106. Sanggupkah?.

 Bab 106. Sanggupkah?


★★★


Setelah insiden mengelap bibirku, lagi lagi aku disuguhkan dengan hal yang mendebarkan saat makan malam bersama dan semua disiapkan oleh mas Surya, rasanya aku tersanjung dibuatnya.


"Makannya yang bener, dek" ingatnya lagi membuatku jengah perlakuannya yang sangat mesra seolah aku pacarnya.


Sungguh beruntung, nanti wanita yang jadi istrinya akan sangat bahagia mempunyai suami seperti mas Surya yang sangat pengertian dan perhatian yang begitu besar.


Rasa gondok dileher, haru pasti...


"Mas,,, kenapa mas begitu perhatian sama aku?. Sangat  beruntung wanita nantinya menjadi istrimu" ucapku berambigu. Aku tidak tahu nantinya mas Surya menikah atau selamanya akan menyendiri karena traumanya dengan seorang wanita yang dulunya pernah menolak dinikahi.


Menghela nafas...


"Entahlah dek?. Aku belum mikir hal itu. Aku..." ucapnya menggantung. Padahal, tadi saat ku singgung tentang bu Laras, rautnya berubah drastis. Apa mungkin mas Surya ada hubungan spesial dengan bu Laras, karena perubahan sikapnya tadi?.


Aku tidak berani menanyakan lagi tentang hal itu padanya, takut nya nanti malah menyingung perasaannya. Lebih baik aku diam saja dari pada nanti bikin ruyam.


"Maaf mas"


"Kita gak usah bahas itu kenapa?"


"Terus,,,"


"Kenapa tidak ada kabar dari kamu selama ini?"


"Mas sendiri tau kan, Riko mengancamku juga mengancam mas. Dia hampir membuat mas kehilangan pekerjaan. Dia memang manusia gila, yang ku kenal"


"Yang penting sekarang Riko tidak menjadi ancaman lagi"


"Liburan kamu kemana dek, tidak ada kabarnya? Kamu pulang kampung ya, kenapa gak ajak-ajak?"


",,,," Aku hanya bisa terdiam.


"Kenapa diam dek?. Apa kamu ada masalah dengan Riko?"


"Pulangnya aku mendadak, jadi gak bisa ngasih kabar. Memang, aku lagi ada masalah dengan Riko, karena itu lebih baik untuk ku terutama keluargaku. Jadi Riko gak mungkin mengancam ku karena aku tidak ada didekatnya. Aku sengaja menghindari nya. Aku liburan di kampung, mas"


"Pasti enak liburan dikampung"


"Begitulah. Tapi, liburanku terganggu, karena Riko nyusul kesana, membuat kekacauan"


"Jadi Riko juga ke kampungmu dek"


Ku anggukan kepala, sepertinya mas Surya tidak senang.


"Lalu apa yang dilakukannya padamu?"


"Begitulah"


"Maksudnya?"


"Bikin onar dikit sih. Untung ada mas Kharis,,, hmmm,,," ku gantungkan ucapanku. Entah mengapa aku tidak enak. Juga tidak perlu menceritakan hal itu pada mas Surya, gak penting juga.


"Siapa dek?" ralatnya penasaran serta mengingat dan menerka nerka siapa yang ku sebutkan tadi. Sampai keningnya mengernyit dengan mata menyipit.


"Sudah lah, lupakan gak penting juga"


Sepertinya mas Surya tidak puas atas jawabanku, aku yakin dia sangat penasaran.


"Mas,,," sebutnya sambil mangut mangut. Serta lanjutnya....


"Kharis,,,,?" matanya membulat dengan mengernyitkan dahinya. Sepertinya nama itu tidak asing buatnya, tapi enggan mengatakannya.


"Sudahlah. Buat apa kamu ulas lagi, penting juga buat aku"


"Tunggu,,,, tunggu dek,,, aku seperti pernah dengar,,, soal nama yang kamu sebut  barusan itu,,, hmm,,," kembali mas Surya seperti berpikir keras.


Tentu saja aku agak kesal juga...


Aku punya inisiatif, dan ini saat sangat jitu?


Dari pada pikirannya memikirkan tentang nama mas Kharisma yang telah membuat kakek harus meninggal kan dunia fana.


Lebih baik!


Ccuuppppp,,,


Ku kecup bibirnya lembut karena sedari ngomongin soal nama yang ku sebut tapi belum selesai.


Hal itu membuat mas Surya tergagap, blank tentu.


"Dek,,,?" Membuatnya terperangah karena tidak menyangka jika aku sampai melakukannya, itu ku lakukan tanpa ada persetujuan.


Shock pasti!


Tidak menyangka jika aku nekad.


Sumpah!


Aku sendiri kenapa sampai nekad melakukannya. Kenapa aku jadi takut sendiri jika mas Surya sampai tanya dan tau mengenai mas Kharisma. Belum tentu mas Surya tahu mengenai jati diri mas Kharisma namun entah mengapa ada rasa ketakutan tersendiri dilubuk sanubariku yang paling dalam.


Mungkinkah ini sebuah firasat!


Jawabnya, entahlah?


"Dek, kamu kangen ya" bahasnya, atas apa yang ku lakukan karena aku tak ingin mas Surya menyakan tentang yang ku sebutkan.


"Emang gak boleh ya. Mas sendiri apa gak kangen. Terus tujuan mas ngajak aku nginap kesini untuk apa?" Ku cerca dengan banyak pertanyaan, tujuanku mas Surya tidak ingat lagi dengan mas Kharis-ma.


"Hmm,,, ya buat nemeni aku dek. Kan sepi disini"


"Ya cari aja yang lain mas, kan banyak. Kalau gak cari aja di aplikasi BIRU, kamu tinggal pilih sesuai selera" ku tekan kata biru sebagai penegasan. Sesaat mata mas Surya dengan tatapan tajam. Aku tidak tahu maksudnya.


"Kok kamu ngomong gitu dek" helaan nafasnya berat serta pelan.


Ada pancaran kesedihan di matanya, kejujuran yang ku dapat. Tapi, entah mengapa, aku sedikit ragu, terlebih sudah hampir satu bulan tidak bertemu tentu banyak perubahan yang terjadi sedangkan aku banyak mengalami hal yang tak terduga seperti bertemu mas Kharisma dengan sejuta misteri, Riko yang nyusul ingin tahu kehidupanku di kampung, sampai perasaan Ferdy yang berubah belum lagi Latifah yang cinta sama aku, belum mengenai simbah kakung yang kini telah muksa belum lagi persoalan simbah putri yang kini hidup sendiri, ditambah lagi persoalanku dengan Alex yang belum kelar, dan kini aku dihadapkan dengan mas Surya yang entah mengapa ada rasa curiga tersendiri. Aku tidak memungkiri perasaanku yang masih meragukan tentang mas Surya.


Tapi melihat sikapnya, keraguanku seperti menguar entah kemana.


Akan tetapi aku harus berhati hati, karena itu lebih baik.


"Lupakan saja mas" pungkasku dari pada mas Surya kepikiran, jadi merasa tidak enak dengan ku.


"Yah, mungkin selama kita berjauhan, aku tidak ada perhatian sama kamu dek, wajar jika kamu agak berubah"


"Mungkin benar katamu mas. Tapi, menurutku keadaanlah yang mengaharus. Aku juga tidak mungkin melawan Riko karena keluargaku kerja dirumahnya. Orang tua Riko sangat baik hingga mereka betah. Kalau Riko, sebenarnya tidak ada masalah. Dia masih labil pikiran juga perasaannya. Hingga mas sendiri ikut kena imbas nya"


"Lupa kan. Bagaimana sekolah mu sekarang dek?" tanya mas Surya, seperti ingin tahu keadaanku saat ini. Mungkin juga mas Surya tidak ingin terjadi apa apa denganku, seperti apa yang ku alami dulu.


Tapi kali ini persoalanya berbeda, walaupun aku dalam keadaanku di ancam . Bukan ancaman tapi itu suatu peringatan, dan itu sungguh berat bagiku. Beban perasaan, buatku.


Tapi, apa mungkin,,, jika aku cerita dengan mas Surya, mas Surya bisa membantuku, atau sebaliknya hanya jalan buntu.


Karena Alex melakukan ketika keadaan lengah, tidak ada bukti maupun saksi mata yang mengetahui. Alex bermain rapi, hingga kedoknya tidak tercium.


"Aku,,, hmm,,, aku,,, baik baik saja mas, tapi,,,?" sungguh, aku sangat ragu menceritakannya pada mas Surya hingga ucapanku terbata.


"Ada apa dek? Kamu ada masalah dengan siapa dikelasmu. Atau,,, jangan jangan dengan Alex,,," cercanya dengan tatapan tajam, membuatku takut sendiri dengan tatapannya.


Wajahnya mengeras hingga rahangnya nampak kokoh, otot leher bersembulan.


",,,," Aku hanya membisu menatapnya.


"Katakan dek, apa benar dugaanku, kalau kamu ada masalah dengan Alex?" desaknya, membuatku tak kutik.


",,, Dek,,, katakan!" dengusnya penuh amarah. Karena aku masih membisu. Karena masalah yang ku hadapi kali ini sangat pelik. Aku takut, jika gegabah, maka akan makin runyam.


"Mas,,, dengar,,," lirihku.


#bersambung...


Jumat 05 Agustus 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.