15. Ini Gila
★★★★
Nafasku ngos ngosan saat ku buka mataku.
Niatku untuk memberinya pelajaran malah gagal.
Namun sialnya, kali ini rencanaku berubah seratus delapan puluh derajat.
Entah pikiran apa yang merasuki Riko hingga dia nekat memelukku. Bukan hanya itu saja bahkan sampai menciumku.
Ini tidak mungkin...
Aku kan laki laki, dia laki laki...
Apa Riko sudah gila hingga dia menciumku seperti pacarnya.
Ciumannya begitu dalam dan hangat hingga membuatku untuk sejenak melayang. Nagih. Itulah yang kini ku rasakan selama hidupku.
Aku belum pernah ciuman, pacaran saja belum kepikiran. Kini aku telah dicium oleh seorang cowok hingga membuatku tak habis pikir.
Apa sih maunya Riko?
Pikiranku kini berkecamuk kacau memikirkan ciuman yang dilakukan Riko padaku. Seakan membuat dunia kini terasa berubah....
"Mas Bening?" sapa Angga datang secara tiba tiba hal itu sangat mengagetkanku. Entah sejak kapan Angga berada disini? Bahkan hanya memakai singlet dan kolor saja tersenyum kearahku dengan tatapan heran.
"K- kapan kamu pulangnya Ga?" tanyaku gelagapan. Apa mungkin Angga tau dengan apa yang ku lakukan?
Tidak!?
Kalau sampai Angga tau, pasti Angga akan penasaran dengan apa yang telah ku lakukan? Semoga saja Angga tidak tau!.
"Mas Bening gimana kabarnya? Mas baik baik saja kan?" ku anggukan kepala kalau keadaanku baik baik saja walaupun rasanya aku sedih dihari ini tapi tetap ku tahan. Biarlah semua berlalu. Aku memilih untuk diam, merenung sejenak.
"Syukurlah mas" desahnya panjang sambil tersenyum tapi tak ku balas senyumnya karena males.
"Kenapa mas Bening tadi kaget dan gugup?" tanyanya memastikan sepertinya sangat penasaran.
Aku hanya menggeleng pelan, Angga pasti tau kalau aku males menjawabnya.
"Gak apa apa, aku-" tatapku tajam kearah Angga yang sepertinya penasaran.
"Tadi mas Bening tidurnya pulas banget. Aku gak tega buat bangunin mas Bening" terangnya. Hal itu membuat hatiku tenang, agaknya Angga benar benar tidak tau apa yang telah ku lakukan. Tapi, tetap saja aku merasa khawatir karena tak mungkin Angga tidak tau dengan apa yang telah ku lakukan. Untuk selanjutnya aku harus berhati hati supaya apa yang ku lakukan tidak ada yang tau.
"Mas Bening kenapa malah melamun?" tanya Angga memegang bahuku hingga membuatku tersadar dari lamunanku, karena aku berpikir apakah Angga tau apa terjadi.
"Apaan sih. Gak kok Ga, gak apa apa" balasku.
Angga juga tidak membahas bagaimana aku pulang, siapa yang mengantarku. Pasti Angga sudah tau dari cerita anak anak disekolah karena tidak mungkin mereka tidak cerita hal sangat menghebohkan terlebih aku pulang diantar oleh pak Surya guru olah raga. Pasti akan jadi berita heboh satu sekolah.
"Tadi bude sama pakde pesan kalau kamu udah pulang, katanya gak akan pulang dan nginap karena majikannya menyuruhnya untuk nginap karena anaknya sedang sakit. Sakitnya itu aneh?
Kamu tau gak mas Bening, sakitnya Riko dan Raya itu sama persis.
Entah apa yang terjadi?
Katanya mereka berdua mati suri gitu!
Hiy, aku jadi ngeri sendiri membayangkannya mas" ungkap Angga menjelaskan berita yang tersebar disekolah.
Aku masih duduk dengan nyaman, katanya Angga aku tidur nyenyak, mana yang benar? Aneh, atau jangan jangan Angga cuma pura pura saja.
Aku tak menggubrisnya sedari tadi Angga ngoceh cerita mengenai Riko dan Raya juga keadaan sekolah...
Yang pasti aku juga merasa sedih saat ini karena Angga tak peduli dengan keadaanku.
"Mas Bening gak denger, dari tadi aku perhatikan melamun terus" ucapnya kecewa karena aku tak memperhatikannya ataupun menggubrisnya.
Kini Angga mendekatiku lalu memelukku serta mencium pipiku. Aku biarkan apa yang dilakukan Angga padaku.
"Mas Bening, maafkan aku karena tidak bisa menolongmu" bisiknya padaku, membuatku meringis karena tubuhku masih nyeri. Untung lukaku tidak serius dan mulai sembuh, bahkan rasa nyerinya agak mendingan.
"Auhhh,,, " ringisku.
"Maaf mas, he he,,,"
"Tenang aja Ga, aku telah membereskan mereka!"
"Maksud mas-?" ekspresinya penuh tanda tanya, melongo menatapku serius.
"He he,,, becanda. Serius amat kamu Ga. Udah lepasin, meluk Mulu. Risi nih"
"Aku akan terus meluk mas. Rasanya itu kayak meluk cewek. Hatiku damai"
"Ih ogah. Enak di kamu tak enak di aku. Huh, dasar otak OMES. Sana cari cewek biar bisa kamu peluk"
"Ogah, kan ada mas Bening, ngapain cari cewek. Sama aja kok"
"Kamu ganteng Ga, keren lagi. Kamu juga gagah, pasti laku keras. Ha ha,,,"
"Emang aku barang, Laku keras" balas Angga sewot.
"Lagian kamu kok gak punya pacar. La disekolah banyak cewek yang cantik, kurang apa coba?"
"Mas juga belum punya pacar?"
"Ada dikampung" elakku karena aku tak mau Angga berpikir macam macam tentangku.
"Benaran mas"
Ku anggukan kepalaku menyakinkannya.
"Iya, kenapa?"
"Gak apa apa" rautnya terlihat kecewa mendengar pengakuanku. Padahal aku cuma membohonginya, entah mengapa sikap Angga seperti itu.
Aku tak mau Angga terlalu berharap padaku, biarlah dia kecewa.
Angga melepaskan pelukannya perlahan, agak kecewa denganku.
Aku hanya tersenyum padanya, tapi Angga tak membalasnya, hanya merengut saja.
____________
Malam telah menjelang, suasananya terang hingga bintang bintang di langit tampak.
Ku tatapi langit dimalam ini sambil menikmati udara malam sejuk, walaupun udara kota tak sebersih udara dikampung.
Kota yang tak pernah tidur, selalu bising, namun aku sudah terbiasa...
Ibu dan ayahku malam ini tidak pulang dan harus menginap dirumah bisanya, entah sebab apa? Karena bisanya menyuruhnya untuk menginap, begitupun bibi dan pamanku juga tidak pulang hingga rumah menjadi sepi.
Tadi ibuku juga meneleponku, menanyakan keadaanku, dan ku bilang kalau keadaanku baik baik saja hingga ibuku pun menjadi lega, tak mungkin aku menceritakan pada ibuku maupun ayahku perihal yang terjadi padaku, tentu ibuku akan sedih dan hal itu tak ku inginkan.
Kemudian aku pun masuk serta menyembunyikan hpku yang android tapi jelek. Aku malu bila Angga sampai tau pasti dia akan kepo serta meminjamnya, itu yang tak ku inginkan karena hp ini pribadiku.
Kami bertiga dirumah...
Tadi yang masak putri, rasanya enak hingga saat kami makan pun suasananya sepi karena hanya kami bertiga.
Putri tidak tau apa yang ku alami dan Angga tak mungkin cerita sama Putri itu sama saja dengan bunuh diri. .
Kami menikmati acara tv malam ini, yang menurutku tidak menarik.
Setelah itu aku pun memilih untuk tidur saja karena aku juga lelah.
Tidurpun rasanya percuma. Entah mengapa aku selalu teringat ciuman Riko, sesekali ku pegang bibirku. Hal itu membuat perasaanku tak menentu. Aku terus kepikiran hal itu, memikirkan orangnya membuatku seperti orang linglung.
Entah apa yang terjadi dengan perasaanku, hatiku? Apakah saat ini aku telah jatuh cinta padanya? Bagaimana keadaan Riko saat ini?
Apa aku bebaskan saja dia?
Kalau aku bebaskan, apa nantinya Riko tidak balas dendam padaku?
Hatiku bergejolak...
Lebih baik aku bebaskan saja. Kasihan Riko, tiga hari tidak bangun karena terkunci di alam mimpi.
Pasti keluarganya cemas melihat keadaannya.
Kalau sampai empat puluh hari tidak bangun maka Riko bisa benar benar mati.
Tapi Raya, biarlah aku tahan dulu. Wanita Jalang itu harus diberi pelajaran biar kapok!
Bila perlu aku rusak wajahnya, biar dia tidak berani keluar unjuk gigi. Biar gak sok kecantikan!
Benar!
Malam ini aku harus melakukan sesuatu???.
#bersambung....
Sn 27 september 2021
Pov Raya
________
Kini gue tersadar kembali...
Entah apa yang gue alami, karena saat terakhir gue rasakan dunia menjadi gelap, gue tau kalau gue telah pingsan, padahal gue ingin kembali ke alam nyata. Namun yang terjadi gue masih disini, diikat kuat dikursi yang sama tanpa bisa berbuat apa apa.
Keadaan gue tetap sama tidak kemana mana.
Dialam mimpi ini gue tidak melihat kekasih gue Riko. Apa mungkin sudah dibebaskan sama Bening? Gue rasa tidak mungkin, gue tau kalau Bening sangat dendam pada Riko juga gue. Disini dia balas dendam.
Bening masih diam saja ditempatnya, menatap gue tajam membuat gue berdebar, karena kini sedikit menyeringai membuat gue ngeri, bulu kuduk gue langsung meremang seperti melihat penampakan. Ini lebih dari itu, gue semakin horor saja.
Air mata gue sudah tak dapat gue bendung lagi, gue menjadi ketakutan setengah mati, sambil gue memohon.
"Lep- lepaskan gue, Bening,,," air mata gue terus bercucuran, tatapannya makin sinis seolah tidak peduli dengan yang gue rasakan. Rasanya juga percuma gue meminta untuk dibebaskan dari dunia mimpi ini.
"Tidak semudah itu, Raya. Di alam nyata kamu boleh. Kuat, berkuasa. Tapi disini, di dunia mimpi ini, kau tidak ada apa apanya
Aku akan membuatmu menyesali semua perbuatanmu. Kau akan menyesal, Raya karena kau berurusan dengan orang yang salah. Camkan itu, Raya. Akan ku buat muka cantikmu itu rusak!. Kau akan malu melihat dunia. Hidupmu tidak akan berarti, kau akan bunuh diri.
Kamu memang anak orang kaya, pasti kamu akan operasi.
Tapi, aku pastikan rusaknya permanen.
Kau tidak akan bakal sembuh, seumur hidupmu, kau akan menanggung malu. Ha ha ha,,," kecamnya penuh ancaman tertawa girang, lalu tersenyum dingin membuatku makin ketakutan. Saat dia mulai mendekati.
Tentu saja gue panik sekaligus makin bercucuran air mata gue karen Bening benar benar akan melakukannya pada gue.
Gue tak bisa banyangkan jika hal itu terjadi, gue tidak bisa menatap dunia lagi, mungkin juga, apa yang dikatakan oleh Bening kalau jalan akhir gue bunuh diri.
"Bening, ampuni gue. Jangan lakukan itu pada gue. Gue berjanji tidak akan ganggu hidup lo lagi. Lo bisa bebas disekolah"
"Sayangnya penyesalanku itu terlambat Raya. Aku tau orang macam dirimu, kalau nyawamu belum lepas, kau tidak akan berhenti melakukan kejahatan.
Tentu aku akan melepaskanmu, itu hanya sebagai peringatan saja.
Namun, aku pastikan saat kau tidur maka aku akan datang kemimpimu untuk menerormu" ancamnya dengan seringaian dingin, karena gue tau ancamannya tidak sekedar bermain main. Tentu saja wajah gue makin pias.
Tak dapat gue hindari lagi, cakarannya menggores dipipi gue...
Rasa perih juga pedih bercampur nyeri menyergap tubuh gue, hingga gue makin terisak pilu.
Perih!
Darah mengalir diwajah cantik gue yang terluka akibat goresan kuku Bening.
"Itu pelajaran dariku. Bila kau bikin ulah lagi denganku, aku akan bikin perhitungan lebih kejam dari Raya, wanita jalanng!. Ingat itu!" ancamnya tidak main main. Gue telah salah orang untuk dibully, kini gue merasakan akibat dari perbuatan, serta akibatnya sangat fatal karena gue berhadapan dengan manusia berdarah dingin, lebih dari seorang pembunuh yang paling kejam dan sadis sekalipun karena cara membunuh lewat mimpi, pasti tidak ada satupun yang mengetahuinya. Siapa pun itu termasuk bokap dan yokap gue sendiri.
Bening tersenyum kearah gue, walaupun senyumnya berbeda tapi bagi itu tetap sama.
Lalu, jarinya di jentikan...
Seperti ada gelombang mirip tiupan air sabun didepan gue.
Air mata gue masih mengalir saat Bening membebas gue ketika suara jentikannya berakhir, tali yang mengikat tubuh gue terlepas dengan sendiri tanpa menyentuh.
Sekarang gue bebas...
Berdiri dihadapan Bening, lalu tangannya seperti didorong kearah gue, hal itu membuatku seperti mundur hingga gue terjatuh....
Tik, tik, tik,,,
Mata gue terpejam karena kepala gue mau kebentur lantai.
Namun, tidak terjadi apa apa...
Saat gue buka mata, untuk memastikannya, yang gue lihat mama, papa gue berteriak memeluk gue.
Gue pun menangis sejadi jadinya serta shock tak bisa berkata apa apa.
Tubuh gue penuh dengan selang infus, ada dokter Carmila didekat gue karena dia dokter pribadi keluarga kami.
"Syukurlah kamu sudah sadar sayang. Mama khawatir dengan keadaanmu. Kamu seperti m-,,," terang mama gue dengan menangis haru sambil memelukku.
"Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengembalikan putri kami" ucap papaku penuh haru, air matanya pun berjatuhan diwajah tegasnya. Gue kasihan melihat kedua orang tua gue yang begitu jelas nampak rasa khawatirnya karena melihat keadaan gue yang tidak baik baik saja. Ini semua karena ulah gue berurusan dengan orang yang tidak tepat, yaitu Bening. Ternyata Bening menyimpan misteri dan itu sangat mengerikan, jika dia bermaksud membunuh gue di alam mimpi siapa yang akan tau kalau gue matinya ketika gue bermimpi. Gue salah orang untuk gue bully, mungkin ini teguran Tuhan buat gue agar gue jangan berbuat jahat karena selama ini gue selalu melakukan kejahatan yaitu membully anak yang tidak gue sukai.
"Sayang, kamu tidak apa apa?" papaku membesarkan hati gue walaupun keadaan gue tidak baik terutama jiwa gue. Papa gue menangis dalam diam, air matanya terus berjatuhan sesekali diusutnya. Gue tau kalau papa gue tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya yang mendalam.
Gue hanya bisa menggeleng lemah...
"Papa akan lakukan apapun agar kamu sembuh, sayang. Tak banyak yang papa bisa lakukan, dokter Carmila yang merawatmu" sambungnya mulai tenang walaupun sesekali air matanya luruh. Gue hanya bisa menangis saja.
Tubuh gue agak lemas, mau ngomong belum mampu. Gue hanya bisa diam...
"Minumlah madu ini, sayang supaya keadaanmu pulih, sayang" mama gue memberi madu yang dicampur air hangat. Gue dibantunya hingga perlahan gue meminumnya.
Benar saja, sesaat setelah minum madu gue merasa lebih baik, tenggorokan gue juga lega, sepertinya gue bisa bicara. Tapi, gue tahan karena gue belum pulih sepenuhnya, gue merasa nyeri disekujur tubuh gue, terlebih bagian wajah gue.
Semula air mata berhenti kini kembali merembes lagi, air mata gue tak dapat gue bendung lagi...
"Ma-,,, pa-,,, ak- ,,," ucap gue terputus putus, mama gue langsung memeluk gue kembali serta ikut menangisi gue.
"Sayang, kamu jangan ngomong dulu-"
"Tidak ma, ak- aku harus,,, ngo- mong,,," paksa gue, memaksakan diri karena gue tak mau menyia nyiakan ini terlalu lama.
"Sayang sudahlah. Keadaanmu belum pulih. Kamu harus banyak istirahat nak" papa memperingati gue, tapi gue tetap harus mengatakan ini karena ini buat keselamatan gue kalau tidak segera gue katakan.
"Tidak pa-. Ma,,, aku harus minta maaf pada seseorang. Kalau tidak, nyawaku bisa melayang" desak gue karena ini kesempatan buat gue, gue masih menangis, mama gue juga masih ikut menangisi gue, entah memgapa mama begitu terpukul melihat keadaan gue. Seperti ada sesuatu hal terjadi pada diri gue. Tapi apa itu?
Gue coba untuk mengusut air mata karena gak enak rasanya, saat gue raba wajah gue, ada perban di wajah gue tentu saja gue ingat sesuatu yang terjadi pada wajah gue ketika gue masih di alam mimpi. Bening benar benar melakukannya.
Gue tidak boleh tidur kalau tidak Bening akan benar benar membunuh gue dalam mimpi, itu ancaman pada gue, karena Bening tidak mungkin bermain main.
"Ma wajahku kenapa?" seru gue tertahan, tak ada penjelasan dari mama gue maupun papa gue, terlebih dokter Carmila memilih untuk diam sedari tadi.
"Sayang tenang. Siapa orang yang kamu maksud?" tanya mama gue karena ingin tau siapa orang yang gue sebutkan tadi karena belum tau namanya.
Gue tak ingin teror seperti ini terus menghantui gue, dan secepatnya berakhir...
Memang gue salah!
Salah besar dengan Bening, orang yang gue bully disekolah.
Gue tak berani menjawabnya, gue memilih untuk menangis terlebih keadaan gue tak mungkin untuk menunjukan wajah gue ditempat umum, terlebih menceritakan tentang Bening, tentunya Bening akan semakin marah pada gue serta meneror seluruh keluarga gue, gue tak mau hal itu terjadi.
Kedua orang tua gue makin bingung dan khawatir melihat keadaan gue yang nangis tidak berhenti terlebih dokter Carmila yang kebingungan sekaligus iba namun tak banyak yang dapat dilakukannya.
Baru gue sadari kalau ada kakak juga keponakan, mereka nampak sedih melihat keadaan gue bahkan mereka ikutan menangis.
Mama dan papa terpekur tak tau apa yang harus dilakukannya karena gue memilih untuk merahasiakan siapa orangnya.
Niat gue sudah bulat untuk meminta maaf pada Bening, supaya rasa bersalah gue tidak berlarut larut, dan semua teror yang menghantui gue cepat berakhir.
Gue tidak ingin lagi mengusik kehidupan Bening...
Ternyata Bening orangnya penuh misteri dan sangat mengerikan, dan semua itu karena ulah gue.
Pov Raya end!
#bersambung....
Km 30 september 2021
Komentar
Posting Komentar