136. Ger- Cep.
Bab 136. GER-CEP
★★★★
"Hmmmm,,,,!" sungguh aku menikmatinya, es krim yang kini sedang ku suluti penuh dengan rasa.
"Arrrggghhhh,,," erangnya penuh kenikmatan saat ku selomot lebih dalam hingga mentok ketenggorokan.
Tubuhnya makin mengejan hebat, hingga tubuhnya yang keringatan, hingga ototnya nampak lebih menonjol, makin tampak machon dan keren. Dadanya turun membuat dadanya yang gempal begitu indah. Perutnya kembang kempis.
"Arggghhhh,,," erangnya jantan, lolos dari mulutnya tak terkontrol lepas dengan rasa nikmat.
Tubuh Ferdy bergerak mengikuti alur, keluar-masuk, masuk- keluar sebatas kepalanya.
Deru nafasnya kian tak terkontrol,,,,
"Yeah! Hahhh,,,,! Hesshhh,,,!" dihentakan kuat, menegang kuat, hangat.
Byurrrr,,,,!
Semburan larva hangat, kental dan banyak memenuhi rongga mulutku, dengan rasa legit, juga ada rasanya lain, terasa nano nano di dalam mulutku, aroma khas menguar.
Mendadak perasaanku terasa tidak enak, karena gelang yang ku pakai berbunyi kencang membuat ku kaget setengah. Tidak! Ada bahaya yang sedang mengancamku. Aku ingat satu hal...
Haduh?
"Ada apa Bening, kamu seperti ketakutan?" tanya Ferdy disela untuk menormalkan nafasnya. Ku lihat ke bawah kejantanan masih nampak mengkilap bahkan ada sedikit gerakan serta ada lelehan pejuh yang menyisa diujungnya yang nampak mengaga, menggoda.
Tapi, aku sudah tidak konsen lagi karena aku merasa ada bahaya yang memberitahu.
"Ferrr,,, tolong pejamkan matamu, sebentar saja" pintaku sedikit terengah. Aku tidak pedulikan kondisiku seperti apa, karena ada hal yang sangat ku takutkan, di Jakarta.
Tanpa banyak protes Ferdy menuruti permintaanku...
Syukurlah!
Blippp,,,?
Seketika teriakanku membahana saat Riko membuka pintu tepat ketika aku berada ditengah bad, menatap tajam kearah yang sama sama terkejut juga.
Namun, sepertinya menatapku heran sekaligus curiga, menatapku intens bahkan membuatku salah tingkah hingga aku pun pura pura memarahinya.
Sepertinya Riko kini lebih tenang emosi bahkan meredam emosiku hingga aku hanya bisa diam ditempatku. Segala yang ku lakukan dilihat oleh Riko tanpa beranjak dari tempatnya membuatku makin salah tingkah. Bahkan aku baru sadar kalau ada yang menyisa karena ku lihat Riko seperti membahui hingga tanpa sadar aku mengelap mulutku yang belepotan 'PEJUH' @Ferdy.
-----------
Kita sama sama tertidur dikamarku, karena rasa lelah juga kantuk hingga aku pun terbangun dengan perasaan nyaman.
"Riko,,," ucapku tergagap saat aku dipeluknya erat. Bahkan Riko nampak begitu damai saat tertidur seakan tidak terusik padahal aku sudah membuka mataku.
"Riko bangun,,," usikku, aku tidak berani menyentuhnya walaupun aku sedang peluknya.
"Emmm,,," gumamnya setengah sadar. Mengerjabkan matanya, tersenyum penuh arti, terlihat rona kebahagiaan di wajah tampannya, bahkan ada jambang diwajahnya menambah machoannya, dan gentleman. Kumisnya masih tetap sama, membuatnya terkesan tambah jantan. Untuk kesekian kalinya aku mengagumi makhluk Tuhan yang sempurna di mataku.
"Ehemmm,,, hemmm,,,"
Lamunanku disadarkan oleh dehemannya membuat tersipu malu karena ketahuan memandangnya juga menggauminya.
"Kayaknya ada yang kesemsem nih sama kegantenganku. Riko gitu lho di lawan, he he,,," dengan pedenya membanggakan dirinya dengan terkekeh.
"Huh, kumat sombongnya" aku bersungut kenimpalinya.
"Heran ya, kenapa kamu peluk peluk aku sekarang, emang Raya mau dikemanain" lanjutku memancingnya, ingin tahu reaksinya seperti apa.
"Ah sudahlah, kamu gak usah tanya soal itu" Riko terlihat kesal karena aku menyinggung soal Raya pacarnya. Walaupun aku sudah tahu hal sebenarnya dari cerita Riko sendiri. Tapi, bisa saja Riko membohongiku, buat apa? Terlebih, kini sikap dewasanya muncul, tidak sepertiku yang masih plin plan.
"Bening, gimana kalau nanti malam kita jalan jalan lihat pemandangan kota-"
"Tidak! Aku tidak mau, ingat sampai kapanpun aku tidak akan mau kamu ajak jalan jalan lagi" seruku kencang, karena aku tidak mau kejadian lagi waktu jalan jalan aku tinggal sendirian di monas. Riko lebih mementingkan perasaan Raya ketimbang perasaanku. Terlebih aku tidak tahu seluk beluk Jakarta.
Sejak saat itu aku tidak mau di ajaknya jalan jalan walaupun hanya mini market sekali pun maka aku akan tegas menolaknya. TIDAK!.
"Ayolah, nanti malam aku ajak lihat bioskop deh. Filmnya bagus lho" imingnya tersenyum yang mampu membuat rasaku terbalik. Hal itu membuat mataku berbinar jika dengar kata bioskop karena di kampung tidak ada yang namanya bioskop yang ada layar tancap yang di putar ditengah lapangan disaat acara acara tertentu seperti orang jualan jamu. Itu pun hanya diputar satu setengah jam-an. Itu pun yang nonton luar biasa banyak memenuhi lapangan, karena gratis tanpa dipungut biaya, siapa yang tak tergiur dengan tontonan gratis, layar tancap yang jarang sekali ada hiburan seperti itu.
"Ogah!" tolakku tegas karena aku ingat sekali kejadian itu. Riko tidak pedulikan ku terlebih perasaanku.
"Ayolah Bening. Aku minta maaf untuk itu. Aku tidak akan mengulanginya, aku janji bahkan bersumpah!" Dengan mimik memelas ingin merubah pendiriannya.
"Dengar Riko, sekali aku bilang tidak, ya tidak. Bahkan sampai kapanpun. Apa kurang jelas?" pungkas ku dengan tegas membuat Riko menelan ludah kelu karena aku teguh pada pendirianku.
"Sudahlah. Aku tidak mau membahas tentang itu. Mending aku liburan ke kampung menemui kawan kawanku" tambah ku memberi kejelasan pada supaya ngerti keadaanku.
Desahan pelan terdengar dari Riko, tentu kecewa. Tapi, rasa kecewaku terlalu besar ku rasakan hingga membuatku trauma.
-----------
Entah bagaimana hingga aku akhirnya nerima buat di ajak jalan jalan sama Riko dan yang bikin specles yaitu aku di ajak nonton bioskop yang katanya filmnya banget, film horor terbaru tentu saja aku kepincut oleh iming imingnya yang sangat menggiurkan belum lagi nanti beli popcorn aku sebut brondong jagung, bahasa kerennya itu tadi telah disebutkan oleh Riko.
Hingga saat berada di mobil aku pun wanti wanti ke Riko...
"Jika berani kau berbohong lagi, aku tidak akan segan untuk mengurungmu di alam mimpi!" ancamku, tentu saja ancamanku tidak pernah main main karena muka Riko yang bersih langsung tanpa darah, dia pasti terbayang dengan siksaan di dunia mimpi sangat mengerikan.
"Iya bawel. Aku janji, sumpah malah, gak akan ingkar janji sampai kapanpun. Kamu boleh pegang janjiku!" sungut Riko kesal, tapi aku juga khawatir kalau di kibuli lagi olehnya. Kan sakit hati, tapi aku memberi ancaman padanya. Awas saja kalau sampai berbohong, tidak akan ku maafkan selamanya.
Hingga kita berdua sampai di gedung bioskop yang menurutku luar biasa, bahkan aku tidak menyangka bakal kesini di ajak oleh Riko, dia pun yang membeli tiketnya, bukannya aku miskin banget, hanya saja ngirit, tiketnya harganya mahal menurutku walaupun kini aku juga punya uang sendiri itupun dari paksaan Latifah dan kawan kawannya guna membebaskan dari Alex the geng.
"Antri banget!" rutuk Riko karena akan memasuk gedung pertunjukan harus ngantri karena rame pengunjungnya.
Aku cuma diam saja karena aku asik lihat poster poster filmnya yang dipasang di dinding sangat bagus bagus sampai aku terkagum kagum lihatnya. Rasanya aku ingin nonton film film itu tapi mengingat harga tiketnya lumayan hanya bisa nelan ludah.
"Eh,,, Bening kamu nonton juga, oh,,, sama Riko,,," suara cewek yang tak asing mengaggetkanku datang tiba tiba. Aku sangat kenal suaranya yang familiar.
Aku dibuat kaget dengan penampilan Latifah yang terlihat sangat seksi bukan hanya latifah juga ada dua orang cewek lagi yaitu Sarah dan Oktaviani. Aku menatap satu persatu dengan intens mereka karena busana yang mereka terlalu berani dan seksi.
"Ternyata kelakuan kalian seperti gadis binal. Lihat penampilan ini, mengundang syahwat para kaum adam. Kalian sadar gak kalau kalian mancing mancing. Pantas saja Alex dengan mudah nya menjebak kalian. Kalau tahu begini aku gak bakal nolongi kalian. Biar jadi budak Alex. Kalian sebagai wanita jaga kehormatan kalian bukan mengumbar aurat kayak gini, kayak mau jual diri!" hardikku karena melihat kemolekan tubuh mereka yang dipertontonkan di depan umum.
Riko hanya diam saja aku mengatai para cewek yang kecentilan serta keganjenan, sudah kehormatan di renggut Alex, kini malah bikin masalah baru lagi. Apa gak kapok mereka karena sekarang tidak ada yang dibanggakan lagi karena gadis bukan perawan.
"Bening, aku beli makanan untuk cemilan didalam" tanpa nunggu persetujuanku Riko berlalu meninggalkan kami yang agak tegang.
"Seharusnya kalian menjaga diri, berbusana yang sopan supaya tidak anggap murahan. Latifah, semula aku simpatik sama kamu tapi malam ini rasa respekku hilang lihat kamu kayak gini" aku tidak menutup nutupinya lagi kalau rasa kagumku pada Latifah hilang, walaupun kini terlihat lebih cantik tanpa jilbab tapi aku lebih suka cewek berjilbab terlihat lebih natural.
"Maafkan kami Bening, ini salah. Aku gak akan mengulanginya lagi" ucap Sarah. Begitupun Oktaviani dengan wajah sedih.
"Ak- aku minta maaf Bening" kata Oktaviani tak bisa nutupi perasaannya lagi.
"Bagaimana kalau ada gerombolan laki laki yang akan berbuat jahat pada kalian karena lihat kalian seksi dan terbuka seperti ini?" tanyaku, tentu saja mereka tidak bisa menjawab dengan lidah kelu serta menundukan wajah mereka merasa bersalah besar.
"Ku harap setelah ini kalian tidak mengulanginya lagi, sebagai pelajaran buat kalian. Coba kalian sekeliling kalian, banyak laki laki yang sering memperhatikan kalian" aku memperhatikan sekeliling, benar adanya karena setiap mata laki laki seperti menikmati pemandangan yang ada didepan mereka.
Mereka benar benar menyesal tapi penyesalan yang tidak ada gunanya karena mereka sudah jadi bulan bulanan mata laki laki.
Tentu saja mereka jadi pusat perhatian jadi risih dan makin buat kelabakan.
Ini benar benar buat pelajaran bagi mereka supaya lebih waspada terlebih mereka masih belia tentu akan jadi sasaran empuk bagi laki laki hidung belang.
"Bening kami takut pulang,,," isak Latifah tentu saat hatinya kecut dan juga rasa takut menggerogotinya. Begitu pun Sarah dan Oktaviani mengalami hal yang sama.
"Hey Bening, kamu ada disini? Dengan siapa?"
Aku menoleh kearah sumber suara....
Begitu pun yang lainnya, tapi ada rasa heran.
Tapi,,,,
Aku langsung shock!
#bersambung....
Minggu 4 September 2022.
Komentar
Posting Komentar