135. Ups Lupa?.

 Bab 135. Ups lupa?


★★★


Pov Riko.


Saat bangun pagi aku merasa suntuk, sudah mandi minum susu untuk masa ototku tentu proteinnya tinggi.


Kali ini memakai kaos dalam putih tak mampu menutupi ke seksian tubuhku.


Tentu saja di rumahku yang besar dan mewah ada ruang gymnya hingga saat liburan seperti saat ini ku gunakan untuk membentuk tubuhku.


Ku lakukan pemanasan selanjutnya melakukan hal yang ringan lalu berlanjut lari sampai menarik yang berat, sampai keringat bercucuran, ku selingi untuk minum air mineral supaya tidak dehidrasi.


Tentu saja aku ngos ngosan karena angkat angkat beban. Tapi masih mode aman.


Kini aku teringat Bening ketika di kampung yang mengangkat beban yang tak biasa, seperti rumput yang begitu banyak, pagi satu karung, jalan kaki ke ladang yang sangat jauh belum lagi hal lainnya. Tapi tetap tubuhnya biasa, tidak begitu berisi, langsing. Beda dengan Kharisma si cecunguk itu yang jual kegantengan. Gimana nasibnya sekarang manusia sok kegantengan itu.


Tentu saja Riko tidak pernah tahu nasibnya Kharisma seperti apa sekarang, yang membuat cemburu karena tersaingi dengan kehadiran Kharisma untuk mencuri perhatian Bening. Semua yang telah di rencanakan sejak awal menjadi kacau hingga dirinya diusir serta di ancam oleh Bening, hingga dirinya melaksanakan permintaan Bening karena suatu ancaman.


Kini pun jarang bertemu dengan Bening, juga memang tidak sekelas juga beda jurusan. Lokasinya pun juga lamayan jauh dari kelasnya, itu pun jarang ketemu.


Rasanya aku jadi kangen momen seperti dulu, bisa bersama, bisa melihat, bisa membullynya hingga membuatku puas. Tapi, sekarang tidak lagi, hal itu tidak bisa aku lakukan, bahkan saat aku selidiki ternyata Bening lagi bermasalah dengan Alex.


Aku tahu Alex adalah anak dari orang yang punya kuasa disekolah elite ini. Sekalipun keluargaku punya saham di Permata bangsa tapi keluarga Alex yang lebih besar.


Maka aku punya rencana tersendiri buat Alex karena telah berani mengusik kehidupan Bening, yang akhir akhir ini selalu ku pikirkan semenjak ke pulanganku dari kampung.


"Bruugghhh,,,!"


Tubuh Alex terpental, saat ku tabrak, aku berharap dia mampus aku lihat Alex lari jogging. Ku lihat sebentar, melihat kondisinya yang terluka cukup parah, darah membasahi sekujur tubuhnya.


"MAMPUS LO, MANUSIA SONGONG!"


CUIH....


Alex menggelepar dalam sekarat, karena dia tidak siapa yang menabraknya.


Aku harus cepat pergi karena aku tidak mau ada yang mengetahui perbuatanku. Maka untuk itu aku segera pergi dari kejadian. Meninggal Alex yang akan meregang nyawa. Aku berharap malaikat maut segera membawa pergi dari dunia ini.


Itu yang dipikiranku, semoga saja Alex benar benar mati supaya tidak jadi penggaggu buat Bening.


Aku tidak tahu jika Alex akan selamat dan itu juga berkat pertolongan dari Bening. Aneh? Bisa bisa nya Bening kok malah menolongnya, menyelamatkan nyawanya.


Aku pun mencari informasi ternyata benar Alex dalam keadaan baik baik saja.


Rahasiaku sampai saat ini masih terjaga hanya saja Bening sudah tahu tentang hal itu padahal ku tahu saat itu tidak ada siapapun didekat sekitar tempat kejadian, sepi, aku sudah memastikannya. Entah darimana dia tahu kalau aku menabrak Alex hingga dia menuduhku langsung serta uring uringan bahkan menyangkut pautkan sama Latifah.


Gadis ceroboh supaya jangan jujur, malah dia bongkar semuanya. Bahkan Bening mendesakku. Hingga aku tak bisa berkelit lagi. Dasar gadis bodoh! Kini Bening malah makin marah, mungkin juga membenciku. Gusar, tentu saja ku rasakan mengingat aku jarang bertemu dengan Bening.


Pikiranku melayang layang kemana mana hingga aku sudahi aktivitasku hari ini dengan perasaan kalut.


------------


Setelah keadaan bersih karena habis ativitas juga sarapan pagi, aku pun menuju ke paviliun guna untuk ngobrol dengan Bening, rasanya aku sudah kangen. Kangen yang mengebu gebu, ingin bertemu supaya lega.


Dengan santai aku berjalan kearah paviliun, aku tidak tahu nantinya harus bagaimana betsikap saat bertemu dengan Bening. Serba salah, ada rasa bersalah. Tapi aku tidak boleh takut, jika pun harus meminta maaf akan aku lakukan.


Saat berada didepan pintu nampak sepi dan lengang, aku pikir kalau Bening sedang kemana? Tapi, tidak mungkin Bening pergi karena aku yakin pasti meminta ijin ibunya atau ayahnya.


Bahkan pintu depan tidak di kunci sama sekali ku yakin kalau Bening ada didalam. Tapi, lagi ngapain tuh bocah. Karena dari semalam aku tidak bertemu dengannya.


Rasa penasaranku makin terasa saat suasana ruangan sangat lengang, tidak ada tanda tanda keberadaan Bening membuatku timbul rasa curiga.


Diruangan ini hanya ada tiga kamar ditengah ruang buat santai...


Mataku tertuju kearah ruang dimana aku pernah menemui Bening karena dia ada disitu.


Hati ku tergerak untuk mendekatinya. Ku teliti, sangat sepi tidak ada tanda tanda keberadaan Bening.


Tadi saat masuk aku pun tidak salam, andai Bening tahu pasti akan menyemprotku.


Ku dorong pintunya, terkunci rapat dari dalam.


Tok, tok, tok,,,


Tak sahutan dari dalam, perasaan ku diliputi tanda tanya, apa yang terjadi dan di lakukan oleh Bening? Atau jangan-jangan memang Bening tidak ada didalam, tapi mustahil jika tidak ada didalam tapi kamarnya dikunci rapat dari dalam.


Tapi aku punya kunci cadangan untuk paviliun ini, aku bisa masuk dengan leluasa sesuai kehendakku, tanpa ada berani mencegahku. Karena ku yakin Bening berada di dalam.


"Assalamualaikum,,, Bening, Bening, kamu ada didalam?" seruku sambil menggedor gedor kencang pintunya, tidak ada respon sama sekali. Hening, bahkan tidak ada tanda tanda siapa siapa didalamnya.


Jikapun aku masuk tidak kesalahan karena tidak ada sahutan, hingga ku putuskan untuk membuka pintunya dengan kunci cadangan yang ku miliki.


Perlahan ku masukan dengan dada berdebar. Entah mengapa aku bisa rasakan hal itu. Hatiku dag dig dug tak menentu.


Ckrekkkk,,,,


Kunci pintu terbuka, knop ku putar perlahan. Agak takut, jika kepergok seseorang padahal jelas tidak ada siapa siapa.


Pintu terbuka, hatiku berdebar kencang. Ku longokan kepala...


"Rikoooo,,,,!"


Suara teriakan sangat memgejutkanku hingga tanpa sadar ku tutup telingaku.


Jantung seperti berhenti berdetak seketika saat ku lihat wajah penuh kemarahan dari Bening yang duduk ditengah bad.


Tatapan matanya garah, penuh amarah...


Tapi, tunggu seperti ada yang aneh dari sikapnya, ku lihat dengan teliti, rambutnya sedikit acak acakan, terus mulutnya seperti berlepotan. Karena aku masih berdiri di ambang pintu tanpa berani masuk karena kepergok dan tadi Beningu meneriakiku membuatku termangu ditempatku, tanpa berani beranjak.


"Sudah ku bilang, salam dulu kalau masuk, permisi, ketuk pintu kek!" semprotnya bikin telingaku pekak, dia marah marah tidak jelas. Padahal dari awal aku sudah ketuk pintu tiga kali, belum lagi tadi di tambah salam, ketuk pintu lagi tapi tidak ada sahutan seakan didalamnya tidak ada orang. Tapi disaat pintu terbuka, disaat itu pula langsung ada suara teriakan yang menyakitkan telinga.


Matanya melotot kearahku mau keluar...


Aku ingin ingin menjelaskan, tapi ku tunggu emosinya mereda, karena percuma juga menjelaskan kalau dia dalam keadaan mode sadis tentu sulit untuk menjelaskan.


Untuk beberapa saat lamanya aku menunggu. Menunggu di ambang pintu, ku lihat Bening sedikit salah tingkah, bahkan kini baru menyadari keadaannya yang terlihat aneh, menurutku.


Dia nampak mengelap mulutnya yang berlepotan sesuatu, entah apa itu karena jarakku agak jauh, dan aku tidak begitu jelas melihatnya.


Bening terlihat, salah tingkah ketika aku menatapnya tanpa ku alihkan hingga dia terlihat biasa setelah tadi apa yang dilakukan.


Ada yang aneh dari Bening? Tapi, aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku sangat kaget mendengar teriakan yang secara tiba tiba. Sepertinya Bening juga shock melihat kehadiranku.


"Maaf, tadi aku sudah mengetuk pintu. Aku juga sudah salam, bahkan sampai tiga kali, tapi kamu tidak menyahut, bahkan aku rasa kamu tidak ada makanya aku buka pintu" aku belum selesai ngomong.


"Lancang sekali kamu ya, masuk kamar tanpa permisi. Sekalipun paviliun ini milik keluargamu, tapi aku juga punya privasi yang harus di jaga"


"Dasar aneh" perlahan aku masuk, aku ingin dekat, aku ingin kejelasan.


Setelah agak dekat, aku mencium sesuatu?


Kembali aku berpikir, tapi aku merasa buntu.


"Kamu ngapain, tadi ku panggil tidak nyahut nyahut. Makanya aku buka dengan kunci cadangan" sungutku kesal karena Bening berbelit belit jika ku tanya malah dia-nya marah marah gak jelas, tanpa sebab padahal aku merasa tidak bersalah, malah aku yang tersangka.


"Maaf aku ketiduran"


Sikapnya berubah drastis, pada hal jelas jelas tadi aku lihat dia tidak ada, terus aku dengar langsung teriakan marah marah.


Sepertinya, memang Bening banyak menyimpan rahasia, yang tidak bisa ku ungkap. Terlebih saat aku dijerat di alam hampir membuat nyawaku melayang, dan itu memang kesalahanku. Membuat berpikir ulang. Jera pasti. Aku tidak berani mengusiknya lagi jika tidak akan berakibat fatal.


Ku selidik ternyata Alex ada masalah dengan Bening, dan itu berbahaya buat Alex.


Alex tidak tahu sedang berhadapan dengan maut yang sewaktu waktu bisa membahayakan jiwanya. Alex sembrono tidak tahu sedang berhadapan siapa sesugguhnya Bening, lembut tapi sangat berbahaya jika dalam keadaan terdesak.


"Gak apa apa. Kamu ada waktu gak?" tanyaku karena tak ingin debat, aku ingin lebih kalem.


"Aku capek. Mau istirahat,,,"


Aneh, padahal cuma dikamar gak kemana mana, dia bilang lelah, gak masuk akal.


"Yasudah, aku disini saja suntuk dirumah saja. Padahal aku ingin ngajak kamu jalan jalan-"


"Ogah, nanti kamu tinggal lagi. Aku gak mau lagi kamu ajak jalan jalan, mendingan dirumah" tegasnya.


Aku milih untuk diam, jika aku ngomong pasti ujung ujung debat, aku tak ingin hal itu terjadi, aku ingin hubunganku lebih baik.


Aroma yang tercium lagi...


"Gak kamu cuci muka, baunya masih terasa" sindirku.


Bening terlihat kikuk....


Pov Riko end!


#bersambung....


----------


Sabtu 3 September 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.