151. Jarak yang tidak jauh.
Bab 151. Jarak yang tidak jauh.
★★★
Karena jaraknya tidak jauh, maka ku putuskan untuk mengajak Putri sekalian aku membelikan apa yang dia mau.
Berjalan sambil cerita mengenai Angga yang kini pergi belum juga pulang.
"Untuk tempatnya aku tidak tahu pasti, kemana mas Angga pergi bersama Riko, karena Riko yang datang menjemput mas Angga" jelasnya sangat hafal dengan Angga.
"Apa Angga sering pergi, Put?" Ku tanyakan hal itu karena ingin tahu.
"Sering mas Bening, bahkan semenjak naik ke kelas dua belas. Riko yang datang. Tapi,,, wajah Riko seperti menyiratkan kesedihan, tapi tidak diperlihatkan karena selalu tersenyum menyapaku, mas"
"Hmmm,,," gumamku lirih, mendengar penjelasan dari Putri yang berjalan mengiringiku.
"Sudah sampai mas Bening. Mas pilih saja"
"Put, kamu juga pilih ya, biar aku yang bayar"
Mata Putri nampak berbinar. "Wah, banyak duit nih"
"Ku kasih dua kesempatan untuk kamu memilihnya Put, semoga kamu bahagia"
"Benarkah itu mas Bening,,,?" mata Putri berbinar tak percaya.
"Kapan aku pernah bohong, Put?. Tenang aja aku pasti bayarin kok. Pilih sepatu yang kamu suka, ingat dua pasang ya"
"Wah mas Bening ini banyak uang ya"
"Alhamdulillah Put, gak banyak kok"
Akhirnya aku putuskan buat beli dua sepatu juga, untuk jalan serta sandal buat jalan jalan.
Akhirnya kelar juga pilih sepatu serta membayarnya.
---------
Kamipun jalan pulang, rasanya cukup lama tadi memilih sepatu.
Terdengar celotehan Putri yang begitu bahagia dan senang bukan main karena dia beli dua sepatu buat jalan jalan serta pesta.
"Mas Bening terima kasih lho, ini sudah lama aku impikan buat beli. Harganya cukup lumayan. Mas baik deh" ditenteng barang yang tadi dipilihnya dengan perasaan bahagia serta senyum yang merekah dibibir.
"Kamu gak usah pikirkan soal bayaran tadi ya, Put. Tolong, jangan bilang bilang sama siapapun termasuk pakde, mudah mudahan nanti tidak ditanya sama pakde"
"Iya, mas Bening. Terimakasih banget ya karena telah beliin ini buat aku"
"Iya, aku hanya punya saudara kamu dan Angga disini. Aku tidak punya saudara selain kalian"
"Mas Bening jangan sedih gitu, bikin nangis aku aja"
"Ha haa,,, gak kok. Tenang ya. Udah nyampek"
Tak terasa kami pun sampai dirumah karena jaraknya memang tidak terlalu jauh.
Putri yang mengucap salam...
Kami pun masuk dan mendapati ayah sedang ngobrol asik dengan Angga.
"Itu mas mu sudah pulang" tunjuk ayah dengan isyarat.
Lalu, nampak Angga mendekat kearahku.
Putri kemudian bergegas masuk.
Aku tahu Putri tidak ingin ditanya macam macam dengan apa yang dibelinya.
Aku hanya tersenyum terkulum.
Angga memeluk dengan hangat, erat, cukup lama, begitu dalam, bisa ku rasakan aroma tubuhnya yang maskulin.
"Mas aku kangen,,," bisiknya ditelingaku.
"Hmm,,," gumamku lirih. Sebenarnya, aku tidak meresponnya.
Angga melepas pelukannya.
Ayah juga tidak menanyakan tentang yang ku beli karena ayah orang nya tidak kepo-an, jarang mengurusi orang lain. Yang terpenting jangan mengusik hidupnya, maka tidak akan pernah di usik.
Ayah memang kelihatan biasa, kalem, tapi kalau marah bisa sangat berbahaya.
"Darimana mas?" Angga kembali ke tempat duduknya lagi.
Aku pun duduk sambil memperlihatkan apa yang ku beli.
"Banyak uang, mas"
"Tabunganku, Ga"
"Ayah, ayo pulang" ajakku karena merasa sudah lama, bahkan sudah siang, beranjak sore.
"Kok pulang mas, nginap disini kenapa? Ngobrol aja belum mas, baru aja mau ngobrol udah mau pulang mas?" celoteh Angga. "Pakde, jangan pulang ya, nanti aja,,," cegahnya supaya lama berada dirumahnya.
"Mas,,, Bening mau pulang. Nanti aja. Makan dulu mas, pakde,,, capeknya kan belum selesai udah mau pulang" selang agak lama Putri dari dalam mendengar aku mau pamit pulang, keluar. Wajahnya agak sedih.
"Maafkan pakde Angga, Putri, pakde harus istirahat karena malam pakde harus jaga malam. Kalau pakde tidak istirahat, malamnya tidak bisa jaga, ngantuk" jelas ayah tentu saja hal itu membuat keduanya tidak bisa nyegah buat pulang.
Itulah kenapa aku bawa ayah buat temani aku kesini supaya kalau aku pulang tidak ada yang bisa nyegah. Hebat kan!.
"Kenapa gak kabar kabar kesininya, mas, pakde?" masih agak menggerutu tapi bisa berbuat apa apa.
"Tujuannya buat berkunjung Ga, mumpung ada waktu. Tadi kan rencana Bening cuma mau beli sepatu untuk serep karena cuma memiliki satu, katanya disini lebih murah dan paling dekat, gak kemana mana" balas ayah. Itulah ayah kalau bicara tidak bisa tidak jadi aku bisa aman tidak di cegah oleh Angga untuk nginap.
"Tapi makam dulu pakde, mas Bening" Putri tetep ngotot supaya sedikit mengulur waktu.
"Iya pakde, mas Bening" sambung Angga supaya aku dan ayah jangan cepat pulang. Niatnya ingin ngobrol lebih lama. Kalau ayah sebenarnya tergantung aku mau cepat atau nanti, tapi jika lama lama kasihan, ayah perlu istirahat siang supaya jaga malamnya kuat.
"Nak,,," kini ayah yang menatapku, minta pendapat karena keduanya masih ngotot supaya aku jangan pergi. Sebenarnya aku mau saja nginap dan nanti bisa ngobrol puas sama Angga. Tapi aku ingin pulang karena nanti malam ada yang akan ku kerjakan.
Jadi ku putuskan buat...
"Kapan kapan aja nginapnya Ga, Put. Maaf, kali ini tidak bisa,,,"
Helaan berat dari Angga dan Putri, kecewa sekali karena nanti pasti akan terasa sepi.
Akhirnya kamipun pamit. Masih ada ganjalan dihati mengenai kepergian Angga sama Riko, kemana?.
----------
Senyum kembali terukir....
"Siapa kamu sesungguhnya,,, hessshhh,,, awwhhhh,,," ringisnya, dengan tatapan tajam. Ada dendam disana yang tersirat saat melihatku berada didepannya.
Tak ku pedulikan hal itu, sekalipun orang tua dihadapanku punya dendam kesumat.
Lukaku sudah sembuh dan aku harus lebih berhati hati dengan orang tua bernama Ki Ageng Madyo Santoso karena dia bisa melukaiku didunia mimpi.
Dia juga harus merasakan pembalasanku untuk itu, lukanya tidak akan bisa sembuh begitu saja jika tidak aku yang menyembuhkannya, jika pun ada ku yakin orang tersebut lebih mumpuni. Seperti pepatah mengatakan, di atas langit masih ada langit. Aku tida menampik hal itu benar adanya, dan luka yang pernah ku alami itu salah satu contohnya.
"PENGUASA MALAM!. Tapi, kau telah mengusikku orang tua, mulai sekarang aku harus berhati-hati dengan mu, kau sangat berbahaya"
",,,, Hehhh,,, ternyata, nyalimu ciut juga anak mida, andai aku siap, maka aku tidak akan tinggal diam. Sayang, aku tidak bisa melihat wajahmu
Andai,,,"
"Bukannya aku takut dengan mu orang tua,,,"
"Namaku Ki Ageng, dengar!" serunya, masih saja bertingkah sombong.
Aku hanya tersenyum miring menanggapi nya. Karena bagiku, dia hanya daun yang berserakan, tidak berguna.
"Dengar orang tua, mudah bagiku membuatmu leyap detik ini juga. Akh hanya kasihan pada keluargamu. Kau lihat sendiri bagaimana keadaan mereka sekarang?"
Telapak tanganku ku arahkan didepan wajahnya, sekita...
Ada sebuah gambaran yang sangat mencengangkan bagi Ki Ageng yang melihat istri dan anak anaknya serta keluarganya menangisi keadaannya yang terbujur seoalah seperti mayat.
Blippp....
Apa yang dilihat oleh Ki Ageng menghilang, kini tatapan menajam ke arahku. Kilatan matanya penuh dendam...
"KEPARAT,,, KAU PENGUASA MIMPI!. Kau tidak bisa meleyapkanku dengan mudah" umpatnya dengan mata membulat marah kearahku, tentu dia sangat geram. Ada lelehan air mata dimatanya tak bisa mengusapnya setelah ku perlihatkam keadaanya beserta keluarga.
"Pelankan suaramu orang tua. Kau bukan siapa-siapa, selembar nyawamu, tiada artinya buatku. Karena kau telah berurusan denganku, maka kau perlu ku perhitungkan. Kau pikir aku tidak bisa menghabisimu disini. Kau salah orang oramg tua. Kau pikir aku tidak tahu kelemahanmu,,," lirikku menajam karena Ki Ageng makin membuatku geram, bukan dia saja yang geram.
"Maksud kamu apa?" ki Ageng tentu terpancing serta penasaran.
Kricing, krincing, krincing....
Clappp,,,
"Kau tahu ini orang tua" tunjukku dengan senyum misterius.
Wajah Ki Ageng berubah memucat,,,
"HAH,,, GELANG PENGIKAT JIWA!????"
#bersambung....
-----------
Sn 19/09/22
Komentar
Posting Komentar