126. Tidak Jera.

 Bab 126. Tidak Jera.


★★★★


"Sayang kamu kenapa ketakutan seperti ini?" bu Shella datang tergopoh melihat keadaan Alex putranya yang mukanya pucat pasi dengan berkeringat dingin menunjuk kearahku.


Tentu saja aku berpura pura sedih menyembunyikan hal yang sebenarnya di hadapan bu Shella mama Alex.


Seperti prihatin melihat keadaan Alex yang terbaring dibalu perban hampir disekujur tubuhnya. Sebenarnya aku kasihan melihat keadaannya, tapi jika ingat kelakuannya hal itu tidak membuatku iba pada Alex bahkan jengkel ingin penggal kepala.


Karena jika rencana dilancarkan maka akan banyak cewek yang jasi korbannya serta menyandang 'GADIS BUKAN PERAWAN' sungguh itu sangat memalukan bagi dunia keperawanan seorang cewek. Masa depan suram jika tidak dibilang malah hancur.


"Lho ini nak Bening kan. Jadi nak Bening ikut menjenguk. Maaf tadi ibu tidak begitu memperhatikan nak Bening" sikap bu Shella ramah bersahaja senyumnya tidak pernah lepas, selain cantik juga baik ramah pada setiap orang.


"Iya bu, karena ini himbauan dari sekolah untuk menjenguk Alex teman kami satu kelas" jelasku menimpali dengan tersenyum membalas.


"Berkatmu nak Bening keadaan putra kami sudah membaik. Terima kasih, kalau bukan atas pertolonganmu mungkin tidak akan terselamatkan kata dokter Renaldi" ulas  bu Shella seperti mengenang kejadian yang di alami oleh Alex.


"Alex tidak mau cerita siapa yang membuatnya celaka, karena kejadiannya begitu cepat. Karena putraku hanya mendengar deru motor setelah terjatuh serta luka luka di pinggir paret" Kenang bu Shella masih mencari tahu siapa orang yang membuat Alex anaknya celaka.


"Alex sepertinya tidak tahu siapa pelakunya. Nak Bening apa melihat sesuatu yang mencurigakan ditempat kejadian?" tanya bu Shella ingin tahu ikhwal kejadian awalnya aku bisa menemukan Alex.


Namun, ada hal yang ku takutkan jika nanti bu Shella tanya mengenai detailnya aku membawa Alex sampai klinik dalam waktu singkat.


Tapi, bukankah dokter Renaldi sudah menjelaskan setidaknya aku sedikit tenang, walaupun tidak menarik kemungkinan bu Shella akan sangat penasaran dan ingin tahu kejelasannya langsung dariku sehingga menanyakan lagi hal karena rasa penasaran.


"Apa Alex punya bu Shella?" Aku ingin memastikan saja. Walaupun aku bisa menduga siapa pelakunya. Aku juga belum bertemu Riko semenjak kejadian yang menimpa Alex.


Aku yakin pasti Riko akan di penjara jika aku mengatakan pada keluarga Alex kalau sebenarnya Riko lah orangnya yang menabrak Alex. Tapi, kejadian itu tidak ada yang mengetahuinya karena perumahan di sekitar tempatnya mas Surya kala itu sepi karena mungkin orang orang pada kerja di kantor.


Nasib baik bagi Alex karena aku tidak datang terlambat, jika saja aku tidak menolongnya pasti nyawanya tidak akan pernah tertolong karena banyak kehilangan dari luka luka yang di alaminya.


Beruntung tidak keseleo atau patah tulang, sepertinya pelaku sudah memperhitungkannya walaupun mungkin hanya membuat efek jera.


Aku tidak tahu modus apa dibalik apa yang dilakukan si pelaku pada Alex, mungkin memiliki dendam pribadi atau hal lainnya.


"Entah lah nak Bening, ibu tidak tahu?. Kalau menurut ibu, anak ibu sepertinya jarang bergaul karena sering berada dirumah, bahkan jarang punya teman bahkan juga tidak pernah membawa temannya kerumah. Bahkan sedikit tertutup dengan orang lain" jelas Bu Shella hal itu tentu didengar oleh Alex serta dua temanku yang sedari tadi hanya diam mendengarkan saja.


"Mama, kenapa cerita seperti itu pada mereka, aku malu ma,,," protes Alex tidak senang mamanya bercerita tentang keadaannya. Apa tidak salah apa yang aku dengar kalau Alex tidak gue-Lo didepan mamanya. Ternyata masih ada rasa  hormat ke orang tuanya.


"Suka suka mama ya, kamu kan sudah ditolong oleh Bening sayang. Kalau kamu tidak ditolong, mama tidak bisa membayangkan nasib apa yang bakal kamu alami,,, ?" bu Shella sampai berlinang air matanya.


"Mama sayang sama kamu sayang, mama tidak ingin kehilangan kamu" lanjutnya, air matanya terus mengalir tak terbendung.


Wajah Alex sendu, aku tahu dia sedih tapi dia malu dengan keadaan saat ini karena ada aku juga kedua temanku.


"Kalian berdua keluar!" usir Alex sekalipun keadaanya banyak perban hal itu menyebabkan kedua temanku memucat serta ketakutan setengah mati.


"Bu kami permisi duluan,,," gusar keduanya pamit keluar dengan sopan karena tadi diusir oleh Alex karena tidak suka karena menceritakan keadaannya padaku didengar oleh kedua temanku.


"Ya nak, maafkan atas sikap Alex ya,,," ucap bu Shella merasa tidak enak dengan sikap Alex pada teman temannya.


Mereka tidak sempat menyahutinya karena sudah menghilang di balik pintu dipandangi oleh bu Shella disertai oleh pandangan tidak suka dari Alex.


Helaan nafasnya dalam...


Senyum ramah selalu tersuguh dari wanita cantik yang telah melahirkan sosok Alex yang perfect namun sayang sikapnya tidak baik mencerminkan keangkuhan.


"Nak Bening ibu pribadi mengucapkan ribuan terima kasih atas pertolongan yang kamu berikan dengan tulus pada Alex anak saya. Ibu harap kamu bisa berteman baik dengan Alex karena menurut ibu, Alex tidak punya teman jadi ibu harap kamu bisa jadi teman baiknya"


"Kalau saya tinggal orangnya, apa mau berteman dengan orang miskin seperti saya"


"Ah nak Bening jangan merendah seperti itu. Kami tidak punya apa apa kok. Itu hanya penilaian dari luar saja, kami sama seperti nak Bening tidak punya apa apa" tuturnya merendah berbeda banget dengan Alex.


"Nak mau kan kamu berteman dengan-"


"Mama jangan maksa gitu dong. Aku tidak suka mama selalu turut campur dalam pribadiku"


"Maaf bu, Alex sudah banyak teman disekolah. Aku hanya sekedar mengenalnya saja. Saya malah takut kalau berteman dengan Alex nanti ikuti dicibir karena punya teman miskin seperti saya"


"Itu tidak benar nak Bening. Nasib orang berbeda, ibu tidak masalah dengan statusmu orang tidak punya. Tapi kamu anak yang baik serta berhati mulia" pujinya dihadapan Alex anaknya. Alex nampak membulatkan matanya tidak suka, dengusan nafasnya besar.


"Huh, songong dipuji terus" gerundel Alex makin membenciku karena bu Shella selalu memujiku didepan Alex.


Alex pasti makin benci padaku...


Bu Shella mamanya hanya menggeleng lemah melihat kelakuan putra, menatapnya sejenak, menghela nafas pelan.


"Sayang, itu tidak baik. Mama harap kamu bisa akrab dan berteman baik sama nak Bening"


"Ogah, gak sudi aku berteman dengan orang udik seperti dia ma" protes Alex sungguh tidak suka dengan ku mungkin karena statusku. Apa semua orang melihat dari statusnya hingga di pandang rendah oleh mereka yang berduit, berstatus orang kaya.


"Dengar sayang. Mama tidak mengajarkan kamu bersikap seperti itu lagi pada nak Bening, bagaimana pun nak Bening itu telah menyelamatkanmu. Kita berhutang nyawa padanya"


"Berapa harga ma?, biar kita bayar!" sungutnya makin kesal dengan ku karena di ungkit ungkit oleh mamanya, kebenciannnya kian menggunung.


"Alex,,,!" sentak bu Shella kesal dengan sikap putranya yang tidak menghargai.


"Mama tidak pernah mengajarkan kamu bersikap tidak sopan, ya. Apa kamu tidak sadar, jika tidak ada yang menolongmu, kamu sudah mati karena kehabisan darah. Apa kamu paham hal itu"


"Tapi aku tidak mau di tolong olehnya. Siapa yang suruh. Lebih baik aku mati saja dari pada berhutang nyawa padanya"


"Alex,,, sungguh mama tidak tahu jalan pikiranmu" kembali bu Shella menangis sedih dengan sikap putranya.


"Bu Shella sudah. Saya tidak ingin hal itu jadi beban buat ibu dan kelurga. Anggap apa yang telah saya lakukan tidak pernah ada" terangku, buat menenangkan ibu shella yang sedih karena sikap Alex yang keterlaluan, selain sombong tak jua jera. Semoga dia mengalami hal buruk lagi dan lebih parah dari ini, supaya membuatnya jera.


Aku yakin sekali, sekalipun malaikat maut datang menjemputnya, Alex tidak jera. Heran?!


"Yasudah saya mohon undur diri bu karena waktunya sudah selesai" pamitku pada bu Shella karena bisa menghargai.


"Iya nak Bening, Terimakasih telah berkunjung kesini, mudah mudahan Alex cepat sembuh dan bisa sekolah lagi" pesannya bersahaja dengan senyum lembut.


"Bila ada waktu, berkunjung lagi kesini" titahnya dengan tersenyum ramah.


"Iya bu, pasti,,,"


"Nggak usah,,," sahut Alex jengkel.


"Sayang,,," bu Shella membulatkan mata tidak suka.


"Ach,,, mama"


---------


Pelajaran selesai istirahat sangat membosankan buatku.


Para cewek yang jadi korbannya Alex tidak ada satu pun yang ikut menjenguknya.


Karena mereka semua histeris, menjerit, bahkan menangis tanpa tahu penyebabnya membuat pak Lucky heran serta memberi ijin tidak ikut gak apa apa.


Bahkan sampai pulangpun pelajaran terasa sangat membosankan.


Aku berjalan gontai menuju kearah gerbang, karena banyak para siswa yang lalu lalang disekitaran gerbang, ada yang bolak balik, bahkan aku tidak memperhatikannya dengan fokus karena aku mikir siapa yang akan menjemputku atau aku pulang sendirian, nantinya.


Sampailah aku digerbang, namun aku merasa ada yang janggal atau dibilang aneh karena ada kerumunan tak biasa seperti mengerumini orang.


Lalu siapa yang kerumuni, karena terdengar sayup sayup ada yang menangis, bahkan ada tatapan aneh saat mereka yang tadinya kembali dari melihat kerumanan kini sedang memperhatikanku dengan raut wajah aneh. Bahkan ketakutan, ngeri hingga ada yang menjerit kuat.


"Setaaaannnnn,,,!"


"Hanntuuuu,,,!"


Tuding mereka yang berpas pasan serta memperhatikan dengan seksama.


"Ada apa? Kenapa kalian?" sentakku keheranan melihat tingkah mereka.


Sontak yang berkerumun kini balik memperhatikanku dengan seksama setelah itu mereka langsung berlarian dengan rasa ketakutan, membubarkan diri. Hingga keadaan sepi dan hening.


"ANEH,,,?" gelengku heran, dengan pandangan ku edarkan. Setelah ku sadari keadaan sudah lengang, kini pandanganku beralih pada...


#bersambung...


--------


Siapa yang jadi kerumunan para siswa disaat jam pulang?


Kenapa Bening ikut terkejut, siapa yang orang orang yang dilihatnya?


Ikuti kisah selanjutnya,,,?


Kamis 25 Agustus 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.