115. Hampir Saja.
Bab 115. Hampir saja
★★★★
Terasa aneh mimpi ku kali ini...
Aku bertemu seorang laki laki gagah tapi wajahnya tegas dan sangar. Aku belum mengenalnya sama sekali.
Namun aku merasa seperti mengenalnya serta pernah melihatnya, tapi kapan dimana?
Aku seakan blank ketika berhadapan dengannya karena matanya nampak merah melotot kearahku, penuh dendam serta kebencian.
"Kau telah menghancurkan hidup anak. Kau harus menerima pembalasan"
"Ss- siapa anda?" tanyaku terbata dengan rasa ketakutan. "Lalu siapa anda maksud? Aku telah melakukan kesalahan apa pada anda, sedang kita tidak pernah bertemu sekali pun " imbuhku sedikit agak tenang walaupun dalam hati ku dah dig dug.
"Hebat juga kau, setelah apa yang kau lakukan, begitu mudahnya kau melupakan kesalahan besar yang telah kau lakukan pada putra" dengusnya penuh luapan emosi.
"Tolong jelas, anda ini siapa? Lalu putra anda siapa?" aku semakin dibuat bingung dengan pernyataan, terlebih sekitaran tempat yang ku rasakan sangat berbeda, lebih menyeramkan.
"Oh, jadi kamu belum tau siapa aku. Aku Ganjar, dan putraku bernama Kharisma Setiaji" terangnya dengan mata membulat.
"Ja, jadi anda ayahnya mas Kharisma, anda adalah pakde-ku" antara kaget juga terkejut melihat sosoknya yang kini begitu nyata ku lihat ada dihadapanku. Wajahnya terlihat sangat sangat terlebih saat menyeringai.
"Benar aku ayahnya Kharisma sekaligus pakde-mu. Kini aku akan minta nyawamu sebagai ganti atas apa yang terjadi pada putraku. Kau lihat sendiri keadaannya sekarang, seperti orang linglung. Kau harus melunasi semua hutang hutang mu padaku" ucapnya berapi api.
"Dengar pakde, mas Kharisma telah melakukan kesalahan karena akan memusnah simbah kakung, untung aku bisa menyelamatkannya"
"Tua bangka itu pantas menerima ganjarannya"
"Pakde, tidak sepatutnya bicara seperti itu. Bagaimana pun simbah kakung itu orang tua pakde karena pakde itu suami dari bude-"
"Seharusnya pakde menghormati beliau sebagai orang tua" lanjutku masih bersikeras. Aku tahu pakde Ganjar orangnya selain keras hati juga keras kepala jika punya kemauan harus tercapai, tabiatnya mirip dengan istrinya.
"Aku tidak peduli, itu bukan urusanku. Sekarang kau harus merasakan pembalasanku" ucapnya penuh ancaman, matanya makin memerah, sepertinya luapan amarah tidak terkontrol.
"Tunggu pakde. Semua urusan bisa dibicarakan baik baik" aku mencoba untuk memberi pengertian tapi mana mungkin pakde Ganjar akan mendengarkan ku karena sikap keras kepala yang sulit dirubah.
Satu satu nya jalan yang ku lakukan aku akan menghadapinya apapun yang resikonya yang terjadi.
Aku tidak apa yang bakal menimpaku, karena saat aku sedang bermimpi dan itu begitu nyata, seolah aku berada di dunia nyata.
Andai aku yang memulainya, mungkin akan berbeda lagi ceritanya.
Namun, aku tidak takut, aku akan menghadapi pakde-ku sendiri dengan segala kemungkinan buruk yang terjadi padaku.
Tangan pakde terbuka di arahkan kearah mukaku, aku seperti terseret kedepan karena ada asap hitam seperti meliuk menyeret ku untuk mendekat.
Detik selanjutnya...
"Ha ha haaaa,,,!" gema tawa pakde memenuhi sekitar terdengar menyeramkan. Bahkan kini giginya nampak berubah menjadi runcing runcing.
Leherku telah dicekiknya amat kuat membuatku megap megap kehabisan oksigen.
"Pakde,,, jangan,,, salah,,, aku,,, jika,,, aku,,, melawan-mu,,," ucapku terbata, cengkraman cukup, tentu saja seketika tercium santar aroma bunga kenangan setelah bunyi gemerincing gelang terdengar dan itu bunyinya menggema diarea sekitar bahkan membuat yang mendengar tak nyaman.
"Kau tidak akan bisa melawanku, Bening. Kau harus mati, harus mati detik ini juga!" Dengusnya penuh ancaman.
"LEPASKAN,,, AKUUUU,,,,!" teriakku kencang, mata mendelik kearah pakde Ganjar, telapak tanganku ku arahkan tepat dimukanya.
"MUSNAHLAH KAU MANUSIA DURJANA!!!"
Belum sempat sinar kuning berpendar yang muncul dari telapak ku, ada sesuatu yang membetot sosok pakde Ganjar yang mencekikku hampir membunuhku. Maka selamatlah dia.
Aku seperti terhempas hingga membuatku...
"Dek, dek,,, bangun! Dek,,," ku terbangun dengan tubuh berkeringat, dengan nafas yang ngos ngosan.
"Dek kamu mimpi apa, sampai kamu teriak teriak tak karuan?" ulas mas Surya kini aku telah berada dikamarnya, bahkan keadaan mas Surya telanjang. Mas Surya ada didekatku, duduk santai memperhatikan dengan seksama seperti tak percaya. Ada perasaan aneh menyeruak dihatiku mengenai diri mas Surya yang tiba tiba sudah terbangun serta menunggui seperti nya tahu apa yang ku alami. Tapi, pikiran itu ku tepis aku harus ber-positive thinking pada mas Surya.
Sedangku memakai celana kolor saja, karena tadi seingat ku mas Surya mengeksplor tubuhku bagian atas.
"Maasss,,, ak,,,, ku,,," suaraku serak dan masih ada rasa nyeri ku rasakan, sepertinya aku mengalami nya sungguhan.
"Kamu mimpi apa dek, sampai segitunya?"
Ku gelengkan kepala sembari ku usap air mataku yang merembes tak terasa. Untuk menutupi sesuatu yang ku alami pada mas Surya, tak mungkin aku jujur padanya karena ini ada kaitannya...
Sampai kapan aku mengalami hal seperti ini, dihantui rasa ketakutan yang tak ku sembunyikan. Bahkan tak ada yang bisa menolongku. Aku harus cerita ke siapa mengenai mimpi mimpi ku serta apa yang ku alami selama ini.
Andai simbah kakung masih ada, mungkin aku akan berkeluh kesah pada beliau mengenai apa yang ku rasakan.
"Dek ada apa, kenapa kamu merenung, bersedih seperti ini" sikap mas Surya begitu perhatian pelukannya cukup lama perlahan dilepaskan, membuat terbuai sesaat, andai mas Surya tahu apa yang ku alami mungkin akan berpikir lain mengenaiku. Aku harus merahasiakan rapat rapat apa yang ku alami dimimpiku. Aku yakin itu bukan hanya sekedar mimpi melainkan teror yang dilakukan oleh bude Sarinah mukti. Manusia yang berhati iblis, ingin mencapai keinginannya dengan jalan sesat.
"Aku hanya mimpi mengenai simbah dikampung mas"
"Keadaannya baik baik saja kan"
"Iya mas" anggukku berdusta karena simbah kakung sudah tidak ada di dunia nyata. Mengenai kebohonganku tentu saja mas Surya tidak akan pernah tahu karena memang mas Surya tidak tahu mengenai keadaan di kampungku.
Mengenai simbah putri kini aku teringat, punya janji dengan belaiu akan mengunjungi simbah kakung di dunia mimpi karena kini simbah kakung telah berada disana.
Ini semua gegara mas Kharisma penyebabnya.
"Simbah kakung,,," gumamku bergetar hebat, air mataku kembali luruh tak terbendung, mengingat simbah putri kini sendiri di kampung. Sebenarnya ada saudara agak jauh, tapi apakah mau tinggal bersama simbah putri yang kini tinggal sebatang kara.
"Memang kenapa dek, Simbahku?" tanya mas Surya penasaran, menatapku haru dengan apa yang ku rasakan.
"Sayang dek, aku tidak pernah punya simbah sejak dulu. Aku pengen punya simbah, tapi tidak kesampaian"
Kini balas aku menatap nya penuh rasa heran. Kok, ada ya orang gak punya simbah, ini suatu hal yang aneh menurutku. Namun, aku tak ingin bertanya lebih lanjut, terlebih mengingat tentang kejadian yang simbah kakung alami, itu saat naas serta sangat menyedihkan buatku, terlebih itu adalah perlakukan orang terdekatku sekaligus orang yang paling ku sayangi, atau mungkin ku cintai dunia ini. Hatiku hancur, hingga sampai saat ini rasa kebencian ku terhadap mas Kharisma begitu dalam, entah sampai aku akan bisa memaafkannya.
"Sudahlah dek lupakan saja. Kita berdoa semoga keadaannya baik baik saja"
"Amin,,," kini aku sedikit tenang, walaupun aku masih menaruh curiga sedikit pada mas Surya. Entah mengapa perasaan itu ada. Walaupun aku coba menepisnya, tetap saja ada perasaan was was, mengingat aku dengar sendiri tadi pembicaraan orang yang suara mirip bahkan posturnya, karena aku tidak begitu jelas melihat sosoknya karena aku berada ditempat persembunyian ku. Terlebih, mengingat sang penelepon juga bisa menghilang dari tempat, menghilang entah kemana tanpa meninggalkan jejak.
Mulai saat ini aku harus berhati hati, karena belum tentu orang yang baik disekitar kita itu, bisa jadi musuh kita, sebaliknya orang yang memusuhi kita bisa jadi baik sama kita.
Yah, aku harus berhati-hati!
#bersambung....
Sabtu 13 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar