137. Membuat Menangis.
Bab 137. MEMBUAT MENANGIS.
★★★
Tiga gadis yang berpakaian seksi didekatku berbisik bisik sepertinya sedang membicarakan gadis yang baru saja datang dari antrian.
Masih untung tidak ada Riko, aku tidak tahu bagaimana reaksi Riko melihat cewek yang kini berdiri didepanku dengan senyum ramah dan manis.
"Itu kan pacarnya Riko, mmm,,, namanya,,,?" bisik Sarah seperti mengingat ingat.
"Aku juga lupa, siapa dia. Cantik dan manis, lembut,,," bisik Oktaviani seperti iri melihat cewek yang cantiknya nampak natural.
Walaupun dia selalu melihat kearahku juga nampak pandangannya diedarkan seperti mencari keberadaan seseorang, yang ku yakin kalau dia sedang mencari keberadaan Riko. Dia juga nampak gelisah, aku bisa lihat gesturnya.
"Bening, kamu kesini sama siapa?" ucapnya ragu, ingin tahu aku kesini dengan siapa.
Ada jeda sejenak, semua cewek yang bersamaku walaupun gak bareng juga ikut menatapnya, heran.
"Raya, ka- kamu ngapain disini?" Tiba tiba Riko datang dengan membawa cemilan ditangannya, terkejut dengan kehadiran Raya pacarnya.
Sejak awal aku saja sudah terkejut apalagi Riko tidak bakal menyangka jika bertemu dengan Raya disini.
Perasaanku tidak enak, seperti bakal terjadi sesuatu?
Namun rasa itu ku tepis, aku tak ingin larut dalam pikiranku.
Belum sempat reda debaran hati serta jantungku yang bertalu talu...
"Eh Bening,,,?" sapa seseorang sangat lembut, aku paham dengan suara hingga aku menatap kearahnya, yang lebih membuatku kaget juga tak percaya orang yang bersama bu Laras yaitu mas Surya, sikapnya seolah olah tidak mengenalku.
Sekilas tadi tatapan menajam, lalu beralih kearah Riko, menatap sangat tajam kearahnya baru kearah para cewek cewek satu persatu satu berakhir lagi kearahku lalu tertuju kearah bu Laras.
"Kalian juga nonton ya" mas Surya coba menghilangkan rasa canggungnya. Entah mengapa dengan sikapnya seperti itu membuat hatiku rasanya perih terlebih, lihat sikap bu Laras yang menatap mas Surya dengan binar cinta, memegang lengan mas Surya manja, menggelayut mesra.
Sungguh hatiku tercabik melihat kemesraan yang diperlihatkan oleh bu Laras didepanku. Bahkan mas Surya terlihat biasa tanpa ada canggung berada didepanku.
Aku menatapnya intens sejenak. Matanya rasa nya mendadak panas, hatiku, ya Alloh! Aku tidak tahan, aku tidaj kuat lagi menahannya.
Riko yang mengerti keadaanku memegangku, mencoba menenangkanku.
Tapi hal itu tidak mampu menenangkanku. Andai disini bukan tempat umum maka aku akan pergi lalu nangis dengan sepuas puasnya.
"Kita duluan ya, permisi bu Laras, pak Surya,,, he he,,," pamit Latifah bersama dua temannya masuk duluan.
Raya masih termangu ditempatnya, bingung karena Riko sama sekali tidak meresponnya.
Aku sendiri lebih meredakan hatiku yang tak karuan terlebih keadaanku seperti hancur, aku seperti dihadapan dalam dilema yang akut.
"Mas ayo masuk. Eh tunggu dulu, kita belum beli cemilan mas, mas tunggu disini ya sama Bening juga Riko. Gak apa apa kan mas, sebentar kok" bu Laras mengerling mesra kearah mas Surya dibalas senyum hangat dari mas Surya hatiku terasa remuk. Hatiku panas rasanya. Apakah aku cemburu! Tidak! Aku harus tepis perasaan itu pada mas Surya. Mas Surya berhak bahagia dengan pasangannya terlebih bu Laras selain cantik, manis juga lemah lembut, pasangan yang sangat serasi.
"Aduh, Bening sebentar ya, kamu bawa ini dulu, hesss,, aku mau ke toilet bentar, ya" ringis Riko menahan desakan urine didirinya. Hingga cepat cepat berlalu dari hadapanku. Hingga aku berdua dengan mas Surya yang kini menatapku intens dengan senyum merekah seakan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Lebih baik aku diam menunggu terlebih, kini mas Surya agak gusar padahal aku bersikap tenang, aku juga tak peduli perasaannya saat ini sekalipun dulu dia pernah curhat tentang masa lalunya yang kelam kini, setidaknya perlahan aku harus melupakannya juga pernyataannya, serta janjinya untuk mengajakku ke Jawa buat liburan. Semua itu hanya tinggal janji.
"Dek, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi seperti yang pernah kamu katakan kalau aku harus meneruskan hidupku" jelasnya dengan suara getar saat itu pula tangisku pecah, aku tidak bisa menahan air mataku lagi, aku terlalu rapuh untuk itu, untuk yang di lakukan oleh mas Surya selama ini, perhatiannya juga rasa sayang serta rasa cintanya yang dulu pernah di ucapkannya ternyata itu hanya sesaat, sebagai pelarian juga sebagai pelampiasan belaka.
"MENYESAL SAYA TELAH MENGENAL ANDA DALAM HIDUP SAYA PAK. PERHATIAN ANDA, JUGA RASA YANG PERNAH ANDA UCAPKAN, SERTA JANJI ANDA, SEMUA ITU HANYA KEBOHONGAN BELAKA!" suara bergetar hebat dengan air mata tak bisa ku bendung lagi.
"Dek kamu kok ngomongnya gitu. Aku beneran sayang sama kamu. Aku tidak pernah bohong dengan perasaan itu ke kamu. Hanya saja, kamu tidak memberi ke jelasan"
Memang benar ucapan mas Surya tapi tidak seharusnya menikamku seperti ini sekalipun tanpa sengaja.
"Sudahlah pak, saya harap lupakan perasaan anda itu ke saya. Seumur hidup saya tidak mau bertemu anda lagi!" Kini suara suara agak pelan, aku sadar disini aku lah yang salah, itu harus ku tegaskan supaya mas Surya tidak banyak berharap lagi.
"Bening?"
"Bening?"
Antara Riko dan bu Laras berbarengan memanggilku karena keadaan sudah sepi karena sudah masuk ke dalam gedung.
Cepat cepat ku seka air mataku yang sudah tidak deras lagi.
Tentu saja hal itu tidak lepas dari perhatian Riko juga bu Laras yang memperhatikan ku terlebih mataku masih menggenang air matanya.
"Rik,,, ayo kita masuk,,," ajakku dengan suara yang bergetar hebat. Tentu jadi tanda tanya Riko juga bu Laras kenapa aku bisa menangis padahal baru ditinggal sebentar oleh mereka, yang satu ke toilet satunya lagi beli cemilan. Bahkan ku pegang kuat serta ku tarik tangan Riko untuk masuk kedalam.
Lamat lamat ku dengar tidak begitu jelas dari bu Laras dan mas Surya, tapi senyumku miris.
Pastinya bu Laras akan meminta penjelasan pada mas Surya ketika melihat keadaanku dalam tangis terlebih bu Laras menatapku penuh tanya karena air mataku belum surut.
"Kamu kenapa Bening nangis seperti ini?"
Tanya Riko setelah kita duduk diantara penonton yang lainnya, sangat penuh sekali yang nonton filmnya. Film horor yang lagi booming.
Namun aku tidak fokus, tidak menikmatinya ketika lampu telah dipadamkan, filmnya telah diputar dengan volume suara yang cukup keras. Suasananya juga sejuk mungkin ada acnya karena memang fasilitas nya memadai.
"Diamlah, jangan berisik, mengganggu yang lain" pungkasku tak ingin membahas lagi, memperpanjang masalah.
Riko tidak pernah tahu masalah ku dengan mas Surya bahkan dulu Riko sampai melarangku dekat dengan mas Surya ternyata dia ada benarnya. Aku cuma di manfaatkan saja.
Tidak ada yang menarik dari film yang ku tonton saat ini bersama Riko. Bahkan brondong jagung yang disodorkan Riko rasanya juga hambar serta soft drinknya pun tiada rasa.
Pasti menimbulkan tanda tanya buat Riko tapi tidak berani untuk mengungkapkannya karena tadi aku memintanya untuk tidak berisik ganggu yang lainnya.
"Nanti dirumah harus kamu jelaskan semuanya" bisiknya. Ingin rasanya aku memeluknya untuk meredakan beban hatiku yang ku rasakan ini tapi kelihatan tempat dan waktunya tidak tepat. Aku merasa ada beberapa pasang mata sedang mengawasi, aku hanya merasakannya saja tapi aku tidak memperhatikannya sekeliling siapa orangnya karena hatiku sedang tidak baik.
Entah berapa jam lamanya filmnya, rasanya cukup lama filmnya tidak kelar kelar bahkan aku tidak fokus melihatnya masih kepikiran dengan masalah ku tadi.
Akhirnya dengan rasa bosan serta tidak menikmati film pun usai hingga kita meninggalkan ruangan secara teratur karena pintu keluarnya tidak cuma satu.
Riko yang menarikku untuk mengikutinya karena pikiranku linglung bahkan kacau hingga kami berada ditempat semula.
"Mau nonton lagi" ulasnya, bertanya padaku.
Ku desahkan nafas berat kalau keberatan untuk menonton lagi...
"Kapan kapan lagi Rik. Kayaknya untuk kali ini aku gak ingin nonton" balasku, kalau Riko tahu aku ingin cepat pulang dan istirahat untuk menenangkan diri.
"Ya udah, seperti yang ku bilang tadi kamu harus cerita semuanya ke aku"
Aku tidak ingin lagi debat, aku lelah, ujungnya nanti malah buruk karena aku keras kepala, tapi akhir akhir ini Riko banyak ngalahnya ketimbang ngedepankan egonya.
Saat didepan gedung bioskop, aku dan Riko berjalan menuju keparkiran,,,
Latifah, Sarah dan Okta sedang berjalan beriringan dan dibelakangnya ada Raya yang tetap cantik dalam balutan busana yang tidak terlalu terbuka, mereka seperti kompakan.
"Woiii,,, Bening, bisa antar kita gak, soalnya aku takut, tadi kayak ada yang ngikuti kami, gitu" ungkap Latifah khawatir bahkan pandangannya diedarkan.
Mana moodku belum membaik ditambah lagi persoalan mereka juga ada Raya lagi. Tapi, ku yakin kalau Raya bawa mobil sendiri terus trio binal ini kesini naik apa tadi kini malah minta di anterin lagi, mana aku di ajak Riko aku tidak punya mobil sendiri karena kesini ikut ortu merantau. Huhhh,,, ada ada saja mereka. Tapi, keselematan mereka harus dijaga kasihan kalau ada apa apa dengan mereka nasibnya bakal lebih buruk.
"Riko bagaimana, apa antar saja mereka pake mobilmu?"
"Maksudnya numpang gitu" protesnya. "Ogah, siapa suruh mereka kayak gitu" sewotnya tidak mau memberi tumpangan ke mereka yang wajahnya nujukin kalau memang takut.
"Kasihan mereka Riko, pastinya ketakutan kan. Apa salahnya nolongi mereka sekali saja, bukannya lho juga minta tolong ke Latifah, anggap aja ini balasan mu, impas"
Desahan berat Riko berat untuk nerima, tapi agak sedikit terpaksa, meluncur kata kata,,,
"Baiklah,,," seperti tidak rela. Tapi memang aku yang meminta.
"Rik,,," panggil Raya yang telah dekat, juga terlihat bingung.
Ada apa lagi ini?
Ya Tuhan!
Riko yang tadinya agak kesal kini beralih kearah Raya, bagaimana pun cewek itu masih berstatus pacarnya dan orang yang di cintai olehnya.
Agak bersungut tapi berusaha untuk menghilangkannya,,,
"Ada apa lagi,,," sedikit ditekan, mungkin emosinya lagi tidak baik.
Tatapan Raya sendu, campur sedih karena tanggapan dan tatapan Riko tidak enak serta tak meresponnya.
"Ya sudah,,," Raya nampak kecewa dengan sikap Riko pada Raya yang jelas jelas ingin meminta bantuan.
Raya akan melangkah pergi...
"Tunggu Raya,,,?" cegahku merasa tak enak, namun tatapan Riko pada ku serasa tak enak. Kenapa sikap orang orang disekitarku malam ini tampak aneh aneh.
"Iya Bening, ada apa?" nafas Raya dihempaskan pelan, aku tahu hatinya sangat kecewa dari respon Riko tadi.
"Ada apa Raya, apa kamu mau bicara sama Riko, silahkan?"
Mata Raya berbinar, tapi tidak dengan Riko yang tampak menggelap, tidak suka mungkin sedang jaga hati.
Karena tadi saja aku sudah sedih, mungkin tidak ingin menambahinya.
"Gini, Bening, aku cuma ingin,,, supaya Riko mengantarku. Tadi, aku kesini di antar oleh supri pribadiku, hp ku ke tinggalan" ungkapnya, terlihat wajahnya bingung, juga terlihat senang.
"Rik, kamu dengar, kita antar sekalian Raya, kasihan kalau pulang sendirian" jelasku. Kembali Riko bersungut kesal.
"Baiklah. Dasar cewek cewek merepotkan" gerundelnya ku biarkan saja.
"Tunggu disini biar aku ambil dulu mobilnya" Riko melangkah kearah mobil. Hingga tidak tampak, selang datang dua orang yang tadi bertemu.
Terlihat mesra sekali...
Para cewek cewek menatap penuh iri dengan pasangan yang serasi itu, tapi keduanya tidak menggubrisnya sama sekali.
"Mas aku ambil mobil dulu ya" ucapnya lembut dengan tatapan penuh cinta.
Ada seulas senyum cool mengembang dari raut laki lakinya, hatiku serasa tercabik.
'Belum cukupkah kamu menyakiti perasaanku mas?' ungkap batinku nelangsa. Apa ini yang dimaksudkan ketika itu. Ketika tidak sengaja aku mendengar percakapan dengan seseorang ditelpon bahwa dia akan menghancurkan perasaanku perlahan lahan. Mengumbar kemesaraan didepan mataku hingga aku benar benar hancur. Ya Tuhan!
Lututku terasa goyah, menatapnya, tatapannya yang penuh kharisma dan pesona, senyumnya yang mampu memporak porandakan hatiku kini bersama seorang wanita yang cantik, bersahaja.
Apa aku cemburu...
Detik selanjutnya bu Laras datang dengan mobilnya.
Kemana Riko, lama banget? Atau Riko sengaja melakukannya supaya aku makin terpuruk dalam perasaanku.
Bahkan mas Surya tidak menggubrisku seakan membiarkan ku dalam duka.
Dia melangkah menuju mobil bu Laras, tanpa melihat kearahku.
Saat akan masuk kedalam mobil barulah seulas senyum mengembang terarah padaku. Tapi, senyum itu senyum yang penuh ejekan.
Hampir air mataku tumpah tapi aku menahannya.
Aku sudah tidak tahan lagi melihatnya, aku berlari memuju kearah jalan dimana mobil lalu lalang melaju dengan kecepatan yang berbeda.
'KEPARAT, ANJ!NG KAU MAS SURYA! AKU BALAS SEMUA PERBUATAN YANG TELAH KAU LAKUKAN INI LEBIH DARI APA YANG TIDAK PERNAH KAU BAYANGKAN SEBELUMNYA!' geramku dalam hatinya.
Shittt,,,
Aku mendengar decitan suara rem mobil, itu pasti mobilnya Riko.
"BENINGGGGG,,, AWAS,,,, MOBILLLL,,,,!???" teriak Riko juga yang lainnya memberi peringatan padaku.
"AWASSS,,, DEKKK,,,!" teriak mas Surya masih peduli denganku.
Pikiranku sudah kacau, ku lihat didepanku sinar terang menyilaukan. Sangat dekat bahkan hanya beberapa centi lagi...
Tottt,,, toootttt,,, ttoooottttt,,,
Suara klakson tronton begitu nyaring bunyinya, tidak hanya satu bahkan sangat banyak, belum lagi bunyi klakson mobil mobil yang lainnya.
Tubuhku akan hancur dilindas oleh truck tronton yang besar.
Mataku terpejam rapat menanti maut menjemputku.
Hahh,,,
#bersambung,,,, ya
-----
Bagaimana nasib Bening selanjutnya, apakah Bening selamat atau bahkan mati?
Ikuti kisah selanjutnya?
Senin 5 September 2022.
Komentar
Posting Komentar