107. Akhirnya.
Bab 107. Akhirnya...
★★★★
Tv LED masih menyala tidak ada yang memperhatikan, entah acara apa yang sedang ditayangkan. Baik aku maupun mas Surya tidak pernah fokus nonton karena sibuk dengan pikiran masing masing.
"Mas mau ngapain?"
Ku lihat mas Surya mengganti channel tv, tapi bukan memutar siaran tv.
Aku tahu kalau tv LED sekarang itu lebih canggih bahkan memutar dari hp android bisa.
Mas Surya diam saja, bahkan melewati, hingga tubuhnya agak makin dekat hingga aroma tubuhnya manlynya tercium santar dihidungku membuatku fly.
Pandanganku tertutup tubuhnya, hingga aku tidak tahu apa yang dilakukan.
"Mas,,," kataku lirih ingin tahu maksudnya.
"Mutar apa mas?" tanyaku penasaran. Terlebih es krim ku sudah habis tinggal popcorn tapi sudah tinggal setengahnya karena aku yang makan sedang mas Surya kadang cuma melihatku sedang ngemil.
"Ada deh" selorohnya, tanpa reaksi kemudian kembali ketempatnya.
Aku sedikit bingung dengan layar yang kini menampilkan layar hitam, setelah itu ada tulisan bahasa yang kurang ku pahami, kayak bahasa spanyol gitu. Sudahlah,,,
Belum lagi, ada latar belakang tentang hutan, serta ilang ilang seperti Padang Savana berbagai rumput, bahkan ada perkemahan.
Setelah itu menampilkan gambar beberapa cowok yang setengah telanjang, hanya mengenakan celana pendek saja berjalan beriringan, cewek juga ada.
Aku tidak tahu film apa yang sedang diputar mas Surya.
Karena adegannya disitu cuma berputar putar saja, serta ngobrol-ngobrol dengan bahasa yang tak ku mengerti.
Ku lihat ceweknya ada dua berlari pergi entah kemana sambil menjerit ketakutan. Entah apa yang membuatnya takut, hingga pergi sambil berlari. Film aneh pikirku.
"Film apa mas, itu cewek kok main kabur? Kan aneh? Terus cowok cowok yang setengah telanjang tadi kemana?" cerocosku menilai film yang ku tonton itu monoton karena menampilkan film yang nyeleneh.
"Aku juga tidak tau dek? Aku juga penasaran, maka ku putar" itupun dengan helaan nafas berat, seperti menahan sesuatu di dalam dadanya. Apa dada mas Surya sesak ya, hingga ambil nafas dan menghela saja berat. Sejak kapan? Atau jangan jangan mas Surya ngerokok hingga nafasnya sering sesak gitu. Pikirku.
Mas Surya berdiri, setelah itu mematikan lampunya, hingga keadaan temaram hal ini membuatku keheranan.
"Kenapa dimatiin lampunya mas?" tanya ku bingung karena biasanya tidak begitu.
"Silau dek. Kalau begini kan enak"
"Tapi, itu film apa,,,?"
Saat aku tanya, layar didepanku menampilkan adegan orang dewasa.
Yang membuatku hampir putus nafasku adegankan para cowok kisaran empat orang cowok bule yang tubuhnya sangat bagus bagus.
Aku tidak menyangka jika para cowok di film itu semuanya gay.
Jadi mas Surya sedang memutar film gay yang berasal dari hp di salurkan ke tv LED yang gambarnya hampir seukuran manusia.
Hal pertama ciuman berbarengan. Kemudian masing masing lorotkan celananya tanpa sabaran. Hingga penampilan mereka bugil. Itu berada didalam tenda. Mungkin ceweknya tadi kabur karena para cowoknya mengusir mereka.
Tubuh mereka kini polos tanpa mengenakan apa apa dengan kontol mereka yang mengacung sempurna tanpa punya jembut. Mungkin dicukur.
Tentu saja aku sudah panas dingin dibuatnya menatap adegan didepanku. Sedangkan mas Surya agak santai menatap layar didepannya. Walaupun aku tahu dadanya juga bergemuruh. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang.
Aku sudah bisa berkata apa apa lagi, lidahku seperti kelu, kering tidak. Nafasku serasa putus-putus dibuatnya melihat adegan yang belum ku lihat sebelumnya.
Kalau Riko dengan Raya aku pernah melihatnya didepan mataku.
Tapi, kalau laki dengan laki belum pernah ku lihat sama sekali hanya saat ini melihat adegannya, dan itu membuatku meriang.
Melakukan oral sex aku pernah, dengan Angga yang pertama, mas Surya yang kedua, dengan Riko yang ketiga, serta mas Kharisma yang keempat dan yang terakhir sama Ferdy. Aku pernah melakukan anal sex tapi di dunia mimpi dengan mas Surya sedang didunia nyata aku belum pernah melakukannya. Aku tidak sanggup membayangkan jika ku lakukan di dunia nyata.
Siapa saja yang meminta, harus berani bayar, karena itu mungkin akan terasa menyakitkan.
Tapi bagaimana jika mas Surya ingin, aku tidak tahu harus bagaimana?.
Bahkan kini adegannya gaya 69, mataku tidak berkedip. Mereka saat intens menikmatinnya di posisi itu. Ada yang rebahan ada yang berdiri. Berbagai posisi mereka lakukan.
Ku lirik mas Surya sudah berkeringat tubuh nya hingga kembali aromanya menguar sampai ke hidungku. Jantan sekali aromanya. Rasanya aku ingin ...
Kepergok...
Buru buru aku pura pura fokus kedepan sambil menarik nafas lirih dan pelan, walaupun dibawah sudah sedari tadi tak bisa ku kendali.
Mas Surya sudah tidak fokus lagi, gesturnya sudah berubah ubah tidak nyaman. Sesekali menggeser posisinya yang tak nyaman, mendesah berat. Seperti nya tidak berani melakukan hal lebih terutama padaku.
Tangannya kini di masuk kedalam celananya, mungkin posisinya tidak nyaman sehingga harus dibetulkan. Hembusan nafasnya lega tapi agak tersengal seperti menahan sesuatu didalam dadanya. Hupffff....
Bahkan posisinya kini menempel ku dengan helaan nafas berat...
Tentu saja aku agak terkejut dengan reaksinya.
"Dekkk,,," nafasnya terengah berat. Dia juga agak takut.
"Hmmm,,, " balasku dengan nafas berat juga karena kerongkongan ku sudah kering sejak awal.
Tapi, aku tidak berani menatapnya, terlebih tubuhnya nampak berkilat karena hormon minyaknya meningkat. Karena otot otot ditubuhnya seperti timbul.
"Dek,,, " panggilnya lagi, lirih seperti memaksaku melihat kearahnya karena tadi posisinya tidak nyaman, sekalipun kini kita sedang lesehan dihambal beludru yang nyaman.
Sesaat aku melihat kearahnya dan hal yang membuatku terperangah dalam suasana keremangan cahaya dari sorot tv LED, keadaan mas Surya sudah bugil alias telanjang bulat. Aroma keringatnya menguar, desahanya berat. Tatapan matanya sayu, mengisyaratkan sesuatu yang selama di pendamnya.
Mata kami saling beradu, aku tidak berani melihat kearah lainya karena nanti membuatku tergiur, kini aku menatap matanya lurus saja membuat detak jantungku bertalu talu tak karuan. Aku bahkan tidak sempat untuk meredakannya ketika perlahan tanganku disentuh oleh mas Surya, dipegang, lalu dituntunnya mengarah ke dadanya. Menempel didada bidangnya yang gempal.
Detak jantungnya berpacu sangat cepat, nafasnya tersengal seperti marathon.
Tersentuh!?
Darahku kian deras mendesak dalam tubuhku bahkan dalam hitungan detik naik keatas, ke ubun ubun, lalu pecah membunuh menimbulkan perasaan yang campur aduk tak karuan.
Bahagia, sedih, senang, takut, ngeri,,, jadi satu, tak terlukiskan. Sudah agak lama aku tidak merasakannya, tidak menyentuhnya. Aku seperti kangen sekaligus menginginkannya, tapi karena persoalan yang selalu mendera hingga hal yang kini ku alami seperti terlupakan.
Tapi kini, aku merasakan nya begitu nyata. Lembut, perkasa, keras, penuh tantangan.
Detak jantungku berpacu menghentak hentak.
Nafas mas Surya kian tersengal tak karuan.
Apa yang selanjutnya ku lakukan?.
Ahhhh,,,
#bersambung....
Jumat 05 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar