124. Mimpikah Ini?.
Bab 124. Mimpikah ini?
★★★
Gelisah!
Bukan karena apa-apa, aku tidak memikirkan apapun namun perasaanku hanya gelisah, tidak enak saja.
Namun, aku tidak bisa merubah posisiku dari miring, untuk terlentang. Rasanya aku tidak bebas untuk bergerak.
Aku juga tidak tahu, apakah Angga sudah tidur apa belum karena tadi aku masuk duluan langsung rebahan karena saat ku rasakan Angga mau tidur agak lama.
Bahkan kita dalam kebisuan cukup lama hanya terdengar hembusan halus ku dengar.
Aku sendiri merasa tidak tenang sedari tadi memilih untuk diam karena tidak ada hal yang perlu dibicarakan.
Mungkin Angga ingin cerita banyak tapi mungkin takut untuk cerita. Karena melihat ku selalu bersungut kesal.
Pikiran ku mengembara kemana mana, mengingat semua hal yang ku alami selama ini, kejadian semua kejadian telah ku lewati baik suka maupun duka.
Hingga ku tersadar ada yang memegangku dari belakang ku rasakan hembusan nafas yang hangat, menderu pelan sesekali tertahan.
Hangat tubuhnya ku rasakan bahkan debaran dadanya, detak jantung yang perlahan tapi pasti kian berpacu bahkan hembusan nafasnya kian memanas.
Tentu saja aku langsung blank dibuatnya karena keadaan itu begitu cepat tanpa ku sadari.
"Mas,,," suara Angga serak memanggilku, agak takut.
Padahal sedari tadi aku hanya diam saja bahkan tidak bisa tidur, karena gelisah.
"Mas, mas, maaaassss,,," desahnya tertahan, menahan nafas, panggilnya lagi, tanpa ku gubris.
Tubuhnya makin merapat hangat karena ku rasakan kulitnya yang menempel ditubuhnya yang terbalut kaos. Entah mengapa ku rasakan kini panas dingin.
Aku sudah tidak tahan dengan sikapnya yang berbeda.
Mataku masih terpejam rapat. Ku rasakan kehangatan yang tak biasa, pelahan....
Merasuki tubuhku hingga ku rasakan hangat itu sangat kuat, membuatku terlena, hingga membuaiku. Rasa itu begitu ku hingga serasa mengikat jiwaku. Hingga ku ingat sesuatu yang kini ku pakai.
Namun, pikiranku sangat kuat mengalahkan hati nurani hingga terlupakan.
Buaian nya terasa menghanyutkan jiwaku. Perlahan...
Tubuhku dibalikan tanpa ku rasakan, dan itu tidak kurasakan karena mengikuti naluri.
Hembusan nafasnya hangat tersengal, menerpa wajahku karena mataku enggan ku buka karena naluri mengatakan ikuti alurnya.
Hingga ku rasakan hidungnya menempel nafas tertaut, nafasnya kian menderu panas.
Ku rasakan bibirku terasa hangat, karena bibirnya telah berani untuk lebih dekat. Kenyal, hangat serta....
Selanjutnya, kecupan lembut ku rasakan. Kecupan yang penuh rasa, rasa yang selama ini tak tersalurkan. Hasrat yang terpendam. Hingga mengendap...
"Hmmm,,," ada gumaman, masih biasa mungkin belum berani lebih jauh.
Bahkan ku rasakan, tanganku dicari cari hingga dapat, pelan dan perlahan dituntunya.
Nafasnya masih memanas hangat, tapi sedikit teratur. Dadanya bergemuruh dengan detak jatung kian berkejaran.
Danmmm?
Tanganku bersentuhan dengan daging kenyal, dipegangkannya dengan penuh rasa.
Hatiku berdebar, gemetar ku rasakan hingga membuatku hampir menolaknya karena merasa ketakutan yang tak beralasan.
"Achhh,,, hesshhh,,," desisan pelan keluar dari mulut yang menempel dibibirku karena masih belum terlepas.
Bahkan tanganku arahkannya untuk membuat gerakan, gerakan yang sering ku lakukan, gerakan erotis yang membuat onggokan daging makin menegang bahkan terasa hangat hingga membuat pembuluh darah menyebar diseluruh urat ditubuh hingga menibulkan getaran yang sulit untuk digambarkan.
"Oughhh,,, masss,,,, ini sangat nikmat. Aku merindukanmu mas, aku salah sama kamu,,," gumamnya meracau, aku samar mendengarnya.
Tanganku terus dituntunnya, lebih lebih cepat bibirnya masih menciumiku tapi tidak berani lebih. Desah nafas makin lama makin, dan aroma tubuhnya makin menguar kuat.
"Oughh, oughh, oughh,,, hahhh,,,!" Terasa tubuhnya mengejan hebat, sesaat nafasnya tertahan. Lalu dilepasnya seiringan dengan kedutan dasyat dari saluran kencing. Pejuhnya tumpah ruah begitu banyak hingga aromanya menguar sampai ke penciumanku.
Deru nafasnya ngos ngosan tapi ciumannya sedikit renggang. Bahkan dilepaskannya, tanganku masih memegang dibiarkannya saja. Tentu nya sangat berlepotan pejuhnya yang sangat banyak.
Dia nampak mengatur nafasnya untuk kembali normal dan itu butuh waktu juga untuk meredakan debaran juga detak jantungnya kembali normal.
Ku rasa celananya dilorotkan serta dibiarkannya, bahkan tanganku masih memegang kontolnya yang masih saja ngaceng tidak loyo. Sungguh staminanya ku acungi jempol.
Hingga ku rasakan dunia berubah dan aku pun terbang ke alam mimpi. Terlelap dengan sendirinya, tak merasakan apa apa lagi...
---------------
Suara kumandang adzan bergema hingga membuatku terbangun dari buaian mimpi mimpi yang aku sendiri tidak bisa mengingatnya lagi, seakan aku lupa mimpi apa yang ku alami.
Ku kerjabkan mataku, terasa berat karena aku rasa tidur agak larut, dan keadaanku masih berhadapan dengan Angga, berada didada bidangnya yang gempal.
Akh tak tega membangunkanya, terlebih keadaan kamar temaram, mungkin ada dua lampu dikamarnya Angga supaya tidurnya lebih nyaman jika lampunya temaram. Tapi tetap kelihatan agak nyata, walaupun tidak begitu jelas.
"Ga,,, bangun Ga,,," ucapku lirih, suara serak karena habis bangun tidur.
Tak ada reaksi dan ketika ku sadari tanganku masih memegang gagang kayu yang masih hidup. Jadi dari semalam aku memegangnya. Ya Tuhan! Ini manusia atau apa?
Sampai detik ini tidak ada tanda kalau keperkasaannya pudar bahkan masih tetap perkasa seperti tiang bendera berdiri kokoh dengan gagahnya.
Ingatanku samar kini mulai pulih perlahan, hingga hal itu membuatku tersenyum, kali ini aku akan ambil resiko karena Dia yang telah memulainya terlebih dahulu, maka kali ini jangan salahkan aku. Jika pun dia marah nantinya maka aku akan beberkan semuanya dan akan ku akhiri hubungan ku dengannya bahkan jika perlu aku tidak akan pernah mengenalnya serta menjauhinya untuk selamanya.
Karena hidungku masih dekat jaraknya, kamar lampunya juga temaram jadi keadaan seperti menjadi romantis sedangkan keadaanya setengah bugil karena kolornya masih nyangkut didengkulnya.
Tanganku masih memegangnya, bahkan ditanganku rasanya sedikit berbeda dari yang dulu pernah ku rasakan walau mungkin warna masih sama kecoklatan dengan kepala merah maroon.
Aku bukan mencari kesempatan tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Siapa yang memulai duluan, ibarat kucing yang di suguhi ikan asin makan pancinngan akan kena.
Aku bangkit perlahan, tanganku masih memegangnya lembut.
Sedikit ku elus tanpa melepaskannya.
"Hesshhh,,," desisan lembut keluar dari mulutnya. Mungkin sensasinya terasa serta terbawa sampai ke alam mimpinya.
Aku tidak peduli kali ini, maka dadanya yang ada pentilnya aku kenyot tanpa permisi, lebih dalam penuh rasa. Hingga bergantian serta ku lakukan dengan lembut.
Lidahku menyusuri kebawah garis tengah ada rumput halusnya terasa dilidahku bahkan sampai di udelnya, ku kulik dengan lidahku. Agak gemas juga, ku sedot pelan penuh rasa. Tanganku masih memegang kontolnya yang tegak tanpa goyah, karena ada sedikit gerakan yang mengatarkan keindahan.
Ku rasakan rambutnya jembutnya yang agak tebal, seperti jarang dirawat, bahkan hidungku ku tenggelamkan lebih dalam, membuinya dengan rasa nikmat yang tidak ada bandingnya.
Beda dengan milik mas Surya yang wangi aromanya seperti pakai shampo khusus untuk merawat jembutnya. Beda dengan Angga yang mungkin tidak peduli dengan aromanya karena tidak pernah menciumnya, menurutku aromanya manly, enak gitu.
Kontolnya bergerak lucu, hingga ku rasa ada lendir diujungnya, sedikit agak banyak tanpa aroma, itulah air madzi atau juga disebut percum.
Wow, ternyata kontolnya lebih tebal dan agak gede sekarang, kalau dulu...
Aku dibuat makin gemas saja, terlebih kontolnya mengangguk angguk minta sesuatu yang lebih.
Lidahku menjulur di ujungnya, merasai lendir ujungnya. Tanpa aroma juga rasa, ehhmmm, tapi sungguh nikmat terasa.
Ku caplok sekaligus lingkaran kepala yang berbentuk jamur.
"Nngghhhhmmmm,,," erangan lirih terdengar darinya. Tidak berani umbar suara, begitu menikmatinya, begitu aku juga menikmtai penuh rasa.
Sambil ku kocok lembut ingin mengeluarkan isinya karena waktuku tidak banyak.
Ku kenyot kenyot dengan kuat, ku kilik lubangnya membuatnya makin kelojotan dengan nafas makin ngos ngosan tak terkendali.
Tubuhnya makin tak karuan dengan nafas makin tersendat sendat detaknya makin tak beraturan bahkan kini pinggul nya ikut digoyang mengimbangi emutanku bahkan dilesakan makin dalam hingga ku biasakan, masuk seluruh ku sedot kuat kuat.
"Hhhaaaaahhhhhh,,,," lenguhnya tertahan bersamaan dengan denyutan dari kontolnya yang mengeluarkan pejuhnya, lagi lagi begitu banyak, kental serta legit. Dengan rasanya yang nano nano dimulutku. Aroma pejuh yang khasnya nguar, tak ku pedulikan. Pagi pagi subuh aku sudah sarapan pejuh yang gurih, ada manis manisnya karena pejuh Angga bebas polusi juga tidak terkontaminasi.
Perlahan ku naikan mulutku dari kontolnya hingga di lingkaran jamurnya. Sekali lagi ku kenyot.
"Achhh,,, hohh,,, mas, masss,,, auw,,, ngilu mas,,, jangan kenyot. Pelan mas,,, auww,,," kekeh Angga kegelian saat terakhir kenyotanku bahkan sedikit ku urut untuk membersihkan sisanya tanpa sisa.
"Mas, mas, mas udah ya, ngilu..." Angga bangkit melihat apa yang ku lakukan sambil tersenyum puas.
Sangat berbeda dari dulu dengan tatapannya saat sekarang ini, senyumnya mengembang. Ceria....
Aku pura pura cemberut tapi tanganku tetap bertahan.
"Yaudah terserah mas Bening mau ngelakuin apa aja ke aku mas,,," rayunya mesem mesem. Aku suka gayanya sekarang yang tampak biasa saja beda dengan dulu yang muna.
Aku tersenyum padanya, rasanya lega karena sikap tidak berubah biasa saja.
Syukurlah!
"Mas terima kasih ya" ucap Angga memelukku, menciumku hangat rasanya hatiku tambah damai. Semuanya telah seperti sedia kala.
Ku ingin sikap Angga tidak berubah untuk selamanya. Semoga!
"Ga maaf kan aku juga jika aku telah membuatmu dihantui rasa bersalah. Aku sudah memaafkan mu sejak lama, kok"
"Iya mas, karena itu kesalahanku, maka aku akan menebusnya. Mas Bening sering sering nginap disini ya,,, karena aku selalu kangen dengan mas Bening. Rasanya sepi, hampa tanpa kehadiran mas disini"
"Ah lebay, bisa aja kamu Ga,,,! aku kan gak kemana mana"
"Yahdah Ga, mandi junub sana gih" tambahku.
"Mas gak mandi junub. Apa mau dibantu sekalian mandi,,," tawarnya dengan menaikan alisnya sebelah. Aku tanggapi dengan tertawa lirih sambil gelengkan kepala, sebenar mau juga.
"Boleh,,,"
Wkwkkkkkkkkk,,,,!
#bersambung ya....
------------
Ikuti kisah selanjutnya...?
Selasa 23 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar