132. Kejutan Tak Terduga.

 Bab 132. Kejutan tak terduga


★★★


Hal yang tak terduga bakal terjadi, tentu saja membuat yang ada dikelas sedang berkerumun sangat shock dibuatnya, betapa tidak ketika melihat kehadiran Alex yang menurut prediksi hari Senin nya masuk tapi hari ini sudah masuk sekolah bahkan keadaan sudah membaik walaupun masih ada bekas serta sedikit perban yang menghiasi wajah gantengnya.


Wajah ketakutan para cewek sangat kentara sekali bahkan mereka menangis dalam diam, air mata mereka bagai air bah yang tidak dapat di bendung lagi. Ada rasa iba dihatiku tapi tidak dengan Alex yang baru saja datang, dia tersenyum miring penuh kelicikan kearah para cewek yang sedang meratapi nasibnya.


"Kalian pikir, kalian bisa bebas dari gue, jangan harap, karena apa, gue akan buat kalian menyesalinya seumur hidup kalian" tudingnya tersenyum dingin seperti pembunuh. "Dan elo Bening, ya nama elo Bening tapi kulit elo gak bening wkwkkkkkkk,,, jangan mentang mentang elo telah nolong gue jadi elo bisa seenaknya" tudingnya kearah ku. Aku hanya diam menatapnya datar, tersenyum ramah membuat Alex dengan sikap yang ku tujukan.


"Gue memang berhutang nyawa sama elo, bukan berarti gue simpati sama elo, ngerti!" sekali lagi Alex seperti menekanku. Aku hanya diam saja, meliriknya sekilas.


"Kalian boleh duduk ketempat kalian, jangan dengarkan manusia yang tidak punya perasaan ini?" tekan ku, mengejek tanpa memperhatikan kearahnya.


Ku dengar dengus kekesalan dari Alex seakan dia di abaikan olehku, memang benar kenyataannya seperti itu. Aku saja benci dengan kelakuannya walaupun aku bukan orang yang baik tapi setidaknya aku masih punya sedikit hati dan bisa melindugi martabat wanita yang akan dirusak oleh Alex.


"Bukannya sadar, malah semakin jadi. Aku tidak membayangkan jika malaikat maut membawamu ke alam barzah?" sindirku makin menjadi, sengaja ku lakukan hal itu supaya Alex emosi.


Sedang para cewek yang tadi kumpul sudah menyingkir serta duduk dibangkunya masing masing, bahkan tidak peduli karena kini mereka meminta tolong padaku.


"Bukan urusan elo juga kan. Hidup hidup gue. Gue harap jangan turut campur urusan gue, klo gak elo akan ngerasain akibat,,," tekan Alex mengancam, tapi ku gubris.


Pada saat itu bel tanda masuk berbunyi...


Seluruh siswa dikelas ditempatnya masing masing, ada yang masih ngobrol, berbisik ada yang memilih untuk diam bahkan masih ada yang nangis karena terancam.


Ku pandangi satu persatu cewek yang sedang menangis supaya tenang karena akan baik baik saja.


Beberapa saat kemudian datang seorang guru laki laki tampan, entah berumur berapa kelihatan dewasa sekali dengan tatapan tajam, penuh wibawa memandang satu persatu hingga tatapan tertuju pada Alex.


Tidak seperti wali kelasku kayaknya guruku kali ini juga hampir sama sifat nya sebelas dua belas tidak ada bedanya, tersenyum ramahpun seperti ogah ogahan.


Beliau memberi salam lalu menyuruh untuk berdoa baru memperkenalkan diri,,,


Kini aku tahu nama beliau pak Setiawan Hakiki.


Karena ku tahu setiap ganti kelas maka gurunya pun juga ganti beserta wali kelasnya juga. Aku tidak tahu berapa banyaknya guru yang ngajar disekolah elite selain orang orang yang tajir tidak akan mampu sekolah disini.


Pelajaran hari dilalui dengan biasanya, terlebih ada Alex rasanya aku tidak bisa berpikir jernih lagi terutama Latifah yang sepertinya jadi target Alex selajutnya.


"Latifah,,," aku hampir berbarengan memanggilnya dengan Alex. Tentu hal itu membuat Latifah kebingungan. Tentu jika ke Alex urusannya makin rumit kalau ke aku juga mikir ulang karena terlihat sekali Alex tidak senang, bahkan agak mendengus kesal, sepertinya akan memanggil.


"Tif, ke kantin yuk,,," ajaknya, sedang yang lain seperti Sarah, Oktaviani juga yang lain langsung mengekor dibelakang Latifah karena rasa takut yang mendera.


"Kita ikut,,," serentak mereka menjawab, lalu maju didekat Latifah dengan wajah yang sulit di gambarkan bahkan sampai ada yang meneteskan air matanya karena takut bukan main dengan Alex yang membayangi kehidupan mereka.


Hal itu membuat Alex tersenyum cabul dan picik...


"Hay bidadari bidadari gue yang tak bersayap. Ada yang mau menemani gue untuk istirahat" kerling Alex kepada para cewek yang bergerombol didekat Latifah berharap ada pertolongan.


Latifah yang tadinya berapi api sekarang tak punya nyali, entah apa yang menyebabkan seperti itu. Mungkin Alex sudah membuatnya tak berkutik untuk melawannya, kalau begitu kasihan Latifah hidupnya bakal tidak tenang karena Alex semena mena, tapi sebelum semua terlambat aku harus menolong Latifah tapi bagaimana caranya.


"Tif, ikut aku,,,," ajakku sekali lagi. Sebenarnya aku juga ingin yang lainnya yang ketakutan juga tertekan mengikuti, kasihan kalau didalam kelas.


Tak gubris tatapan Alex yang tajam kearah ku yang penuh kekesalan serta kebencian.


"Bening, jangan sampai habis kesabaran gue. Gue bisa keluarkan elo dari sekolah ini" ancamnya sambil kepalkan tangannya penuh amarah.


"Ohh,,, silahkan Alex, aku ingin tahu bagaimana caranya kau akan keluarkan aku dari sekolah ini. Dulu, Riko yang ingin sekali aku keluar dari sini, sekarang kau juga mengancamku. Aku bukan Bening yang dulu yang selalu ditindas dan selalu di bully" ucapku mantap, menantang tatapan tajam Alex karena ganknya sudah berkumpul untuk mendukungnya.


"Huh, beraninya keroyokan, kalau berani satu lawan satu. Cemen!" gumamku lirih, entah ku tujukan pada siapa kata kataku itu yang jelas aku harus melawannya kali.


"Kalian dan terutama elo Latifah, ini peringatan terakhir dari gue, kali kalian masih aman karena keadaan gue belum pulih sepenuhnya, kalau gue udah pulih, kalian tidak bisa melawan gue. Ha ha haaa,,,," tawa Alex sampai menggema dikenal hal itu menyebabkan Latifah langsung memucat wajahnya padahal biasanya ceria, glowing dengan senyum merekah.


"Ayo Tif, gak usah dengerin manusia sinting alias gila itu, nanti kita ikutan stress kayak dia" rutukku, menatap Alex makin membencinya.


"Elo ingat kan foto elo Latifah yang pernah gue perlihatkan ke elo waktu itu, itu sebagai pengingat elo supaya elo tidak macam macam dan berani melawan ama gue. Elo bisa bayangin jika foto elo gue sebarin di seluruh sekolah ini. Gue gak bisa bayangin nasib elo kek-gimana, ha ha ha,,,," Alex tertawa penuh ejekan pada Latifah yang air matanya tak bisa dibendung lagi, begitu pun cewek cewek yang lain ada yang sampai histeris hal itu membuat Alex the gank makin tertawa senang penuh kemenangan.


Ucapanku tidak didengarkan oleh Latifah dan kawan kawannya, mereka sudah donw duluan mendengar ancaman Alex yang tidak main main itu. Aku tahu, itu bukan sekedar ancaman biasa karena aku tahu Alex orangnya type kayak apa. Apa yang dia mau harus dituruti tidak bisa tidak.


Sebaiknya aku pergi, lama lama didalam kelas aku tambah muak lihat tampang Alex yang mesum itu.


"Hiks, hiks, hiksss,,," Latifah sudah menangis histeris, begitupun yang lainnya juga ikut seperti Latifah.


Sudah banyak hari ini air mata tumpah ruah dari para cewek di kelas ku. Prihatin tentu, tapi aku harus bertindak hati hati jika salah langkah akibatnya akan fatal, karena ancaman Alex tidak main main.


"Latif, ayo ikut aku" ajakku, bahkan ku tarik tangannya karena tangisnya pecah sedari tadi setelah dapat ancaman dari Alex.


Alex pasti kesal juga marah padaku, tapi aku tidak peduli lagi dengan orang yang songong seperti dia.


"BENIIIINGGGGGGGG,,,,,!" teriakan marah dari Alex tak bisa mencegahku pergi membawa Latifah dan kawan kawannya, hanya bisa menunduk pasrah mengikutiku.


------------


Setelah dari kantin saat aku menikmati makan mie ayam serta es teh hangat Latifah mengajakku ke dekat lapangan karena ada yang penting yang akan disampaikan katanya.


Kini, aku dikerumuni cewek cewek yang lagi donw mentalnya serta dalam keadaan ketakutan akut.


"Bening, kita sudah tidak tahan lagi dengar ancaman dari Alex. Kita minta sama untuk benar benar menolong kami lepas dari cengkraman Alex terutama untuk menghilangkan semua bukti bukti yang dimiliki oleh Alex untuk mengancam kami" mohon Sarah sudah tidak tahan, air matanya tiada henti merembes bahkan matanya agak bengkak terlebih dengan kehadiran Alex makin membuatnya terpuruk.


"Iya Bening, kita sudah tidak tahan dengan ancaman dari Alex. Untuk itu kita meminta bantuan sama kamu untuk segera menyelesaikan masalah kami" pungkas Oktaviani matanya merah juga berair.


"Ini uang cash yang kami kumpulkan, kamu terima dari kami. Tapi kita minta tolong sama kamu untuk membebaskan kita dari Alex,,," dengan sesenggukan Latifah menyodorkan amplop kuning agak tebal. Aku merasa tidak enak, terlebih uang itu cukup banyak menurutku, tapi karena mereka anak orang kaya jadi buat itu tidak ada artinya yang lebih berarti yaitu kebebasan mereka dari belunggu Alex yang tentu mengerikan buat mereka.


"Atau perlu kita tambahi lagi jumlahnya" tambah Sarah sudah kehabisan akal karena pikirannya sudah tidak karuan.


"Bu- bukan begitu. Ini sudah lebih dari cukup, hanya saja aku belum melakukan tindakan apa apa buat nolongi kalian" jelasku supaya mereka mengerti keadaanku. Oke, aku akan menolong mereka supaya mereka tidak lebih rusak lagi karena hidupnya tertekan karena Alex, tapi setidaknya aku bisa mengurangi supaya tidak lenih parah lagi hingga mereka melakukan, nekad bunuh diri karena frustasi.


"Ini uang muka dari kami, anggap saja begitu. Jika kamu berhasil bebaskan kami serta Alex tidak mengusik hidup kami lagi, kita sepakat akan memberi tambahan lagi" kini Latifah yang mengutarakan maksudnya hasil kesepakatan, mereka benar benar ingin bebas dari tekanan dari Alex bahkan untuk itu mereka melakukan berbagai hal untuk membebaskan nama bersih mereka karena jika hal itu tersebar maka sangat memalukan akibatnya. Sekali pun itu ulah Alex karena mereka terpancing bujuk rayu Alex hingga membuat mereka terjerus serta masuk perangkapnya Alex sekarang mereka benar benar menyesalinya.


"Tolong terimalah Bening, kamu satu satu harapan kita buat menolong kita dari Alex karena sejak awal kamu yang mengetahuinya" pungkas Latifah sebagai perwakilan dari para cewek yang telah jadi korban.


"Baiklah. Semoga hari Senin nanti kalian tidak di ada  gangguab lagi dari Alex serta ganknya. Pergilah supaya kalian tidak makin dicurigai oleh Alex karena ku tahu dia punya mata mata, serta mematai kalian semuanya, karena sedikit saja kalian lengah maka kalian tidak bisa ngelak lagi" jelasku supaya mereka selalu bersama supaya tidak memberi kesempatan pada Alex untuk melancarkan aksinya.


"Harapan terakhir kami cuma kamu Bening?"


Mereka menangis penuh haru, mereka benar benar tidak bisa menghilang trauma juga donw mereka karena dibayang bayangi rasa ketakutan sepanjang hari.™


#bersambung....


---------


Mungkinkah mereka benar benar akan bebas dari belenggu?


Apa yang akan dilakukan oleh Bening guna untuk membebas para cewek yang telah jadi korbannya Alex?


Ikuti kisah selanjutnya?


Selasa 30 Agustus 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.