120. Wah, Bisa Gawat!.
Bab 120. Wah, bisa gawat!
★★★★
"WOW,,,Jadi ini gelang "PENGIKAT JIWA" Ckcckkkkkk,,,,?!" Ibu menatap kagum gelang yang ku pakai ketika ku perlihatkan pada ibu.
Padahal, pesan simbah kakungku tidak boleh diperlihatkan pada siapapun karena akan berbahaya. Aku tidak tahu dampaknya jika ku perlihatkan, dan aku sedikit terkejut melihat reaksi ibuku.
"Nak, bo- boleh,,, ibu memegangnya,,," wajah ibu yang dekat serta terkagum menatap gelang yang ku pakai. Kini ingin menyentuhnya serta lebih dekat lagi hingga aku menjauhkan dari jangkauan ibuku, dan terlihat sangat kecewa tapi tidak bisa berbuat apa apa.
Ternyata ucapan kakek benar jika gelang ini membawa dampak yang tidak baik hingga tidak boleh diperlihatkan kepada siapapun karena orang yang melihatnya pasti menginginkan nya serta ingin memilikinya. Termasuk ibu saat ini dengan tatap ingin memiliki sedikit memaksa.
Buru buru aku masuk ke kamarku serta menguncinya dari dalam rapat rapat, aku ketakutan sendiri dibuatnya setelah melihat apa yang dilakukan ibuku serta ingat pesan simbah kakung.
Walaupun saat ini gelang yang melingkar di pergelanganku nampak samar, ku perhatikan dengan seksama. Ada rasa kagum tersendiri karena aku memilikinya serta melidungiku dari segala marabahaya bahkan bisa menjadi benda mematikan serta menghancurkanku jika aku dalam keadaan bahaya.
Aku tidak sempat melanjutkan ceritaku karena terpaku dengan apa yang dilakukan ibu, terutama seperti ingin memiliki gelangku ini.
Aku harus berhati hati dengan ibu karena telah mengetahui kalau aku telah memiliki gelang keramat yang sangat luar biasa, gelang yang bernama "Gelang Pengikat jiwa".
Ku rebahkan tubuhku karena lelah yang menderaku, termasuk Riko dan kini Ibu sendiri. Untung cuma ibuku yang ku perlihatkan, aku harus lebih berhati hati lagi jangan sampai hal seperti itu terulang kembali.
Kembali aku bangkit, tersenyum. Apa yang ingin ku lakukan sekarang? Aku punya rencana ...
------------
Wajahnya terlihat biasa saja ...
Dia belum menyadarinya keberadaanku kalau aku menemuinya di alam mimpi.
"Lo...? Apa yang lo lakuin disini? Darimana lo?" Aku dicerca pertanyaan bertubi tubi.
Aku hanya tersenyum simpul kearahnya, dia nampak geram menatapku. Jarakku dengannya tidak terlalu jauh, sekali maju dia bisa menjangkauku.
"Sengaja aku datang menemuimu, ingin melihat keadaanmu. Ternyata kamu tidak apa apa. Syukurlah"
"Lo datang ingin mengejek gue. Gue gak apa apa. Gue gak butuh pertolongan lo"
"Ckckk,,, aku juga tidak ingin menolongmu. Aku harap kamu mampus saat itu. Tapi sayangnya sisi kemanusiaanku tidak bisa. Maka ku putuskan buat membawamu ke klinik, terdekat"
"Klinik itu jauh dari gue kecelakaan. Bagaimana lo bawa gue"
"Bukan urusanmu. Satu hal yang ingin ku ketahui, siapa orang yang menabrakmu. Seperti punya dendam terselubung terhadapmu"
"Gue tidak siapa yang nabrak gue, karena saat itu gue lagi gak fokus. Itu sehabis ketemu Lo"
"Itu karma Alloh buat mu"
"Gue tidak percaya karma"
"Terserah kamu. Aku juga gak peduli, kamu percaya atau tidak. Tapi ini peringatan buat mu supaya kau jangan usik hidupku, kalau tidak akan segan untuk melenyapkanmu dari dunia ini" ancamku, tidak peduli lagi dengan amarahnya yang menguar dari mimik wajahnya juga dalam dirinya.
"Gue bunuh lo!" sentaknya, menjangkauku dengan pukulan yang langsung mengarah mukaku.
Blessshhhh,,,,
Dia memukul angin karena aku tidak bisa disentuhnya membuatnya terkejut serta gelagapan.
"Itu sebagai peringatan dariku. Selamat tinggal, sampai jumpa disekolah, Permata Bangsa,,," pesan terakhirku sebelum aku benar benar meninggalkannya kembali ketempatku, kedunia mimpiku yang fatamorgana, aku tenggelam dalam mimpi indahku, membuaotku terlena.
Entah berapa lama aku terlelap hingga ku dengar sayup sayup suara adzan membuatku terbangun.
Ibu sudah tentu bangun sedari tadi, dan terkadang sholat di kamar pembantu karena kamarnya cukup luas. Kadang pamanku tidak pulang memilih untuk nginap disana menemani bibi Rosmslia.
Sedangkan dirumah ada Angga dan Putri karena Paman dan bibi pulangnya sekarang seminggu sekali jika itupun tidak malas karena rumah majikannya seperti rumah kedua bagi keduanya.
Selesai sarapan yang siapkan ibu aku pun pamit dan diantar oleh ayahku.
Aku tidak tahu apa Riko sudah berangkat...
"Ayo nak, nanti kesiangan"
"Iya ayah"
"Bu pamit. Assalamualaikum,,," salamku ibu langsung memelukku hangat. Penuh haru melepasku dengan senyum tulus.
Ayah melajukan motor dengan kecepatan sedang. Hingga sampailah aku disekolah.
"Ayah terima kasih. Assalamualaikum,,,"
Ku salami ayah kemudian berlalu kembali untuk bertugas.
”Mas Bening,,," panggil seorang itu suara cewek. Seperti familiar suaranya ditelingaku.
Ku palingkan wajahku kearahnya...
"Massss,,," serunya menahan rasa rindu.
"Putri,,, ternyata kamu sekolah disini" kejutku agak heran karena tidak menyangka jika akan bersekolah disini sekolah yang berkelas serta sangat mahal.
"Iya mas. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Mas ada dikelas berapa?" tanya Putri memastikan. Tatapannya juga mengisyaratkan rasa kangen yang dalam.
"Aku di kelas 12a, kamu di kelas mana?"
"Aku di kelas 10a mas. Pantesan aku tidak pernah bertemu sama mas, karena beda kelas. Karena lokasinya disini sangat luas" ada jeda, sepertinya Putri ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya.
Entah ada berapa kelas disini, aku tidak pernah menghitungnya. Tujuanku untuk sekolah saja, hingga tamat lalu melanjutkan kuliah. Nantinya aku ingin kuliah dijurusan pertanian supaya nanti aku bisa mengamalkan ilmu pertanian yang ku dapat untuk desaku. Itulah tujuanku nanti. Namun aku tidak tahu apakah nantinya nasib akan membawa ku dalam keberuntungan karena perjalanan hidupku masih panjang.
Ini sungguh suatu hal yang tak terduga kalau sebenarnya Putri sekolah disini, mengingat Angga saat berjumpa tidak sengaja hanya diam tidak bercerita apa apa mengenai Putri yang notabenya sebagai adiknya. Malah memilih untuk bungkam.
Entah apa maksudnya Angga, bahkan ada sesal yang terasa saat mengatakan maafnya atas sikapnya selama ini padahal aku sudah memaafkan sejak awal, aku tidak ingin membahasnya lagi kini Angga menemuiku seakan mengusik rasa kepedihan yang ku rasakan.
"Apa Angga tidak pernah cerita jika Angga telah bertemu denganku dan memintaku buat bertandang kerumah. Karena suatu hal aku belum bisa datang. Maaf kan aku Put, ku harap kamu bisa memaklumi keadaanku" sebenarnya aku ingin menjelaskan dengan seksama.
"Iya mas. Aku berharap mas bisa datang, kami merindukan mas Bening dirumah karena keadaan sering sepi. Kasihan mas Angga sering sedih, terus menyesali diri karena merasa bersalah dengan mas Bening" ungkapnya terlihat kesedihan begitu dalam tersirat diwajahnya.
Desahku pelan....
"Insyaallah, mudah mudahan aku bisa datang. Tapi aku harus menyelesaikan suatu malasah dulu. Entah berapa lama bisa selesai,,,"
"Yang terpenting mas bisa datang. Semoga masalah mas Bening cepat kelar. Yasudah, aku duluan mas. Assalamualaikum,,,"
"Waalaikum salam" jawabku, Putri melenggang pergi dari hadapanku menuju kearah kelasnya 10a entah berada dimana aku tidak tahu. Sekalipun lokasinya satu tapi sekolah Permata bangsa begitu luas.
Aku melangkah menuju kekelas ku dengan berjuta pertanyaan. Kini, aku bertemu saudaraku tanpa sengaja.
Belum lagi masalah ibuku yang kini seperti menginginkan gelang yang ku pakai.
Misiku untuk mencegah Alex tidak melancarkan aksinya lagi sudah ku lakukan. Aku tidak tahu apakah nantinya Alex mau mendengarkan ku mengindahkan permintaanku.
Jika pun aku harus berbuat lebih jauh, atau bila perlu harus memaksanya atau terpaksa aku harus menghilangkan nyawanya melalui mimpi karena terpaksa karena tidak mau mendengar peringatanku, maka terpaksa aku....
#bersambung....
---------
Apa yang akan dilakukan oleh Bening?
Apakah akan memberitahu pada Latifah dan kawan kawannya yang telah jadi korbannya Alex atau memilih untuk bungkam?
Ikuti kisah selanjutnya...?
Jumat 19 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar