150. ADA SESUATU?.

 Bab 150. ADA SESUATU?.


★★★


Tentu saja aku dilanda kebingungan tak tahu harus menjawabnya bagaimana?.


"Nak,,," ibu seperti mendesakku untuk cerita.


Tidak mungkin aku membahas tentang Riko.


Kali ini aku ingin membahas tentang hal lain.


"Ayah, ibu,,, nanti hari ke empat puluh muksa-nya simbah kakung, aku ingin mengunjungi beliau bersama kalian di dunia mimpi. Simbah kakung yang telah menolongku saat aku akan di tabrak truck tronton"


"Apa?"


Kedua orang tuaku hampir bersamaan menyahut. Mereka terlihat shock karena barusan mendengar ceritaku, kejadian yang akan menimpaku, dan itu sudah berlalu beberapa hari yang lalu.


"Ya ayah, ibu, aku waktu itu akan pulang dari nonton bioskop" aku tidak berani cerita berterus terang tentang apa yang alami. Yang terpenting aku cerita tidak sedetail apa yang ku alami setidaknya orang tuaku tahu. Aku tahu orang tuaku dipenuhi tanda tanya tapi tidak menuntut aku cerita semuanya dengan detail.


"Aku juga bertemu dengan mas Surya, bu" sambungku karena hal itu perlu aku sampaikan. "Juga Raya pacarnya Riko" tambahku. Ku rasakan penjelasanku sudah cukup walapun tidak menjawab dari apa yang ku awali.


Orang tuaku pasti mengkaitkan kejadian yang ku alami dengan rentetat cerita yang ku beberkan walaupun tidak menemukan titik terang dari hal ku alami.


"Nak,,," ucap ayahku, tapi ibu yang mengangguk sebagai isyarat.


"Maaf ayah, ibu apa yang ku alami ada kaitannya hal ku ceritakan. Yaitu,,," aku agak ragu untuk mengatakannya, tapi dari pada jadi beban pikiran lebih baik ku katakan saja biar unek unek ku plong.


"Cerita saja nak, kami akan dengar dan tidak akan marah apa pun yang akan kamu sampai dan dengar" ulas ibu karena aku dalam keraguan.


"Penyebabnya mas Surya bu, bukan den Riko. Den Riko yang menolongku serta membawaku ke kamarnya, aku yakin"


"Iya nak, den Riko yang mengabari ibu sama ayahmu, hingga kami tahu. Den Riko cuman diam saja saat ku tanya apa yang terjadi, den Riko k lihat kebingungan" ungkap ibu.


"Kami kira den Riko tidak tahu apa apa nak, jadi ayah tidak tanya lebih jauh apa sebenarnya yang terjadi padamu?" sambung ayah.


"Maafkan aku ayah, ibu tidak cerita jujur tentang apa yang terjadi" tiba tiba ku peluk ibuku ingin menumpahkan segala beban yang ku rasakan.


Ibu tentu langsung menangis. Ayah hanya diam termangu ditempatnya.


Ku lepaskan pelukanku pada ibu,,,


Ibu mengusap matanya yang berair hingga kini sudah tidak terlihat lagi, ada senyum getir yang diperlihatkan.


"Kamu sudah rapi mau kemana nak?" ulas ibuku karena sedari tadi sedih. Memperhatikanku kembali, ada senyum terselip.


"Hmm,,," rasanya aku ragu mengungkapkannya. Karena rencana ku ingin mengajak ayah untuk membeli sepatu. Lebih baik berkunjung ke rumah Angga karena sudah lama aku tidak kesana, sekalian minta diantar ayah kesana.


"Bicara nak" pungkas ayah mengangguk.


"Ayah capek, ngantuk gak" kataku ragu, ku perhatikan sejenak keadaannya karena melihat lebih lama itu tidak baik, ataupun tidak sopan.


Ayah tersenyum, sambil menggeleng...


"Gak nak, ayahmu pasti siap. Katakan saja" ungkap ibu yang memberi saran kalau ayah pasti kuat. Terselip rasa tak enak kalau ayah kecapekan juga ngantuk karena jaga semalam. Untuk sejenak Riko terlupakan.


"Aku ingin membeli sepatu baru bu, ayah. Sepatuku cuma satu, buat serep kalau yang satunya kotor bisa ganti" jelasku karena tak ada alasan buatku untuk ngelak lagi.


"Kamu punya uang nak?" tanya ibu penuh selidik. Tentu saja orang tuaku tidak tahu kalau saat ini aku sedang memegang uang yang tidak sedikit sebesar seratus juta, tambah lagi dengan tabungan ku yang lainnya juga dapat bonus dari aku dapat juara umum serta juara satu dikelas sebelas dulu yang diberikan oleh banyak Laras yang kini telah jadi pacarnya mas Surya.


Mas Surya, maaf karena aku telah,,,?


"Ada bu, tabunganku" jawabku tersenyum. Nanti juga akan ku ceritakan mengenai uang yang diberikan Latifah dan teman temannya. Naif memang, aku seperti memanfaatkan mereka, padahal tujuanku untuk menolong mereka supaya terbebas dari jeratnya Alex.


Tetapi, mereka yang memaksa nerima, bahkan aku berusaha nolak mereka bahkan sampai nangis histeris buat terima pemberian mereka, walaupun ku tahu uang seratus juta tidak berarti buat mereka.


"Jangan nak, kamu simpan saja, ayah ada uang" ucap ayah.


"Iya nak, tabung saja untuk keperluan lain, untuk keperluan mendesak. Simpan buatmu, untuk kebutuhanmu" tambah ibu dengan senyum yang bikin tenang.


"Ayah, kita kerumah paman Syarif dulu ya, sudah lama aku tidak kesana. Rasanya aku kangen ketemu Angga dan Putri" ungkapku tanpa sadar.


"Bukankah kalian satu sekolah, kok kamu bilang gak ketemu" ibu tentu kebingungan dibuatnya. Begitupun juga ayah ikut merasa heran karena satu lokasi.


Maka aku pun menjelaskan karena saking banyaknya siswa siswi sekolah elite Pertama Bangsa.


Lapangannya saja sangat luas sekali, belum lagi ruang kelasnya yang berbeda terlebih antara anak kelas IPA atau IPS pasti beda lokasinya hingga kita jarang ketemu sekalipun saat upacara walaupun satu lokasi karena saat masuk harus kembali dengan cepat ke kelasnya masing masing supaya tidak kena sangsi.


"Oh jadi begitu"


"Begitulah bu, ayah. Makanya aku jarang ketemu Angga, den Riko maupun Putri karena beda kelas" terangku lagi supaya orang tuaku ngerti. Barulah kini paham.


----------


Kenangan saat pertama kali aku menginjakan kakiku di Jakarta, ketika itu menjelang subuh keadaanku juga masih ngantuk ngantuknya.


Senyumku pun terkulum jika mengingat hal itu.


Sebenarnya aku kasihan sama ayah karena kalau siang seperti ini buat istirahat tapi kali ini harus mengantarku kesini.


Keadaan rumah lengang, tentu saja paman dan bibi gak ada dirumah karena berada dirumah keluargaku; Sanjaya karena sedang kerja.


"Assalamualaikum Putri, Angga,,," salamku dengan memanggil mereka, padahal pintu sedikit terbuka. Pagi menuju siang hari tentu ini sudah agak santai. Atau mungkin Angga masih molor karena dulu pun Angga selalu bangun siang.


Kembali aku mengucap salam hingga tiga kali berharap ada yang menyahut dari dalam.


Ayah hanya diam didekat, aku membawa ayah supaya nanti cepat pulangnya setelah membeli sepatu.


"Ada gak nak Angga, atau Putri, nak?" Ayah ikut penasaran karena suasana tetap sepi. Bahkan tak ada sahutan dari dalam.


"Entahlah ayah, sepi banget. Kalau kebiasaan Angga dulu sering bangun siang siang. Kalau Putri biasanya didapur" jelasku mengenai kebiasaan keduanya, karena aku sudah paham tabiat mereka.


"Putri,,,!" panggilku lagi dengan suara kencang. Ku dengar lirih ada suara langkah kaki berjalan.


Setelah pintu dibuka,,,


"Waalaikum salam, Eh mas Bening, pakde Rohman,,," ekspresi Putri kaget karena kami datang berkunjung.


"Silahkan masuk, pakde, mas Bening" mempersilahkan kami masuk, tak lupa Putri menyalami kami bergantian.


"Mas silah duduk dulu,,," setelah mempersilahkan duduk Putri kemudian berlalu masuk kedalam.


Beberapa saat kemudian keluar membawa nampan dengan isinya.


"Pakde, mas Bening silahkan di minum" kata Putri setelah meletakan minuman dan cemilan duduk dikursi berhadapan.


"Repot repot bikin minum kamu Put. Kamu sudah besar sekarang. Kamu sekolah dimana?" tanya ayah walaupun pernah ku ceritakan.


"Aku sekolah di Permata bangsa pakde, satu sekolah dengan mas Bening" terangnya tersenyum ceria. "Mas Bening apa gak cerita sama pakde" lanjutnya, heran.


"Pernah cerita sedikit, cuma memastikan. Sekolah disana kan biaya cukup lumayan Put" ingat ayah karena aku saja bisa masuk berkat beasiswa itupun berkat kepala sekolahku dulu yang menyarankan.


Memang benar sekolah berkwalitas tapi sebagian siswanya berdedikasi tinggi, tidak semuanya bisa di ajak berteman, mereka pilih pilih dalam berteman serta membikin gank.


"Iya pakde, gak apa apa mama sama papa kerja buat biaya kita sekolah"


"Ada masalah gak Put selama disekolah disana?"


Aku tidak tahu maksud ayah bertanya seperti itu, seperti ayah ingin tahu serta mencari tahu. Tapi, Putri selama ini tidak bisa terbuka dengan sembarangan orang selalipun masih ada saluran darah.


Seandainya dulu aku tidak dekat mungkin Putri tidak akan pernah curhat.


Angga saja juga jarang, bahkan aku baru tahu kalau dia punya gank bersama Riko. Namun, entah sekarang mereka apa masih satu gank.


Aku sendiri juga tidak tahu apa nama gank mereka, akh juga tidak peduli.


Sebenarnya ada hal yang ingin ku tanyakan pada Putri karena sedari tadi akh tidak melihat Angga, ingin rasanya aku masuk ke kamarnya untuk melihatnya.


"Pakde silahkan diminum. Tadi bikin camilan diicip, enak apa gak, kurang apa, he he,,," Putri seperti malu malu, mempersilahkan kembali karena keasikan ngobrolnya.


"Put, Angga kemana kok gak kelihatan?" Akhirnya ku tanyakan  juga.


"Ehmm,,, mas Angga main mas Bening. Dari semalam, bahkan sehabis magrib sama Riko" terangnya jelas tanpa ekspresi.


Tadi sudah ku pikirkan tentang Riko juga Angga yang jadi gank, dulunya. Kini setelah aku dengar dari Putri, pikiranku jadi tak karuan. Ayah hanya diam saja, menikmati kopi panas dan camilan. Sedangkan aku hanya bisa...


"Kemana, Put?"


#bersambung,,,,


----------


Mg 18/09/22



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.