104. MIMPIKAH?
Bab 104. MIMPIKAH?
★★★★
"DASAR MANUSIA ANEH?" rutuk Latifah melihat tingkah laku Riko tak biasa pada Bening.
Tentu Latifah tidak tahu cerita dibaliknya. Andai tahu, mungkin tanggapannya pasti berbeda. Bagi yang punya gay-dar pasti tahu apa sesungguhnya yang terjadi antara aku dan Riko pasti punya hubungan spesial. Tapi, karena Latifah masih lugu, tidak tahu dunia pelangi tentu itu di anggap hal aneh.
"Seharusnya sikapnya gak gitu juga kali, sekalipun Lo itu anak art. Maaf, masih kebawa emosi"
"Gak apa apa kok Latifah, aku sudah terbiasa dengan Riko, dia memang seperti orangnya"
"Heran aja. Kamu kok kuat dan tahan sama orang kayak gitu?" Kini Latifah tidak Lo-gue lagi, sekalipun masih kesal dengan Riko.
"Ya mau gimana lagi, Tif ortuku kerja disana"
"Yaudah, kamu hati hati. Aku balik dulu. Daaaa,,,"
Latifah melambaikan tangan melangkah pergi karena ada taxi online lewat, mungkin sudah langganannya. Karena ku lihat langsung masuk dan jalan. Aku sendiri tidak tahu tempat tinggal Latifah dimana, semoga suatu saat nanti aku bisa tahu dan kenal.
Kini perhatianku mengarah pada...
Kemana anak songong dua belas itu?
Mobil jemputannya sudah tidak ada.
Ayah juga belum datang. Aku baru ingat perkataan Riko yang mengatakan bahwa ayah tidak akan datang menjemput.
Lalu...
"Heh,,," lagi lagi kena hardik, siapa lagi kalau bukan Alex the gank yang nampak garang menatapku.
Urusan dengan Riko belum kelar, kini tambah lagi dengan Alex, yang entah apa maunya.
Alex juga terlihat waspada, karena pandangan nya diedarkan, antisipasi. Aman!
"Gue harap Lo jangan turut campur ama urusan gue. Ngerti Lo. Sekali lagi Lo turut campur urusan gue, tidak segan segan gue menghabisi Lo. Camkan itu!. Ayok guys cabut!"
Setelah memberi ancaman seperti Alex pergi, ternyata ada teman satu ganknya yang bawa mobil dan sudah terparkir di luar gerbang.
Setelah, Alex menatapku dengan tajam serta menunjuk kearahku dengan jari tengahnya. FUCK!
Ku tarik nafas dalam dalam. Sabar, sabar, sabar Bening, saatnya pasti ada kesempatan buat memberi pelajaran bagi manusia songong dan sok-an itu, jadi kapok, bahkan jera.
"Eh Bening, kamu ada disini. Tadi aku mencari mu kemana mana bahkan ku tanyakan sama anak anak tidak ada yang tau. Tadi aku juga tanya sama Alex, dia bilang tidak tau, bahkan teman segerombolan juga sama" jelas pak Surya terlihat wajahnya ceria.
Haruskah aku mengatakan terus terang kalau Alex baru saja menemuiku bersama ganknya, bahkan mengancamku. Ah, sebaiknya aku tidak bicara pak surya. Biarlah, aku tidak ingin urusannya berabeh.
"Ngelamun lagi. Jadi kan ikut aku"
"Tapi pak, ayahku belum datang. Aku belum ijin. Takutnya nanti khawatir sama aku karena tidak ada kabarnya"
"Benar juga. Oiya, tadi gak ketemu sama Riko"
"Ketemu sih. Tapi..."
"Kenapa gak minta sama Riko buat minta izin ayahmu karena mau ikut ke apartemen ku?"
"Tapi bapak gak ada masalah lagi dengan Riko maupun keluarga Sanjaya, kan" ku pastikan saja.
"Gak ada,,,"
"Syukurlah. Bapak tau Riko kek gimana orangnya?"
"Gini aja, nanti aku telpon aja orang tuamu. Aku masih nyimpen nomornya. Yang dulu, masih aktifkan..." tatapan pak Surya mengarahku.
"Masih pak" anggukku, kalau nomor milik ibuku masih aktif sampai sekarang.
"Sekarang ikut aku"
"Kemana pak?"
"Ambil motor dulu, karena masih di parkiran. Tadi aku cari cari kamu tak taunya kamu disini, lagi nunggu jemputan"
"Baik pak"
Aku cuma nurut saja mengikuti dari belakang. Betapa bodohnya aku tanpa sadar mengikuti langkah pak Surya menuju kearah parkir yang jaraknya lumayan.
Baru terasa,,,,,,
"Pak aku nunggu disini saja. Gak apa apa kan pak"
Pak Surya menoleh, serta mengangguk pelan. Rautnya terlihat khawatir namun aku memberinya senyum.
Kembali ada anggukan pak Surya berjalan mengambil motornya.
Sesat kemudian motornya datang.
"Ayo naik" titahnya dengan senyum kalemnya. Ku terima helm dari pak Surya.
Tentu saja aku sedikit grogi. Tapi aku hilangkan rasa itu, bersikap biasa serta ku tahan perasaanku yang bergetar.
"Ayo,,,"
"Iya,,," lirihku. Ada rasa ragu. Tapi ku enyahkan perasaan itu.
"Pegangan,,,"
Memilih diam saja dari pada nanti ada yang salah.
Aku hafal jalan menuju ke apartemennya sekalipun sudah lama aku tidak berkunjung.
Kisaran setengah jam-an...
Barulah sampai. Hati ku berdesir saat kakiku melangkah menuju ke apartemen milik pak Surya, hingga kenangan masalalu bagai ulasan terulang membayang didepanku.
Rasanya tak percaya...
Ini terasa mimpi bagiku?
"Ayo, masuk kenapa malah bengong?" ajak pak Surya membuyarkan lamunan yang kemana mana.
"Gimana perasaanmu, Dek?"
Deg!
Detak jantungku berpacu, tadi saat disekolah pak Surya masih memanggilku namaku, tapi kini panggilannya berubah. Biasa....
Bahkan senyumnya mengembang ceria, sumringah.
"Ayo masuk dek. Ealah,,,, malah bengong lagi" pak Surya malah jadi gemas, mencubit hidungku.
Bahkan saking gak sabaran, tanganku diseretnya untuk masuk kedalam, buru buru membuka pintu apartemennya.
"P-pakk,,, " ucapku terbata. Rasa canggung menyelimutiku, betapa tidak. Pak Surya bersikap biasa, tapi aku belum bisa untuk bersikap biasa.
"Dek, napa harus panggil pak?. Panggil kayak dulu, itu lebih enak, hmmm,,," angguknya, menyakinkanku. Aku hanya bisa tertunduk malu.
Keadaannya tetap terawat, tertata apik....
Juga bersih, karena pak, eh mas Surya orang gak suka jorok. Bersihkan...
"Dek, kenapa dari tadi melamun terus? Kamu mikirin apa to dek? Kamu curhat saja sama aku"
Kini, mas Surya sudah aku-kamu padahal tadi waktu disekolah bahkan saya. Saat pulang kesini barulah bersikap biasa, tidak formal lagi, tapi tetap aku masih kikuk karena sudah lama tidak bertemu.
Sebenarnya banyak hal yang ingin ku tanya, terutama mengenai mimpiku yang terbilang aneh, ingin aku tanyakan apa ada hubungannya.
"Dek, udah sholat belum?" Tatapannya kearahku dengan senyum cool.
"S- sudah,,, tadi PP,,, em,,, mas,,," tetap saja grogi, terlebih kini sangat dekat. Bisa ku cium aroma tubuhnya yang baunya tidak apek, tapi manly dan terkesan cowok banget melekat ditubuhnya sangat kentara sekali aromanya. Seolah membiusku.
"Biasa aja dek, gak usah grogi gitu. Kamu sudah berubah dek, berbeda jauh dengan dulu. Padahal aku sangat kangen sama kamu, sampai ku tahan rasa rindu ini" tuturnya. Ku lihat kejujuran dari sorot matanya membuatku makin bersalah. Sedangkan selama ini aku sibuk dengan duniaku juga masalah ku yang datang bertubi tubi. Hingga aku melupakan orang orang didekatku serta sayang dan perhatian sama aku seperti halnya mas Surya, he he,,,,
"Maaf mas, bukannya aku berubah. Tapi, ancaman Riko tidak main main" jelasku supaya mas Surya ngerti keadaan. Walaupun kenyataannya kini Riko memang banyak berubahnya.
"Ku kira Riko berubah,,," dengan berkata seperti itu, maka tanpa rasa ragu mas Surya membuka kaosnya hingga menyisakan kaos dalamnya. Tapi, di loloskan juga kaos oblong hingga kini toples didepanku.
Dadaku makin tak menentu debarannya, tapi ku coba untuk redakan, hingga tak berani menatapnya lekat, takut khilaf.
"Kamu gak apa apa kan dek"
Menghela nafas, ku anggukan kepala. Aku bohong jika aku tidak menikmati apa yang didepanku. Ini sesuatu yang membuatku jadi ser-seran. Ya Tuhan! Godaan apa lagi ini. Disungguhi pemandangan yang memanjakan mata. Walaupun aku tidak bisa merubah sudut pandangku.
Bisa-bisa aku mati berdiri dengan menatap mas Surya yang toples bahkan tubuhnya terlihat berkilat. Pahatan tubuhnya makin terlihat sempurna membuat liurku meleleh, bahkan ku telan, terasa kering kerongkonganku.
"Gak mas" bohongku, padahal aku berusaha menyembunyikan debaran hatiku yang siap meledak karena tak terkontrol.
Aku tidak tau apa yang dipikiran mas Surya saat ini. Apa hanya sekedar menggodaku atau sekedar mempermainkan perasaanku?.
Aku DILEMA?
#bersambung....
Komentar
Posting Komentar