125. Ancaman Yang Menakutkan.

 Bab 125. Ancaman yang menakutkan


★★★★


Tentu saja tidak ku tolak tawarannya untuk mandi bareng.


Tentu saja kita sama sama bugil, tanpa ada rasa canggung bahkan tanpa ragu Angga begitu pasrahnya aku memegangnya tanpa sungkan.


Dia juga mengocok milikku hingga ku capai rasa kepuasan yang tiada tara ku rasakan.


Lagi lagi Angga juga minta di manjakan lagi, karena dari bangun sampai manja kontolnya tetap ngaceng gak ada loyonya. Ngecrotnya juga sangat banyak begitu tumpah ruah dalam mulut sampai ku telan bahkan saat saling mengguyurpun, dengan gagahnya seperti seorang pejantannya dengan kran yang mengalir tanpa ragu lagi Angga mengerang kencang saat merasakan kontolnya mengeras di ujung klimaksnya.


Pejuhnya lagi lagi muntah sangat banyak dimulutku dan ku telan semuanya, rasanya gurih, legit ada manis manisnya.


Terasa kekuatanku pulih gegara minum protein milik Angga.


Lagi lagi ku kenyot hingga dia kegelian, menggelinjang hebat sembari menenangkan nafasnya yang terpacu.


Kami sama mandi bersama, walaupun milik tak sengaceng milik Angga masih dalam keadaan semi tegang.


"Ga apa lelah kamu ngaceng terus gitu?" Sebenarnya aku gemas, geli gitu melihat bahkan ku pegang sambil ku kocok Angga hanya pasrah dan tersenyum bahagia seakan apa yang ku lakukan itu hal yang sangat membahagiakan.


Aku merasa aneh dengan yang terjadi sama Angga karena kontolnya masih saja ngaceng dengan sempurna padahal sudah ngecrot empat kali. Dan semua itu sangat banyak sekali ngecrotnya bikin aku keheranan sendiri.


Bahkan tidak ada tanda kelelahan ditubuhnya dari wajahnya malah terlihat segar bugar.


Atau jangan jangan ini pengaruh dari gelang milikku sehingga membuat Angga layaknya pejantan tangguh yang perkasa, punya daya tahan bagai dewa.


Putri pamitan duluan tidak melihat keanehan pada Angga yang berjalan aneh karena sesuatu yang menonjol dibalik celana.


Ya Tuhan!


Apa yang harus ku lakukan untuk menyembuhkannya? Walaupun Angga terlihat biasa bahkan tidak khawatir tentang keadaannya malah aku yang dibikin panik tentang keadaan Angga yang diselakangannya mengembung.


Angga terlihat enjoy in the hoy membadai tanpa ada problema....


"Ga apa kamu nyaman dengan keadaanmu?" lirikku kearah bawah yang masih nampak tendanya.


"Waduh,,, bisa berabeh!" keluhku dalam kepanikan melihat keadaannya yang mengenaskan.


"Kenapa?" sahutnya santai, membuatku getok kepala. Seakan apa yang di alaminya bukan masalah baginya, tapi jika nanti di sekolah apa tidak terjadi bencana.


"Ga aku duluan ya,,," pamitku ingin berangkat duluan karena ingin cari jalan keluarnya. Semoga sepeninggalku keadaan baik baik saja.


Aku berlari menuju keluar rumah sekencangnya...


Sambil?


Cetek, cetek, cetek!?


Shitssss,,,


Ada sebuah mobil yang melaju sangat cepat siap menabrak tubuhnya dan hancur berkeping keping


"Awasssss, minggirrrrr,,,,,!" teriak suara laki laki paruh baya lantang.


"Maaaassssss,,,," Angga tidak melihatku karena keburu tubuhku.


Bliippp...?


Lenyap!


Aku berada di pinggir lapangan dengan hembusan angin bertiup sepoi karena udara pagi masih segar terasa.


Keadaan masih agak sepi. Ku lihat dari kejauhan para siswa yang berjalan kearah kelasnya, ada yang bergerombol asik ngerumpi.


Ada yang jalan jalan santai saling berjalan bersendau gurau....


Aku menikmati kesendirianku, karena waktuku masih banyak hingga saatnya masuk nanti.


"Angga,,," gumamku lirih, memikirkan nasib yang dialami menurutku, sangat mengenaskan tapi Angga tidak bermasalah. Aneh?


"Yu, huuuuyyyy,,,, every body,,," suara cempreng Latifah memecah pagi yang hening nan cerah.


Tentu saja bersama bidadari yang terluka dengan wajah oktimis menatapku ingin mencari kabar tentang Alex. Dugaanku karena wajah mereka sedikit berbeda kali ini telah di aliri darah, sumringah.


Mereka akan kejang kejang bila dengar kabar sesungguhnya tentang Alex jika aku cerita, tapi masih ku tahan. Karena semalam aku terbuai oleh hasrat yang bergelora.


"Gimana kabarmu Bening?. Kami ingin tahu kelanjutan berita kemarin?" ucap Latifah setelah tadi teriak bikin pekak telinga kini sudah melunak seperti putri solo. Sambil tersenyum manis seperti biasanya.


"Iya, tawaran kami kemarin tidak main main lho" ulas Oktavia yang memang sangat berharap terlebih lagi Sarah.


"Benar, kami perlu kepastian Bening. Bukan sebuah janji yang cuma bualan belaka" sahut Sarah ingin kejelasan karena penuh pengharapan karena takut akan Alex karena hari hari mendekati tentu saja membuat mereka ketar ketir.


"Aku belum menemui Alex, tapi tenang saja, pasti aku akan bantu kalian terbebas dari Alex the geng, nama kalian juga bersih sekaligus aman" yakinku karena wajah mereka ku lihat lesu.


"Yakin. Aku sih gak yakin" cibir sarah mengejek, tentu bukan ejekan biasa melain hinaan, menurutku. Tapi untuk saat ini aku diamkan dulu cibiran mereka terhadapku.


Bila saat nya tiba baru aku bertindak...


"Huh ternyata gak bisa di andelin"


"Omdo aja ternyata!"


"Nyesel gue minta tolong"


"Lalu bagaimana nasib kita"


"Gue tidak mau jadi pemuasnya?"


"Lebih baik gue,,, hiks, hiks,, hiks,,,"


Itu lah berbagai tanggapan dari mereka yang merasa tertekan. Kasihan. Tapi mau gimana lagi. Aku sudah berusaha tanpa usaha, he he he,,,,


"Girls, lest go,,,!" ajak Latifah berseru hingga cewek cewek telah kena slebew Alex itu berarak pergi meninggalkanku sendirian.


Hufppp,,,


Ku hempaskan nafas lega, karena ulah cewek gila yang diluar kendali itu.


Sayup sayup ku dengar suara orang menangis seperti dua orang. Tapi karena bel telah berbunyi aku tidak menggubrisnya serta memilih pergi. Walaupun berbagai pertanyaan timbul dipikiranku namun ku abaikan terus langkahkan kaki tergesa menuju kelasku.


"Maafkan akuuuu,,,!" raungnya suara itu penuh sesal.


Hingga suaranya tak terdengar karena aku semakin menjauh dari area lapangan yang sangat luas.


Semua murid duduk dengan khidmat, entah apa yang membuat mereka terdiam dan nampak tenang aku tidak mengerti dan tidak seperti biasa.


Diam!


Hingga terasa seperti di kuburan tanpa sedikitpun suara seperti sedang menanti yang horor.


Tiba tiba datang seorang laki laki gagah, aku tahu siapa sebenarnya orang yang baru masuk sangat berwibawa serta berkharisma penuh pesona. Wajahnya tegas dengan sorot mata tajam seperti killer aku sangka dia seorang pembunuh.


Aku merasa tidak enak perasaanku, tapi aku coba buat tenang, sekalipun ada hal yang tak terduga.


"Selamat pagi anak-anak, semoga kalian selalu sehat dalam lidungan Tuhan yang maha esa. Amin,,,! Saya sebagai wali kelas kalian yang baru, nama saya Lucky Tri handoko. Mohon kerja samanya" senyumnya tegas dengan tatapan tajam.


Semua menahan nafas karena hawa dari pak Lucky yang berwibawa.


"Hari ini kita akan menjenguk teman kalian Alex karena sedang sakit. Kita bawakan oleh oleh buat dia. Kita akan membawa bus sekolah untuk ke rumahnya" titah pak Lucky kini terlihat senyum ramah, sepertinya sifatnya yang tadi sedang disembunyikan.


"Siap pak!" jawab serempak seluruh siswa, namun aku menjawabnya hanya sekedarnya.


Ku lirik para ceweknya ada yang antusias setuju, juga ada kurang semangat karena tidak ingin bertemu muka dengan Alex bajingan.


Untuk para cowoknya tentu saja antusias karena Alex termasuk bagian dari pemain futsal kelas 12a yang handal makanya Alex seperti di prioritaskan.


Seluruh siswa kelas 12a mengikuti pak Lucky untuk bertandang kerumahnya Alex.


Entah mengapa pak Lucky seperti segan dan menghormatinya karena sikapnya begitu kelihatan.


Seluruh siswa naik kedalam bus, bersorak riang didepan gerbang tentu saja mengundang perhatian siswa yang lainya, yang melihat dengan berbagaimana, ada yang geleng kelapa, menjulurkan lidah, mencibir, ngasih jari tengah dan masih banyak tanda isyarat yang mengejek yang membuatku masa bodo.


Sebagian didalam bus sekolah sedikit berbisik tapi masih dalam batasan sepertinya enggan dengan pak Lucky sebagai wali kelas kita. Seperti guru killer.


Ku amati keadaan sekitar, tapi ini tidak seperti yang ku perkirakan, atau ini memang berbeda saat aku bertemu dengan Alex serta menolongnya saat kecelakaan dengan luka luka yang cukup parah. Hingga memerlukan donor darah, untungnya darahku tidak cocok dengan darah jadi dia tidak akan berhutang budi padaku.


Bus terus melaju, di antara rumah elite yang hampir sama bangunannya. Namun di antaranya ada bangunan yang nampak berbeda bahkan sangat mewah dan berkelas bahkan pagarnya begitu menakjubkan.


Pagi hari baru akan di mulai belajar malah di ajak untuk menjenguk Alex yang sedang sakit.


Ternyata keadaan berubah drastis.


Mungkin disini keadaan juga tidak akan terduga kejadiannya bakal seperti apa.


Luar biasa, menurutku bahkan ada dua orang satpam yang punya postur tubuh kayak bodyguard, gagah serta sangar dengan sorot mata tajam.


"Silahkan masuk, adik adik" suara bass dan tegas mempersilahkan kami masuk.


Ini hanya sebagian karena yang jadi korban Alex tidak mau ikut serta berasalan hingga pak Lucky harap maklum serta memberi ijin.


Mau masuk  kerumah saja bikin pegel di kaki, mana luas banget, aku gak mau mikir tentang halamannya yang begitu luasnya.


Bahkan pintunya besar, tinggi juga bagus berkelas. Disini hanya aku yang terlihat katrok karena yang lain tidak peduli dengan rasa kekagumanku bahkan kebanyakan mereka mencibirku.


"Silahkan masuk" tadi salah satu satpam penjaga ada yang bertugas mengantar dan ada yang di post.


Kami sekitar dua puluh siswa pun masuk kedalam rumah mewah yang katanya milik Alex lalu di...


Pasti itu apartemen pribadinya karena aku masih menduga duga.


Dadaku berdebar jika nanti aku akan bertemu Alex karena kemarin malam aku menemuinya di alam mimpi dan dengan jelas memberi peringatan pada Alex entah di indahkan atau tidak. Tapi dadaku mendadak berdebar, jantungku bertalu-talu.


"Eh,,, ini teman temannya anak kami" sapa seorang ibu paru baya yang terlihat sangat cantik mirip dengan ibunya Riko, sekilas. Didekatnya pasti papanya karena aku begitu sangat mengenal keduanya yang begitu baik serta ramah.


"Eh pak Lucky,,," sapa papanya Alex ramah sembari tersenyum tidak kayak anaknya tentunya keadaan nya belum membaik seperti semula.


Papanya Alex seperti begitu dekat dan sangat kenal sama pak Lucky.


Mata pak Lucky seperti memberi isyarat hingga membuat merasa ada sesuatu terlebih papa Alex seperti menjajikan sesuatu padaku. Aku masih ingat betul akan janji mereka.


"Tolong kalau mau melihat keadaan anak saya secara bergantian" titah mamanya alex dengan senyum ramah.


Keduanya belum menyadari keberadaanku di antara para siswa karena seperti fokus pada keadaan putranya.


Mereka semua mengangguk patuh begitu pun pak Lucky terlihat begitu menghormati pak Remond dan bu Shella.


Atas permintaan bu Shella para siswa bergiliran melihat keadaan Alex dikamar atas seperti kamar milik Riko, benar benar anak orang tajir.


Pak Remond masih asik ngobrol dengan pak Lucky terlihat akrab seperti sudah kenal lama sekali.


Pak Lucky seperti menunjukku bahkan kini ibu Shella juga memperhatikan, higga aku jadi pusat perhatian.


Semua yang keluar dari kamarnya Alex wajahnya ditekuk, entah apa yang terjadi saat berada dikamar Alex?.


Kini giliranku ada dua orang, dadaku berdebar dag dig dug tak menentu. Padahal bu Shella tersenyum mempersilahkan masuk. Ini memang agak aneh mengingat bu Shella seperti penjaga pintu bagi anaknya.


Kini ku langkahkan kakiku memasuki kamarnya Alex yang begitu luas juga sangat komplit.


Menuju kearah ranjangnya Alex masih celingukan.


"Heussh, kamu jangan norak,,," cerocos temanku, kurang paham tentang namanya mempetingatiku.


Tentu saja sedari tadi aku kagum dengan rumahnya beserta isi yang memang berkelas tidak ada duanya, bahkan menurutku rumah Riko masih kalah.


Setelah dekat dengan Alex,,,


"Lo,,,?" kejutnya, setelah tahu kehadiranku. Keadaannya sudah ada perubahan, berangsur lembut.


Aku hanya tersenyum lembut kearahnya.


Alex merengut tidak senang akan kehadiranku.


Jadi ini yang mereka alami ketika berhadapan dengan Alex.


Sangat berbeda jauh dengan sikap yang diperlihatkan oleh kedua orang tuanya yang bisa menghargai orang lain, ini boro boro malah ingin membunuh. Masih sakit juga.


Kedua temanku menatap kearahku terheran karena Alex cuma menyapaku walaupun tidak suka.


"Berani Lo dateng ke rumah gue!" matanya makin melotot hal itu membuat kedua temanku ketakutan setengah mati.


Sebenarnya rahasia apa yang dimiliki oleh Riko sehingga mereka segan bahkan sampai ketakutan.


Ingin aku menyahutinya tapi ku urungkan niatku karena percuma terus debat dengan Alex bajingan bikin emosi, sakit saja masih sok sokan.


"Seharusnya aku biar kau mampus ditempat itu, jika melihat sikapmu seperti ini" tandasku aku tidak tahan dengan sikapnya yang arogan. Untung moodku sedang baik karena hubunganku dengan Angga sudah membaik bahkan kini Angga seperti ingin selalu dekat denganku membuat ku takut dengan sendirinya jika Angga nantinya cinta sama aku.


"Gue tidak butuh pertolongan dari lo..." sentaknya tersulut emosi.


Kedua teman tidak ada komen dengan muka sepucat mayat, ketakutan mulut terkancing rapat.


"Semoga kejadian seperti ini terulang lagi Lex, saat itu aku tidak akan sudi nolong kau lagi, sekalipun dalam keadaan sekarat!" pungkasku menatapnya tajam, tatapan yang tak biasa yang selama ini tidak ada seorang pun yang tahu.


"Lo, si-siapa Lo sebenarnya?" Alex terlihat kecut menatapku.


"Aku  malaikat pencabut nyawa, yang setiap saat bisa membuat nyawamu melayang dari ragamu" tatapanku tajam dengan senyum dingin tak biasa.


"MAMA,,,?!" teriak Angga ketakutan tanpa alasan.


#bersambung....


-------------


Bagaimana sikap Alex selanjutnya akan berubah karena mendapat peringatan dari Bening?


Ikuti kisah selanjutnya....?


Selasa 23 Agustus 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.