152. Mendapat Pesan.
Bab 152. Mendapat Pesan.
★★★
"Jangan,,,?" mohonnya dengan muka sepucat mayat. Matanya syarat akan ketakutan ketika gelang yang ku pakai ku perlihatkan pada ki Ageng.
Begitu dasyatnyakah pengaruhnya bagi ki Ageng gelang pengikat jiwa milikku hingga dia begitu kecutnya saat ku pelihatkan karena tidak ada pilihan lain bagiku. Karena dia pikir aku bermain main, aku tidak bisa melukainya maupun melenyapkannnya, sekarang setelah melihat gelangku, dia langsung ketakutan, seperti orang mau sekarat.
"Kau takut orang tua,,," alisku ku naikan mengejeknya melihatnya ketakutan membuatku tersenyum geli.
"Tadi kau sombong, tidak takut. Kenapa kau sekarang memohon?"
"Ku mohon jangan lenyapkan aku, keluarga ku membutuhkan ku. Aku yang menghidupi mereka. Tolong Penguasa mimpi, ampuni selembar nyawaku, anak -anak dan keluargaku butuh biaya hidup"
Rasanya hatiku terenyuh mendengar pengakuannya.
Di satu sisi aku iba, disisi lainnya aku juga terancam, jika tidak ku peringati maka aku yang dalam bahaya, terlebih jika ku lepaskan.
Bagaimana ini?
"Maaf, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu orang tua, kau sangat berbahaya buatku, maka aku harus melakukan ini untukmu,,,"
Tak bisa ku cegah lagi apa yang ku lakukan karena ini juga demi keamananku supaya aku tidak terancam jika Ki Ageng...
"Ap- apa yang kamu lakukan Penguasa mimpi,,?"
Tanganku ku arahkan keleher Ki Ageng.
Sesaat sinar kuning membersit keluar lalu sinar kuning keemasan itu membelit leher Ki Ageng seperti ular, keadaan itu berlangsung tidak lama.
"Akggghhhh,,," teriak Ki Ageng kaget, tubuhnya sesaat bergetar serta berkeringat.
Slassshhhhh....
Ccceeeesssshhhh,,,,
Sinar yang membelit hilang, lenyap tanpa bekas.
Aku hanya tersenyum kearah Ki Ageng yang kini terengah engah, sepertinya sangat shock dengan yang ku lakukan.
"Aku hanya jaga jaga Ki Ageng. Aku tidak bodoh. Jika kau macam macam denganku, maka jika ku jentikan jariku tiga kali nyawamu akan lenyap dari ragamu" jelasku dengan tatapan tajam.
"Kau bukan manusia Penguasa mimpi, kau iblis!"
"Kau yang memulainya ki Ageng, kau yang mengusikku terlebih dahulu. Aku berjaga jaga segala kemungkinan yang membahayakan hidupku terlebih nyawaku juga keluargaku" balasku.
"Aku akan balas semuanya Penguasa mimpi. Aku tidak terima apa yang kamu lakukan"
"Ingat ki Ageng, lukamu tidak akan pernah sembuh untuk selamanya karena kau terluka dari alam mimpi. Atau kau ingin lagi luka yang lain lagi"
"Kau benar benar bukan manusia Penguasa mimpi!"
"Cukup ki Ageng. Kau pikir dirimu itu siapa, hah? Kau orang yang suci, tidak punya dosa. Mungkin sudah ribuan orang yang kau korbankan?"
"Jangan menuduh sembarang kau Penguasa mimpi, kalau tidak tahu kebenarannya"
"Jika tidak, buat apa kau mengusik ku Ki Ageng, buat apa? Apa kau kira sakti?"
"Beraninya kau mendatangiku dalam keadaan tidak siap"
"Kau pikir aku sebodoh itu ki Ageng, dan bisa kau bodohi"
"Aku tidak butuh ceramahmu!"
"Aku hanya ingin membebaskanmu. Asal kau tahu lehermu kini telah terpasang Pengikat jiwa, sekali kau berbuat macam macam, sesuatu ataupun berani mengusikku, nyawamu tidak akan bisa tertolong. Jika sekali kau melakukan kesalahan, maka gelang Pengikat Jiwa itu, akan melenyapkan nyawamu dari ragamu. Kalau kau tidak percaya, kau boleh mencobanya kalau kau tidak percaya. Kau pasti merasakan bukan Ki Ageng, lakukan kalau tidak percaya, buktikan saja" ulasku sebagai peringatan karena untuk berjaga jaga.
Cetek, cetek, cetek....
Tali yang mengikat tubuhnya lepas dengan sendirinya, serta talinya lenyap.
"Lepaskan ikatan tali gelang itu dari lehermu, coba saja, ayo,,," desakku ingin tahu kejadian apa yang bakal di alami oleh ki Ageng, nantinya.
Kedua tangan Ki Ageng nampak gemetar, tatkala mulai mendekat kelehernya, meraba. Pasti merasakan tali yang menjerat lehernya yang seperti melekat erat, sekalipun nampak elastis.
Tali berwarna kuning kemasan berpedar itu hanya bisa dilihat oleh orang orang tertentu.
Ketika...
-----------
Suara adzan yang sayup sayup terdengar membangunkanku dalam tidur panjangku.
"Huahhhh,,, Alhamdulillah" ucapku memuji kebesaran Alloh yang membangunkanku dalam keadaan sehat setelah tidur, rasa syukur yang tak ternilai harga.
Seperti biasanya, aku selalu mandi pagi, sembayang. Belajar sebentar hingga jam enam, aku pun bersiap siap nantinya berangkat sekolah.
Tentunya, pakai sepatu baru yang ku beli kemarin dengan Putri.
Senyumku mengembang saat ku kenakan sepatu baru, lagi lagi ku ucapkan rasa syukur yang tak terhingga.
"Wah sudah siap nak? Ini sarapan dulu, biar gak mikir perut kalau lagi belajar" ibu datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Terima kasih bu,,," ku balas senyum ibu yang tulus. Ku nikmati sarapan pagiku dengan rasa bahagia.
"Bagaimana kemarin dirumah Pamanmu, nak?"
Setelah ku selesaikan sarapanku, karena kemarin aku belum cerita pada ibu, kalau ayah ikut tahu yang terjadi.
"Ketemu sama Putri juga Angga bu. Keadaan mereka baik baik saja" ulasku teringat kemarin saat berkunjung kesana.
"Oh, syukur Alhamdulillah" lagi lagi ibu tersenyum cerah.
"Nak ayah sudah menunggu mu dipos jaga. Oiya, tadi ibu dapat pesan den Riko kamu disuruh menemuinya dipinggir lapangan sebelah selatan saat istirahat" ucap ibu menyampaikan pesan dari Riko. Entah hal apa lagi yang akan dibicarakan karena aku sudah gak respek lagi dengannya.
Terlebih ingat kata Putri kalau Angga sering keluar malam di ajak Riko pergi entah kemana, mungkin ke club malam.
"Iya bu, nanti aku temui"
Aku pamitan, di antar ibu sampai aku tidak terlihat karena ibu menuju kerumah besar, aku menemui ayah di pos jaga karena pagi hari sampai sore paman yang jaga menggantikan ayah.
"Ayah,,, paman Syarif" sapaku pada dua orang yang paling ku sayangi dalam hidupku, penyemangat hidupku juga, mereka laki laki yang tangguh demi menghidupi keluarga tercinta.
Pamanku tersenyum ramah, begitu ayah juga sama. Ku peluk hangat paman rasa sudah cukup, tak perlu salim.
"Bening, paman sangat berterima kasih karena telah membelikan Putri"
Tentu hal itu didengar oleh ayah, terlebih kemaren ayah memberiku uang pass tentu saja ayah dibuat bingung, aku bisa melihat dari mimik wajahnya.
"Sama sama paman, gak usah dipikirkan. Paman aku berangkat. Assalamualaikum, paman"
"Waalaikum salam" balas paman.
Aku dan ayah pun berlalu, dibonceng oleh ayah, mengantarku kesekolah selanjutnya setelah menanti mengantarku, pulang untuk istirahat.
----------
"Huuhhh,,, kemana manusia bodong itu" ku cari sekitar lapangan tapi batang hidungnya tidak kelihatan. Tentu saja aku agak kesal, karena tadi pagi aku dapat pesan dari ibu kalau istirahat aku harus menemui Riko dipinggir lapangan.
Ternyata batang hidungnya saja tidak kelihatan. Siapa coba yang gak kesal. Mendingan tadi aku pergi ke kantin, mana aku merasa haus lagi.
"Daaarrrr!"
"Bangsat lho!" makiku tanpa sadar karena saat aku melamun di kejutkan dengan bentakan.
Ku tengok yang mengagetkanku.
"Riko,,,!" geramku karena nongolnya tidak ku ketahui dari mana arahnya.
"Kamu sudah pintar ngomong jelek ya sekarang" Riko mencari tempat duduk yang nyaman, aku pun mengikutinya. Duduk dibawah pohon rindang tidak ada kursinya, jadi duduk direrumputan, tapi terasa nyaman.
Di kejauhan nampak anak anak yang lain bermain dilapangan, ada yang main futsal, kejar kejaran, ngerumpi.
"Gak usah mulai deh. Maumu apa nyuruh aku nemui kamu disini?, cepet ngomong, aku gak ada waktu" tak melihat kearahnya, sedikit kesal.
"Kok gitu,,, jutek amat"
"Riko,,," dengusku.
"Iya,,,"
"Nyebelin"
"Suka kan"
"Ge Er"
"Hmmm,,," dehemnya, aku tidak tahu maksudnya. Mencolek telinga kiriku. Salah persepsi ku toleh ke kanan.
"Ada apa?" Hampir aku sewot. Tapi yang terjadi...
Hap,,,
"Rik,,,"
Hidungku mencium pipinya.
#bersambung...
----------
Sl 20/09/22
Komentar
Posting Komentar