149. KEPIKIRAN.
Bab 149. KEPIKIRAN.
★★★
Helaan nafasnya dalam. Mungkin Alex membenarkan perkataanku.
"Aku kira kau laki laki tegar, pantang menangis. Aku ingin tahu seberapa kuat kau jalani hari hari mu disini?. Dari awal ku katakan, jika kau berada lebih dari empat puluh hari disini, nyawamu tak bisa selamat" jelasku menerangkan, ku ingin tahu reaksi Alex sepertinya.
Awal dulu, perkataan seperti tak berarti, kali ini ku perhatikan mukanya berubah memucat, coba untuk kuatkan hati dengan menahan nafas. Tegar.
"Bunuh saja aku. Dari pada kau siksa aku seperti ini" tantangnya masih menyembunyikan rasa takutnya dengan membulatkan matanya, tajam kearah. Hal itu hanya membuatku tersenyum, masih dengan jarak.
"Kau kira, kau bisa menahan rasa sakit jika aku melukaimu?"
Alex nampak berpikir,,,
"Benar kau ingin mati?" teterku ingin tahu kalau itu memang keinginannya.
"Asal kau tahu Alex, jika aku melukaimu disini, imbasnya akan berefek dengan tubuhmu didunia nyata. Lukanya tidak akan pernah bisa pulih lagi. Kau ingin membuktikan" sambungku tersenyum miring kearah Alex.
Tentu saja Alex tidak percaya sekaligus terlihat kengerian di wajahnya yang berkumis serta berjambang, dengan wajah tegas, serta menyiratkan kemachoan dan kejantanan.
"Kenapa diam Alex?. Kau tahu apa yang terjadi dengan Ki Ageng?" ulasku, terlihat Alex serius menahan nafas.
"Dia telah melukai wajahku, maka orang tua tak tahu diri itu juga ku lukai wajahnya. Aku juga telah menghukumnya, seperti hal dirimu" jelasku, maka Alex nampak makik kecut.
"Kau ingin bukti apa yang ku ucapku?" seringaiku tersenyum.
"Ap- apa,,, yang akan kau lakukan Bening?" ucapnya terbata. Wajah Alex makin ketakutan saat jari telujuknya kini ku letakan di tangan kokohnya yang ada bulunya.
Padahal aku hanya menyentuhkannya, tapi hal itu membuat Alex ketakutan padahal aku belum melakukan apa apa.
"Kenapa,,,? Kamu takut,,," anggukku, bukan aku mau melakukannya, hanya ingin memastikan.
Ku tahan nafas sesaat...
Sesssss,,,
"Lihatlah,,," pintaku, supaya Alex melihat jariku yang meruncing tajam berwarna kehitaman.
Keringat dingin muncul ditubuh Alex bahkan wajahnya berkeringat. Kelihatan ketakutan sekali...
"Bukankah ini atas permintaanmu?. Aku tidak pernah main main Alex!. Kau ingin merasakannya, bukan,,," ucapku makin sinis.
"Kau lihat Alex,,," tandasku. Ku tunjukan jariku telunjukku yang berkuku sepanjang lima inci berwarna hitam kecoklatan.
"K- ku- ku,,, mohon,,, jangan lakukan itu?" wajahnya makin ketakutan. Keringat makin membasahi sekujur tubuhnya. Kelihatan sekali kalau Alex, aku tidak pernah main main atas permintaan.
"Ini tidak akan menyakitimu. Tidak akan membuat nyawamu ini hilang. Tapi rasanya,,, bisa merasakannya, Alex,,," pungkasku, hingga jariku kini berada di lengannya. Menyentuhkannya dikulitnya.
Tubuh Alex terhenyak sesaat, tatapannya menajam, rautnya menyiratkan ketakutan...
Tak terasa air matanya luruh,,,
Alex menangis ketakutan, padahal aku belum melakukan apa apa hanya masih menyentuhkan kuku jariku yang runcung.
"Ku mohon, jangan lakukan Bening. Hikz hikz hikzzz,,, ya iya,,, aku percaya padamu, Beninggggg,,,," mohonnya, hingga kuku jariku perlahan mulai beraksi.
"Aawwww,,,, hahhhh,,," pekiknya, merasakan perih yang teramat sangat.
"Bagaimana rasanya, Alex,,,? hhmmm,,, PERIH, bukan" senyumku mengembang penuh ejekan.
Dan...
Ssssseeeeetttttt!
Segaris memanjang, kukuku menggores lengannya tak bisa ku cegah lagi.
"Akkkkk,,,,,!?" pekik Alex membahana.
Blipppp?
----------
Mataku ku kerjapkan saat ku dengar suara adzan lamat lamat ku dengar.
Aku terbangun dengan perasaan ringan karena semalam aku tidur dengan nyenyak.
Aku ingat semua yang ku lakukan pada Alex karena dia anggap aku bermain main. Kini dia merasakan apa yang dia ingin, dan kini merasakan luka yang diterimanya itu rasanya seperti apa.
Raya saja sampai tidak berani menunjukan berani keluar, menujukan mukanya didepan umum karena luka yang dia terima serta memilih untuk bersembunyi. Kini, Alex pun mengalami hal yang sama tapi cuma lengannya, tidak dengan wajahnya atas permintaannya.
Walaupun hari ini minggu hari libur, namun aku tetap harus mandi pagi seperti biasanya.
Menunaikan kewajibanku sebagai muslim. Serta membaca Al-qur'an supaya hatiku tenang menghadapi hari hari yang ku lalui. Karena aku sekarang jarang semenjak bersama Riko hanya debat saja yang ku lakukan, hingga banyak hal yang terbengkalai.
Setengah jam berlalu aku ganti pakaian, rencana aku mencuci pakaian kotorku juga mencuci sepatu serta kasutnya.
Butuh waktu setengah jam hingga selesai...
Lalu ku jemur disamping paviliun supaya kering karena besok ku pakai karena aku cuma punya satu sepatu.
Mendingan aku beli sepatu satu lagi jika nanti yang sati kotor, jadi bisa gantian.
Nanti minta antarkan ayah ke toko, tapi aku tidak tahu harus ke toko mana karena aku tidak pernah keluar.
Kalau di dekat rumah Angga angga ada toko sepatu yang jaraknya dekat. Tapi disini aku tidak tahu tokonya dimana.
Akhirnya aku sedikit santai setelah ku jemur pakaian juga sepatu, kasutku. Aku dilanda bingung karena sepi terlebih kini masih jam setengah tujuh.
Aku merasa heran kenapa hari ini Riko tidak kelihatan seperti biasanya yang selalu menggangguku, padahal semalam aku nge-chat dia tapi gak ada balasan.
Dari semalam Riko tidak ada reaksi, bahkan hari ini juga tidak kelihatan. Kenapa aku malah kepikiran sama Riko?
Ada apa dengan Riko karena dari semalam tidak ada kabarnya, bahkan tidak kelihatan?. Aku sampai kepikiran hingga saat ini. Kemana dia?
"Nak,,," panggilan ibu mengagetkanku dari lamunan.
"Ya bu, ada ap-,,, ehh,,,?" sambungku tidak melanjutkan kata kataku karena di tangan ibu ada nampan berisi sarapan pagi untukku. Ingin rasanya aku menanyakan Riko ada apa gak karena semalam aku tidak tahu, atau ku tanya pada ayahku saja, mungkin tahu dimana Riko.
"Sarapan dulu nak" ibu duduk didekatku tersenyum, senyum yang membuat damai membuat hati tenang.
"Terimakasih bu,,," ku terima nampannya serta memulai sarapanku.
Tak lupa berdoa dulu supaya berkah...
Akhirnya selesai makan.
"Alhamdulillah!" Tak lupa mengucapkan terima kasih lagi ibu sangat memperhatikan ku apa pun itu.
"Bentuk syukur, sekecil apapun kita patut untuk mensyukuri apa yang diberikan Alloh, nak. Kita bersyukur atas pemberian maka Alloh akan menambah rejeki yang kita dapat"
"Amin!" Ku peluk ibu penuh kehangatan, karena ibu lah yang selama ini selalu memberiku semangat.
"Bu,,,," saat ingin ku lanjutkan ucapanku ayah datang, mengucapkan salam karena jaga malam telah selesai, terlihat lelah.
Kami pun membalas salamnya, ibu berdiri begitupun aku menyalaminya, setelah ibuku yang tadi mencium telapak tangannya tanda bakti ibu pada ayah. Sungguh, terkadang aku iri dengan kemesraan yang diperlihatkan oleh ibu dan ayah didepanku.
Nanti saja ku tanyakan pada ibu soal Riko atau ku tanyakan pada ayah. Tapi, ayah kelihatan capek, lelah, aku tidak tega. Ibu juga begitu perhatian banget sama yang keletihan.
"Nak,,, mau kemana rapi banget?" tanya ayah karena memang aku telah bersiap untuk beli sepatu seperti yang ku rencanakan. Tapi ayah kelihatan ngantuk.
"Eh iya, baru tahu kalau anak yang ganteng ini tambah ganteng" puji ibu tersenyum renyah.
"Gak kok, bu- ayah. Oiya ayah, ada satu hal yang ingin ku tanyakan pada ayah?"
Kami duduk kembali dengan santai...
Sebenarnya ada hal hal yang perlu ku sampai kan baik pada ibu maupun ayahku, tapi kayaknya waktunya tidak tepat.
"Apa nak,,,? Tanya saja nak"
"Ayah tahu gak den Riko?"
Kini ke arah ibu sejenak, ku perhatikan lagi ayah agak termenung.
Ibu kelihatannya juga bingung?
"Tadi pagi den Riko tidak sarapan seperti biasanya, nak. Hanya mama dan papanya den Riko saja yang sarapan" jelas ibu seperti tidak bertemu dengan Riko. Kini ayah yang ku perhatikan, sepertinya ayah tahu keberadaan Riko, paling tidak melihatnya.
"Ayah,,,"
Helaan nafas pelan terdengar lirih...
"Dari habis magrib den Riko pergi, hanya melambaikan tangan saja pada ayah. Tidak memberitahu kemana akan pergi. Bahkan hingga pagi tadi belum juga pulang?" terang ayahku, dengan mengangguk.
Aku tidak bisa berkata apa apa lagi...
"Ada apa nak, kamu tanya tentang den Riko?" tanya ibu penasaran.
"Aku,,,?"
#bersambung....
-----------
Sb 17/09/2022.
Komentar
Posting Komentar