144. TERBENTUR.

 Bab 144. TERBENTUR.


★★★


Setengah berlari aku menuju kedepan kelas, mendengar teriak orang kemanggilku, sekalipun aku belum melihat rupannya, tapi dari suaranya aku paham betul siapa orangnya, yaitu Riko.


Tentu saja para siswa yang didalam bertanya ranya siapa yang memanggilku, kalau yang diluar tentu juga tahu walaupun tidak begitu mengenalnya, tapi Riko sosok yang terkenal disebagian para siswa di sekolah Permata bangsa.


Tanpa sadar ku seret Riko menjauhi kelasku karena aku tak ingin yang lainnya berprasangka tidak baik sama Riko maupun aku karena kelakuan Riko bisa berbahaya.


"Kenapa kamu menemuiku, Riko?" sungutku kesal karena dia tahu bagaimana perasaanku saat ini. Terlebih lagi kini sudah banyak yang tahu, jika Riko menemuiku.


"Aku takut kamu marah, tidak mau bicara lagi padaku. Aku takut hal itu terjadi lagi. Kamu salah paham lagi sama aku, Bening" suara terdengar bergetar menahannya. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Padahal aku bersikap biasa, walaupun tadi memang dipikiranku ingin ku tanyakan nanti tapi sedikit melupakannya. Tapi, setelah Riko menemuiku kini pikiranku malah tidak enak lagi tentangnya.


"Apa yang perlu kamu jelaskan-?"


Tet, tet, tet,,,,


Bel tanda masuk terdengar serta ada pemberitahuan. Aku belum menyelesaikan perkataanku. Tentu saja aku agak panik, tapi tidak dengan Riko yang terlihat santai bahwa tanda masuk itu tidak berarti.


Perasaanku tambah gelisah, karena Riko tidak beranjak pada tempatnya.


"Kenapa masih berdiri disitu, aku masuk dulu,,," aku berlalu meninggalkannya.


Ku toleh, karena kasihan...


"Temui aku di pinggir lapangan sebelah utara saat istirahat" aku pun bergegas.


Pikiranku campur aduk...


Wali kelasku yang saat ini sudah masuk, hingga aku dapat teguran, saat memasuki kelas dan mengucapkan salam.


"Dari kamu,,,?" tanya pak Lucky sinis. Beliau tidak suka dengan ku begitu kentara sekali.


"Maaf pak, tadi menemui Riko sebentar, hal penting" balasku dengan wajah menunduk hormat karena beliau guru sekaligus wali kelasku.


"Kamu kira belajar gak penting. Push up 10 kali!" Perintahnya dengan membulatkan matanya.


"Baik pak" aku pun melakukannya.


"Tangan mengepal!" serunya nyari membuat yang lainnya hanya diam.


Ku lakukan apa yang diperintahkan. Bagiku push up sepuluh kali hal yang mudah bagiku. Hingga aku selesai melakukannya dalam waktu singkat.


"Kenapa wajahmu?" tanya pak Lucky, baru menyadari, tadinya diselimuti amarah.


"Sakit pak" jelasku masih dengan menundukkan kepala, tatapan pak Lucky tajam.


"Saya tanya kenapa?" bentaknya lagi. "Sudah miskin, sombong" gerundelnya. Sebagian siswa ada yang tertawa lirih. Kalau yang sudah tahu tentu prihatin.


Aku masih saja ditahan, diinterograsi oleh pak Lucky padahal sudah ku lakukan apa yang diperintahkan.


"Kenapa diam?" Serunya lagi dengan melotot, aku lirik dari sudut mataku.


"Maaf pak" lirihku tak ingin menjelaskan.


"Apa kamu berdiri disini saja sampai jam pelajaran berakhir" ancam pak Lucky kelihatan tidak sukanya. Entah apa yang menyebabkannya tidak menyukaiku. Terlebih mengatakan aku sombong serta membiarkanku berdiri didepan. Dipermalukannya didepan kelasku. Ya Alloh!


Cobaan apa lagi ini,,,


"Untuk kalian, kerjakan halaman 50, pilihan ganda" perintahnya, duduk santai dikursi mengawasi para siswa yang mulai membuka lks untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan.


"Kok ada ya guru ngehina muridnya miskin"


"Bening kan gak sombong, dikatain sombong"


"Kasihan kan Bening dihukum, seharusnya kan Riko yang hukum"


"Mana dia sakit"


"Gak punya hati"


Itu bisik bisik siswa dikelas, aku samar mendengarnya tentu hal itu tidak luput dari pendengaran pak Lucky.


"Hmmm,,, sudah selesai kalian!" tandasnya dengan mata melotot kearah siswa.


Aku hanya bisa nunduk pasrah, hari ini aku tidak mengikuti ulangan harian.


Sedih rasanya, nilaiku pasti jelek, aku pasti kena marah ibuku.


Ini semua gara gara Riko, lihat aja nanti kau Riko kamu harus terima balasanku.


Tidak, aku tidak boleh membalasnya, biar semua ini aku jalani sebagai konsekuensinya. Karena aku salah melanggar peraturan.


Kini suasana jadi hening, satu jam, dua jam...


"Silahkan duduk, kerjakan,,, cepat!" perintah nya.


Tadinya hatiku begitu sedihnya, aku kira tidak bisa ngikuti ulangan harian. Tapi Alloh memberi jalan hingga aku bisa ulangan.


Alhamdulillah!


Waktuku tidak banyak hanya seperempat menit, waktu yang tersisa dan pelajaran pak Lucky berakhir. Aku harus mempergunakan waktu yang singkat sebaik baiknya.


Tak ada satu siswapun yang ngumpul tugas, mungkin merasa simpatik padaku yang kena hukum.


"Yang sudah selesai kumpul" titah pak Lucky, tak satupun yang respon bahkan hanya tertunduk sibuk karena memang pelajarannya agak sulit.


Aku perkirakan usai jam terakhir pelajaran pak Lucky aku bisa menyelesaikannya tepat waktu sekalipun hanya seperempat menit.


"Hayo kumpulkan!" Seru pak Lucky karena sedari tadi tidak ada yang meresponnya.


Tinggal satu menit dari pelajaran pak Lucky usai aku maju kedepan, dari siswa yang lainnya belum selesai juga, bahkan ada yang memasang wajah bingung.


"Kok,,, kamu selesai dulu. Pasti banyak yang salah" tuduhnya meremehkan. Padahal aku mengerjakan nya dengan maksimal.


"Alhamdulillah, pak" anggukku percaya diri sekalipun terbersit kesedihan sekaligus menelan kekecewaan tapi aku mengerjakan tugas tepat waktu.


Aku kembali ke tempatku.


Hingga keadaan kelas agak berisik...


Ada seseorang yang yang berbisik memberi kode.


"Hest, hesss Bening, aku belum selesai nomer ini, ini,,," Latifah berbisik, aku menatapnya lalu ku beri kode dengan tangan nomer nomer yang disebut tadi yang belum selesai.


Kini, aku menunggu pelajaran selanjutnya hingga pelajaran usai dan istirahat...


--------


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Riko heran dengan sikapku.


Aku menepati janjiku untuk menemuinya dipinggir lapangan yang disini memang jarang ada orangnya, sepi.


"Tadi aku dihukum oleh pak Lucky karena telat, aku harus push up juga berdiri hingga hampir jam pelajaran usai. Aku hampir saja tidak mengikutu ulangan harian" jelasku dengan nafas tertahan. Sumpah! Rasanya mataku perih, ingin tumpah rasanya air mataku karena saat ku sampaikan dari awal aku sudah menahan perasaan serta kesedihan yang mendalam.


Tentu saja hal itu dilihat oleh Riko.


Sebenarnya aku ingin marah, tadinya tapi buat apa, toh semua sudah ku jalani konsekuensinya.


"Maafkan aku, Bening-" sesalnya, prihatin terlebih air mataku tak bisa ku bendung lagi.


"Buat apa? Kamu kira maaf bisa mengembalikan keadaan. Tidak Riko! Sudahlah. Aku tahu semua hanya membenci keadaanku karena aku miskin. Aku memang bukan golongan dari kalian orang tajir. Aku kira masalahku akan klir setelah denganmu. Tapi apa kenyataannya, masalah ku datang bertubi tubi. Entah mengapa aku selalu dirundung masalah jika berhubungan denganmu. Setelah lulus ini, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Sekalipun nanti aku ingin lanjut kuliah, aku ingin bertemu orang orang yang setara denganku" cucuran mataku kian beranak sungai. Apa yang ku rasakan sebagai unek unekku selama ini aku keluarkan.


Riko menatapku prihatin, kesedihan terlihat dari pancaran matanya, ikut sedih.


Mendekat, lalu memelukku hangat,,,


Aku ingin menolaknya, tapi entah mengapa rasa nyaman ku rasakan hingga ku rasakan sentuhan lembut dikepalaku.


"Bening, kamu jangan bicara seperti itu. Ku akui salah. Aku mohon tarik ucapanmu. Ak- aku,,," bisiknya tidak meneruskan perkataannya.


Pelukannya kian erat, seakan tak mau lepas. Bisa ku rasakan detak jantungnya, debaran hatinya yang terenyuh. Bisa ku rasakan semuanya. Aroma tubuhnya serta sentuhannya yang membuatku tenang.


"Riko,,," ku dorong tubuhnya pelan, aku tak ingin larut dalam perasaan. Aku tahu kini mulai perhatian padaku. Malah dalam hatiku merasa takut sendiri.


"Iya ada apa Bening?" Suaranya sedikit bergetar.


"Aku mohon, jahui aku. Ini demi kebaikanku. Aku tak ingin kena masalah. Juga ini demi, untuk..." Aku tak bisa meneruskan ucapanku. Aku teringat dengan Raya yang tadi menemui Riko, pasti membicarakan hal yang penting.


"Aku memang ingin bicara padamu. Ini juga mengenai Raya yang selalu datang mememuiku. Dengar, aku sudah tidak nyaman bersama Raya, Bening"


"Kenapa Riko?" Potongku serta dengan tatapan tajam. Air mataku sudah berkurang.


"Apa karena aku? Sampai kamu berpaling dari Raya. Kalau seperti itu lebih baik aku pergi dari hidupmu supaya kau tidak bertemu aku lagi untuk selama lamanya" seruku sudah tidak tahan dengar alasannya.


"Bening, aku- aku,,, tidak mungkin bisa membohongi perasaanku. Aku tidak bisa dengan Raya lagi. Ku harap kamu ngerti"


"Buat apa aku harus ngerti perasaanmu Riko, sedangkan kamu ngorbanin perasaan orang yang benar benar mencintaimu"


"Ahh,,, sudahlah, aku capek ngomong sama kamu. Apa kamu mengharapkan pak Surya  yang telah menghancurkan perasaanmu!" tuduhnya hingga aku tidak mengerti dengan ungkapan Riko membahas tentang mas Surya.


"Aku sudah melupakannya. Aku saat ini ingin fokus belajar serta melupakannya semua masalah yang terjadi" pungkas ku tak ingin berseteru atau pun debat lagi dengan Riko.


"Riko, kamu disini. Aku mencari mu kemana mana, ternyata kamu disini bersama Bening" ungkap seseorang yang baru datang.


Deg,,,!?


#bersambung....


----------


Bagaimana kisah selanjutnya,,,?


Senin 12 September 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.