129. Memancing Tanpa Kail.
Bab 129. Memancing tanpa kail.
★★★
Helaan nafas berat dari ayah...
Ayah tidak mungkin akan emosi apalagi marah karena selama ini ayah tidak pernah emosi sedikitpun, terkadang aku heran dengan ayah hatinya terbuat dari apa karena tidak sedikitpun ayah itu marah baik sama aku maupun ibuku ataupun pada yang lain. Hanya pasrah jika di marahi hanya diam saja bahkan tanpa membalasnya.
"Aku hanya memperingatinya saja ayah. Ada alasannya kenapa aku menemuinya karena dia punya rencana jelek, yaitu ingin membuat para cewek dikelasku ingin dicabulinya" jelasku. Kembali ayah menahan nafas serta menghembuskan nafas pelan.
"Jahat sekali anak itu. Apa tindakanmu selanjutnya, nak?"
"Entahlah ayah, aku juga bingung. Den Riko kini turut campur dengan urusanku. Mungkin punya dendam tersendiri. Karena dia yang menabrak Alex. Dia tidak suka dengan Alex karena Alex sering membullyku. Aku berharap setelah dia mengalami kecelakaan ini dia sadar. Aku yang telah menolongnya hingga keadaannya sekarang membaik. Ayah boleh cerita ke ibu tentang apa yang terjadi serta ku cerita semuanya pada ayah"
"Iya, nanti pasti akan cerita sama ibumu saat berdua, he he,,," ayah hanya terkekeh lirih, tersenyum simpul.
"Ya sudah ayah aku mandi dulu"
"Mau berjamaah nak?"
"Iya ayah"
"Ayah tunggu"
"Makan siangmu tadi belum kamu makan nak, apa kamu tidak lapar"
"Nanti saja, ayah sekalian makan malam"
Terlihat ayah mendesah berat, sambil gelengkan kepala, aku masuk ke kamar dan mandi.
----------
Ayah sudah tidak ada dan aku tinggal sendiri,,,
Ibu baru saja datang membawakan makan malam untukku.
Aku makan dengan lahap karena siang tadi lupa untuk makan, ibu sedikit marah karena aku lupa makan siang.
Aku sedikit cerita kenapa sampai lupa makan, ibu harap maklum dengan keadaanku.
"Ya, gak apa apa. Tadi cerita apa ke den Riko?"
"Ibu tanya saja ke ayah, nanti ayah akan cerita ibu karena aku sudah pesan sama ayah supaya memberitahu ke ibu"
"Gak apa apa nak, nanti biar ibu yang tanya ke ayahmu"
"Terima kasih bu. Oiya, bu nanti saya ijin untuk tidur di kamarnya den Riko, tidak den Riko minta untuk ditemani karena den Riko merasa suntuk"
"Kamu tidak dipaksa kan sama den Riko"
"Tidak bu, kini sudah agak membaik dengan den Riko"
"Sukurlah, ibu tenang mendengarnya"
"Ibu, apa ibu marah dan akan membenciku jika aku ini berbeda?"
"Maksud kamu apa nak?"
"Aku memiliki ilmu penjerat mimpi, itu takdirku, takdirku yang lain aku tidak akan pernah memiliki keturunan selamanya. Apa yang ku lakukan ibu, hiks, hiks, hiks,,," aku tak sanggup membendung air mataku lagi. Inilah takdir yang harus ku jalani sebagai pewaris terakhir dari ilmu yang ku miliki.
Ibu langsung memeluk, ikut menangisiku penuh haru, sesaat ayah datang terheran melihat kami berdua menangis sambil berpelukan. Mungkin ayah akan melaksanakan sholat berjamaah sekeluarga karena adzan magrib selesai berkumandang.
"Kenapa kalian sedih dan menangis seperti ini. Apa ada masalah, nak, dek,,,?" tanya ayah keheranan melihat kami berdua yang menangis pilu.
"Mas, tidak ada apa apa?" Ibu berusaha menutupi keadaanku sepertinya tidak ingin ayah mengetahui apa yang ku rasakan dan alami. Sungguh berat.
"Nak, ada apa, jujur" pungkas ayah sepertinya tidak puas atas jawaban ibu. Dengan tatapan tajam. Aku mengerti jika ayah seperti itu maka aku tidak bisa untuk berbohong lagi.
Ibu mengusap matanya yang basah, ku lakukan hal sama seperti ibu.
Kini keadaanku sudah agak tenang, walaupun masih ada sisanya. Ibu sudah cukup tenang, walaupun dari wajahnya tersirat kesedihan yang mendalam atas apa yang tadi telah ku sampai kan. Takdirku!
"Dek, ngomong ada apa sebenarnya ini" suara ayah agak meninggi, tentu saja ibu yang tadinya tenang agak kecut karena ibu tahu jika suara ayah agak tinggi artinya ayah sedang emosi.
"Mas tenang, dengar dulu, tidak usah emosi" cegah ibu karena ayah ingin penjelasan dari ibu mengenai hal kenapa kami berdua menangis.
"Berjamaah dulu, waktu magrib cuma sebentar" sambung ibu untuk meredakan ayah yang ingin tahu.
Helaan nafas berat, tentunya ayah ingin tahu masalah yang terjadi.
----------
Air mata ayahku tentu tak bisa dibendungnya, begitu pun ibu sudah menangis pilu dengan apa yang sedang ku hadapi.
Andai kan aku bisa merubah takdir aku jadi laki laki normal tidak ingin jadi pewaris ilmu yang aku sendiri belum tentu menginginkannya.
Padahal budeku bernama Sarinah mukti sangat menginginkannya untuk memilikinya, bahkan mas Kharisma pun merebutnya atas perintah ibunya hingga jatuh korban.
Ayah tidak bisa memberi ku jalan keluar karena itu memang sudah jadi takdirku.
Bahkan saat ayah pergi hanya mengucap salam tanpa bisa memberi solusi, begitu pun ibu hanya pamit untuk istirahat ke kamar dengan derai air mata sangat deras.
Tadi aku sudah pamit ke ibu untuk menemani Riko untuk tidur. Aku harap tidak ada kejadian yang aneh terjadi pada Riko?.
Aku berjalan lewat pintu belakang karena penjagaan disini cukup ketat.
Tentu saja rumah mewah dan besar milik keluarga Sanjaya terasa lengang saat malam hari.
Bahkan aku tidak bertemu seorang pun.
Tapi aku ingat pesan Riko kalau malam ingin ditemani.
Saat naik, dadaku tiba tiba berdebar aneh, tidak seperti biasanya aku merasakan hal seperti ini, padahal sore tadi terjadi perdebatan bahkan aku tidak merasa hal seperti ini sama sekali.
"Assalamualaikum,,,!" bersamaan dengan ketukan pintu kamarnya, karena ku tahu kalau kamarnya kedap udara jika sang mpu tidak keluar maka tidak akan tahu apa ada orangnya di dalamnya.
Sekali lagi ku ketuk dengan mengucap salam hingga tiga kali, aku sampai putus asa, karena jika ada pemiliknya aku tidak akan mau masuk kedalam karena tidak ada orangnya. Aku menyerah, dan berbalik.
Bruugggggghh!
Wajahku menubruk seseorang tepat di dadanya karena aku sedikit merunduk.
"Lihat gak ooeeee,,,!" suaranya agak meninggi.
Ku dongakan kepala untuk melihat wajahnya.
Riko?
Tentu saja aku kaget dibuatnya karena sedari tadi ku ketuk pintu kamarnya tapi tidak ada orangnya kini berada dihadapanku dengan wajah tegasnya.
"M- maaf,,, aku tidak sengaja" panikku gugup karena tidak menyangka kejadiannya seperti ini.
"Mau kemana, buru buru amat!" sungutnya terlihat kesal. Seharus aku yang lakukan hal itu karena dia tidak ada dikamarnya.
Mana tadi aroma tubuhnya wangi dan manly, campuran cologn serta keringat yang bercampur membuat anganku langsung melayang layang hingga aku tersadar dengan keadaanku.
"Kenapa sih hidupku selalu sial dekat dengan kamu" sewotnya dalam emosi.
"Baiklah. Maaf bila hidupmu selalu sial dekat sama aku. Aku akan pergi" sedih rasanya, karena aku kesini atas permintaan nya tapi ucapannya tadi membuatku sedih sekali.
"Ngambek. Kayak cewek"
Tanganku dipegangnya karena aku akan berlalu tanpa melihat wajahnya. Tadi sudah ku rasakan otot dadanya yang menggempal. Rasanya....
Ku akui kalau kini pesona cukup menghipnotisku, bahkan mengalihkan duniaku.
"Sudahlah. Ayo masuk, lupakan apa yang aku katakan tadi" tanganku ditariknya tanpa menunggu aba abaku masuk lalu ditutup pintunya rapat, aku tidak tahu dikunci apa tidak itu urusannya.
Ku hempaskan nafasku pelan, masih ada yang mengganjal di hatiku, walaupun dia suruh aku melupakan ucapan tapi tetap saja terngiang dipikiranku.
Dia loloskan kaosnya hingga toples menyisakan boxernya, padahal debaran tadi sudah menghilang, kini debaran itu hadir kembali, tapi karena ucapannya tadi rasa itu aku abaikan.
Aku memilih untuk berdiam diri serta duduk dipinggir bad miliknya membuat nyaman untuk segera merebahkan diri. Kwalitas bad yang harganya tidak bisa ku bayangkan.
"Kenapa masih diam?, mau seperti ini saja. Sampai kapan? Nggak capek apa diam terus?" ledeknya bikin dongkol. Padahal aku berusaha untuk menenangkan hatiku yang tak karuan. Terlebih kini mendekat dalam keadaan toples. Ya Tuhan! Godaan apa yang diberikan pada hamba. Bagaimana kalau khilaf?
Bisa bisa aku terkam bulat bulat tubuhnya.
Aroma tubuhnya menguar hingga masuk ke indra penciumanku, hal itu membuat langsung blank tak karuan.
Ingin aku lumat makhluk yang bernama Riko yang kini sedang berada didekatku dalam keadaan TOPLES!
APA JADINYA JIKA AKU KHILAF?
#bersambung....
------------
Ikuti kisah selanjutnya?
Sabtu 27 Agustus 2022.
Komentar
Posting Komentar