145. TAHAN NAFAS.

 Bab 145. TAHAN NAFAS.


★★★


"Bu, apa salahku hingga semua masalah menderaku? Apakah salah perasaan yang ku miliki ini? Letak kesalahan ada dimana, bu? Hiks, hiks, hiks,,,," aku tak bisa membendung perasaanku yang ku tahan saat di sekolah hingga sampai aku pulang bersama Riko.


"Gak ada yang salah nak, Alloh itu melihat kemampuan orang tersebut" jelas ibu menenangkanku.


"Alloh memberi cobaan sebatas kemampuan makhluknya, tidak pernah melebihi apa yang dirasakannya"


"Cobaan yang ku terima itu cukup berat, bu" balasku masih menangis.


"Sayang, jangan bilang seperti itu. Bersyukurlah pada Alloh, nak, semua pasti akan ada hikmahnya"


Kini aku hanya bisa terdiam menelaah setiap ucapan ibu yang penuh makna.


"Ibu,,," luruh sudah air mataku. Sudah banyak derita ku rasakan, banyak sudah air mata yang ku tumpahkan, karena duka yang ku rasakan. Rasanya, kebahagiaan yang ku rasakan hanya secuil dari penderitaan.


"Tadi den Riko pesan, kamu disuruh menemuinya dikamar, katanya ada hal penting yang mau dibahas" ingat ibu, mendapat pesan dari Riko karena dari pulang sekolah aku bersama Riko. Ayahku tidak tahu karena sedang istirahat karena sif malam. Aku tidak tahu tidur dimana beliau, di poss jaga atau dikamar.


"Iya bu, nanti malam ku temui..." balasku tidak semangat, karena nanti pasti akan membahasa tentang Raya dan ujung ujung nya minta maaf.


--------


Malam jumat kliwon!


Aku sampai lupa jika malam ini malam yang keramat.


Suasana juga nampak terasa lain dari biasanya.


Perasaanku mendadak tidak enak. Entah apa yang akan terjadi malam ini.


Aku teringat dengan Ki Ageng terutama Alex yang akan dibebaskan oleh ki Ageng madyo samtoso yang telah membuat mukaku terluka.


Ibu tentu saja agak was was melihat keadaanku, setelah aku ceritakan apa yang ku alami didunia mimpi supaya aku tidak berurusan sama alam mimpi.


Tapi seseorang telah mengusikku maka aku tidak akan tinggal diam.


Aku punya rencana untuk membuat ki Ageng, kapok! Jika terpaksa, maka aku tidak segan segan menghancurkannya. Aku yakin pasti ki Ageng kembali dengan persiapan yang lebih matang, aku yakin dia tidak berani lagi membawa para dokter itu yang menurutnya malah bikin susah. He he he....


Siapa suruh bawa orang gak punya kemampuan, malah repot sendiri, untung saja tidak aku apa apain. Aku suruh pergi saja.


Ku minta pada ibu untuk mengijinkan pada Riko karena aku malam belum ingin bertemu. Aku meminta pada ibu untuk menjagaku walaupun kita beda kamar, setidaknya aku jauh merasa lebih aman karena ibu yang menjagaku. Aku masih sedikit ragu pada Riko karena bisa saja Riko melakukan hal yang tak terduga padaku.


Karena malam beranjak larut dan malam ini jumat kliwon maka aku pun memulainya. Aku pun menuju kedunia mimpi.


Orang tua itu harus ku beri pelajaran karena telah melukai wajahku. Kini lukaku berangsur membaik dan itu berkat Riko yang mengobatiku dengan telaten.


Riko!


Ternyata ki Ageng belum datang ditempatnya Alex, mungkin dia punya rencana, aku harus berhati hati.


Lebih baik aku datang ke alam mimpi orang tua itu, aku ingin tahu reaksinya seperti apa?


Senyum ku merekah saat ku lihat ki Ageng sudah masuk ke alam mimpi.


Aku tahu ki Ageng merasakan kehadiranku hingga aku berdiri tidak jauh darinya.


Sengaja ku tutup wajahku supaya ki Ageng tidak mengenali ku karena untuk saat ini aku memang ingin indentitasku tidak diketahuinya.


"Malam Ki Ageng,,, bagaimana kabar anda?" tanyaku ramah, berbasa basi supaya orang tua didepanku tidak tegang, dengan kehadiranku yang tidak terduga.


"Kamu,,, siapa,,,?" Tentu saja Ki Ageng tergagap dengan tatapan membulat, keheranan.


"Ki Ageng tidak perlu tahu siapa saya? Yang jelas saya  tahu siapa anda sesungguhnya. Ki Ageng telah lancang berurusan dengan saya serta telah melukai wajah saya. Maka, untuk itu saya akan membalas anda disini" jelasku.


Hal itu tentu saja membuat Ki Ageng bingung. Karena aku memakai penutup wajah berbeda, saat ini orang tua ini tanpa persiapan karena aku masuki dunia mimpinya lebih dulu saat sebelum menjelang tengah malam, hal itu membuatku hanya tersenyum, tapi tentu saja Ki Ageng tidak mengetahuinya.


",,, PENGECUT! Beraninya di saat aku tidak siap" kilahnya karena merasa terpojok.


"Anda bisa berkata seperti itu, karena anda telah berani mengusik saya. Selama ini saya tidak pernah berurusan dengan Ki Ageng, tapi telah berani mengusik saya lebih dulu serta telah melukaiku"


Ku sibak sebagian wajahku untuk memperlihat luka yang kemarin malam dibuatnya, kini sudah tidak seperti kemarin karena telah agak kering.


"Anda tentu tahu siapa Ki Setiaji Mukti, bukan. Beliau adalah simbah kakung saya, tapi beliau telah muksa karena ulah seseorang, tapi orang tersebut telah saya hukum. Anda tentu kenal dengan orang yang bernama KHARISMA, dia putra dari Ganjar dan Sarinah mukti. Kharisma lah yang telah membuat simbah kakung muksa. Mereka masih ada hubungan darah dengan saya"


Setelah ku ceritakan panjang lebar membuat ki Ageng terperangah mendengar penjelasanku.


"Asal kamu tahu, Ganjar adalah murid saya" aku-nya dengan membulatkan matanya.


"Muridku pernah cerita, di lukai seseorang, ternyata kamu" tandasnya. "Keadaannya sekarang mengenaskan" imbuhnya dengan tatapan tajam penuh dendam.


"Ternyata anda gurunya. Kini tidak ada alasan buat saya menghukum anda!" pungkasku. Dengan tatapan tajam, telapak tangan ku kembangkan.


"Apa yang kamu lakukan? Perlihatkan wajahmu,,,?" serunya tertahan, keringat dingin muncul di wajahnya juga tubuhnya hingga nampak bergemetar. Tentu saja masih penasaran karena ingin tahu siapa aku sebenarnya. Sekalipun tahu, aku tak ingin masalah berkepanjangan hingga menimbulkan hal yang tidak di inginkan suatu hari nanti.


Jika pun Alex tahu, tidak mungkin bisa membuktikannya kepada siapapun jika aku adalah orangnya dibalik kejadian yang menimpa Alex.


"He he,,, orang tua, saya tidak sebodoh itu. Seumur hidup anda mungkin tidak akan pernah lihat saya!" aku hanya tertawa lirih penuh ejekan. "Karena anda melukai wajah saya, maka giliran saya untuk,,,"


Aku mendekat kearah Ki Ageng dengan wajah ketakutan. Namun, masih terlihat tenang, tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


Ki Ageng pukulkan tinjunya kearahku, maka yang terjadi,,,


"Kau,,, kau,,,,?" tentu saja terkejut setengah mati karena hanya meninju ruang kosong, seperti menggapai angin.


"Kenapa ki Ageng, terkejut? Ha ha,,," tawaku lirih hal itu membuat ki Ageng makin kecut.


Ku angkat tangan kananku,,,


Cetek, cetek, cetek!


Keadaan berubah seketika, kini ki Ageng telah duduk dikursi penyiksaan tanpa bisa berbuat apa apa.


Bahkan tali telah mengikat tubuhnya sangat kuat!


"Kau salah berurusan orang tua! Aku-lah penguasa dunia mimpi!" seringaiku menakutkan kearah ki Ageng dengan mata membulat tak percaya.


"Ap- apa mau- mu?" Kini, terlihat sekali kalau ki Ageng diliputi ketakutan luar biasa. Tubuhnya digerakan, maka tali itu makin kencang melilitnya.


"Kau telah membuat luka diwajahku. Maka,,," senyumku sinis kearahnya. Membuatnya makin pucat.


Dan....


Sseeeeetttt?


"Aaaaakkkkkkkkhhh,,,!?"


#bersambung...


--------


Bagaimana kisah selanjutnya,,,?


Selasa 13 September 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.