122. SUNGGUH.

 Bab 122. SUNGGUH...


★★★★


"DEAL,,,!"


Diujung perjanjian yang mereka sepakati bersama, nampak wajah mereka tidak muram lagi, ekpresinya juga ada senyum yang merekah karena dihari hari selanjutnya mereka tidak akan terkekang lagi.


Rasanya tak percaya dengan nominal yang ditawarkan oleh mereka jika mereka bisa terbebas dari jerat Alex the geng, walaupun menurutku itu, permintaan mereka sangat lah berat buatku untuk ku lakukan. Tapi, apa salahnya aku mencobanya karena nilainya cukup fantastik mengingat nominalnya yaitu 50 juta, nominal angka yang tidak main main jika mereka bisa terbebas dari Alex the geng bahkan nama mereka bersih tidak terseret masalah yang pelik yang membuat aib juga nama baik tercoreng.


Aku menyetujuinya memgingat apa yang telah mereka janjinya, aku pun akan berjanji buat untuk qtidak ada masalah lagi dengan Alex nanti kemudian hari.


Bukan aku yang meminta tapi itu inisitif dari mereka yang mereka buat.


Dan itu jika kerjaku berhasil maka diberi cash dengan nominal yang disebutkan.


Sepanjang jam pelajaran aku sudah tidak konsentrasi memikirkan bagaimana sebaiknya yang ku lakukan supaya yang meminta tolong padaku bisa terbebas jerat dari Alex the geng.


Bahkan saat pulang pun masih kepikiran bagaimana baiknya?


Lama lama kepala jadi pusing juga memikirkan jalan keluarnya...


Aku terduduk didekat gerbang, untuk menunggu ayahku datang menjemputku.


Sambil memikirkan jalan yang terbaik, apa saja rencanaku kedepannya?


Tapi, tetap aku belum menemukan cara.


Atau mungkin aku temui alex lagi seperti malam kemarin bila perlu aku mengancamnya. Lihat saja bagaimana keadaannya? Apa aku dapat melakukannya? Jika tidak ada kendala.


"Mas,,, " panggil seseorang yang suara ku kenal karena terlalu ke pikiran. Helaan nafas ku pelan ku lirik kearahnya. Angga dengan tersenyum kearahku.


Mana ayah belum datang, aku tidak ingin mikir yang tidak baik tentang ayah. Sekali pun belum datang, semoga keadaannya sehat sehat selalu. Tapi kalau begini aku tidak bisa mengelak atas ajakan Angga untuk kerumahnya.


Tapi akan aku tanyakan tentang Putri yang sekolah disini kenapa Angga tidak cerita atau pun membahasnya malah terkesan diam saja.


"Hmm,,, ya ada apa, Ga?" balasku sedikit cuek karena aku lagi tidak mood terlebih memikirkan masalah cewek cewek kelasku yang meminta bantuanku. Bikin pusing ditambah Angga yang terus memaksaku untuk datang ke rumah.


"Mas ada waktu-?" ungkapnya ragu tapi aku masih belum meresponnya hanya diam menatapnya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau Putri sekolah disini? Kenapa kamu seperti menyembunyikan nya?" teterku karena aku sudah tidak tahan dengan sikap Angga yang lama lama bikin aku tambah emosi.


"Karena waktuku tidak banyak mas. Hanya saja kita jarang bertemu bahkan mas sulit untuk dicari"


"Kau tahu kan aku di kelas 12a" potongku cepat.


"Apa mas tetap nolak buat datang ke rumahku?. Alasan apa lagi sekarang mas Bening"


"A-aku,,," aku tergagap karena tak ada alasan lagi sekarang.


"Apa mas tidak mau datang?"


"Kenapa kau selalu memaksaku, Ga?. Aku sudah bertemu Putri. Ada suatu hal yang ditanyakannya, aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi, sudahlah aku tak ingin membahasnya lagi, karena ada hal penting yang ingin ku lakukan. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Ku harap kau mengerti keadaanku saat ini, Ga"


"Baiklah, aku tidak akan memaksa mas untuk datang" helaan nafas Angga terlihat berat. Aku juga tidak ingin ambil pusing. Kita punya kehidupan masing masing, terdengar egois.


"Masih ada yang ingin ku kerjakan. Salam kan buat Putri Ga, aku pasti akan kesana" jelasku supaya Angga tidak terlalu berharap terlebih sedikit memaksa.


Angga menyerah karena tidak bisa mengajak ku, entah punya rencana apa dibalik nya. Aku tidak mau ambil pusing lagi. Kalau dibilang aku kecewa tentu, terlebih ingat ketika dia tidak ada respon ketika berkali kali aku meminta maaf bahkan sampai aku pulang kampung sikap Angga tidak berubah, salah bila saat ini aku bersikap sama dengan atas apa yang dilakukan Angga dulu.


"Mas Bening, mas Angga,,, kalian,,," panggil Putri baru saja datang dengan wajah capeknya.


Kenapa ayah belum datang juga, pasti Putri memaksaku untuk ikut pulang, karena aku tahu Putri itu seperti apa. Kini, aku tidak menolaknya lagi.


"Mas Bening nunggu pakde ya. Mas,,, " Putri meragu, mungkin gak enak dengan ku terlebih melihat kearah Angga yang wajahnya sendu membuat Putri merasa semakin tak enak denganku.


Helaan nafas Putri lirih, sekali lagi lirikan kearah Angga. Kini di alihkan kearahku.


Para siswa sudah nampak agak sepi, aku sendiri memang jarang mengambil les selain lumayan biayanya mendingan aku tabung untuk kuliahku nanti. Aku hanya mengandalkan kemampuanku, selama aku belajar pasti bisa maksimal karena bagiku belajar itu utama sedangkan les itu tambahan supaya lebih paham.


"Ayolah mas ikut ke rumah. Nginap semalam aja. Ya mas, please,,," mohon Putri akhirnya.


Desahanku pelan, menatap Angga sekilas tersenyum kearah Putri sejenak, tatapan kearah jalan dimana ayahku tak kunjung datang. Rasanya dongkol tapi aku tidak mungkin menyalah keadaan maupun ayahku.


"Baiklah" akhirnya ku putuskan untuk ikut saja dari pada terus dipaksa lebih baik ikuti saja, bikin seneng.


Mata Putri berbinar. "Benarkah, mas Bening mau ke rumah?" todong Putri semangat.


Ku anggukan kepala tanda iya.


"Alhamdulillah" seru Putri girang.


"Syukurlah" senyum Angga berkembang. Entah apa yang membuatnya senang, aku tidak tahu yang penting apa yang ku rencana kan gagal.


Masih ada esok untuk mengurus masalahku, kini aku ikut saja kemauan Putri. Tentu saja Angga ikut merasa senang, itulah kata perasaanku mengenai Angga.


Akhirnya kita bertiga naik angkot menuju ke rumah, tidak butuh waktu lama untuk sampai.


Hari telah beranjak sore, ketika kakiku mengijak halaman rumah dimana pertama kali aku datang ke Jakarta hingga semua kenangan yang terjadi kini bagaikan siluet yang diputar otomatis di otakku hingga satu persatu begitu cepatnya berputar hingga lamunananku yang sejenak kini kembali ke pikiranku yang semula.


"Mas ngelamun apa?"


Ucapan Angga tak begitu ku dengar masih asik dengan pikiranku.


"Ayo mas masuk,,," ajak Putri sumringah, aku tidak ingin membuatnya kecewa dengan sikapku ataupun ungkapanku.


"Iya,,," gumamku lirih, ku anggukkan kepalaku mengkuti langkah Putri dibelakang. Sedangkan Angga pun masih dibelakangku aku cuekin. Masih saja hatiku agak dongkol dengan sikapnya dulu yang masih ku ingat sampai sekarang.


Terkadang aku merasa kasihan juga dengan Angga, ada kecanggungan ku lihat, pada hal ingin mengakrabkan diri denganku.


Untuk saat ini aku belum membiasakan diri dengan sikapnya.


Sebenarnya dengan Putri aku tidak ada masalah, cuma dengan Angga sedikit masalah.


"Mas aku mau mandi dulu ya, gerah" ijin Angga padaku yang sedang duduk diruang tamu.


"Mas,,, minum dingin kayaknya seger ya,,," seru Putri dari arah dapur. Entah sedang bikin minuman apa buatku.


Sesaat kemudian Putri sudah datang dengan minuman dingin, rasanya seger, bikin ngiler.


"Ayo mas diminum. Hauskan" tebaknya tersenyum renyah, masih belum ganti bajunya masih tetap sama.


"Terimakasih Put" pungkasku menimpali senyumnya yang tulus.


"Siapa aja mas. Mas mandi gih, pasti gerah kan, biar gerah" ulasnya menatapku.


"Nanti, ini masih belum kering" aku beralasan.


"Mas aku tinggal dulu ya. Nginapkan,,,?" Putri sambil berlalu, aku belum sampai membalasnya.


Mulutku masih melongo karena Putri sudah tidak ada hanya aku sendirian.


Lalu, kemana Angga?


Lama banget dikamar....


Kayak dikacangi.


Aku pun ke kamar Angga yang dulu pernah aku tempati bersama Angga serta nginap dikamarnya.


Hingga hal itu pun terjadi hingga membuat keadaan berubah dratis.


Tak terasa aku pun telah masuk memperhatikan kamar yang dulu pernah ku tempati, tidak jauh berubahnya.


"Masss,,," ada sapaan seperti terkejut dengan ku yang berada di kamarnya.


Ku hadapkan tatapanku mengarah padanya...


Sungguh?


Ini pemandangan yang pernah ku lihat, dulu...


Kini tersuguh kembali?


#bersambung...


----------


Ikuti kisah selanjutnya?


Senin 27 Agustus 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.