riko tersenyum lebar. Gayanya terlihat cuek tapi sedikit memperhatikanku.
"Iya den?" Sengaja aku menghormatinya sebagai anak majikan. Wajah Riko berubah seketika terlihat tidak suka. Biarlah, dia marah memang itu yang ku mau.
"Gak usah panggil seperti itu. Gak enak aku dengarnya"
"Terus aku panggil kamu apa? Aku tidak mau cap orang tidak tahu diri"
"Sudahlah. Bisa naik tensi ku debat dengan kamu"
",,,,," Aku memilih untuk diam sejenak.
"Paman tidak akan datang" yakinnya. Sepertinya ada sesuatu yang direncanakan. Memangnya manusia satu ini selalu usil. Bisa bisa aku mutilasi tubuhnya. Geramku, jika itu ulahnya.
"Maksudku kamu, apa?"
"Kamu pulang bareng aku aja"
"Ogah"
"Lha,,,?"
"Aku ada janji"
"Jangan bilang kamu berhubungan dengan pak Surya lagi. Tadi ku lihat kamu sedang asik ngobrol dengan pak Surya"
"Memang kenapa? Kamu cemburu..."
"Hih, amit-amit jabang bayi! Gak layau!"
"Yaudah, kenapa kamu sewot, kayak kebakaran jenggot!" Aku sudah menahan geramku sedari tadi.
"Aku juga tidak pernah ngusik hidup juga kan. Lagian, kamu balikan sama Raya-"
"Bening,,," sapa Latifah saat aku sedang bersitegang dengan Riko.
"Siapa namanya? Ini temanmu kan Bening?" Mata Latifah berkilat kagum melihat sosok Riko. Ternyata ada yang belum begitu mengenalnya karena kebanyakan murid di sekolah elite Permata Bangsa.
Latifah seperti mengernyitkan dahi, berusaha mengingat ingat sesuatu, sesaat kemudian wajahnya cerah...
"Gue baru ingat, Lo Riko kan, yang kabarnya Lo bully Bening, hingga hampir membuat nyawa Bening melayang karena Lo kurung digudang. Tapi, gue denger denger Lo juga kena karmanya karena Lo pingsan hampir setengah bulan. Gue denger Lo juga ada affair sama pacar Lo. Klo gak salah pacarnya Lo yang namanya Raya itukan. Ratu gank. Tapi sayang, dia cewek norak yang pernah gue kenal. Ternyata cuma cewek murahan"
"Jaga mulut Lo cewek sial!"
Kayaknya seru nih, lihat Riko lagi di olok olok oleh Latifah tanpa tedeng aleng aleng membuat Riko makin terpojok. Ciut nyalinya karena kedoknya terbongkar. Inilah balasan yang tidak disangka, karma bagi Riko yang terus membuatku sedih.
"Lo tuh yang harusnya jaga sikap. Beraninya ama cewek. Ngaca dong!" Latifah makin mencerca Riko hingga membuat Riko mati kutu.
"Beraninya ama yang lemah, suka bully orang,
Gak tau malu. Seharusnya Lo tuh jadi contoh, bukan memberi contoh yang gak baik. Untung Tuhan masih sayang nyawa Lo, hingga Lo hidup sampai saat ini. Andai Lo tetap kayak gitu, gue yakin malaikat maut sedang ngincer Lo, ha ha ha,,," Latifah tertawa puas mengejek Riko.
"Wanita KEPARAT!" sungut Riko kesal namun tidak berkutik menghadapi Latifah. "Sialan!"
"Lo tuh yang bikin sial!" Sahut Latifah mentah mentah. Dengan senyum mengejek membuat Riko makin sebal dengan Latifah.
"Urusan kita belum selesai Bening!" Riko berlalu dengan uring-uringan.
Waduh!?
#bersambung....
Senin 01 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar