105. Godaan Teramat Berat.
Bab 105. Godaan teramat berat.
★★★
Huufffff,,,,?
Ku hempaskan nafasku berkali kali, untung saja mas Surya sibuk didapur walaupun keadaan masih sama, setidaknya aku bisa menenangkan debaran didadaku yang tak karuan.
Mana aku belum ganti baju, rasanya tubuhku juga gerah. Dan juga aku tidak bawa baju ganti hanya seragam sekolah yang melekat di badanku.
"Mas, aku mau mandi dulu" seruku tertahan karena yang ku tahu kamar mandinya ada dikamar mas Surya juga didekat dapur. Bingung juga rasanya.
"Mandi saja dek"
"Tapi mas, aku tidak bawa baju ganti, gimana?"
"Cari aja baju yang pas dilemarku. Kamu tau kan,,,"
"Iya,,,"
"Yasudah, biar aku siapkan makan siang dulu. Kamu pasti sudah laparkan, nanti gantian mandinya"
Aku tidak menyahutinya, karena aku ingin segera bersih juga mencuci pakaian sekolah karena besok aku pakai. Kalau memamg aku harus nginap disini.
Mas Surya yang akan meminta ijin pada orang tuaku kalau aku nginap disini, seperti kejadian yang dulu. Ibu begitu percaya pada mas Surya seperti saat ini. Semoga mas Surya orangnya baik, tidak ada udang dibalik batu. Entah, mengapa aku pikiran seperti itu? Sudahlah, lupakan saja.
Selesai mandi aku mencari pakaian yang pas buat aku tapi tetap saja agak kebesaran, tapi ku buat nyaman.
"Sudah dek?" Mas Surya baru saja masuk. Tersenyum melihat keadaanku karena memakai pakaiannya yang agak kebesaran.
Mending aku jemur pakaian ku di luar biar cepat kering, tadi sekalian mencuci pakaian mas Surya bahkan sampai celana dalamnya. Karena besok mau aku pakai lagi.
"Kenapa tertawa mas? Ada yang lucu ya?" selidikku heran dengan sikapnya ketika menatapku dengan membawa cucian yang akan aku jemur.
"Ah, gak kok" masih saja mas Surya tersenyum simpul bahkan melewati ku masuk kedalam kamar mandi.
Aku berjalan keluar karena akan menjemur pakaian yang ku cuci dan sudah agak kering karena tadi memang ku keringkan dengan mesin cuci.
Jika mengingat mesin cuci, aku teringat tentang simbah putriku di kampung. Ya Alloh, semoga Engkau beri umur panjang kepada beliau. Tak terasa air mataku menetes jika mengenang semua tentang simbah putri yang kini tinggal sendirian.
Ku jemur pakaian, yang pastinya akan cepat kering karena cuaca masih panas.
Kemudian aku masuk kedalam disambut dengan suasana sejuk karena ada ac-nya.
"Dek kenapa kamu terlihat sedih? Apa ini karena,,,"
Ku gelengkan kepalaku hingga membuat mas Surya heran dengan tatapan penuh selidik.
"Lalu,,,?" ucapnya menggantung. Makin penasaran karena aku masih diam membisu.
Menghela nafas,,,
"Dek, jika kamu gak senang disini, maka aku akan mengantarmu pulang,,," kasihan mas Surya jika mengira dia membuatku sedih padahal aku teringat simbah putriku dikampung yang kini sendirian.
"Mas bukan itu. Aku,,, aku hanya ingat simbah putri dikampung, karena...?" Sungguh, aku tak sanggup untuk meneruskan ucapanku, sesak di dada ku rasa terlebih mengingat kejadian ketika simbah kakung meregang nyawa hingga aku masih bisa menyelamatkan beliau sekalipun tidak sepenuhnya itupun aku hampir terlambat menolong.
"Karena apa Dek, cerita saja ke mas?"
"Tidak mas, ini masalahku"
"Ya sudah kalau kamu belum siap. Seandainya memang kamu mau curhat, mas siap dengar curhatanmu"
Ku lihat ada kilatan aneh dimatanya. Entahlah, apa itu hanya perasaanku saja, atau bagaimana?
",,, Terima kasih ya dek, kamu telah repot repot mencuci pakaianku"
"Ah, sudahlah mas. Cuma sedikit. Banyak pun gak masalah kok"
"Wah, gak enak nih. Malah ngerepotin kamu"
"Aku yang ngerepotin mas, disini"
"Aku seneng ada temen ngobrol dek"
"Lha memangnya mas gak ada temen siapa gitu. Cewek maupun cowok?"
"Kamu kan tau sendiri dek, mas gak suka bergaul"
"Bu Laras, gimana mas?"
"Hmmm,,, anu. Itu,,, aku,,," terlihat mas Surya kebingungan. Aku makin curiga dengan sikapnya yang tidak biasa, seperti menyembunyikan sesuatu.
Suatu saat aku akan tahu apa yang dirahasiakannya. Aku harus bersabar, atau....
Ah, aku punya rencana nanti malam? Yess,,,,!
"Dek, ayo makan dulu" ajak mas Surya, kini lebih santai dengan kaos pendek juga celana pendek dengan senyum khasnya.
Kami menikmati makan siang dengan santai tanpa gangguan...
Perasaanku lebih tenang saat ini, ketimbang tadi terlebih di apartemen nya mas Surya karena jarang ada keributan bahkan tidak pernah terjadi.
Kami membereskan bekas makan siang bersama, sambil bercanda. Hingga beres, lalu menuju keruang depan untuk santai.
"Mau cemilan apa dek?" tawarnya. Sedangkan aku tidak tahu isi kulkasnya apa.
"Hmm,,," aku hanya bergumam bingung.
"Sebut saja dek" karena aku sudah kedepan duluan.
"Pop corn aja mas"
"Minumannya? Ada softdrink" tawarnya dari arah dapur.
"Es krim rasa coklat, kayaknya seger"
"Betul. Rasanya juga udah gerah, padahal tadi sudah mandi" serunya dari dalam.
Aku masih menunggu karena menurutku ruangan rasanya sejuk karena AC nya hidup, entah kalau mati mungkin suasananya akan gerah.
"Ini pesenannya" mas Surya datang dengan membawa nampan.
Dan yang paling bikin mata melek yaitu keadaannya yang toples. Ya Tuhan! Godaan apa lagi ini yang ada dihadapanku. Mas Surya begitu mempesona, menggodaku. Dadanya yang gempal serta perutnya yang rata bagus, ada bebuluan yang menghias bahkan segaris lurus serta menghilang dibalik celana pendeknya, bisa ku pastikan dibawah sangat lebat. Membayang kan gak itu darahku berdesir, nafasku tiba-tiba seperti tersendat karena dadaku rasanya sesak dengan sendirinya hingga membuatku tak bisa berpikir, pikiran ku mendadak kacau.
Sungguh, lama lama aku disini bisa mati kehabisan nafas, karena godaan nya begitu berat bagiku.
Sebisanya ku alihkan pandanganku karena aku tak ingin terhanyut oleh pesonanya yang menghanyutkan.
"Ini dek,,,"
"Trims,,, mas" balasku singkat. Tak berani mataku lurus menatapnya. Aku sangat grogi, jika tidak dibilang gugup setengah mati. Malah kini duduk didekatku biasanya. Tadinya aku sudah meredakan debaran didadaku kini detaknya berpacu laksana ada kuda berlari sangat kencang.
Bahkan keringat merembes di keningku...
"Kenapa keringatan dek. Padahal AC nya nyala,,,," bahkan tangannya direntangkan hingga otot otot tangan membuatku makin bergetar.
"Hhngggmmm,,,, gak,,, mas" dengan ku usap supaya kering.
Mas Surya makin tersenyum terkulum, senang dan sedang mengejekku dengan pesonanya membuatku klepek klepek.
"Kamu suka popcorn ya,,,"
"Ya mas,,,"
"Es krimnya,,,"
"Kenapa mas?"
"Kamu suka"
Ku anggukan kepalaku karena aku memang menyukai es krim yang kini telah ku jilati penuh nikmat.
Mata mas Surya tak lepas menatapku...
",,,?" Aku bingung juga grogi dengan tatapannya. Bahkan tubuhnya beringsut mendekat. Detak jantungku kian berpacu tak karuan.
Tangannya terulur dekat wajahku, agak kebawah...
Mengusap!
"Kalau makan yang bener, dek" ingatnya. Dengan senyum coolnya, menggoda.
Diusapnya bibirku dengan lembut menghilangkan noda yang belepotan.
Bahkan tanpa rasa jijik, bekas usapannya dijilatnya dengan santainya.
Hatiku,,,?
#bersambung........
Kamis 04 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar