127. Rasanya Tak Percaya.
Bab 127. Rasanya tak percaya
★★★
Rasanya aku kurang yakin dengan apa yang ku lihat setelah semua siswa membubarkan diri dengan lari terbirit birit, dengan rasa ketakutan setelah melihatku, seperti melihat penampakan padahal aku masih bernafas dan punya nyawa.
Setelah dekat, agak terkejut keduanya menatapku tak percaya?
"Angga, Putri apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menangis seperti ini?" tanyaku dengan rasa keheranan.
Angga membulat matanya tak percaya dengan mulut menganga, sementara Putri mukanya langsung memucat ketika melihat wujudku ada dihadapannya.
"Kalian kenapa? Ini aku,,,?" teriakku keras supaya mereka tidak bengong melihatku berdiri dengan heran melihat tingkah keduanya.
Putri mengusap air matanya, begitu Angga yang bengong tak percaya ikut mengelap air matanya yang tadi tumpah ruah.
"B,b, benar i-ini,,, mas Bening, ya Alloh, beneran kamu mas Bening, masih hidup,,,?" ungkap Angga dengan terbata, tak percaya kalau sosok dihadapannya itu aku adanya, yang punya nyawa.
"Mas Bening benaran tidak apa apa?" ulas Putri dengan rasa tak percaya. Berdiri dengan masih menatapku selidik, begitupun Angga pun berdiri tadinya keduanya bersimpuh sambil menangis kayak anak kecil.
"Mas Bening,,," seru Putri langsung memelukku.
"Mas,,, Bening?" suara Angga serak juga ikut memelukku tak percaya.
Ku biarkan keduanya memeluk dengan rasa tak percaya kalau yang berdiri ini jasadku dengan nyawa.
Dalam hati aku hanya bisa tertawa karena telah mengerjai Angga sebenarnya tapi malah Putri ikutan.
Siapa suruh sangean bahkan dalam semalam sampai mau berangkat crot hingga empat kali, jadinya jengkel. Tadi sempat ku lihat celana Angga terlihat normal saja tidak ada keanehannya mungkin sudah sembuh karena dia shock karena melihatku ditabrak truck yang melintas didepan rumah, bukan hanya Angga tentu sopirnya juga shock setengah mati dan mencari cari keberadaanku hingga membuatnya tambah bingung.
"Kalian akan tetap seperti ini?" pungkasku karena masih melukku tak mau lepas hingga ucapanku menyadarkan keduanya terlebih ini lingkungan sekolah, dan suasana kembali normal.
"Mas beneran tidak apa apa?" pungkas Putri memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Iy, iya,,, mas,,, aku melihat dengan mata kepalaku k- ka- kalau,,, mas Bening ke-tabrak,,, tr- tr- truckkkk,,," nafas Angga terengah, derai air matanya langsung luruh tak bisa ditahan, menatapku tak percaya. Sungguh suatu keajaiban yang tak terduga.
"Iya, aku sudah dengar ceritanya dari mas Angga, kalau mas Bening ke tabrak truck, tapi setelah diperiksa mas Bening tidak ada, bahkan jasad mas Bening hilang entah kemana?" cerita Putri juga menangis dan dibiarkan air matanya deras mengalir. Aku merasa terharu atas perhatian keduanya begitu peduli denganku. Ternyata aku salah menilai nya jika mereka tidak peduli dengan keadaanku ternyata rasa kepeduliannya sangat tinggi.
"Maafkan mas jika membuat kalian panik dan juga shock seperti ini, membuat kalian menangisiku seperti ini. Aku tidak apa apa, sungguh. Sudah ayo pulang. Biar kita bareng bareng pulangnya, atau mau ngatar aku pulang ke paviliun" karena aku tak ingin terlalu larut dalam perasaan.
"Aku ingin mas cerita sesungguhnya. Kenapa mas lakuin itu?" paksa Angga ingin aku cerita yang sejujurnya. Aku tidak mungkin membeberkan rahasiaku pada Angga juga Putri, sebisanya aku harus cari alasan.
Lalu, cari alasan yang tepat, nantinya?.
"Mas harus menceritakan apa yang terjadi?" desak Putri juga ingin hal kebenaran yang ku alami.
"Aku tidak apa apa. Bukankah sudah cukup. Lalu aku harus cerita apa?" elakku karena tak ingin debat dengan mereka.
"Sudah gak usah dibahas lagi. Kalau tidak aku tidak akan mau datang dan nginap dirumah lagi, titik!" Aku tak ingin debat lagi karena tak mau memperpanjang masalah lagi.
Angga dan Putri tidak membahas lagi, karena jika aku berkata seperti itu pasti aku lakukan.
Kami naik angkot, karena ayah tidak menjemputku, aku juga tidak bertemu dengan Riko, entah kemana manusia astral itu sekarang, seperti menghindariku atau malah menyibukan dirinya.
Terlebih aku selalu ingat ancamannya yang sampai detik ini ku tunggu apa itu.
Agak berdebar juga jika aku mengingat ancamannya, karena aku masih punya urusan dengannya.
Tak terasa kisaran hampir setengah jam baru sampai ke lokasi rumahnya Riko. Sengaja lewat belakang dari pada bertemu dengan ayah, tapi aku perkirakan ayah sedang istirahat, mungkin juga ibu lagi menemani ayah di paviliun.
"Kalian tidak ikut masuk" ajakku karena mereka diam termangu tidak beranjak dari tempatnya karena pun terus turun melihat kearah mereka yang diam tanpa ekspresi.
"Gak mas, kami cuma mastiin keadaan mas" balas Putri, karena Angga masih terlihat shock sedari dari sekolah hingga sampai mengantarkanku.
"Assalamualaikum,,," salam pamitan berlalu masuk kedalam dengan tatapan penuh arti dan tanya dari Angga dan Putri masih saja terdiam.
Hupfff,,,
Keadaan sekitar begitu lengang.
"Assalamualaikum,,," sapaku, aku tak ingin membuat jika ada orang tuaku didalam baik ibu maupun ayah tidak gelagapan dengan kehadiranku.
Tak ada jawaban, mungkin ayah sedang tertidur lelap, tanpa aku ulangi salamku. Setidak aku memberi salam saat aku memasuki paviliun.
"Hesshhh,,, aawwhhh,,, oughhhh!"
"Mas, auh,, hemmm,,, enak mas,,, mas liar biasa, masih tetap perkasa, akhh,, aw, aw, aww,,, hihihi,,,"
Aku mendengarnya hanya geleng geleng kepala, karena hanya pada waktu siang seperti ini bisa bercinta karena malam tidak ada waktu karena ayah punya sif malam jadi tidak ada waktu untuk memadu kasih.
Aku memasuki kamarku untuk istirahat karena hari yang ku lalui hari ini begitu melelahkan serta melelahkan.
Ku pejamkan mataku, namun aku merasa ada suatu ganjalan dihatiku.
Sebenarnya ada ganjalan yang ku rasakan, baik itu mengenai mas Surya juga ada sendiri, juga Alex maupun Riko.
Aku kian berpikir mengenai waktu ketika aku tidak sengaja ku dengar mas Surya berbicara dengan seseorang ditelpon, ku yakin mas Surya tidak mengetahui keberadaanku karena waktunya begitu singkat dan cepat.
Sepertinya mas Surya juga memiliki ilmu Halimunan yang bisa berpindah tempat dengan sangat cepat seperti yang di inginkanya.
Namun, apa mungkin mas Surya mencurigaiku, tahu tentang pribadi, atau mungkin mas Surya mengincar sesuatu yang ku miliki. Karena tatapannya terasa tajam penuh selidik saat menatapku. Ada kekecewaan yang terlihat di waktu yang berbeda saat aku menatapnya. Kini aku baru memikirkan hal tersebut.
Walaupun rasanya aku harus berhati hati dengan mas Surya yang seperti ada yang diinginkan padaku.
Rasa kantukku tidak hilang, lebih baik aku melakukan hal lain saja, hmmm,,, misalnya...
Krekkk,,,
Aku keluar kamar karena pikiranku melanglang buana.
"Nak,,, kapan datangnya, kok tidak salam, keadaanmu baik baik saja kan nak?" Ibu terheran melihatku sudah ada dihadapannya karena tadi aku sudah dengar apa yang dilakukan kedua orang tuaku.
"Sudah dari tadi bu, bahkan aku sudah memberi salam tapi tidak ada yang menyahut, saat masuk aku dengar,,," tak ku teruskan ucapanku karena aku tahu apa yang selanjutnya terjadi.
"He he he,,, keadaanku baik baik saja,,," baru selesai ucapanku ayah keluar hanya memakai kolor saja tersenyum kecut kearahku dengan rasa malu malu menatapku.
Ayah bersiul siul kecil mengurangi rasa canggungnya karena ketahuan.
"Maaf ayah lupa menjemputmu nak, ayah kangen berduaan dengan ibumu, sudah lama ayah dan ibumu tidak, hemm ehemm,,, wkwkkkkk,,," ayah tersenyum simpul menatap ibu genit sambil pamerkan otot lengannya.
Aku hanya bisa geleng kepala lihat tingkah konyol ayah didepanku, tenti saja ibu malu malu kucing dapat respon ayah seperti itu. Yah, sepertinya mereka sedang fase puber jatuh cinta.
Ah, lebih baik aku ke taman saja...
"Nak, sudah makan belum? Ibu ambilkan,,,"
"Iya bu, nanti saja aku makan,,, siapkan saja. Assalamualaikum,,,"
"Mau kemana nak?" tanya ibuku memastikan karena tadi aku belum sempat ganti baju, masih putih abu abu.
"Ketaman bu, kalau ayah ingin boleh lanjut, aku gak akan ganggu, oke,,," aku mengerling kearah ayah diacungkan tinjunya, ku balas dengan tawa terkekeh sambil berlalu dari paviliun menuju kearah taman yang luas dibelakang rumah milik keluarga Sanjaya.
"Sepi amat,,,?" gumamku lirih melihat lihat suasana taman yang begitu asri dan indah.
Aku memilih duduk dikursi panjang putih yang dulu pernah ku duduki bersama Riko hingga terjadi perdebatan ketika aku dan Riko bicara hal itu membuat tersenyum dan menjadi geli sendiri.
Galau...
Gabut...
Entah mengapa aku merasa seperti ini?
Aku makin termenung, tenggelam dalam dunia rasa yang ku miliki..
Membosankan!
"Ternyata kamu disini, ya,,,?"
Aku dikejutkan suara yang tak asing lagi bagiku.
Ku hempaskan nafas cepat...
Wajah Riko di hadapanku membuatku terkejut bukan main, takut dia melakukan suatu yang buruk.
Maka...
Telapak tanganku terkembang, tepat mengarah ke wajahnya.
Suara gemerincing gelang menggaung, detik selanjutnya pancaran sinar kuning berkilau menerpa wajahnya.
Oh, sial!
Umpatku dalam hatiku, aku tidak tahu apa jadinya nanti, yang akan terjadi pada Riko,,,
Selanjutnya?
Hupff hadeh!
#bersambung...
•••••
Apa yang akan terjadi dengan Riko?
Apa yang nantinya akan dilakukan oleh Bening?
Ikuti kisah selanjutnya...?
Kamis 25 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar