112. Suntuk.

 Bab 112. Suntuk


★★★★


Kini aku berada diluar apartemen  setelah kepergiaan mas Surya walaupun terakhir tidak pamit. Untuk aku dikasih kode rahasia untuk masuk ke apartemennya. Sepertinya ini kawasan elite karena letaknya hampir mirip, tertata apik serta asri sejuk dipandang mata karena keadaan begitu menghijau subur. Sesekali ada burung burung kecil melintas di atas dahan pohon mencicit riang.


Namun hatiku tidak seperti suasana hati burung, karena saat ini aku merasa suntuk. Aku berjalan jalan di sekitar sini untuk mengenal lingkungan sekitar sepertinya sangat luas, entah berapa luasnya kawasan elite ini.


Jalanannya  semen yang dibentuk segi lima serta tertata rapi, selokannya juga bersih  di semen dengan batu gunung dengan air yang mengalir jernih, sepertinya disuling, banyak ikannya seperti ikan mujair warna warni, sangat banyak.


Ikan itu bebas berenang kesana kemari seperti tidak ada masalah seperti yang ku rasakan saat ini.


Aku terus melihat kearah ikan ikan yang berenang dengan riang tanpa beban, bersenang senang, berjalan agak kepinggir untuk mengantisipasi. Tanpa ku sadari ada seseorang lewat.


Tunggu?


Aku seperti mengenal sosoknya sangat familiar.


Hah, benarkah apa yang lihat.


Dia,,, Alex, sendiri!?


Wajahnya sengak, tatapannya penuh kebencian kearahku, sunggingkan senyum miring penuh ejekan.


"Heh gembel, ngapain Lo kesini? Apa mau maling disini karena Lo gak punya uang. Dasar kismin" ejeknya, sudah keterlaluan terlebih saat ini mood sedang tidak baik.


"Jaga ucapan Lo. Lo pikir  siapa  Lo?" balasku. "Jangan mentang mentang Lo kaya, berkuasa hingga seenaknya Lo ngehina gue" ucapku pedas, apa dipikir aku tidak bisa membalasnya. Mata Alex membulat menatapku, kebenciannya makin besar.


"Nyolot Lo. Oww, Lo berani ya amq gue! Lo belum tau siapa gue"


"Lo pikir Lo orang penting  buat gue. Tidak Alex. Lo itu tidak lebih baik sampah!"


"Anj#ng Lo, Kep#rat!" wajah Alex membesi penuh emosi.  Tangannya mengepal, geram dengan mata melotot merah.


Bug!


Tinjunya mendarat di perutku. Sakit, tentu tapi ku tahan. Sambil ku tahan aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Lo pikir Lo hebat. Lo tidak lebih hanya seorang PE-CUN-DANG!" ku tekan kata terakhir.


"F#CK! Lo gembel. Bukan level gue!" Alex makin naik pitam.


Dug, dug, dug,,,


Tinjunya mendarat dirahangku, rasanya sakit dan perih tentu ada yang pecah karena rasanya asin disudut bibirku ada darahnya.


"MAMPUS!"


Aku hanya tersenyum mengejeknya atas apa yang di lakukannya. Tak masalah, itu belum seberapa.


"Pencundang. Aku kasihan dengan Lo. Aku tidak tau apa yang membuat lo ingin menghancurkan hidup cewek cewek di kelas dua belas. Apa kesalahan mereka sama Lo?"


"Banyak BACOT! itu bukan urusan Lo"


"Ooh,  memang itu bukan urusan gue. Tapi, setidaknya gue bisa nyegah perbuatan Lo, supaya hidup mereka tidak Lo hancurin!"


"Lo bisa nyegah apa yang gue lakuin. Silahkan. Asal Lo tau, gue tetap akan lakukan apa yang gue ingin. Ha ha haaa,,,,! Perlu Lo ketahui, gue akan lakuin apapun buat nyingkirin Lo dari sekolah Permata bangsa!" ancamnya, itu tidak main main. Tertawa penuh kemenangan.


Aku hanya tersenyum miring. Rasa perih dibibirku sudah hilang, kini hanya rasa nyeri yang tersisa. Sebisanya aku tahan, aku tidak boleh lemah menghadapi Alex, dia makin sombong dan arogan.


"Silahkan saja, gue ingin tau seberapa kekuatan Lo buat nyikirin gue dari Permata bangsa" tantangku menatapnya tajam. Ku rasakan aroma bunga kenanga santar menyelimuti sekitarku.


Sepertinya aku dalam bahaya, aku harus berhati hati karena ini suatu peringatan.


Bugg,,,,!


Tendangan Alex mengenai perutku dan itu rasanya bikin isi perutku mau keluar. Tapi ku tahan...


"Itu belum seberapa? Ingat gembel miskin, gue akan buat Lo dikeluarkan dari sekolah" ancamnya, sambil berlalu dari hadapanku. Keadaan Alex basah oleh keringat terlebih didera emosi karena mengerjaiku ditambah lagi rasa kebenciannya membuatnya makin dendam padaku.


Ku lihat Alex melewatiku, berlari kecil hingga menjauhiku. Ku ikuti langkahnya karena perasaanku tidak enak. Sepertinya akan terjadi sesuatu entah itu aku ataupun Alex atau siapapun itu aku tidak tahu, karena aroma kenanga begitu tercium kuat terasa.


Agak berapa jauh aku berjalan, aku terkejut serta mendengar sebuah rintihan. Aku tidak siapa yang mengasuh kesakitan. Aku cari cari sosok yang mengasuh minta...


"Tol- ongggg,,, hhhhh,,," rintihannya sungguh menyedihkan tapi ku cari belum ku jumpai. Hingga mataku tertuju pada sosok yang terbaring penuh noda darah disekujur tubuhnya.


"Alex,,,?" Panggilku terkejut melihatnya terluka sangat parah. Ku lihat sekeliling tidak ada yang mencurigakan.


"Ttttoolll- longghhhh,,,," rintihnya tertahan, tangannya menggapai lemah.


Ku dekati Alex. Ku periksa keadaannya cukup mengenaskan karena luka luka yang di alaminya. Ku bangkitkan tubuhnya nafasnya tersengal.


Dia nampak kesusahan untuk bernafas. Bagaimana ini? Aku dilanda kepanikan terlebih melihat keadaannya yang sangat membutuh pertolongan dan perawatan seorang ahli. Bahkan ke edarkan pandangan ku tapi tak ada seorang pun untuk ku mintai pertolongan. Hal itu yang menyebabkan kebingungan setengah mati. Ku lihat keadaan Alex makin kritis terlebih dari bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah seperti tidak berhenti.


"Tolong,,, bawa,,, aku,,, ke,,, klinik,,," itu pesan terakhirnya sebelum Alex tak sadar dirinya. Ya Alloh bagaimana ini?


Yah, aku terpaksa melakukan hal ini demi keselamatan Alex sambil ku pegangi tubuhnya kuat.


Ku hirup udara dalam dalam, sambil ku pegang tangan Alex.


Tujuanku rumah sakit terdekat, atau tidak klinik!


Pertama ku ikuti pikiran Alex, sambil ku pejamkan mataku rapat. Setelah itu ku jentikan jariku...


Cetek, cetek, cetek,,,


Tiga kali!


Aku sudah melihat sekelilingku aman, jadi tidak perlu khawatir dengan keadaan sekeliling yang sepi tidak siapapun yang mengetahuinya.


Bliippppp,,,!


Tubuhku terasa seringan kapas,  entah akan dibawa kemana?


Blippp....?


Kini aku muncul bersama Alex  ditempat lain yang ku rasa ini sebuah klinik.


"Tolongggg,,,!" Teriakku ketika muncul disebuah bangunan itu untuk pengobatan.


Tentu orang orang yang melihat kami agak terkejut terlebih keadaannya begitu cepat. Tahu tahu ada disitu serta membawa orang yang sedang luka luka parah.


"Tolongggg,,, ini sangat membutuhkan pertolongan" entah mengapa air mataku bercucuran membuat nangis dengan sendirinya. Karena tak ada yang respon. Aku pun tidak sabaran membopong tubuh Alex yang tubuhnya lebih besar dari aku.


Tapi bagiku bukan masalah karena aku sering mengangkat barang yang lebih berat termasuk mengangkat rumput yang di tali tiga bagian dan itu sangat banyak.


Aku terengah ketika memasuki klinik yang dipikirkan oleh Alex karena hanya mengikutinya.


"Tolong,,,, " mohonku pada seorang perawat aku tidak terlalu peduli karena keselamatan Alex lebih penting. Walaupun mataku basah air mata.


"Atas nama siapa?" Masih sempat menanyakan namanya.


"ALEX PUTRA PERDANA!" sentakku cepat karena seperti menahan ku terlebih keadaan Alex sangat membutuhkan pertolongan.


Mendadak muka perawat sekaligus menjadi penjaga mukanya mendadak pias, serta tergagap.


Aku dilanda kesal karena masih membopong tubuh Alex yang sedang pingsan, aku berharap Alex tahu dengan yang ku lakukan supaya sikapnya berubah.


Doaku seperti dikabulkan. Mata Alex dibuka namun dengan meringis.


"Ak- ku,,, ad- a,,, dim- ana,,,?" ucapnya terbata menatapku tak percaya kalau sedang memondong tubuhnya bagai tak ada beban yang berarti padahal aku menahannya setengah mati.


Alex menatapku intens karena mataku masih basah karena menangis.


Ku lihat Alex memejamkan matanya sambil meringis kesakitan.


"Bawa sini,,,!" si perawat tampak panik mengajakku disalah satu ruangan yang akan ditunjukan.


Dengan cepat aku pun mengikutinya karena keadaan Alex pingsan lagi membuatku panik, lagi lagi mata ku basah oleh air mata tanpa aku bisa mengontrolnya.


"Ada apa ini?" Entah dari mana datangnya, seorang laki laki paruh baya datang dengan tergopoh.


"Cepat tolong. Keadaannya kritis" aku sudah tudJ sabaran.


"Baik, saya akan memeriksanya" terlihat si dokter memeriksa Alex dengan seksama, mendesah, menghela nafas berat.


"Anak ini kehilangan banyak darah. Dia sangat membutuhkan donor darah" terang sang dokter setelah memeriksa keadaan Alex.


"Saya bersedia mendonorkan darah saya, dok"


Dokter itupun menatapku tak percaya...


"Siapa anda?"


#bersambung....


_________


Mungkinkah darah Bening akan cocok?


Bagaimana nantinya, apakah sikap Alex akan berubah, atau sebaliknya?


Ikuti kisah selanjutnya....?


Rabu 10 Agustus 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.