14. Pertolongan

★★★★


Tubuhku rasanya lemas sekali...


Aku berharap gudang ini ada yang membukanya karena dari kemarin atau entah kapan itu aku belum makan atau pun minum sama sekali...


Aku juga teringat Angga yang meninggalkanku disini bersama Riko the gank, aku berusaha meminta tolong padanya tapi Angga seperti tidak peduli, aku menjadi sedih jika teringat hal itu. Bau tubuhku sangat menyengat sekali selain darah yang mengering juga keringatku bercampur air kencing juga pejuh milik Riko, menjadi satu, yang bisa ku lakukan hanya menangis serta meratapi kemalangan nasib yang ku alami...


Aku sadar tak mungkin meminta bantuan Angga karena aku tau tak mungkin Angga berani menolongku karena sangat beresiko, selain itu, bisa membuat Angga dihukum berat oleh Riko dan aku tak mau membuat Angga berkorban untukku. Hanya keajaiban  Tuhan-lah yang  bisa menolongku...


Keadaanku masih terikat dikursi serta mulutku masih tersumpal kain hingga aku tidak bisa berteriak, rasanya juga percuma aku berteriak karena jarang ada yang datang ke gudang ini, karena tempat ini,  tempat yang paling aman untuk berbuat kejahatan...


Doaku seperti dikabulkan oleh Tuhan...


Aku seperti mendengar langkah langkah kaki yang banyak kearah gudang ini...


Aku bisa bernafas dengan lega, rasanya aku ingin berteriak minta tolong, namun itu sia sia saja karena aku dalam keadaan terikat dan disumpal mulutku.


Sesaat kemudian pintu gudang terbuka perlahan lahan, tapi pandangan sedikit buram ketika sinar dari luar masuk, karena lampu didalamnya tidak begitu terang. Hingga keadaan menjadi terang ...


Pak Surya bersama murid murid yang lainnya masuk,,,,


Sebagian pada berteriak...


Pak Surya yang pertama melihatku langsung mendekat kearahku ...


"Ya Alloh,,, Bening, apa yang terjadi padamu? Siapa yang melakukan ini padaku?" ucap pak Surya tak percaya bahkan hampir menangis melihat keadaanku yang tak karuan, dan juga aromanya sudah tidak bisa dijelaskan lagi. Pak Surya melepaskan ikatanku juga sumpalan dimulutku, ada air mata yang menetes ketika menatapku, aku hanya bisa menangis saja, bersyukur karena ada seseorang yang menolongku yaitu guru olah ragaku yang ganteng dan macho. Setelah melepaskan ku pak Surya masih menatapku sedih, tidak menangis lagi takut ketahuan siswanya kalau sedang menangisi keadaanku yang sedang malang.


"Anak anak ambil peralatan yang dibutuhkan, bawa kelapangan, kalian pemanasan dulu, latihan sendiri dulu, bapak akan membawa  Bening ke UKS" perintahnya hingga semua siswa pada keluar. Tak ada yang komen, sepertinya mereka belum mengenalku dengan baik karena sekilas aku menatap mereka tak satupun yang ku kenal, sepertinya adik kelasku.


Tubuhku lemas tak bertenaga, kepalaku juga pusing, perutku juga mual, bahkan aku tidak bisa bergerak dari dudukku,,,


Pak Surya begitu iba melihatku, keadaan gudang menjadi sepi karena hanya aku dan pak Surya saja.


Bahkan ketika pak Surya menanyaiku, aku bisa jalan apa tidak, untuk menggeleng tidak bisa, aku benar benar tidak punya tenaga yang bisa ku lakukan hanya menangis, sepertinya pak Surya juga tidak memperdulikan keadaanku yang kotor serta baunya yang menyengat.


Pak Surya tanpa ragu membopongku keluar dari gudang, ternyata ada para siswi yang melihatku dibopong pak Surya menuju ke UKS berteriak iri dan histeris...


Tapi aku tak pedulikan mereka begitu pun pak Surya tidak menggubrisnya. Tubuhku sangat lemah dan lemas, rasanya cukup jauh jalannya belum juga sampai uks. Mana keadaanku baunya campur aduk, aku malu dengan pak Surya yang membopongku tanpa risi. Bahkan banyak para siswa menatap kami dengan rasa iri bahkan mencibirku.


Ingin rasanya aku mengucapkan rasa terima kasih, namun lidahku saja tak bisa ku gerakan, kelu.


Sampailah kami ke ruang uks....


Setelah diberi minum, aku sedikit lega, walaupun kepalaku terasa pusing, perutku juga nyeri serta seluruh tubuhku...


Butuh waktu cukup lama aku untuk pulih, terlebih keadaanku yang masih lemah...


Pak Surya kembali memberiku minum hanya itu yang bisa dilakukannya, terlebih dengan keadaanku karena tak mungkin aku ganti pakaian disini.


Hingga aku mencoba untuk kuat, karena aku ingin secepatnya pulang...


Aku tak tahu Angga dimana, masuk sekolah apa tidak? tak mungkin Angga datang ke gudang serta melihat keadaanku...


"Bagaimana Bening? Apa kamu sudah kuat?" tanya pak Surya melihat dengan iba, aku menatapnya satu kearahnya. Ku kedipan mataku karena aku belum bisa menggerakkan tubuhku.


"Sebaiknya kamu sarapan, ya" ucapnya lagi, hendak beranjak dari tempatnya sambil menatapku. Tapi, aku memberi isyarat agar jangan meninggalkanku sendiri. Pak Surya pun hanya diam dan duduk dengan menatapku sedih. Karena memang tak mungkin pak Surya menanyaiku siapa yang melakukan hal ini padaku. Tapi, aku punya persepsi kalau pak Surya sudah menduga siapa dalang pelaku dibalik kejadian yang saat ini menimpaku.


"P,,, p a k, tol- ong,,, an- tar sa- y,,, ah,,, " aku hanya bisa menangis karena aku tak bisa bicara, hanya tersendat. Pak Surya makin miris melihatku pun ikut menitikan air mata.


"Sudahlah Bening, kamu tidak perlu ngomong dulu. Nanti kalau kamu sudah kuat aku akan mengantarkanmu pulang. Aku akan tetap disini" ucapnya mengusap air matanya. Aku makin terharu sama pak Surya yang begitu peduli padaku padahal aku murid baru.


"Pak,,, antar,,, kan,,, saya,,, pul,,, ang,,,? Ak- u,,, ing,,,, ing,,, Isti,,, ra- hat di- rumah,,, sa- ja..." akhirnya aku bisa lega karena secepatnya aku ingin pulang kerumah, karena tak ingin merepotkan pak Surya. Ucapan berupa isyarat m, syukurlah pak Surya mengerti.


"Baiklah Bening, saya akan mengantarmu pulang. Nanti biar saya sampaikan ke wali kelas mengenai keadaan kamu" balasnya tanpa risi dengan keadaanku, aku rasa sedari tadi merasa tidak enak. Tersenyum ramah, senyum yang bersahabat, senyum yang membuat damai dan betah didekatnya. Orangnya gagah, ganteng,  keren lagi. Mana tubuhnya proposional, makhluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna. Entah mengapa aku terus memuji mujinya dalam hati. Keadaanku saja masih lemah...


Bahkan saat aku diboncengnya pun tanganku pun dilingkarkannya kepinggangnya membuatku tak enak bersamaan dengan debaran aneh terjadi pada diriku.


Aku merasa tenang dan nyaman bisa memeluknya, aroma tubuhnya yang maskulin  dan muscle tercium olehku, aroma lelaki jantan dan macho bahkan aku diam begitupun pak Surya mengerti keadaanku.


Perjalan terasa begitu cepat, aku berharap kalau perjalanan ku bersama pak Surya lama.


"Bening, sudah sampai" berhenti didepan rumah, lalu membopongku karena aku masih lemah. Aku hanya bisa pasrah karena aku belum kuat berjalan sekalipun ku paksakan.


"Teri- ma kasih,,, pak" balasku karena hanya itu yang bisa ku lakukan. "Pak kuncinya disitu" aku menunjuk pada pot bunga didepan teras rumah karena biasanya kunci rumah ditaruh disitu. Memang kunci tersembunyi diantara daun bunga yang lebat, aku tidak tau nama bunganya.


Setelah pintu dibuka itu pun aku masih dibopong oleh pak Surya masuk kedalam, mendirikan ku disita. Sebenarnya aku ingin menyuguhkan sesuatu tapi kondisiku masih lemah.


Aku juga ingin mandi karena badanku selain kotor juga baunya tidak enak, karena campur ludah, kencing juga pejuh. Kalian bisa bayangkan bagaimana aroma dan rasanya terlebih aku juga tidak mandi.


"Sebaiknya kamu mandi, biar saya bantu" ucapnya, tatapannya masih sama, prihatin. Aku tak tau mengucapkan rasa terima kasihku karena begitu banyak pengorbanan yang diberikan.


Setelah aku agak bertenaga, tapi tetap pak Surya membantuku untuk memandikanku, aku tak peduli jika pun pak Surya melihatku dalam keadaan tak memakai apa apa.


Setelah dikamar mandi yang didekat ruang makan, kamar mandi yang lega, pak Surya membantuku melepaskan pakaianku bahkan juga melepaskan celana panjang dan celana dalamku. Aku tak peduli karena aku juga masih belum kuat, pak Surya masih memegangi ku karena aku masih lemah.


Dengan telaten pak Surya menyabuni tubuhku juga memberikan shampo dirambutku juga mengguyur tubuhku hingga bersih, menggosoknya pelan, karena setiap menyentuh kulitku yang terluka aku mengaduh kesakitan karena rasanya perih dan nyeri.


Tak mungkin pak Surya tidak melihat setiap tubuhku karena telah memyabuniku hingga selesai, dan dibalut handuknya juga digendongnya keluar kamar mandi dibawa ke kamarnya Angga sepertinya pak Surya sudah paham rumah ini. Namun, pertanyaan itu hanya berputar dipikiran ku.


"Mana tempat pakaianmu Bening?" pak Surya bertanya dimana aku meletakan pakaianku. Aku hanya memberi isyarat pada pak Surya dimana letak pakaianku yang tersendiri.


Aku pun dipakaikan pakaianku bahkan dibantu memakai celanaku....


"Kamu harus makan dulu, nanti saya antar ke rumah sakit supaya keadaanmu sehat" pak Surya meninggalkan ku dikamar menuju keruang makan. Sesaat kemudian telah kembali dengan membawa makanan juga teh hangat juga air putih dinampan. Pak Surya tersenyum tulus karena keadaan rumah tidak ada orang.


Pak Surya memberiku teh hangat, kemudian menyuapiku, telaten hingga selesai.


Kini, keadaanku telah membaik,,,,


"Bagaimana Bening, aku antar kamu ke rumah sakit?" setelah selesai menyuapiku menatapku lembut.


"Gak usah pak, jika bapak ingin ke kembali gak apa apa" balasku karena tak enak dengan kebaikannya.


"Baiklah, saya akan balik kesekolah. Nanti saya kena tegur kepala sekolah"


"Maaf pak. Saya berterima kasih dengan kebaikan bapak"


Pak Surya pun pamitan, tapi berhenti serta menatapku...


"Apa ini ada hubungannya dengan Riko dan Raya. Hari ini mereka berdua tidak masuk, ada kabar kalau keduanya sedang sakit dirumah masing masing?"


"Be- benarkah itu pak?" aku pura pura terkejut walaupun aku tau keadaan mereka berdua sebenarnya. Aku ingin tau keadaan keduanya dari pak Surya sendiri, mungkin dari orang tua Riko dan Raya.


"Iya, saya mendapatkan kabar dari orang tua mereka tadi pagi menelpon saya" jelasnya, menatapku penuh selidik, aku hanya tersenyum miris.


Pak Surya tidak pernah tau apa yang terjadi pada keduanya?


Pak Surya juga tidak akan curiga padaku kalau yang mereka alami aku yang telah melakukannya, dan pak Surya pun tidak akan pernah tau atau menaruh curiga padaku.


"Saya akan melihat bagaimana keadaan mereka sore nanti"


"Maaf ya telah merepotkan bapak"


"Saya senang. Terlebih kamu sudah mendingan. Entah siapa yang menyekap dan mengikatmu dan juga menyiksamu digudang sekolah. Saya akan mengusut masalah ini. Ini sudah termasuk kriminal. Jika saya tidak ke gudang, tak bisa dibayangkan bagaimana nasibmu" terlihat wajah kesedihan terpancar, menatapku haru juga kasihan karena aku yang baru mendapat perlakuan yang tidak baik dari siswa yang lain yang membullyku.


"Kamu kalau ada waktu singgah ke apartemenku, aku tinggal sendiri" pengakuannya membuatku berdebar. Apa benar pak Surya masih single, rasanya aku tak percaya, memilih untuk diam.


"Bening, Kenapa kamu melamun, kamu gak percaya kalau saya masih single?"


"Iya pak, soalnya bapak itu ganteng juga gagah, rasanya mustahil jika pak Surya belum punya pacar?".


"Entahlah, belum ada yang cocok saja"


"Memangnya kriteria pak Surya seperti apa?"


"Baik, lembut, pengertian" tatapnya lembut kepadaku sambil tersenyum lembut.


"Bu Rara itu baik, lembut juga pengertian, cantik lagi" sebutku, namun ekspresi pak Surya nampak datar.


"Kenapa pak, kurang apa?"


"Nghhmmm,,, gak apa apa" pak Surya cuma nyengir saja bahkan terlihat kikuk. Sepertinya pak Surya memendam rasa pada Bu Rara.


"Bening, saya pamit dulu. Semoga keadaanmu makin membaik. Jaga dirimu. Ini alamat apartemen saya, jika kamu ingin main ketempat saya" pamitnya kikuk setelah tadi ku tanya tentang Bu Rara yang sikap berubah. Seperti ada sesuatu...


"Terima kasih pak" balasku. Pak Surya memberikan sebuah kartu padaku, yaitu alamat apartemen miliknya.


"Sama sama. Assalamu'alaikum,,,," pamitnya. Kini keadaan rumah benar benar sepi setelah kepergian pak Surya.


Aku sendirian dirumah karena tak ad siapa-siapa  karena semua akan pulang sore...


Kini masih jam sepuluh pagi, setelah ku lihat jam dinding,,,


Senyumku mengembang,,,


"Ini saatnya?!" senyumku dingin menyeringai.


"AWAS KALIAN!"


#bersambung....


Mg 26 september 2021


Pov Riko...


----------


Saat gue buka mata, keadaan gue masih terikat kuat dikursi, gue berharap ini hanya sebuah mimpi yang segera berlalu, ternyata ini begitu nyata, gue tak bisa berkata apa apa, apa lagi bisa bebas.


Gue tak mungkin bisa terbebas dari mimpi yang aneh ini. Dunia mimpi yang begitu aneh tapi nyata.


Tubuh gue lemas rasanya lemas tak bertenaga, serta gue  edarkan pandangan keruangan ini. Gue berharap ada yang menolong gue terbebas dari tempat ini.


Namun, harapan gue hanya sia sia saja karena disini tidak ada jalan keluarnya.


Gue melihat sosok sangat samar, perlahan kini sosoknya nampak nyata.


Bening Ria Saputra orang yang sangat gue kenal serta sangat gue benci. Pernah gue bully dan permalukan.


Kini tersenyum sinis kearah gue, senyum yang mampu membuat gue ketakutan setengah mati, mulai mendekat kearah gue.


Gue seperti didatangi oleh malaikat kematian yang ingin mengambil nyawa gue...


Bening begitu menakutkan Dimata gue padahal selama ini gue yang membullynya tapi kini berbalik, gue yang tak punya nyali. Tubuh gue masih toples semenjak gue terikat disini, kala pertama kali gue berada disini.


"M-mau Lo apa?" seru gue dengan terbata karena rasa ketakutan ku luar biasa.


Bening tampak begitu, tanpa ekspresi.


Justru itu yang menyebabkan gue takut setengah mati.


Matanya teduh menatap gue, tatapan yang sangat tajam.


Bening berdiri dihadapan gue tenang. Tak satu kata pun terucap, bahkan senyum pun tak ada, padahal biasa dia tersenyum bersahaja pada siapapun yang ditemuinya termasuk gue yang sering menyakitinya.


"Gue mohon, lepaskan gue Bening! Bebaskan gue dari tempat ini"


"Tidak semudah itu Riko. Kau akan menyakitiku lebih dari ini jika kau ku bebaskan.


Kau telah membuatku menderita Riko, untuk itu orang orang kau sayangi juga harus menderita. Ha ha ha,,,,," balasnya tertawa, namun tetap tenang seakan tidak pernah terjadi apa apa, tapi tawanya penuh misteri.


"Ampuni gue Bening, gue berjanji tidak akan mengusik hidup Lo. Gue janji" sumpah gue dengan terisak karena tak ada hal bisa gue lakukan lagi karena Bening satu satunya orang yang bisa membebaskan gue dari mimpi aneh ini.


Kini gue memilih untuk diam, gue tak boleh nangis.


Bening mendekati gue, sangat dekat bahkan wajahnya begitu dekat, gue mencium aroma bunga namun gue tak tau bunga apa itu, seperti familiar dipenciuman gue. Gue mencoba untuk tersenyum, karena ini gue tersenyum padanya tapi tak ada reaksi darinya padahal semua cewek disekolah jika gue tersenyum maka mereka klepek klepek serta menjerit histeri seperti bertemu artis pujaannya. Tapi, ini seorang Bening, notabenya seorang cowok bukan cewek, seandai cewek mungkin ceritanya akan berbeda.


"Tidak semudah itu Riko. Aku akan membuat keluarga mu miskin semakin miskinnya. Seperti apa yang ku alami" seringainya sadis, didekat wajah gue dengan hembusan nafasnya yang berbau vanilla mint. Entah mengapa hal itu membuat hati gue berdebar. Tatapannya tak pernah lepas menatap gue tanpa ekspresi.


"Gue mohon, lepaskan gue Bening, gue berjanji tidak akan membully Lo, Lo bisa aman disekolah" janji gue karena gue sudah tak bisa berpikir lagi terlebih keadaan gue yang tak berdaya. Gue lihat Bening berpikir, tatapan kini biasa membuat gue tenang, setidaknya dia akan membebaskan gue dari sini secepatnya supaya gue bisa nemuin nyokap sama bokap, gue merindukan mereka.


"Baiklah, aku akan melepaskanmu. Aku sebenarnya kasihan melihat keadaanmu, tapi karena kamu selalu membullyku maka tak ada pilihan buatku. Aku harus mengurungmu disini, he he,,," hal itu membuat gue lega, setidaknya Bening melepaskan ikatan gue tidak diikat dikursi tanpa gue bisa melakukan apa apa.


Ruangan ini begitu kosong, gue juga tidak melihat Raya pacar gue, padahal gue yakin kalau Raya masih terikat dikursi, tapi entah dimana pacar gue itu?


Gue harus melakukan sesuatu hal? Gue punya rencana. Entah mengapa ide gila itu muncul dibenak gue, karena gue tidak punya pilihan lain, dan itu satu satunya yang bisa gue lakukan sekalipun itu menurut gue sangat,,,


Jika tidak gue tidak lepas, paling tidak gue sudah melakukan suatu hal.


Yah, gue harus melakukannya? bisik batinku.


Kini Bening pun mulai melepaskan ikatan gue, sambil gue perhatikan hingga dia seperti menahan nafas karena malu dengan tatapan gue yang tak pernah lepas, sesekali gue tersenyum lembut karena hanya yang dapat gue lakukan.


'Inilah kesempatan gue. Tak kan gue sia siakan kesempatan ini' pikir gue setelah gue terbebas dan berdiri masih dalam keadaan toples, gue lihat Bening agak mundur karena tinggi gue, bahkan menurut gue Bening cuma sedikit pendek.


Tanpa menunggu gue pun memegangnya. Entah mengapa kali ini aku bisa memegangnya, detik selanjutnya....


Cupp,,,!!!???


"Riko,,, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku,,," sentaknya shock luar biasa.


Dalam sekejab gue telah berhasil mencium bibirnya serta mendekapnya erat hingga membuatnya tak bisa melepaskan diri. Hal itu membuatnya gelagapan, kembali gue menciumnya lebih dalam.


Bening berusaha meronta dari ciuman serta pelukan gue. Terus meronta dan gue pun perlahan melepaskannya.


'Yes berhasil!' girang gue dalam hati karena rencana gue berhasil dengan mulus. Aneh? Kenapa gue malah jadi bergairah dengannya, bahkan dedek junior gue tegang. Tidak, tidak  mungkin ini terjadi. Gila,,,! Pikiran gue jadi kacau, tidak waras.


Sosok Bening telah lenyap setelah gue dengar suara jentikan jarinya, entah lenyap kemana sosoknya? Yang pasti sudah tidak ada ditempatnya.


Kini gue hanya sendirian disini, mengililingi ruangan yang tak begitu luas ini.


Entah mengapa kini pikiran gue memikirkan tentang ciuman gue pada Bening hingga tanpa gue sadari gue pun menyentuh bibir gue bekas ciuman dengannya. Gue duduk dikursi tempat gue semula diikat, merenung bahkan gue lupa dengan pacar gue, Raya.


Perasaan gue gelisah tak menentu.


Ciuman dengan Bening begitu membekas padahal Bening seorang cowok bukan cewek, tapi entah mengapa gue begitu menikmatinya.


Gue rasa, otak gue mulai error, padahal itu cuma taktik yang gue rencanakan tapi kini kejadiannya malah berbeda.


Sudahlah, gue tak perlu memikirkan hal itu, terlebih tak ada yang tau hal itu, karena di dunia mimpi, hanya gue, Bening dan Tuhan yang tahu, apa yang telah gue lakukan pada seorang cowok bernama Bening Ria Saputra, kalau gue telah menciumnya.


Gue bergidik,,,,!???


Tersenyum!??


Pov Riko end!


__________


#bersambung...


Sn 27 september 2021



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.