128. Pengakuan.

 Bab 128. Pengakuan


★★★


Pandangan Riko yang tadinya tidak sangat sangar penuh amarah, kini berangsur perlahan berubah...


Tatapannya menjadi sendu, tidak segarang tadi saat dia mengejutkanku.


Dari sorot matanya penuh ancaman, aku sampai ingat ancamannya dulu...


Kini tatapan penuh ancaman sudah tidak ada, malah terlihat biasa, sendu, bahkan ada seulas senyum ramah. Menyimpan kerinduan yang mendalam. Mungkinkah, sampai segitunya rasa rindu yang dirasakan olehnya. Tersimpan rapat didalam hati bahkan tidak pernah di ungkapkannya.


"Bening, kita masih ada urusan!"


Ingat sekali aku dengan peringatannya hingga ku ingat sampai detik ini.


Dengus nafasnya pelan duduk didekatku. Tatapannya tidak diarahkan padaku, bahkan kearah bunga bunga yang sedang bermekaran.


Ada kebisuan menjeda, tak ada kata yang memulainya...


Aku punya cara tidak terduga, terjadi diluar dugaanku.


"Bagaimana kabarmu?" ucapnya lirih, tatapannya tidak lagi garang.


"Baik. Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri, bagaimana kabarmu, Riko?"


Ada helaan nafas dalam dan lirih, aku sudah tahu dari sorot mata dan gesturnya, hanya saja aku tidak memperhatikannya kali ini, lebih memandang kearah taman yang begitu menakjubkan.


Ada jeda sejenak, mungkin untuk bicara lagi, berpikir...


"Se- benarnya keadaanku kurang baik. Tapi, sudahlah, jikapun kamu tahu, aku rasa kamu juga tidak akan peduli dengan perasaan ku, kok"


Aneh?


Lagian, dia siapa aku, ya baguslah kalau dia sadar diri, setidaknya tidak menguras energiku, untuk kali ini, karena aku sudah banyak masalah. Sekali pun bukan dia saja yang membuat masalah, tapi juga yang lainnya juga ada.


Aku belum menjawabnya, setidaknya aku ingin tahu kelanjutannya, apa yang dirasakan olehnya selama ini.


Nanti juga aku akan tanyakan kelanjutannya mengenai hal yang dulu pernah ditanyakan Latifah ke aku mengenai kecelakaan yang di alami oleh Alex atas permintaan Riko untuk menanyakan kabarnya Alex ke aku. Sepertinya Riko tahu tentang keberadaanku ketika itu aku berada di apartemennya mas Surya.


"Bagaimana hubunganmu dengan pak Surya?"


Deg!


Tentu saja hal itu membuatku membulatkan mata karena tidak menyangka jika Riko akan menanyakan hal itu. Padahal ku yakin Riko tidak tahu, atau jangan jangan selama ini menyelidiki tentang keadaanku.


Hufpp....


Aku harus berhati-hati jangan sampai hal buruk menimpa lagi terutama keluargaku, karena jika Riko ambil keputusan maka akibatnya tidak akan baik baik saja.


"Apa kau akan marah jika aku cerita mengenai, emmm,,, ma, emmm pak Surya?" kataku ragu karena tatapan Riko begitu tajam. Hufpp, bikin takut aja.


Ada gelengan lemah, mungkin sedang berpikir...


"Tidak, hanya saja aku ingin tahu, karena aku melihatmu dengan pak Surya begitu akrab?"


"Dari mana kamu tahu?" sahutku cepat, aku kaget karena Riko tahu banyak hal tentang hubunganku dengan mas Surya. Atau jangan jangan selama ini Riko menyelidiki dan mematai mataiku tapi aku tidak tahu keberadaannya.


"Jawab saja, jangan ada yang ditutup tutupi. Aku paling benci orang yang tidak jujur" tatapannya makin tajam membuat makin ngeri.


"Baik baik saja,,,"


"Apa kamu punya hubungan khusus dengan pak Surya?"


"Maksud ka- mu apa,,,?"


"Jawab saja!" tekannya, sepertinya sedang menekan emosi didalam dirinya. Aku bingung harus menjawabnya apa. Atau aku harus jujur tentang hubunganku dengan mas Surya karena aku dan mas Surya telah ada hubungan bahkan aku telah ...


"Dia saudaraku?" Entah mengapa hal itu spontan ku lontar kan karena aku seperti terdesak oleh keadaan karena Riko membuatku sulit dalam pilihan.


"Saudara, darimana,,,?" Riko selalu lancar dalam memojokanku hingga membuatku mati kutu dan harus menjawab apa.


"Apa harus aku jelaskan? Begitu pentingkah buatmu, mengenai dari mana aku dan mas Surya bersaudara?" suara ku naik agak tinggi karena Riko memojokanku pada titik mentok hingga aku sulit bernafas.


Ku hembuskan nafas pelan. Lega. Namun, aku harus bersiap jika Riko melontarkan argumennya hingga membuatku emosi.


"Aku pun juga tidak perlu tahu bagaimana persaudaraan  mu dengan mas Xxaqie terjadi?"


Upss,,, sepertinya ucapanku ada yang keliru ...


Mata Riko langsung membulat dan ingin meminta penjelasan.


"Maaf, ada yang salah dari ucapanku?" ungkapku, walaupun itu ungkapan yang menurutku konyol.


"Kamu menyebut apa tadi sama kakakku, mas,,, tidak salahkan"


"Kenapa? Salah? Bukankah dari dulu aku memanggilnya mas karena dia lebih tua dari aku. Apa ada yang salah"


"Lancang!" sungutnya.


"Atau kamu iri. Atau kamu ingin ku panggil mas  gitu"


"He he,,," Riko hanya tertawa lirih sambil nyengir tidak jelas.


Dasar, maunya kayak gitu. Ora sudi!


"Ehmm,,, aku pertimbangkan. Kayaknya bagus juga"


"Ogah!" sahutku cepat, pasti nanti permitaannya aneh aneh. Dasar gila!


"Eitssss,,, aku belum selesai,  sudah nyolot" protesnya nampak terpancing emosi. Padahal tadinya aku yang agak emosi.


"Aku tanya satu hal sama kamu, apa benar kamu memata mataiku selama ini. Kedua, kenapa kamu nyuruh Latifah buat nanyain keadaan Alex padaku? Atau kamu ada hubungannya kejadian tabrak lari yang di alami oleh Alex?" tanyaku pada Riko, yang mendadak wajahnya berubah, pucat, hal itu tidak bisa dia sembunyikan. Aku sangat yakin kalau Riko dalang dibalik kejadian yang dialami oleh Alex. Aku tidak tahu bagaimana reaksi keluarga Alex jika tahu jika memang benar kalau pelakunya Riko adanya.


"Riko, dengar,,, keadaan Alex itu sangat kritis, bahkan hampir tak selamat jika aku terlambat menolongnya" lirihku, bahkan aku sampai kebayang dengan keadaan Alex saat itu, sangat mengenaskan. Namun, setelah sadar dan ingat dengan kelakuan ada rasa sesal dihatiku kenapa aku menolongnya dan menyelamatkannya, tidak aku biarkan dia mati saja ditempat kejadian.


"Kenapa tidak mampus saja manusia sok-sok an itu?"


"Maksud kamu?"


"Biar dia jadi pengganggu!"


"Jadi, benar kamu yang membuatnya celaka. Dia kamu tabrak. Apa alasannya? Atau karena dia mengganggu hidupku, hanya itu alasannya?"


"Tidak hanya itu saja, ada hal lain yang sampai saat ini jadi pikiranku"


"Yang jelas, jangan berbelit belit" emosiku terpancing juga.


"Aku takut nantinya Alex, ehmmm,,, suka sama kamu" jelasnya tampak serius.


"Alasan yang tidak masuk akal. Apa hubungannya?" Sampai aku kernyitkan dahiku, karena alasan yang tidak masuk akal.


"Aku tahu apa yang akan kamu lakukan pada alex? Latifah sudah cerita banyak ke aku, karena cewek di kelasku akan di buat jadi bolong, alias keperawanan akan direnggut oleh Alex. Itu semua yang cerita Latifah, itu menurut pengakuan cewek cewek yang telah jadi korbannya Alex. Dan juga Latifah merasa heran atas sikap mu bahwa selama di sekolah seolah kamu ingin melindunginya, untuk itu Latifah menyelidiknya sendiri dan kini dia baru paham maksud kamu itu baik. Apa kamu suka dengan Latifah, begitu?" Matanya melirik kearahku.


"Kalau iya apa masalahmu? Kamu mencintai Raya aku tidak turut campur dengan segala urusanmu. Kamu ngetoti dengan semua cewek yang kamu suka aku tidak mempermasalahkan nya. Lalu apa urusanmu padaku?"


Selama ini aku tidak pernah cerita tentang keadaan ku kalau yang memiliki ilmu penjerat mimpi tidak akan bisa memiliki keturunan jika nantinya aku menikahi seorang cewek, karena itu resiko yang harus ku tanggung. Mungkin istilahnya aku cowok mandul karena tidak akan memiliki keturunan.


"Benar kamu yang telah membuat Alex celaka"


Riko mengangguk lemah...


"Iya, aku yang telah menabraknya" aku-nya tanpa rasa berdosa. "Supaya dia jera dan tidak mengganggumu lagi. Aku ingin dia mampus saja supaya tidak ada korban cewek lagi"


Kini aku tahu alasannya kenapa Riko melakukannya hal itu ke Alex? Tapi, jika Alex atau orang tuanya tahu, tindakan apa yang akan dilakukan ke Riko? Tapi, aku tidak yakin kalau Alex berani mengatakannya pada orang tuanya mengingat kelakuannya sangat bejat. Orang tuanya pasti malu jika mengetahui kelakuan putranya itu.


Terdengar suara adzan berkumandang,,,


Kini semua telah jelas bagiku, kenapa Riko melakukannya pada Alex karena punya alasan sendiri.


"Sudah sore, aku pamit dulu" aku bergegas pergi, Riko termangu ditempatnya. Aku merasa nyaman ditaman bukan karena adanya Riko karena memang suasananya sejuk juga pemandangan sangat indah.


"Bening, maukan kamu tidur dikamarku malam ini. Aku membutuhkan teman untuk berbagi" ucapnya, bukannya aku tidak dengar, tapi aku memilih untuk diam dan berlalu.


Aku takut kejadian yang di alami oleh Angga akan berakibat sama dengan Riko maka sebelum hal itu terjadi, sebisanya aku menghindarinya.


Aku takut sendiri!


Setelah sampai di paviliun hanya ada ayah duduk santai menikmat kopi dengan cemilan, ada rona bahagia terpancar dari wajahnya yang nampak segar.


"Assalamualaikum Ayah,,," sapaku duduk didekatnya.


"Waalaikum salam, bagaimana urusanmu?" selidik ayah ingin tahu takutnya aku ada masalah dengan anak majikannya.


Aku hanya tersenyum supaya ayah tidak terlalu khawatir.


"Alhamdulillah ayah, semuanya baik baik saja. Hanya ada sedikit masalah?" Aku ragu untuk mengatakannya jikapun aki mengatakannya masalahnya tidak akan tersebar kemana mana aku tahu jika ayah bisa jaga rahasia jika aku cerita.


Ayah memang tidak banyak bicara tapi beliau ingin aku cerita tanpa bertele-tele...


Aku mengerti maksud ayah menungguku untuk bercerita.


"Den Riko telah menabrak orang ayah, hampir membuat nyawanya tidak selamat. Tapi dia melakukannya ada alasannya, yaitu mengenai aku, disekolah. Hal itu yang membuat den Riko melakukan hal itu"


Tak ada reaksi dari ayah, hanya diam memperhatikan juga mendengarkan dengan seksama. Aku tahu ayah ingin tahu kelanjutannya...


"Namanya Alex, putra dari pak Remond dan bu Shella. Alex temanku disekolah dan satu kelas denganku"


"Apa dia membullymu di sekolah?"


Ku anggukan kepalaku...


"Seperti den Riko dulu" lanjutnya.


Kembali ku anggukan kepalaku, sepertinya ayah sudah jelas mengenai apa yang ku alami.


"Apa yang kamu lakukan pada temanmu yang bernama Alex?"


Ada jeda sejenak, helaan nafas ayah lirih, ada beban batin yang terasa...


"Kamu menemuinya di alam mimpi?" tandas ayahku. Mataku langsung membulat, bukan karena marah tapi tak percaya jika ayah mengetahui hal itu.


#bersambung....


---------


Akankah Bening jujur pada ayahnya?


Apa tindakan ayah Bening untuk menolongnya?


Ikuti kisah selanjutnya,,,?


Sabtu 27 Agustus 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.