114. Bagaimana Ini ?.

 Bab 114. Bagaimana ini?


★★★★


Bu Shella mendekat kearahku agak dekat, mungkin akan bicara hal penting tak ingin ada yang mendengar kecuali aku.


"Ada apa bu, kenapa ibu memanggilku?"


"Nak Bening, sebagai rasa terima kasih kami, terimalah ini sebagai balasan yang telah kamu lakukan pada putra kami Alex" bu Shella menyodorkan amplop warna kuning ditangannya. Sepertinya ada isinya. Ingatanku terbayang pada adegan yang ada di tv yang ditampilkan disinetron yang disiarkan di tv swasta bahwa isi amplop itu uang yang jumlah pasti banyak.


Tentu saja aku...


"Maaf bu Shella, saya menolong anak ibu tulus tanpa meminta imbalan. Jika ibu ingin membalas tolong berikan itu pada yang membutuhkan" tolakku secara halus karena aku memang ikhlas menolong Alex tanpa pamrih. Sebenarnya aku sangat kecewa baik sikap maupun tindakan yang dilakukan oleh Alex tapi aku bisa apa.


Tapi aku punya satu hal untuk mamanya Alex siapa tahu sikap Alex bisa berubah.


"Bu Shella, tolong..." Aku pun berbisik ditelinganya, tentu saja ibu Shella terkejut atas permintaanku. Tapi tidak ada pilihan lain, aku memintanya dan itu tidak bisa ditolaknya.


"Baiklah akan saya coba untuk membujuknya" desahnya berat.


"Terima kasih bu, semoga Alex bisa mau mendengarkan mamanya"


Wajah bu Shella terlihat kecewa tapi juga tidak bisa memaksaku menerima uang yang diberikannya sekalipun itu ikhlas.


Bu Shella hanya mengangguk tak semangat, aku melangkah dari dia berdiri. Samar aku mendengar gumamnya...


"Ternyata masih ada anak yang begitu tulus di dunia ini,,,"


Aku makin menjauh melangkah pergi dari klinik yang Alex sedang dirawat dan ditunggui oleh orang tuannya.


Sekalipun perjalanan yang ku lalui jauh menuju kearah apartemennya mas Surya karena barangku ada yang ketinggalan disana karena aku harus mengambilnya setelah itu aku akan pergi serta melupakannya karena aku tidak ingin merusak hubungannya dengan bu Laras, wanita cantik berjilbab serta bersahaja.


Bu Laras pantas mendapat mas Surya yang perfect, keduanya pasangan yang serasi, menurutku.


Aku tersenyum kecut. Hatiku perih, mendadak. Mataku rasanya ikut perih, tak terasa air mataku luruh.


Sayup sayup aku mendengar suara yang tak asing lagi, seperti suara yang sangat ku kenal. Ada rasa curiga menyeruak, ku dekati suaranya sepertinya sedang berbicara dengan seseorang.


"Ya ayah, aku akan menghancurkan hati perlahan biar hancur sehancurnya karena telah membuat adik menderita. Aku pastikan hidupnya tidak akan tenang, ayah. Ayah nggak usah khawatir, ayah tau beresnya"


Ada jeda, sepertinya sedang mendengar suara dari sebrang sana.


Hatiku berdebar, jantungku berpacu tak menentu, juga tercabik, pilu.


"Pasti ayah, dia juga harus merasakannya. Dendam ini harus terbayarkan"


Tak ada suara....


Air mataku makin bercucuran deras, tubuh gemetar hebat, degub jantungku terus terpacu.


"Iya ayah, tenang. Aku akan cari buat kesembuhan..."


Tut, Tut, Tut,,,


"Ah, sial,,, kenapa mati sih. Secepatnya aku harus kembali menemuinya, baru setelah itu aku pulang ke,,,"


Blippp....


Sosoknya lenyap dari hadapanku, dia tidak menyadari kehadiranku. Karena aku berada ditempat persembunyian.


Ya Alloh kenapa semua orang yang dekat denganku semuanya pada jahat padaku, apa salahku?


Air mataku terus bercucuran seperti curahan hujan yang turun dari langit dengan kaki melangkah berjalan tanpa arah tujuan dengan membawa rasa kepedihan yang ku rasakan.


Adilkah semua ini untukku?


Ku langkahkan kakiku menuruti fellingku saja...


Tin, tin, tin,,,


Lamunanku buyar ketika ada mengklakson mengejutkanku.


Ternyata....


"Mas,,,?" Kejutku karena tak menyangka jika aku telah sampai disaat mas Surya tersenyum cool dihadapanku. Terlihat wajahnya sangat cerah dan bahagia. Mungkin kesan kencannya indah sehingga raut wajahnya senang.


"Dari mana saja kamu dek? Mas cari cari kamu gak ketemu?" terlihat wajah gantengnya khawatir sembari tersenyum full, cool tak lepas.


Ku coba untuk tersenyum, walaupun itu terasa getir buatku setidak aku menutupi sesuatu hal dihadapan mas Surya. Apa yang terjadi.


Tidak langsung ku jawab karena pikiranku mengembara kemana mana.


",,, Aku suntuk mas, jadi aku putuskan untuk  jalan jalan sekitar sini. Ternyata kompleks ini sangat luas ya, dan komplit termasuk fasilitas kesehatannya serta ada tamannya juga" terangku, tapi tidak mau bercerita mengenai kecelakaan yang di alami oleh Alex.


"Kamu sampai klinik Sejahtera dek, ngapain kamu kesana itu jauh dari sini. Kamu juga ke taman,,,?" Mas Surya hanya geleng geleng kepala.


"Kencan mas sendiri gimana, sukses? Apa mas tinggal sejenak" sindirku. Ups, kenapa aku teledor.


Bukanya menjawab, tatapan mas Surya mendadak tajam seketika. Sungguh tatapan sangat bikin aku ngeri tapi aku bersikap biasa karena setelah itu dia tersenyum kecut.


"Apa suka sama bu Laras?" Lanjutku karena aku tak ingin dalam suasana tidak nyaman.


"He he,,, gak kok dek, mas belum mikir hal itu" jawabnya dusta tapi aku ingin ikuti alurnya.


"Sampai kapan mas, mas tetap bertahan?"


"Ya Ndak tau dek,,,"


Kami berdiri didepan teras, bahkan belum masuk, mas Surya sudah Janggang motor debat dengan aku.


"Sampai kapan mas?"


"Sampai aku siap" tegasnya dengan tatapan tajam yang sulit ku artikan.


Ku hela nafas dalam dalam sama halnya mas Surya.


"Mas aku minta ijin pulang boleh gak" aku masih berbasa basi, karena ku tahu mas Surya pasti menahanku.


"Kenapa mau pulang dek? Kamu gak betah tinggal disini, atau karena tadi aku tinggal, gitu"


"Bukan gitu mas, nanti ibu sama ayah khawatir mas" aku beralasan. Namun aku yakin mas Surya kekeh menahanku. Aku tahu maksud yang tersirat.


"Terserah kamu, dek"


Lho, ini jawabannya seperti itu, padahal aku cuma mencari alasan, tapi mas Surya enggan. Bahkan dari ucapan biarlah aku pergi.


Aku melangkah masuk diarea pekarangan yang ditanami bunga bunga indah, karena memang asri.


Mas Surya sambil membawa motornya masuk kedalam karena didepannya jalan yang kadang dilewati baik mobil maupun motor. Pagar ditutup.


Aku menunggu untuk sejenak...


Mas Surya diam lalu membuka pintu yang di kode. Aku sebenarnya tahu tapi memilih untuk diam karena mas Surya tampak pasif seperti ada sesuatu hal yang disembubyikannya.


Takut salah, tapi persepsinya saja berbeda.


Nanti sajalah, terlebih ini jam,,,


Ya Alloh, hampir habis waktu dzuhurnya.


"Mas aku mandi dulu" tak ada respon tetap aku masuk ke kamarnya.


Mandi rasanya gak sempat nanti saja, lebih baik sholat dulu karena waktunya mepet banget.


Beberapa saat kemudian...


Alhamdulillah! Batinku setelah selesai sholat tak lupa berdoa, karena tadi hampir lupa ku kerjakan.


Ku lihat mas Surya duduk termenung dipinggir bad, matanya setengah terpejam dalam keadaan toples, menggodaku, aku tahu itu.


Ku ikuti alur permainannya...


"Mas,,," sapaku, tak ada respon bahkan rebahan hingga kakinya berjuntai. Karena hanya menggunakan boxer saja.


Degub jantungku berpacu berbeda dengan yang tadi saat aku...


Ah, sudahlah!


Kini aku berada didekatnya hingga aku cium aroma khas tubuhnya yang manly hingga membuat bergetar.


"Mas, gak sholat dulu" ulasku karena tadi tidak di responnya.


Sambil ku pegang dada gempal membuat darahku berdesir indah. Ku lihat pentil milik mas Surya mencuat. Ku lihat bagian bawah ikut berkembang. Aku tahu saat ini mas Surya lagi on the.


Ku endus tubuhnya dibagian dada, kemudian tanpa dimintanya buah ranumnya ku sedot pelan.


"Aughhh,, Oghhhh!" Lenguhnya tertahan seperti ada respon. Dadanya terlihat bergemuruh bisa ku rasakan detak berpacu seperti berlari marathon.


Ku kenyot pentilnya bergantian saat itu pula respon tubuhnya langsung melegak, menahan nafas antar geli serta gairah yang bersamaan.


Ku elus perut ratanya, menuju kebawah sambil ku perhatikan dengan seksama.


Ku usap usap penuh rasa, tubuh mas Surya sedikit bergidik geli bergairah.


Makin menggelora ku rasakan. Begitupun yang di alami mas Surya begitu dahsyat.


Ujung kepala menyembul, berkilap, sangar bahkan ada ingus di ujungnya bikin aku tambah deg degan padahal aku sering melihatnya tapi entah mengapa saat menikmatinya aku gemetar dan bergetar hebat seakan dikuasai oleh nafsu yang tak terkendali.


"Hmmm, ahh,,, mass,,," suaraku tentu bergetar nafsuku yang ku tahan.


Matanya sayu menatapku seperti ingin meminta lebih.


Oke, baiklah! Itu atas isyarat kemauanmu, mas.


Ku lorotkan celananya hingga melewati pada gempalnya serta kakinya yang ditumbuhi bulu lebat.


Namun, fokusku kini di kontolnya yang merona maron, berurat, terlihat sangar sekali. Sungguh menggiurkan apa yang ku lihat. Mataku tetap tak percaya sekali pun beberapa kali aku melihat nya tetap takjub melihat ukuran kontolnya yang tak biasa, di atas rata rata.


Sesekali nampak bergoyang menggoda, sepertinya sengaja dipermainkan oleh pemiliknya supaya aku makin tergoda, tergiur untuk segera menikmatinya.


Lendirnya makin banyak berleleh dari lubangnya yang menganga merah darah. Sungguh menggiurkan.


Ku pegang, ku dekatkan mulutku. Langsung ku lahap. Enghmmm,,,,! Rasanya tak terlukiskan.


Ku kenyot, lalu ku sedot sangat kuat...


"Oouuuuughhh,,," dengusnya jantan, tertahan. Matanya merem melek. Kini, sedikit digoyang mengimbangi kenyotanku yang berirama dengan kocokannya. Terkadang pelan, terkadang sangat cepat. Sesekali ku kilik lubangnya yang menganga membuatnya makin mengejan, tubuhnya melengkung menahan sesuatu dari dalam tubuhnya, sesaat kemuadia urat uratnya menegang, begitupun kontolnya tampak lebih tegang kuat.


"Hoohhhh,,,, ouugghhh,,,, yeahhhh,,,,!" lenguhnya tak ditahan lagi, dihujamkan lebih dalam masuk seluruhnya kedalam mulut.


Saat itulah ku sedot sangat kuat, hingga....


"Yeaaahhhh,,,, haaaahhhhhhh!" Dihentakan kuat, pejuhnya langsung muncrat tak tertahan begitu banyak serta sangat kental dan legit.


Mas Surya nampak mengatur nafasnya yang tersengal karena habis ngeden serta mengeluarkan pejuhnya yang banyak serta subur.


Masih ku tahan, tapi tidak seluruhnya lagi karena aku hampir kehabisan nafas karena seluruhnya masuk menutupi lubang pernafasan dalam.


Keringat membanjiri tubuhnya hingga nampak liat, dengan dadanya yang naik turun.


Air mataku tadi meleleh karena hampir tersedak dan muntah tapi ku tahan...


Kini aku telah bisa bernafas walaupun belum begitu bebas karena mulutku masih mengkaroke kontol mas Surya, walaupun rasanya agak ngilu.


Sentuhan akhir, ku urut pelan untuk membersihkan sisa pejuhnya didalam. Ku kenyot kuat.


"Ahhh,,, ougwwwwhhh, hahhh,,, dek, dek, pelan, ngilu. Ha ha haa,,, " kekeh lirih. Sambil pegangi kepala supaya aku melepasnya.


"Dek le- lepas,,, mas ,,,"


Ku turuti permintaan, aku pun beringsut keatas didada bidangnya yang jantungnya belum teratur sepenuhnya. Dia nampak tersenyum puas menatapku. Tanganku mengarah kebawah, masih saja ngaceng, tapi tidak terlalu tegang saat akan ngecrot.


"Terima kasih dek, ini sungguh luar biasa. Kenangan bersamamu tak akan pernah ku lupakan seumur hidupku. Seponganmu tiada bandingnya, bikin aku ketagihan" pujinya tersenyum puas.


"Kok belum lemas mas?"


"Mas sudah capek"


"Mandi dulu mas"


"Nanti saja"


"Mas boleh aku pulang,,,"


Tubuhku ditariknya pelan, hingga tak ada jeda setelah itu ku rasakan lumatan bibirnya.


#bersambung....


-------------


Ikuti kisah selanjutnya....?


Jumat 12 Agustus 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.