138. BALAS DENDAM YANG MENGERIKAN.

 Bab 138. BALAS DENDAM YANG MENGERIKAN.


★★★


"BODOH,,,!" hardik sebuah suara orang yang cukup berumur jika tidak sudah tua sangat marah padaku. Suaranya penuh kharisma serta sangat berwibawa.


Blesshhhhh,,,


Ada desir angin yang berhembus.


"Simbah,,,?" gumamku lirih.


Tubuhku seperti dihempaskan serta didorong dengan begitu kuat kearah samping.


Aku belum sempat melihat sosoknya, karena begitu cepatnya karena sosoknya laksana bayangan. Bahkan sudah tidak ada lagi. Bagai mimpi?


Brugghhhkkkk,,, awhhh,,, haaahhh!


Aku terjerembab agak jauh dari jalan raya, dalam keadaan tengkurap hingga jidadku membentur arah bawah yang keras membuatku meringis menahan sakit, perih ada darah yang merembes dari jidasku yang rasanya sakit luar biasa.


"Adawwww,,, hesshhh,,,!" ringisku tak bisa ku tahan karena darah terus merembes bahkan sampai dimukaku.


"Bening,,,?" Riko menubrukku, serta membantuku untuk duduk.


Rasanya kepalaku berdenyut sakit, serta pusing tak dapat ku tahan lagi, terlebih dengan masalah yang bertubi tubi ku hadapi rasaku pusingku makin bertambah.


"Bening, kamu tidak apa apa?. Riko,,, lihat darah mengucur dari luka didahinya" jelas Latifah panik begitu pun yang lainnya juga ikut panik.


Kemacetan terjadi untuk sesaat, tapi mobil truck tadi tidak berhenti seperti tidak mau berurusan hingga jalan yang sesaat tadi macet kini kembali normal bahkan sedikit berkurang kendara, mungkin karena malam sudah larut.


"Bu laras, tolong antar Raya serta kawan kawannya, karena saya akan bawa Bening untuk berobat" ucap Riko masih ku dengar lamat lamat.


"Bening,,, kamu tidak apa apa" keluh mas Surya khawatir dengan keadaanku. Ternyata masih ada rasa peduli untukku. Tapi, aku sudah terlanjur kecewa dengan sikapnya.


'Awas kau mas Surya, aku akan membalasmu, lebih dari yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya!' geramku dalam hati. Sebelum ku rasakan rasa sakit diarea kepalaku makin kuat serta dunia rasa berputar, mataku  berkunang kunang.


"B-Be- Beninggg,,," serunya tertahan ada didekatku dengan nafas menderu, tertahan, ku rasakan ada air mata menetes dipipiku karena ku rasakan wajah mas Surya ada didepanku.


"Bapak gak usah turut campur, pak Surya telah membuatnya menderita, seharus bapak paham tentang perasaannya, bukan malah menyakitinya seperti ini"


"Heh, kamu kira kamu tidak pernah membuatnya menderita,,,"


Itulah debat yang ku dengar dari keduanya karena setelah itu aku tidak merasakan apa apa lagi.


Sunyi...


-----------


Entah berapa lama aku tidur, eh,,, entahlah? Namun yang pasti perasaanku terlalu damai ku rasakan.


"Ya Alloh nak, kamu kenapa sayang?" isak ibuku saat aku membuka mata, disuguhi tangis serta derai air mata dari ibu.


Lidahku kelu. Ingin aku menjawabnya namun apa yang harus ku katakan.


Riko tertidur disamping ku karena kelelahan semalam...


Ibu pasti menungguiku dari semalam.


Baru aku tersadar kalau aku berada di kamarnya Riko.


Ada selang infus di tangan kiriku, ku rasakan dikepalaku ada yang mengganjal, ku sentuh dengan telapak tangan kanan. Perban. Ada nyeri sedikit ku rasa, saat ku tekan pelan.


Sekelebat bayangan seperti mengawasiku, tepat di depanku, bayangan itu berlalu tanpa bisa ku ikuti tembus dinding. Bayangan itu masih muda. Namun, ku tepis dari pikiranku.


"Ah, dia masih mengawasi ku, apa maunya dia sebenarnya?" gumamku lirih tak ada mendengarku. Aku tahu siapa sebenarnya bayangan yang sedang mengawasi ku tadi. Rupanya dia masih punya perasaan juga. Aku makin geram saja sama dia. Tapi, untuk saat ini aku masih bersabar. Tunggu saat itu datang.


"Nak,,," panggil ayah yang juga ikut prihatin dengan keadaanku terlebih aku jarang bertemu ayah karena beliau sif malam.


Tidak ada paman maupun bibiku, entah kemana mereka mungkin tidak tahu karena kejadiannya semalam.


Tidak ada yang membangunkan Riko karena terlalu pulas dalam tidurnya.


"Hiksss,,, bu aku tidak melaksanakan kewajibanku, maafkan aku bu. Tolong mintakan maafku pada Alloh"


"Nak kamu gak perlu sedih, keadaanmu masih sakit, Alloh pasti ngerti kok. Jadi kamu tenang,,,"


"Mas keadaannya sudah lebih baik" lanjut ibu mengenai keadaanku karena sudah lebih baik.


Berarti hari ini aku tidak masuk sekolah. Ya Alloh, aku selalu alfa dalam sekolah.


Tapi...


"Ibu, ayah aku ingin sekolah hari ini,,," paksaku karena aku tidak ingin ketinggalan pelajaran hari sangat disayangkan jika harus ketinggalan pelajaran.


"Jangan nak, keadaanmu belum begitu membaik,,," pungkas ibu khawatir.


"Iya nak, keadaanmu masih lemah,,," imbuh ayah juga tampak mengkhawatirkan keadaanku.


Aku bisa pasrah dengan keadaanku saat ini,,,


"Hmm,,, Bening, hari ini kamu jangan banyak melakukan aktivitas dulu keadaanmu belum membaik sepenuhnya. Kalau besok kamu boleh beraktivitas tapi kamu harus berhati hati, kamu belum pulih benar" Saran dokter Miko seperti tadi keluar sebentar karena aku tidak melihatnya.


Sesaat dokter Miko menatapku juga menatap Riko dengan tatapan aneh. Aku ingin bertanya ganjalan apa yang di rasakannya.


"Bening, ada sesuatu hal yang jadi pikiran saya, yaitu ada seseorang yang mengalami sakit aneh seperti yang dialami oleh Riko dan Raya, kini terjadi pada pasiennya dokter Carmila namanya ALEX"


DAMN,,,!?


Hatiku mencelos mendengar perkataan dokter Miko, kedua orang tuaku saling tatap tak percaya. Dokter Miko menatapku sejenak lalu kearah orang tuaku. Kembali ke aku dengan tanda tanya.


Hening dalam ruangan ber ac milik sangat terasa, baik ibu maupun ayah memilih untuk diam tidak berani bertanya apa apa.


Riko sesaat terbangun, mungkin lamat lamat mendengar penjelasan dari dokter Miko.


"Apa dok, jadi Alex mengalami kejadian yang saya alami dulu?" dahi Riko mengeryit sedikit melirikku padahal ada didepannya, menatap kedua orang tuaku bergantian lalu nyengir kuda, tersenyum simpul.


"Kenapa Riko, apa kamu tahu sesuatu hal dengan sangkut pautnya kejadian yang kamu alami dulu. Sepertinya ada sangkut pautnya. Menurutku pelakunya satu orang, tapi kejadian yang kamu alami dengan Raya itu bersamaan. Mana mungkin pelakunya satu orang. Menurutku itu seperti mistis, semacam limu gaib yang digunakan. Kalau ilmu logika itu tidak akal" dokter Miko sampai mengernyitkan dahinya memikir keras serta memgaitkan kejadian yang dialami oleh Riko, Raya dan juga Alex.


"Entahlah dokter, aku merasakan saat itu sedang bermimpi, apa yang ku alami!" kilahnya, untuk menutupi kejadian yang sesungguhnya di alami olehnya, karena jika pun diceritakan tentu itu tidak akan masuk akal, belum tentu juga dokter Miko percaya karena hanya logika dokter Miko percaya, kalau hal gaib, entahlah.


Orang tuaku semula gelisah, tampak khawatir kini nampak lega, hal itu tidak luput perhatiannya dari dokter Miko. Bisa gawat kalau dokter Miko sampai mendesak orang tuaku, ku yakin mereka tidak akan jujur pada dokter Miko.


"Bu Khatijah, pak  Rohman sepertinya kalian tahu suatu hal terkait apa yang saya ceritakan tadi. Kalau kalian tahu, boleh sedikit diceritakan pada saya" dokter Miko nampak menunggu respon kedua orang tuaku.


"Maaf dokter Miko, terus terang baru kali ini saya mendengarnya. Mengenai apa yang di alami den Riko saya baru melihatnya pertama kali. Untuk yang anda ceritakan tadi termasuk Raya dan Alex saya tidak pernah kenal ataupun tahu wajah mereka" jelas ayah karena tadi hanya bingung. Sebenarnya ayah tahu semuanya hanya saja ayah bisa di andalkan serta bisa jaga rahasia sampai mati.


"Benar dokter Miko apa kata suami saya. Kami tidak tahu menahu soal mistis seperti itu. Kami hidup didesa hanya ke ladang, kesawah itu saja, juga gembala sapi, cari rumput" terang ibu panjang membuat dokter Miko hanya manggut manggut saja tidak bertanya lagi, karena penjelasan ibu sudah sangat tepat hingga tidak ada ragu lagi.


"Iya bu Khatijah, pak Rohman, maaf saya kira kalian mengetahuinya, soalnya sakit ini itu sangat langka terjadi, bahkan nyawa orang yang mengalami hal tersebut tidak bisa tertolong karena mereka dalam keadaan koma. Menurut pribadi saya tidak ada ruh-nya, itu yang saya lihat" akhirnya dokter Miko cuma menjelaskan ikhwal yang terjadi, yang mengalami hal tersebut.


Aku sudah tidak berkeming, terlebih sekedar membalas, aku takut dokter Miko akan curiga padaku karena yang terjadi.


Semua tutup mulut mengenai yang terjadi, orang tuaku, juga Riko, padahal jelas Riko tahu jelas mengenai yang terjadi padanya.


Ku tatap Riko sejenak, Riko hanya diam saja, mengendikan bahunya. Kedua orang tuaku hanya bisa diam membisu. Ku ucapkan rasa terima kasih dengan tatapanku karena telah melindungiku.


Seandainya Riko membuka semua kejadian yang dia alami tentu dokter Miko menanyakan padaku tentang hubungan penyakit yang dulu Riko alami juga Alex.


Tapi, semua itu tidak terungkap, aku bisa bernafas lega.


Namun hari ini aku tidak masuk sekolah karena keadaanku yang belum membaik.


"Mudah mudahan besok keadaannya makin membaik. Bisa sekolah seperti biasanya lagi" jelas dokter Miko tersenyum menenangkan.


"Saya pamit karena ada pertemuan dengan dokter Carmila, membahas tentang keadaan Alex, karena saat ini sedang dirawat dirumahnya. Siang nanti saya akan kembali melihat perkembangan Beming. Permisi,,,"


Setelah kepergian dokter Miko semua bernafas lega, kini hanya tinggal Riko dan kedua orang tuaku.


"Nak ibu mau ke dapur"


"Ayah mau istirahat nak,,,"


"Iya ibu, ayah, jaga kesehatan. Aku baik baik saja kok, gak perlu khawatir" pungkasku karena memang kini lebih baik.


Riko masih ditempatnya...


",,, Aku mandi dulu ya,,,"


"Terima kasih Riko, kamu tidak menjelaskan pada dokter Miko apa yang kamu alami dulu. Itu karena aku"


"Tenang aja, kamu gak perlu khawatir aku akan membongkarnya..."


Riko berlalu sambil mengeringkan mata nya sebelah menuju ke kamar mandi, membersihkan diri.


Kini aku termenung, teringat bayangan yang tadi ada disini. Kenapa begitu perhatian dengan keadaanku?


Mendadak hati geram, karena dia aku jadi begini.


AWAS KAU,,,?!.


#bersambung....


----------


Apa yang dilakukan Bening nantinya?


Siapa bayangan yang disebut sebut oleh Bening?


Ikuti kisah selanjutnya?


Selasa 6 September 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.