109. Kenapa Jadi Begini?.

 Bab 109. Kenapa jadi begini?


★★★


Pov Angga.


---------


Terus terang saja, rasa kangenku sudah tidak bisa ku tahan, namun egoku begitu besar. Betapa tidak, jika aku ingat kejadian malam itu, kebencian ku langsung meluap. Aku begitu pasrah serta menikmati sentuhan mas Bening, membuat darahku bergolak, belum lagi yang memang hasratku tak terkontrol karena saat itu aku sedang puber pubernya. Hingga saat milik ku sedang on the, maka pikiranku seperti hilang, dan bisa pasrah menerima perlakuannya yang begitu membuai. Ketika ingat hal itu kontolku menggembung dengan sendirinya. Terkadang aku yang on pun melonconya. Seperti saat ini keadaan ku tanpa memakai apa apa di dalam kamar. Bahkan sedang ku mainkan dengan bebas seperti apa yang ku ingin.


Ku akui aku salah, karena aku merasa aku-lah penyebab terjadi hal yang tak ku inginkan.


Masa puberku saat masa remaja yang sudah matang, tentu saja  nafsuku sedang tinggi tinggi nya. Bahkan, terkadang aku tidak sanggup untuk membendungnya.


Sedih!


Pasti pernah ku rasakan dan ketika aku sudah sadar akan kesalahan karena keegoisan ku lah, aku jauh dari mas Bening.


Selama ini di bully oleh Riko the gank, aku seperti menutup mata karena ketidakberdayaan ku untuk menolongnya ataupun sekedar membantunya.


"Mas Angga sebenarnya ada masalah apa dengan Mas Bening? Selama ini mas Bening terlihat murung dan sedih, tapi tidak pernah diperlihatkan"


"Akuu,,," tentu saja tak bisa ku jawab. Karena aku yang salah.


"Mas, ngomong dong. Kenapa diam!"


Mata putri membulat, marah tentu.


Apa yang harus ku katakan pada Putri apa yang terjadi antara aku dan mas Bening, selama ini selalu ku rahasiakan pada siapapun.


Aku sendiri yang egois...


"Mas,,," mata putri berkaca kaca. Dia merasakan kerenggangan yang terjadi. Terlebih bude dan pakde setelah bekerja di rumah Riko tidak pernah kesini. Karena sudah menempati paviliun yang ada.


Mas Bening pun jarang ku temui, dan setelah mendapat kabar kalau mas Bening pulang kampung.


"Aku mohon mas, mas Bening suruh kesini, aku ingin ketemu dan mengucapkan terima kasih, karena berkat mas Bening aku bisa juara lomba Tartil Al Qur'an. Kalau mas Angga ada masalah dengan mas Bening, tolong diselesaikan, jangan berlarut. Mas Bening satu satunya saudara kita disini mas Angga"


Dengan berurai air mata Putri meninggalkanku diruang tengah yang sepi. Ada kesedihan yang menyeruak di hatiku.


Di sekolah, saat aku mencari mas Bening aku tidak menemukannya, bahkan aku sempat bertemu dengan Alex sedang bersama seorang cewek, kelihatannya ceweknya tertekan. Seperti ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya. Entah itu apa?


Namun, setelah ku cari cari aku tidak menemukan mas Bening, sepertinya memang sangat sulit untuk menemuinya karena begitu banyaknya murid Permata bangsa.


Kalaupun aku mencari di antara ribuan para siswa disekolah ini, tidak bakal ketemu, bahkan kini mas Bening tidak sekelas baik aku maupun Riko juga Raya, karena kelas kita dipisah satu sama lain.


Rasanya aku malas untuk mandi, biasanya mas Bening menyuruhku untuk segera mandi, mengomeliku untuk segera sholat, tapi kini mas Bening sudah tidak ada, maka tidak akan ada yang ngomel padaku.


Putri tidak peduli dengan keadaanku, tidak pernah membangunkan ku lagi jika aku bangun kesiangan.


Ibuku hanya sesekali menanyai keadaanku, baik apa tidak. Sedangkan ayah juga jarang pulang, sering nginap dirumah nya Riko di pos jaga. Lengkap sudah kesedihan yang ku rasakan.


Karena jarang peduli denganku. Sedangkan Riko sekarang juga sangat jarang berkumpul tidak seperti dulu, sepertinya sibuk dengan dunianya.


Ku lihat Riko sekarang dekat lagi dengan Raya, mungkin ada kesempatan untuk berdua lagi.


Seingatku, baik Riko maupun Raya mengalami sakit yang ada, mereka berdua tidak menjalin hubungan sama sekali bahkan seakan putus. Kejadian itu sudah hampir empat bulan berlalu.


"Nak bagaimana kabarmu?" tanya ibuku mendekat kearahku. Padahal hari sudah sore akan beranjak senja tentu akan magrib aku belum mandi habis sepulang sekolah seragam juga masih ku pakai.


"Baik bu" jawabku singkat sambil ku mainkan hpku membuka aplikasi yang yang tak penting.


"Apakah untuk sppmu sudah lunas nak?" tanya ibuku dengan wajah lelahnya karena bekerja seharian tanpa kenal lelah untuk membiayaiku sekolah karena bayaran disekolah elite itu sangat besar. Belum lagi hal lainnya yang terkadang mendadak. Tapi, entah mengapa banyak sekali yang daftar serta sekolah disana.


"Kamu ada masalah ya dengan mas mu Bening?"


Deg?


Tentu saja lidahku kelu, baru saja tadi Putri menanyakan tentang mas Bening, kini ibuku yang menanyakan hal itu padaku padahal aku ingin melupakannya sejenak. Tapi ibuku membahasnya lagi. Aku harus jawab apa? Tadi, Putri saja  marah marah padaku sampai menangis karena minta penjelasan.


"Angga, kamu ada masalah dengan mas mu Bening? Hingga Bening sekarang tidak pernah kesini. Ada masalah apa kamu dengannya?" ulas ibu membuatku tak berkutik.


Kenapa semua jadi runyam begini?


"Gak ada kok bu, itu cuma perasaan ibu saja-"


"Lha, selama ini mas- mu gak pernah kesini. Ketika waktu di rumah tuan Sanjaya ibu jarang ketemu sama Bening, mau tanya langsung sebenarnya. Tapi gak pernah ketemu" terang ibu menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


"Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu pada mas-mu. Seharusnya kamu sayangi mas-mu karena disini cuma kamu satu satunya saudaranya yang ada di Jakarta. Kalau bukan kamu siapa Ga?" tambahnya lagi membuatku sedih juga merasa tidak enak dengan omongan ibu yang terus terang menasihatiku. Ku akui aku salah serta egois.


Tapi, mau bagaimana lagi, saat aku disekolah mencari nya tidak pernah berjumpa, sangat sulit, seperti mencari jarum ditengah samudra.


Sekalinya bertemu tidak sengaja, itupun tidak mendukung, ada sedikit halangan dari orang yang pernah ku kenal, Alex.


Namun, aku sudah meminta maaf pada mas Bening, bahkan memohonnya untuk datang, atas permintaanku terutama adikku Putri yang dengan tegas memintanya buat datang ke rumah.


Namun, ekspresi mas Bening sulit ku tebak, walaupun dengan berat hati respon iya, tapi itu dengan tidak membuatku puas atas jawabannya. Ada rasa kecewa terkandung didalamnya, tapi aku tidak berbuat apa apa.


Tentu ada rasa kecewa dihatiku, tapi aku tidak marah, berusaha untuk membujuknya tapi dari perkataannya, mas Bening mau datang kerumah, tapi entah kapan aku tidak tahu. Tapi, hati sedikit tenang, yang terpenting sikap mas Bening sudah sedikit melunak, walaupun aku egois dalam hal sedang ku hadapi.


"Iya bu, maaf aku salah. Tapi, aku sudah ketemu sama mas Bening disekolah, aku juga sudah minta maaf sama mas Bening serta memintanya untuk datang kerumah. Adik juga kangen sama mas Bening"


"Baguslah, kalau bukan kita yang perhatian siapa lagi. Kamu tidak ada saudara lagi selain keluarga pakdemu" potong ibu membuatku berpikir betapa jahatnya aku selama ini pada mas Bening hingga mendiamkannya berlarut larut, seharusnya hal itu tidak terjadi terlebih mas Bening berusaha untuk memperbaikinya bahkan rela meminta maaf duluan tapi aku egois tidak memaafkan, bersikap keras hati dan kepala.


Kini aku yang menyesal sendiri atas sikap egoisanku sendiri!


Pov Angga end!


#bersambung....


__________


Bagimakah kisahnya? Akankah nantinya Bening bisa datang kerumah dan bersikap biasa pada Angga?


Ikuti kisah selanjutnya?


Senin 8 Agustus 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.