113. Ternyata.
Bab 113. Ternyata
★★★★
Sudah di lakukan pengecekan golongan darah. Sang dokter menghela nafas.
"Saya teman satu sekolahnya dok" jawabku tegas. Respon dokter yang memeriksa Alex terlihat gelisah.
"Golongan darahnya A, anda?" tanya dokter menatapku ingin tahu.
"Golongan darah saya O dok"
"Bisa, tapi beresiko"
"Stoknya disini menipis, takutnya nanti kekurangan. Makanya saya meminta untuk jaga jaga. Siapa nama adik ini?" Sang dokter ingin tahu namaku.
"Nama saya Bening Ria Saputra!"
Ada senyum simpul terukir diwajah ganteng sang dokter setelah ku sebutkan namaku. Tidak hanya sang dokter, bahkan siapa saja yang berkenalan denganku pasti tersenyum, terkadang aku risi sendiri, mungkin geli dengan namaku.
"Kenapa dok, ada yang lucu?" ku pastikan menilik dari senyum simpulnya.
"Tidak ada apa apa, terima kasih. Saya Renaldi,,," sebutnya padahal punya name tag di baju putih yang dipakainya.
"Bagaimana dok?"
"Dok ini kantung darahnya,,," seorang suster menginformasikan sambil membawa sekantung plastik darah.
Ada rasa ngeri terbersit dihatiku. Mana kala ku lihat kantong darah.
Dengan cekatan suster itupun membereskan tugasnya atas instruksi dokter Renaldi.
"Tidak apa apa saya disini dok? Maksud saya menunggui teman saya?"
Sepertinya dokter Renaldi telah selesai...
"Sebentar lagi ada orang tuanya datang kemari, karena saya sangat mengenal nak Alex"
Aku melongo mendengar penjelasan dokter Renaldi, maka Alex memintaku untuk datang kesini ternyata klinik ini orang orang sangat mengenal Alex juga keluarganya.
Rasanya aku lega, lebih baik aku kembali lagi ke apartemen mas Surya. Atau aku pulang saja, tapi aku bingung karena mau kembali kesana, karena aku datang kesini dengan...
Tapi, apa mungkin mas Surya sudah kembali?.
Mana baju serta tasku masih tertinggal disana.
Rasanya, energiku terkuras, rasanya aku tidak ingin melakukannya lagi. Tapi, aku harus meminta tolong siapa.
"Dok saya mau keluar sebentar" pamitku untuk keluar sebentar karena tugasku sudah selesai, terlebih ada keluarga Alex yang akan datang, aku ingin tahu dan bertemu dengan keluarga Alex serta menceritakan apa yang terjadi.
Kini, terbersit pertanyaan apa sebenarnya yang terjadi dengan Alex? Lalu siapa yang menabraknya, motor atau mobil? Berat dugaanku sih motor karena luka luka yang dialami oleh Alex terlebih cukup parah? Terus apa modus pelakunya hingga membuat Alex seperti itu? Berbagai pertanyaan hinggap dipikiranku. Nanti akan ku selidik, sekarang bagaimana aku kembali ke tempatku semula.
"Dok, dok,,, bagaimana keadaan putra saya dokter Renaldi hiks hiks hiks,,,," jerit tangis seorang ibu yang baru datang bersama seorang laki laki paruh baya juga terlihat sangat sedih tapi bisa menahan air matanya, tapi masih terlihat gagah dan tampan di usianya yang berumur begitu si wanita nampak energik serta masih awet muda dan cantik.
"Sudah tidak apa apa bu Shella, pak Remond, itu berkat nak Bening, itu anaknya" jelas dokter Renaldi, lalu menunjuk kearahku.
Yang mengaku ibunya Alex masih sesenggukan, air matanya masih bergulir...
Lalu diusutnya menatap kearahku penuh rasa terima kasih teramat dalam.
Ada senyum terima kasih tersirat diwajah orang tua Alex, sungguh sangat berbeda jauh dengan watak anaknya yang sombong serta picik. Aku tidak tahu bagaimana reaksi orang tua Alex jika tahu kelakuan anaknya yang melenceng dari ekspetasi mereka. Namun, aku tidak mungkin membeberkan perihal Alex didepan orang tuanya saat ini mengingat keadaan Alex yang masih pingsan.
"Nak Bening terima kasih telah menolong putra kami" kata ibunya Alex tersenyum bersahaja air matanya sudah agak berkurang walaupun terlihat ada kesedihan yang dalam.
"Iya nak Bening, entah apa jadinya jika putra kami tidak mendapatkan pertolongan, mungkin nyawanya tidak akan tertolong" ucap ayahnya Alex tersenyum ramah, menunjukan rasa terima kasihnya begitu tulus.
"Tidak usah berlebihan bu, pak, saya hanya lewat dan mendengar suara minta tolong, saya kira itu suara siapa sehingga saya pastikan ternyata itu Alex teman sekelas saya disekolah permata bangsa" terangku agak panjang.
"Jadi kamu teman sekelasnya Alex di Permata bangsa?"
"Iya pak" angguk ku.
"Ternyata Alex punya teman sebaik nak Bening ya pa. Papa harus membuat nak Bening ini gratis-" ibu Alex berhenti menatap suaminya penuh arti dan dibalas dengan anggukan kecil. Aku tidak tahu maksud nya hanya mengikuti alur.
",,, Lalu bagaimana kamu membawa putra kesini, sedangkan jarak kesini lumayan jauh, nak Bening?" tanya bu Shella heran.
"Iya nak, sedangkan kecelakaan yang di alami putra kami masih di kompleks lingkungan elite?"
Tentu saja aku di Landa kebingungan harus menjawab apa, atas pertanyaan mereka. Tidak mungkin aku menjawabnya kalau aku membawanya sangat cepat bahkan dalam hitungan detik.
"Tadi nak Bening datang kesini, sudah berada didepan kilnik sambil teriak dan menangis bu, pak. Semula kami tidak percaya setelah dilihat ternyata Alex sedang luka luka cukup parah dan banyak kehilangan darah. Nak Bening membawanya tepat waktu, kalau tidak nyawanya nak Alex mungkin tidak akan tertolong lagi karena banyak kehilangan darah. Tapi kini keadaannya sudah membaik" jelas dokter Renaldi panjang lebar. Tentu orang tua tidak akan membahas bagaimana aku bisa cepat sampai kesini padahal jaraknya lumayan jauh dari kompleksnya.
"Nak Bening-,,," ucapan bu Shella terhenti ketika mendengar Alex putranya tersadar dari pingsannya.
"Ma, pa,,, kalian,,, dimana,,,?. Aku,,, takut,,, ma,,, pa,,, hiks hiks hiks,,," suara Alex serak terbata sembari menangis. Mungkin ada trauma yang dialami akibat tabrak lari.
"Iya sayang, mama dan papa ada disini" ucap bu Shella memeluk putra nya penuh kasih sayang takut kehilangan, pasti. Sekalipun air matanya kini bergulir kembali karena haru karena melihat putranya telah siuman.
"Terima kasih Tuhan!" ucap ayah Alex yang ikut mendekat.
"Ma,,, ssi- si,,, apa yang,,, membawa-ku,,, ke- di- ni,,," ucap Alex terbata, mungkin ingat nasib naas yang di alaminya hampir merenggut nyawa.
"Dia teman sekelasmu. Namanya Bening" jelas ibu Alex.
Sama sama suaminya ikut menatapku, pandangan Alex mengarah kepadaku, aku tidak tahu arti dari tatapannya. Yang pasti aku tidak menggambarkannya. Aku berharap sejak peristiwa ini sikap Alex akan berubah padaku juga dengan tabiatnya serta rencana yang akan di lakukannya. Mungkin ini teguran dari Alloh SWT supaya Alex tidak melaksanakan rencananya.
"Kamu harus berterima kasih sama temanmu sayang. Karena berkat dia, nyawamu terselamatkan"
"Iya ma, pa,,," jawabnya lemah, tak menatapku lagi. Tatapan nya kearah atas dengan nafas bantuan dari selang oksigen melalui selang yang dipasang.
Ditangannya juga ada selang infus juga selang transfusi darah, yang kini sudah berkurang masuk kedalam tubuh Alex.
"Bu Shella, pak Remond, persediaan kantong darah menipis tolong cari kan donor lagi karena setok sudah tidak ada"
"Oo, saya dok, karena darah saya sama dengan putra saya" jelas pak Remond, dan di angguki oleh istrinya.
"Ya sudah, biar suster saya yang urus, karena harus secepatnya"
"Baiklah"
Pak Remond dibawa keruang lain untuk mendonorkan darah untuk putranya sedang aku berdiri tak jauh dari bad white Alex karena mamanya Alex sedang duduk, sementara dokter Renaldi sesekali memeriksa.
"Sekarang saya tinggal dulu ya bu, karena saya masih menangani pasien lain. Jika ada apa apa panggil saya" pamit dokter Renaldi setelah memastikan keadaan Alex makin membaik.
"Ma,,," Alex sedikit ragu, mau mengatakan sesuatu terlebih ada aku didekat. Mau mengusir mungkin tak enak karena aku baru saja menolongnya.
"Ya, ada apa sayang?. Bicara sama mama" seperti nya ibu Alex ingin tahu.
Pandangan Alex mengarah kearahku. Aku merasa tidak enak.
"Nak Bening,,," bu Shella merasa tidak enak karena isyarat Alex ingin aku tidak tahu apa yang akan dikatakannya.
"Ehmmm, bu saya permisi mau pamit" ucapku kemudian merasa tak tak enak. Sekalipun aku telah menolong Alex tapi sikap masih belum berubah. Ada rasa sesal dihati kenapa aku menolongnya tidak aku biarkan dia mati di dekat selokan itu saja. Padahal aku sudah payah membawanya kesini bahkan menguras tenaga hampir membuatku pingsan, kalau tidak mengingat keadaan yang kritis serta membutuhkan pertolongan rasanya aku enggan, biar mampus saja.
"Eh tunggu nak Bening sebentar?" bu Shella menyusulku entah apa yang akan disampaikan.
Aku menunggu, sejenak...
#bersambung....
_______
Ikuti kisah selanjutnya,,,?
Jumat 12 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar