143. Yang terjadi?.
Bab 143. Yang terjadi?
★★★
"Berbahaya!" sungutku, merutuk yang terjadi, ketika kembali kedunia nyata.
Senyum tulus terulas dibibir Riko hingga membuatku damai.
Entah mengapa aku menaruh kepercayaan pada Riko, bisa saja Riko mencelakaiku, balas dendam setelah apa yang dulu pernah ku lakukan. Hatinya aku tidak pernah tahu mengingat dulu Riko begitu membenciku hingga membuatku hampir celaka dikurung di dalam gudang, disiksa serta di kencingi hingga aku balas perbuatannya.
Tapi kini sikap Riko berubah, selain perhatian dia juga nampak mesra, pandangannya berbeda serta sikapnya lebih dewasa.
"Bagaimana,,,? Ada masalah gak? Kamu seperti ada masalah, ku rasa" perhatian Riko terlalu berlebihan membuatku takut sendiri.
Ku mendesah pelan...
Haruskah aku jujur dengan yang terjadi bahwa keadaan tidak baik baik saja.
"Bening, kenapa diam? Jangan bikin aku khawatir. Kenapa tidak kamu buku penutup wajahmu"
Ku gelengkan kepala, pasti Riko tahu yang ku ingin. Tapi hal itu membuatnya penasaran serta ingin tahu keadaanku.
"Kamu jangan main main, becanda kamu gak lucu" kelihatan sekali Riko begitu khawatir, berkali kali memintanya untuk ku buka topeng yang ku kenakan.
He he hee....
Aku tertawa lirih, mencairkan suasana tegang biar lebih santai. Namun, h itu tidak membuat Riko tenang, masih terlihat khawatir nya.
Bahkan saat meraih penutup wajahku tak bisa ku cegah. Pasti Riko akan tahu wajah bakal seperti apa?
Hatiku sudah tidak karuan saat perlahan Riko mulai membukannya.
Danm!
"Ya Tuhan? Bening, wajahmu kenapa bisa jadi seperti?" desak nya dengan nada penuh kekhawatiran yang berlebihan, aku merasa tak apa apa, tapi tidak dengan Riko.
"Hessshhh, awww, tidak apa apa, ini cuma lecet kecil" pungkasku beralasan supaya Riko tidak berlebihan menilainya. "Nanti juga bakal sembuh sendiri" imbuhku.
"Ini bukan main main. Kamu harus diobati segera, ini berbahaya" Riko terlihat sangat mengkhawatirkan keadaanku.
Walaupun rasanya perih...
Sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Dokter Miko, harap secepatanya dapat kerumah" tegas Riko dengan tatapan kearahku penuh kekhawatiran.
"Oke saya tunggu!, Ya,,,!" tegasnya cool, berwibawa.
Tentu saja saat ini aku berada dikamar Riko sedang duduk badnya.
-------------
Setelah beberapa saat kemudian dokter Miko telah sampai dengan cepat.
Mengucap salam masuk...
Mukanya masih terlihat pucat. Menatap bergantian, terutama kearahku, dengan tatapan penuh keheranan.
"Mukamu kenapa Bening, kok melepuh gitu?" ucap dokter Miko, aku tidak tahu keadaan wajahku seperti apa karena rasanya agak panas, juga ada rasa perihnya.
Dokter Miko mendekat, memperhatikanku dengan seksama. Penutup mukaku tergeletak agak jauh, tadi yang melepas Riko.
Dokter Miko tidak memperhatikan hal tersebut, fokus pada lukaku.
"Aneh?" Gumamnya, tapi masih bisa ku dengar.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya dokter Miko penasaran.
Tak ada ucapan baik dariku maupun Riko memilih bungkam. Riko pun tak berani menjelaskan, kalau aku masih berpikir...
"Kenapa malah diam? Ini kronologinya gimana?" pinta dokter Miko.
Seandainya di jelaskan malah akan menimbulkan tanda tanya juga timbul masalah lagi.
Mata dokter Miko melirik kesamping melihat benda yang tergeletak lalu memungutnya.
Hatiku berdebar saat dokter miko menelitiknya dengan seksama.
"Mmmm,,, sepertinya benda ini tidak asing bagiku. Aku seperti pernah melihatnya. Hmm,,, dimana?" dokter Miko berusaha mengingat ingatnya, lalu menatap satu persatu penuh tanya.
"Itu punya ku dok, tadi ku buat untuk ngeprank Bening. Terus Bening coba pake, tapi saat ku lepas, wajahnya seperti itu. Padahal tadi saat ku pakai tidak terjadi apa apa dokter. Apa mungkin infeksi ya dok?"
Pintar sekali aneh memberi alasan hingga dokter dibuat percaya serta manggut meneliti kearahku.
"Atau gini aja, ini untuk menghilangkan rasa nyeri, terus di kasih saleb supaya cepat kering" usul dokter Miko memberi obat yang ada dalam tasnya, komplit sambil tersenyum ramah. Kini keadaan ama karena dokter Miko tidak lagi curiga karena tadi Riko yang telah bicara dan itu cuma kebohongan.
"Semoga lekas sembuh. Jaga kesehatan ya Bening" pungkas dokter Miko, setelah di rasa cukup, dokter Miko pamit.
Paling tidak, semua telah beres...
-----------
"Terima kasih ya Riko, selama ini kamu membantuku"
Aku keluar dari mobilnya Riko saat ini bawa mobil sendiri. Telah berada diparkiran.
Riko hanya melambai, tersenyum cool. Dengan tatapan teduh. Sangat pengertian...
"Assalamualaikum, aku pergi dulu..." Pamitku, meninggalkannya, termangu.
Namun yang bikin aku terkejut, saat sudut mataku melihat sosok yang ku kenali mendekat, bukan kearahku melainkan nyamperin Riko dengan mimik sumringah, terlihat cantik.
Buru buru aku pergi dari tempat tersebut. Menenangkan debaran hatiku yang bergejolak.
Ada apa dengan hatiku?
Ku abaikan perasaan serta pikiranku tentang gadis yang mendekatinya.
Akankah nanti ku tanyakan? Ada apa? Maunya apa?
Keingan itu ku simpan?
Tak terasa aku telah memasuki kelas, tentu saja semua heran dengan luka yang ada di wajahku.
Tadi, ini tidak begitu kerasa saat melihat gadis yang mendekat kearah Riko. Terbayang begitu jelas dipikiranku. Senyum gadis itu, caranya berjalan menghampiri sampai gestur. Buru buru ku enyahkan bayangan itu. Mungkin aku di kuasai rasa cemburu.
"Hai Bening, wajah kamu kenapa?" tanya Latifah dengan wajah penuh tanya. Pasti semuanya juga heran serta diliputi tanda tanya.
"Gini, semalam itu aku mimpi pake topeng, topengnya itu aku lepas. Nah, saat ku lepas aku ngerasa kayak gak enak di wajahku. Terus ku raba perih gitu, terus aku lihat di kaca seperti melepuh gitu. Sama ibuku di kasih salep, sekarang agak mendingan" ucapku, tak berani jujur apa yang ku alami sebenarnya, terlebih yang ngobati Riko, aku tak ingin nantinya mereka curiga.
"Kasihan wajahmu, Bening" sahut Sarah empati.
"Iya lho, aku juga bisa bayangi kalau terjadi padaku?" Okta seperti bergidik ngeri jika itu yang dia alami.
"Kok bisa ya dalam mimpi kejadian kayak gitu"
"Bisa saja, aku juga kayak ngalami gitu, tapi beda. Aku tuh kayak mimpi digigit semut dimata, pas bangun bintitan"
"Alah, palingan kamu ngitip cowok makanya bintitan"
"Benaran, aku gak bohong"
"Aku juga ngalami kok, tapi ditangan, kayak digigit gitu, pas bangun kayak perih, panas gitu, melepuh kayak ada airnya"
Itulah celoteh mereka, para cewek pasti urusannya berkepanjangannya, padahal cuma sakit serta mimpi. Gibah mereka gak abis abis kayak rel kereta api, gak ada ujungnya.
Ku hela nafas,,,
"Bening, terima kasih karena telah menolongku, bukan kami" kata Latifah setelah gibah mengenai sakit dan mimpi berkurang.
Tentu mereka akan gencar gibahin Alex yang ngalami sakit aneh. Keadaannya seperti mayat hidup, tentu mereka akan cari logika buat nelaah yang terjadi sama Alex. Dasar cewek cewek RUMPI, tukang GIBAH. Giliran tidak ada orangnya, ngomonginya sembarangan, giliran ada orangnya nangis nangis ketakutan.
Tentu saja aku diam saja, belum ku respon. Aku paling males jika bahas tentang Alex terlebih keadaannya.
Tapi Latifah dan kawan kawannya pasti cari tahu.
",,, Lha kamu tahu sendiri kan keadaannya gimana, Tif?" balasku biasa.
"Iya sih, aku lihat sendiri keadaannya, Tapi kok ki Ageng, sering lihat ke kamu kayak curiga gitu Bening. Secara, kamu kan biasa aja, tapi ki Ageng itu,,," Latifah sudah mengkaitkannya, tapi aku memilih diam.
"Iya, sakit yang aneh?" imbuh Sarah.
"Iya, ya,,, katanya Alex itu dikurung di dunia mimpi? Emangnya ada selain dunia nyata ini. Kok ada dunia mimpi. Berarti dunia gaib ada dong" ucap Oktavia berspekulasi sambil bergidik ngeri.
"Sudah, sudah buat apa ngurusi soal Alex, terpenting buat kita gak ada gangguan lagi dari Alex, amankan" pungkas Latifah yang memang jadi targetnya Alex, tapi dia keburu koma.
Masih banyak yang mereka bicarakan, bahkan kelas sudah banyak muridnya.
Aku duduk santai dikursiku dengan nyaman, biar mereka pada gibah, senang senang dunia hayal mereka.
"Bening...?"
Panggil seseorang padaku.
Suasana kelas mendadak hening, setelah ada panggilan kembali.
"Bening....?"
#bersambung....
----------
Ikuti kisah selanjutnya...?
Senin 12 September 2022.
Komentar
Posting Komentar