134. Sange Akut.
Bab 134. SANGE AKUT
★★★★
Lagi lagi tanganku yang menempel didadanya dikibaskan oleh tangan Alex mungkin dipikirnya akan bisa, pikirannya tentu tidak sampai karena hanya menepis ruang kosong padahal dia merasakan sentuhan tanganku tapi dia coba menyingkirkannya tapi tidak bisa melakukannya.
Matanya memandangku tak percaya...
"Elo pikir gue hantu, karena elo tidak bisa menyentuh gue. Ini dunia mimpi bro, gue yang berkuasa disini. Disekolah Permata bangsa elo boleh berkuasa sekehendak hati elo, tapi tidak disini, buat gue elo gak ada artinya. Cuma sampah!" kini balik aku yang menghinanya tapi belum separah hinaan Alex selama ini.
"Heh homo, sudah berapa orang yang jadi korban elo. Apa termasuk pak Surya karena gue tahu elo nginap di apartemennya. Sungguh menjijikan sekali elo. Apa enaknya lubang pantat dibandingkan memek" ledeknya tersenyum picik. Aku tahu itu hanya untuk menyembunyikan rasa kedernya dariku.
Aku masih mencoba untuk bersabar dari cercaannya yang membuatku makin emosi.
Ku lepaskan sentuhanku didadaku, perasaanku menjadi lega, tatapanku tidak ku alihkan begitupun Alex masih melawan tatapanku.
"Gue tidak pernah merayunya, ataupun menyodominya. Tidak perlu gue jelaskan, pasti elo sudah cari tahu mengenai dunia pelangi. Karena tidak mungkin manusia kayak elo tidak penasaran. Selepas itu gue tidak ngerugiian elo terlebih orang lain, karena gue gak pernah ngusik hidup orang lain. Elo jijik itu hak elo. Tapi tindakan elo itu yang lebih menjijikan buat gue, karena elo telah mencabuli para cewek di kelas kita. Apa elo gak ngerasa" tudingku, masih saling tatap.
"Elo nuduh gue homo, apa elo punya buktinya. Elo sudah nodai cewek cewek dikelas dua belas, elo kira elo gak bejat, elo ngerasa lebih baik dari gue. Elo tahu gak nasib mereka kedepannya kek apa? Elo ngerti gak, atau elo cuma ingin enak doang, tanpa mikirin nasib masa depan mereka. Apa beda elo dengan pelacur, elo nuding homo lebih hina, lha cap elo itu apa yang pantas disematkan buat elo" geramku, panjang lebar, sudah habis batas kesabaranku terlebih melihat nasib para cewek yang terpuruk.
Bugkh,,, bugkh,,, bugkh!
Ringis Alex sangat tinjuku mendarat di perutnya yang rata, bahkan muntah air cukup banyak. Dengan mata setengah terpejam.
"Gue harap pelajaran dari gue ini bikin elo nyadar!" pungkasku, tersenyum puas, senyum yang membuat Alex ketakutan.
Cetek!
Tubuhnya kini terduduk manis dikursi.
Cetek!
Tiba tiba ada tali menjeratnya.
Cetek!
Ssetttt,,,!
Tali itu dengan cepatnya bergerak mengikat tubuh Alex sangat kencan dari leher sampai ujung kaki bahkan tangan terikat kuat tapi bisa melepaskan diri lagi.
"Ckckckkkk,,, kasihan sekali hidup elo. Karena tidak ada seorang pun yang akan menolong elo keluar dari tempat ini. Jika bukan gue yang membebas elo. Jika dalam waktu empat puluh hari elo tidak dibebaskan dari alam mimpi, elo tidak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata untuk selamanya, ha ha haaaaa,,,," derai tawaku langsung menggema diarea sekitar pasti yang mendengar nya, membuat bulu kuduk meremang.
Alex tidak sempat memegang perutnya yang kena tonjok lumayan keras dariku hingga dia hanya bisa meringis kesakitan.
"Lepaskan gue keparat!. Dasar elo anj!ng Bening! Gue bunuh elo klo gue bebas" koarnya dengan marah luar biasa karena mulutnya masih bebas. Kayaknya Alex pantang untuk nangis karena ditahannya. Ku lihat matanya merah, merasa tidak berdaya terlebih tubuhnya terikat kuat tak bisa lepas, sekalipun aku biarkan Alex juga mungkin bisa bebas dari alam mimpi terlebih dia sudah terkena ilmuku ilmu penjerat mimpi.
"Diam banci! Mulut elo ternyata lemes, atau perlu gue sumpal" jariku ku jentikan.
Mata Alex membulat bukannya malah tapi ketakutan setengah mati.
Ku rundukan tubuhku serta lebih dekat ke wajahnya, matanya merah namun air matanya ditahan.
"Hebat juga ternyata elo, gue salut lihat elo begitu kuat. Riko aja sampai nangis serta ngemis ngemis buat dibebasi, ha ha haaa,,,"
"Pantang bagi gue mohon, apa lagi sama elo, najis,,,,!" cibirnya mencemoohku.
"Bagus, gue juga ingin lihat seberapa kuat bertahan disini, jika dalam waktu yang gue katakan tadi elo bisa bisana"
"Gue tidak takut sama elo. Elo bukan Tuhan, jadi gue gak akan pernah takut sama elo, dasar anj?ng keparat!" teriak Alex lantang hingga suara menggema bahkan memantul.
Aku hanya tersenyum miring kearah....
Cuihhh, cuiiihhh, cuiiihhh,,,
Bahkan Alex meludahi mukaku. Aku tidak apa yang telah dilakukannya, bahkan tanpa rasa jijik ku ambil dengan jari bekas ludahnya, ku jilati penuh rasa serta menikmati dengan montion slow.
"Gue rasa pelajaran malam ini, bye,,,!"
Aku berdiri, mundur tiga langkah, tersenyum kearah Alex, senyum misteri.
"Keparat elo Bening! Gue bunuh elo anj!ng! Gue akan balas semua perbuatan elo ini lebih sadis! Gue mutilasi tubuh elo Bening! Ingat itu" kecamnya.
Cetek, cetek, cetek!
Blip,,,,
Tubuhku laksana busur anak panah melesat dengan cepat kembali ke dunia nyata.
Hupffff,,,,
Ku buka mataku, dengan nafas lega, ku lirik jam di dinding menunjukan pukul setengah empat dini hari.
Aku akan sujud malam, atas apa yang telah aku lakukan malam ini. Aku tahu aku salah, tapi ini bukan untuk aku melain untuk para cewek yang hidupnya terancam.
Ya Alloh semoga mengampuni segala dosa dan kesalahanku.
------------
Hari minggu banyak rencana serta hal ingin aku lakukan, namun karena ibu melarang jadinya aku sering nganggur, seperti mau cuci pakaian kotor ibu yang ngerjakan. Jadi aku hanya nyuci sepatu saja.
Hmmm,,,
Desah ku pelan, karena rasanya begitu sepi. Mau nemui ibu ke dapur rasanya malas, jadi sedikit gabut setelah selesai nyuci sepatu.
Ah, mendingan aku nelpon teman sekaligus sahabatku dikampung, Ferdy.
Aku masih santai sambil rebahan di bad biasa tidak seperti milik Riko yang sudah nyaman, empuk lagi, tiada duanya karena aku belum pernah merasakan sebelnya, mana ruangan sejuk juga nyaman.
Setelah basi basi dengan Ferdy saat vodeo call di awal...
"Gimana kabarmu Bening?" Senyum Ferdy sangat menghanyutkan seperti kini wajahnya lebih terawat, atau mungkin Ferdy sudah jadian dengan Latifah ya. Ah, nanti saja aku tanyakan. Aku seperti mengenal tempat yang kini buat rebahan Ferdy, aku sangat mengenalnya dengan baik. Yah, baru ku ingat itu kamarku di kampung, dan Ferdy sedang dikamarku.
"Eh, kamu lagi dikamarku. Awas kalau dibikin berantakan atau amburadul, aku pites nanti kamu" ucapku berseloroh. Ferdy hanya terkekeh ceria penuh kebahagiaan.
Tak ada protes, Ferdy hanya diam sambil senyum senyum bahagia.
"Kamu udah jadian sama Latifah ya Fer, aku lihat sekarang kamu kayak perawatan" ucapku penuh selidik karena wajahnya lebih bersih.
"Gak-lah, emangnya aku cowok apaan, he he he,,,," elaknya.
"Kamu jadian ama Latifah gak" ulasku karena aku ingin tahu kelanjutannya, karena aku ingat dulu saat akan pergi Latifah teman sekampungku memelukku erat dan menyatakan cintanya padaku. Karena memang suatu alasan yang sangat tidak bisa aku langgar jadi aku menolaknya secara halus semula Latifah menolak dalam mode nangis tapi lama kelamaan memgerti juga, Ferdy salah satunya yang ngedukungku karena sedikit tahu masalahku.
Ku lihat Ferdy hanya tersenyum kuda, rada gimana karena aku masih memperhatikannya.
Sepertinya aku merasakan tak enak terus memaksanya, biar nanti saja, biar dia cerita sendiri.
Terlebih keadaannya buka baju hingga kulitnya yang kuning langsat nampak berkilat alot, bersih, terlebih tubuhnya cukup bagus hingga terbersit buat ngerjain.
"Kenapa diam saja, cuma lihatin aku. Kangen ya" pancingku karena tingkah Ferdy itu unyu menggemaskan seperti salah tingkah.
"U- iya,,, emangnya gak boleh ya" ada nada protes itu pun diselingi dengan nyengir.
"Kenapa gak sekalian bugil, nanggung lihatnya?, bikin sange"
Mata Ferdy membulat tak percaya kalau aku to the point.
"Memangnya kamu suka ya lihat aku telanjang?"
Tanpa jeda pun aku mengangguk, tersenyum lebar.
"Kalau kamu gak keberatan" potongku cepat.
"Aku kangen berat, juga sange kalau lihat kamu. Kamu kangen aku gak, soalnya kamu sudah lama gak hubungi aku" sikapnya sangat lugu, aku sampai terharu, ternyata aku masih punya teman sekaligus sahabat sangat polos seperti Ferdy.
"Kangen lah, berat malah. Buktinya ini aku vc kamu. Atau kamu gak suka aku vc, yaudah aku tutup saja"
"Eh jangan, ya, ya maaf. Ak- ku,,,," Ferdy tidak meneruskan kata katanya, menatapku intens, senyum tersungging cool.
"Kenapa?" Tanyaku heran.
"Andai kamu bisa datang kesini, aku akan sangat bahagia sekali" dia kedipkan matanya menggoda.
"Aku bisa lakukan. Mau kasih apa kamu kalau aku kesitu?"
"Mustahil!?" sanggahnya, tentu saja tak percaya.
"Apa yang kamu kasih ke aku kalau bisa kesitu dalam sekejab" ulasku, sungguh sungguh walaupun ku barengi dengan senyum renyah, berkesan bercanda karena aku tertawa berderai.
"Serius amat Fer, aku bercanda" pungkasku karena wajah Ferdy terlihat serius.
"Tunggu, tunggu,,, aku yakin kalau kamu itu tidak bercanda Ning,,," tatapnya menyakinkan, aku hanya tersenyum mesem saja.
"Sudahlah Fer,,, serius amat lho" masih ku ulas senyum, namun Ferdy terkesan bingung.
Kini senyumnya cool, bahkan diloloskan celana kolornya, dan aku melihat jelas senjatanya yang ngaceng sempurna. Dipegangnya dengan sensual, hal itu membuat darahku berdesir dengan cepat keseluruh urat ditubuhku.
Bahkan Ferdy sudah tidak fokus pada layar, sibuk dengan dirinya bahkan seperti menggodaku.
"Ough,,," lenguhnya karena kocokannya sangat menggodaku. Kurang ajar, Ferdy benar benar memancingku. Kesal, juga gairahku meletup letup akibat ulah Ferdy.
"Ferdy, sudah ya aku tutup telponnya" desahku tertahan karena aku tidak kuat terus melihat Ferdy yang sengaja memancingku.
"Ja- ngan,,, ahzzz,,, awwwhhh,,, hah,,,"
Keparat Ferdy! Dia benar benar memancingku. Ku lihat diujung jamurnya banyak ingusnya membuatku menegak ludahku seret.
Aku makin sange dibuatnya, bahkan bikin kepalaku nyut nyutan.
Agrrrrhhhh!
Rasanya aku frustasi gegara adegan yang diperlihatkan Ferdy yang begitu sensual, menggoda.
"Oughhh,,,, ras- sanya,,, ough,,, hezzzz,,,,"
Ku matikan vc ku dengan Ferdy. 'Dasar keparat. Kurang ajar! Anjir benar dia!' sungutku dalam batin, bahkan nafasku juga menderu, sampai ku pijit pelipisku rasanya nyut nyutan. Aku coba meredakan nafas, darah yang bergejolak juga nafsuku yang tak terkontrol.
Hampir terlonjak saat ku dapati panggilan di handphone ku, ku lihat notif panggilan, panggilan vc dari Ferdy.
"SANGE!" umpatku gemas. "Mau apa lagi manusia durjana yang obral sensasi itu" gumamku bersungut. Aku tahu dia tadi sudah hampir ke ujung pamer dia mau klimaks, tapi aku urungkan karena jadi sebal.
Ku putuskan! Mampus lho! Makan tuh sange lho, siapa suruh goda goda? Pikirku mangkel pada Ferdy.
"Ning, tolong kamu terima ya, kalau gak, memang kamu bisa datang aja kesini. Cepat, bantu aku, aku sudah tidak tahan. Please,,, ya bantu aku!" mohon saat aku baca chat.
Huuuu,,,,!
#bersambung....
Jumat 2 September 2022.
Komentar
Posting Komentar