140. Bertemu paranormal.

 Bab 140. Bertemu paranormal.


★★★


Sekalipun simbah kakung sudah muksa tapi beliau masih tetap melindungiku dari marabahaya yang mengancam keselamatan jiwaku seperti halnya ketika aku akan....


Ach...


Kelompok para cewek kelasku yang telah jadi korban kegirangan karena sudah tidak ada ancaman lagi dari Alex karena menurut kabar yang beredar Alex sedang sakit.


Bahkan ada yang cerita kalau sakit yang di alami oleh Alex itu sangatlah aneh.


Dulu, kejadian yang di alami oleh Riko tidak sebesar sekarang bahkan Riko juga disebut sebut di dalamnya, mengalami hal yang sama seperti yang terjadi pada Alex.


Aku hanya menjadi pendengar yang baik dari celotehan para siswa dikelasku. Toh, mereka tidak akan pernah tahu siapa pelaku sesungguh nya dibalik kejadian yang di alami oleh Alex itu aku dan itu atas permintaan Latifah dan kawan kawannya.


Aku juga mengancam Alex kalau tidak mau menghentikan rencananya maka sampai kapanpun tidak akan aku lepaskan dari dunia mimpi.


Sepertinya Alex keras kepala tidak mau mengindahkan perkatakaanku dan itu sebagai gertakan sekaligus ancaman awal.


Latifah sangat senang begitu Sarah, Oktaviani juga yang lainnya mereka akan memberiku hadiah seperti yang mereka janjikan dulu jika mereka benar benar bisa terbebas dari Alex.


Masih ada hal yang perlu ku kerjakan agar mereka benar benar bersih nama mereka yaitu mengenai foto juga video yang masih disimpan oleh Alex buat mengancam korban hingga tidak bisa berkutik. Aku harus menghilangkan bukti tersebut barulah mereka benar benar terbebas dari Alex the geng.


Riko memintaku datang ke kamarnya karena ingin ngobrol dengan ku mengenai berita yang sedang viral disekolah elite Permata bangsa.


"Kenapa kamu lakukan itu pada Alex?" tanya Riko menatap ragu tentu saja senyum coolnya ada.


"Kenapa kamu tabrak Alex?" Aku balik bertanya karena aku tahu alasannya yang tepat.


"Aku tahu dia jadi ancaman buatmu, itu saja. Lalu kenapa kamu lakukan itu pada Alex?" ulas Riko ingin tahu karena menjelaskan kenapa dia juga mencelakai Alex.


Mendesah pelan...


",,, Terima kasih kamu begitu perhatian. Aku membantu supaya tidak banyak korban. Bukankah sudah aku jelaskan tentang hal itu" aku diam sejenak.


Kami duduk dipinggir bad walaupun ada kursi tapi lebih nyaman sambil tiduran ngobrolnya, berasa seperti rumah dan kamar sendiri.


"Semalam apa yang kamu lakukan. Kamu menemui siapa? Atau kamu dendam sama pak Surya? Dan kamu membuatnya celaka atau kamu kurung dia di dunia mimpi seperti halnya Alex?" tuduhan Riko benar adanya apa yang ku lakukan pernyataan Riko semua benar.


Anggukku pelan...


"Benar, aku menemui mas Surya,,,"


"Apa karena waktu itu ketika waktu di bioskop kamu nangis juga semalam nangis nangis juga itu semua penyebabnya pak Surya. Apa yang telah di lakukannya padamu hingga membuatmu menangis sedih?" desak Riko kini menatapku lekat, tak ada senyum yang ada serius.


"Ada suatu hal yang tak bisa ku utarakan, ku harap kamu ngerti. Ini privasiku. Maaf Riko. Tapi, kamu ngerti keadaan ku"


Riko nampak menghela...


"Iya gak apa apa. Apa kamu masih berhubungan dengan pak Surya?"


Ku tatap tajam Riko membuatnya tak enak...


"Kenapa kamu tanya soal itu. Kamu cemburu?"


Lagi lagi Riko mendesah pelan.


Riko terdiam, hanya sekilas melirik...


"Ketika aku jarang ketemu kamu, ketika itu aku nginap di apartemennya. Kejadiannya ketika sesudah kamu nabrak pagi itu. Aku kecewa dengan mas Surya karena diajak oleh bu Laras. Tentu aku sedih hingga membuatku galau serta jalan jalan sekitar kompleks hingga bertemu Alex. Saat aku jalan aku menemui Alex terluka cukup parah. Aku didesak oleh Latifah juga yang lainnya untuk membebaskannya dari ancaman Alex, aku terima saja karena bukan mereka tapi seluruh cewek yang ada di kelasku jadi targetnya Alex" jelasku panjang, hingga hal itu membuat Riko membulatkan matanya tak percaya.


"Bener bener tuh orang ya sadis banget, udah bikin anak orang bolong kehilangan perawannya masih pake ngancem lagi. Kenapa gak mampus aja tuh orang saat ku tabrak biar gak bikin rusuh!" dengus Riko sangat kesal terlebih dengar penjelasanku.


"Terus manusia songong itu kamu apain di dunia. Kamu siksa, kayak diikat aku dulu jadi gak bisa kemana mana?" lanjutnya seperti membayangkan kejadian yang dulu pernah di alami. Itu hal yang membuatnya ketakutan setengah mati dan nyawanya hampir melayang. Riko bergidik membayangkan hal itu, aku hanya bisa tersenyum simpul membuatnya.


"Sekarang kamu mau lagi" pancingku. Tentu saja Riko langsung geleng kepala dengan mimik ketakutan, muka pucat tak berdarah.


"Ha ha ha,,, bercanda kali, aku riko,,, segitunya amat" ejekku dengan tertawa lepas.


"Sekejam kejamnya aku, lebih kejam kamu, ternyata"


"Siapa dulu yang bikin ulah. Aku kan cuma balas apa yang kamu lakukan juga pacarmu Raya, upsss,,," kayaknya aku salah sebut.


"Kenapa, salah? Bukankah Raya statusnya masih pacarmu bukan"


"Sudahlah, kenapa kamu suka sekali bahas dia!" Riko nampak bersungut tidak senang mendengar nama Raya ku sebut sebut.


Riko juga sampai lupa keadaan saat bertemu Raya memilih untuk mengejarnya, mengabaikan aku hal itu kadang membuat kekecewaan tersendiri dihatiku.


"Dasar aneh, dia kan pacarmu"


"Sudah, aku tidak mau membahasnya lagi" bentaknya tapi wajahnya nampak sedih.


Ada apa dengan Riko, kok malah sedih gitu. Bukannya dulu dia sangat mencintai Raya, atau mungkin perasaannya sekarang sudah berubah. Tapi mengapa?


"Bening, tolong kamu jangan sebut sebut lagi" wajahnya sendu dengan menatapku.


"Baiklah. Tapi, kenapa Riko?"


"Hiks, hiks, hiks,,,, aku mohon padamu Bening,,,," Riko sampai menghiba padaku bahkan sampai menangis.


Kemudian memelukku. Mendekapku erat dengan derai air mata hingga membasahi pundak ku.


Ku balas pelukannya...


Hingga keadaannya tenang, bahkan tidak menangis lagi. Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi seperti ini?


Jika aku menimbulkan masalah lebih baik aku pergi kedunia mimpi tinggal bersama simbah kakung disana biar tidak ada masalah dari pada disini yang selalu timbul masalah.


Tiada kata lagi setelah, kami larut dalam pikiran kami masing masing...


Butuh waktu lama hingga sampai Riko tenang kembali serta melepaskanku...


"Riko aku pamit ke paviliun dulu" aku merasa tak enak karena telah menyinggungnya hingga ku putuskan buat pergi. Riko begitu sensitif mendengar nama Raya ku sebut sebut, aku tidak tahu jika Riko sampai begitu sensitifnya.


Pasti akan ku tanyakan nanti tentang hubungannya dengan Raya. Sepertinya kali ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya.


"Bening kamu jangan pergi, temani aku disini. Aku hanya ingin bersama kamu" Riko seperti takut kehilanganku. Tadi pun aku saat ku pancing Riko tidak mau berdebat lagi denganku.


---------


Tak terasa malam pun menjelang, bahkan aku tidak beranjak dari tempatku, Riko terus memelukku tidak mau melepaskanku, hingga membuatku kebingungan dengan sikapnya over protektif.


Tentu saja aku bimbang juga tidak bisa tidur menghandapi kenyataan yang ada saat ini. Haruskah aku senang bahkan Riko itu berlebihan sikapnya. Hal itu menimbulkan rasa takut tersendiri. Aku harus menghadapinya.


---------


Tak terasa subuh datang,nku kerjabkan mataku...


Ini hari ketiga aku telah mengurung Alex di dunia mimpi.


Aku tidak tahu bagaimana perkembangannya nanti saat disekolah, apakah pihak sekolah terutama kelasku akan mengejuk Alex, ketika pertama sakit kini sakit lanjutan yang tentu bikin orang akan merasa heran.


---------


Kini semua murid kelas dua belas  berkunjung kerumah Alex, tentu kali ini semuanya tanpa terkecuali pada ikut menjenguk keadaan Alex itu seperti apa. Ingin membuktikan kalau Alex tidak akan pernah mengganggu lagi.


Mereka juga memberi aplop kuning padaku karena janji mereka sendiri padahal Alex tidak masuk selama tiga hari. Itu membuktikan ucapanku tempo hari benar adanya. Bukan suatu kebetulan karena keadaan Alex itu tidak biasa. Terjadi pun seakan tanpa sengaja. Mereka bersyukur karena tidak ada gangguan lagi dari Alex the geng, sedangkan gengnya tidak akan berani bertindak jika tidak ada pimpinannya yaitu Alex.


Semua masuk ke rumah Alex yang besar dan mewah tidak kalah mewah dan besarnya dengan rumah milik keluarga Sanjaya.


Saat memasuki ruang tengah kami disungguhi oleh aroma yang tak biasa.


Aku masih bersikap biasa tapi tidak dengan yang lainnya yang langsung pada komen.


"Ihhh,,, bau apa ini, kayak,,, bau mistis gini?" Celutuk seorang cewek.


"Iya ya,,, horor nih!?" omel yang lainnya lirih tidak berani keras keras takut nyingung tuan rumah.


"Sebenarnya sakit apaan sih si Alex tuh?"


"Iya yah, kok sakitnya bertubi tubi"


"Kena karma kali!" tandas Latifah menghadapi gerundelan dari temen cewek sekelasnya.


"Sok kegantengan sih!"


"Ganjen dia-nya"


"Syukurin kena azab!"


Masih banyak hujatan yang dilotarkan para cewek cewek sekelas ku pada hal belum bertemu Alex tapi persepsinya sudah macam macam. Dasar para cewek urakan.


"Eh kalian teman temannya Alex putra saya, silahkan silahkan,,," ibunya Alex mempersilahkan untuk duduk. Tentu saja kursinya masih kurang terlebih menampung murid puluhan dari kelasku tentu sampai ada yang jelepok dibawah juga ada yang masih berdiri.


"Maaf ya adik adik semua juga pak guru sebagai wali kelasnya, maklum papa Alex masih ngatar paranormal buat keliling kamar juga rumah ini. Jadi agak lama,,,! Silahkan bergantian lihat keadaan Alex masih koman, didalam ada dokter Carmila, dokter Miko dan juga dokter Renaldi serta dokter Rendy yang mengurusnya di klinik. Karena dokter Renaldi itu dokter pribadi keluarga Alex.


Orang kaya pasti punya dokter pribadi masing-masing jadi enak bila sakit tinggal telpon dan panggil.


Tidak perlu repot-repot tidak seperti di kampung sangat susah untuk mencari seorang dokter terlebih buat dokter pribadi tentu bayarannya sangat mahal sekali.


"Huahhhh,,, hheemmm,,,? Aku seperti mencium hawa hawa yang mengancam. Berhati hatilah kalian, sangat berbahaya, sangat berbahaya!" Tiba tiba kami dikejutkan dengan suara orang yang menggema aneh.


"Nah, itu orang yang saya maksud, lagi bersama papa, he he,,," Ibu Shalli tersenyum sumringah.


"Hih, itu para normalnya?"


"Kayak di film horor ya?"


"Jaman canggih masih percaya tahayul"


"Iya, percaya hal mistis"


"Aneh aneh saja"


Celutuk yang lainnya...


Sang paranormal sekilas menatapku tajam seolah ingin mengetahui isi pikiran dan hatiku.


Begitu pun merasakan hal yang sama ditatap tajam serta penuh selidik, ada yang sampai digidik ngeri, ada bersikap biasa seolah tidak masalah, ada yang pura pura cuek.


Aku hanya tersenyum ramah, tapi karena tatapan hanya sekilas jadi aku juga tidak begitu peduli. Seandainya jika dia paranormal yang mumpuni aku harus berhati hati. Selama dia tidak membahaya jiwaku aku masih bisa toleransi, jika tidak aku juga bisa bertindak lebih.


Atau hanya pandanganku saja, jika paranormal itu berbisik ke papanya Alex, nampak manggut manggut, senyumnya yang tadi nampak seketika hilang, setelah itu pak Reymond menatapku tajam sekilas, seperti menelisikku.  Lalu berbisik kearah paranormal.


Kemudian keduanya berlalu entah kemana?mungkin kekamarnya Alex.


"Maaf ya ada jeda sebentar,  kalian boleh bergantian menjenguknya. Berlima biar kalian bisa melihat keadaan putra saya" jelas bu Shella yang tadinya sumringah dengan senyuman kini mendadak sendu penuh kesedihan.


"Saya tinggal sebentar ya,,,"


"Pak Lucky tolong anak anaknya di handle ya, pak" titah bu Shella kemudian karena sedari tadi pak Lucky sebagai wali kelasku cuma mengawasi kami murid murid.


Tentu saja aku bersikap biasa biar tidak dicurigai, tetapi tadi paranormal serta pak Reymond menatapku penuh selidik seperti pak Lucky mengetahui hal itu lalu mendekat kearahku dan bertanya yang membuatku kaget.


"Bening, tadi pak Reymond juga paranormal nya seperti memperhatikan kamu. Seperti ada hal yang jadi perhatian paranormal itu sama kamu?" ucap pak Lucky penuh selidik kearahku.


Ku balas hanya dengan sikap biasa seolah aku tidak tahu menahu nahu yang yang terjadi.


"Masa pak, sedari tadi saya cuma biasa kok, memangnya ada yang aneh ya pak sama saya?" Kilahku tak ingin pak Lucky menaruh prasangka yang tidak tidak terhadapku terlebih pandangan yang lainnya.


Latifah mendekatiku ingin tahu, rasa keponya pasti tinggi karena aku seperti jadi pusat perhatian, hal itu membuatku tidak nyaman..


"Bening, pak Lucky tanya apa sama kamu?"


"Gak kok Tif, cuma beliau tanya sedikit mengenai pandangan paranormal juga pak Reymond sepertinya gak enak gitu ke aku" balasku sejenak ku tatap Latifah yang ikut memperhatikanku penuh tanya.


"Iya juga sih, aku juga ngerasa aneh gitu, soalnya aku rasakan kejadian yang di alami Alex itu seperti terencana gitu. Yah, aku gak nuduh kamu sih, tapi kok hampir bersamaan gitu, Bening" pungkasnya sambil memegang dagunya dengan manggut-manggut.


"Kamu kan tahu sendiri aku kek gimana Tif, di sekolah kemana mana selalu kamu intilin, dirumah sama Riko juga ngintilin aku bahkan Riko tidurnya minta ditemani sama aku" terangku tanpa tahu efek dari ucapanku bisa jadi bumerang bagiku disuatu saat nanti.


Mata Latifah membulat tak percaya juga yang lainnya yang ada didekatnya para cewek yang suka nguping juga gibah kelas wahid hingga membuatku seperti maling yang kepergok.


"Jadi kamu tidur sekamar dengan Riko? Itu dikamarnya atau di paviliunnya yang kamu tinggali sekarang" apa yang ku pikirkan seperti terjadi. Latifah nampak begitu antusiasnya ingin mengulik kehidupan ku.


"Tanya sendiri ama orangnya jika berani. Lagian ngapain kamu ingin tahu"


"Secara Bening, Riko itu sudah punya Raya sebagai pacarnya, dan kini hubungannya itu lagi retak"


"Dari mana kamu tahu"


"Ada-lah. Raya cerita sendiri ke kita, buka ke aku. Dia bilang hubungan dia retak ada pihak ke tiga gitu, istilah kerennya sekarang itu PELAKOR, PE-rebut LAK-i OR-ang, gitulah. Bahkan Raya meminta aku juga yang lain buat nyelidiki Riko siapa orangnya, gitu" Latifah nampak angguk angguk menatapku penuh selidik.


Sedangkan yang lainnya bergantian melihat keadaan Alex, sedangkan yang sudah pun ada yang keluar rumah menikmati suasana luar walaupun didalam rasanya sejuk karena ada ac-nya.


"Kenapa lihat aku seperti itu, kamu curiga sama aku, gitu"


"Gak sih, tapi kamu tahu Riko berubah karena siapa?"


"Ingin jelas tanya aja ke orangnya, lha wong orangnya gak pernah cerita ke aku kok" kilahku selalu di sudutkan.


"Tif, tadi didalam paranormal nya itu kayak nyelidikin gitu deh, natap tajam terus tangan nya itu di depan ku gerak gerak gitu. Gini,,," bisik Sarah juga yang lainnya merasa heran.


"Betul, bahkan si paranormal bilang, bukan, bukan, bukan dia, gitu. Sama seluruh yang masuk dia selidiki, tinggal kalian berdua yang belum digituin. Ihhh,,, aku ngeri lho tadi" ungkap Okta seperti ngeri.


Diwajah yang lainnya juga merasa agak takut gitu.


Latifah menatapku parno tapi aku tersenyum biasa seolah itu bukan hal perlu ditakuti.


"Udah masuk kalian!" Sentak Sarah dan Okta juga yang lainnya.


Pak Lucky juga tidak kelihatan sepertinya masih di dalam.


"Gimana keadaan Alex Sar, Okta,,,?" tanya Latifah ingin tahu karena tadi keasikan ngobrol.


"Lihat aja sendiri. Aku sih prihatin lihatnya, mana lukanya belum pulih benar keadaannya,,," Sarah tidak melanjutkan.


"Keadaannya gimana Sar?" desak Latifah penasaran, aku sudah tahu kondisinya kek apa. Hatiku hanya tersenyum tanpa bisa ku perlihatkan ke yang lain, tidak   mungkinlah.


"Lihat aja nanti" Sarah tetap ngotot tidak mau ngejelasin.


Aku diam saja dengarnya...


"Kayak orang mati, tapi hidup, seperti koma. Tapi aneh gitu" Okta memberitahu juga, aku menahan nafas sejenak.


"Bukannya bagus, itu yang kalian minta" mereka kini menatapku penuh selidik. Tapi, penuh tanda tanya, hanya ku biarkan pernyataan mengisi otak mereka.


Mereka serentak manggut manggut kayak orang begok.


Latifah menarikku ketika mereka larut dalam suasan tegang juga pikiran masing masing...


Hatiku berdebar aneh, aku berpikir tentang paranormal yang mereka katakan, tapi aku tidak ada tanda-tanda dalam bahaya jadi aku pikir aku aman.


Saat memasuki kamar Alex suasana memang agak berbeda.


Latifah berbisik ke arahku...


"Bening, aku takut,,,?"


#bersambung...


Kamis 08 September 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.