154. Kejelasan.

 Bab 154. Kejelasan.


★★★


Tentu hal yang ditanyakan oleh Latifah serta pandangan dari kawan kawannya membuatku tidak enak hati, aku tidak bisa mengelak lagi karena kepergok oleh mereka sedang mencium Riko, itu terjadi karena unsur tidak sengaja.


Riko malah bersikap biasa, aku saja bingung untuk menjawabnya.


Aku merasa tersangka utamanya, tapi Riko tidak memberi alasan.


Ini akan jadi suatu pertanyaan besar bagi Latifah dan kawan kawannya, dan perlu jawaban.


Bahkan sampai pulang bahkan ayah datang menjemput aku masih saja diam, memikirkan kejadian saat aku mencium Riko tidak sengaja.


Aku berjalan seperti robot, tidak ku hiraukan ayahkan bahkan sampai aku lupa untuk mengucap salam juga salim tangan sama ayah, malah aku melangkah gontai menuju paviliun.


"Nak, nak, nak,,," sayup ku dengar panggilan ayah namun suaranya seperti timbul tenggelam.


Bahkan saat aku masuk pun seperti orang linglung saja.


Aku begitu kaget dapati ayah sudah berada didalam, entah sejak kapan sampai duluannya.


"Ayah?" kejutku melihatnya sambil tersenyum tawar kearahnya.


"Nak, apa yang terjadi padamu? Kamu seperti orang linglung saat dari pulang sekolah, ada apa?" cerca ayah dengan pertanyaan membuatku bingung bagaimana caraku menjawabnya.


Haruskah ku jujur atau pura pura saja, atau memilih untuk diam saja.


Dilema!


Akhirnya....


"Gak ada apa apa kok ayah, hanya ada sedikit masalah disekolah, tapi sudah selesai, hanya jadi sedikit pikiranku"


Itu bukan bukan pribadiku, aku juga tidak bohong sepenuhnya sekalipun masih ku tutupi hal sebenarnya dari ayah. Karena ayah yang kini sedang bersamaku, tentu saja merasakan apa yang ku rasakan.


"Masalah apa nak? Ayah jarang sekali memperhatikanmu karena sibuk di pos karena tidak bisa kemana mana"


"Bagiku ayah luar biasa, tidak mengeluh dengan keadaan. Aku bangga sama ayah yang selalu tegar dalam hidup"


Entah mengapa aku tidak bisa mengontrol luapan emosiku, hampir saja tidak bisa ku tahan air mataku karena tiba tiba saja panas, leher jadi gondok menahan keharuan dari ayahku.


Ayah memelukku hangat, yang selama ini jarang dilakukannya.


Hatiku terasa begitu damai dalam pelukan hangat ayahku.


Tak bisa ku bendung lagi rasa yang mengharu biru yang ku rasakan akibat pelukan ayah juga masalah yang terjadi selama ini.


'Ayah maafkan aku karena tidak selalu jujur sama ayah, karena ini hal yang memalukan dihidupku. Rasanya aku tidak sanggup untuk memikulnya sendiri, namun apalah dayaku karena semua sudah terjadi, aku tidak bisa mengelak' rintih batinku nelangsa, air mataku makin deras mengucur terlebih pelukan ayah membuatku makin tak terkontrol meluapkan perasaanku.


Hingga pelukan ayah perlahan dilepasnya.


Ada rasa kelegaan ku rasakan, rasanya plong beban batinku saat ini. Walaupun dipikiranku masih menyisa.


"Kalau saat ini belum siap untuk curhat gak apa apa nak, kamu perlu waktu untuk itu"


"Iya ayah, maafkan aku"


"Iya, ayah ngerti perasaanmu. Ayah mau istirahat dulu"


Setelah kepergian ayah, kini aku sendirian. Rasanya perasaanku sudah mending tenang, tidak seperti awal tadi. Mungkin, jika ibu aku bisa sedikit cerita, kalau sama ayah aku takut ayah marah, menghujatku. Sekalipun ayah tidak pernah marah padaku.


"Nak makan siang dulu"


Aku agak terkejut atas sapaan ibu saat akan beranjak.


"Nak kenapa nangis?"


Aku lupa memgusap air mataku hingga dilihat oleh ibu.


Mungkin ini saat nya aku jujur apa yang terjadi.


"Bu aku malu sekali saat disekolah. Ak- aku,,, tanpa sengaja mencium Riko dan banyak melihat kejadian itu. Rasanya aku sangat malu. Persepsi mereka padaku pasti buruk,,," jelasku dengan nahan perasaan, terlebih rasanya sudah gondok tapi ku tahan supaya aku tidak mengeluarkan air mata. Namun, sekuat apa pun ku tahan perlahan bulir bening luruh disudut mataku.


Ibu memelukku hangat buat menenangkan perasaan hati ku yang lagi kacau.


"Makan dulu nak, kesehatanmu lebih utama" ibu mengalihkan pembicaraannya seperti tidak ingin membahas masalah ku.


Sungguh itu suatu hal membuatku kepikiran terlebih banyak yang menyaksikan.


Rasa makanan yang ku pun terasa hambar. Rasanya jadi beban buatku tapi ibu seperti mengabaikannya.


Apa mungkin itu hal yang lumrah bagiku.


Mengingat sebenarnya aku sudah terlalu dalam main perasaan, bukan satu melainkan lebih, semua orang terdekatku.


Setengah dari makanan yang dibawa ibu tidak bisa ku habiskan, rasanya perutku tidak muat lagi untuk menampung makanan.


Biasanya ibu akan komplain jika aku tidak menghabiskannya.


Bilangnya ibu...


"Nak, makanannya dihabiskan nanti ayam mati" atau,,,


"Nak, jangan menyia nyiakan makanan, belum tentu yang lain bisa makan seperti yang kita makan saat ini. Jika Alloh tidak memberi rejeki lagi, apa kamu tidak takut, bila kita bisa makan seperti ini"


Jika ingat hal itu maka sedikit ku paksa aku pun menghabiskannya, karena itu rejeki buat kita hari ini, jika nikmat Alloh dikurangan kita akan marah pada siapa.


"Nak, jangan paksa menghabiskan makananmu, biar ibu yang menghabiskannya, karena ada di antara makanan terakhir yang kita itu ada keberkahan dari Alloh yang kita ketahui, untuk itu kenapa kita makan harus bersih tanpa sisa" nasehat ibu begitu mengena.


Tidak ada kata bantahan lagi, aku hanya bisa tertunduk bisu menelaah setiap ucapan ibu yang penuh makna kehidupan.


"Jadi ibu tidak marah aku,,,"


Ibu langsung menggeleng...


"Kamu melakukannya tidak sengaja bukan"


Aku pun hanya mengangguk saja.


Helaan nafas ibu, terlihat, senyum selalu terukir diwajah ayunya di usianya yang hampir lima puluh tahunan.


"Lupakan. Kamu tidak usah memikirkan hal itu lagi"


Anggukku cuma mengikuti ucapana ibu.


'Ibu anda engkau tahu, aku telah jauh melangkah bermain dengan perasaan, itu dengan laki laki bukan seorang wanita, mungkin ibu akan nelangsa. Aku bukan anak yang baik bagimu. Aku anak yang nista' batinku, nelangsa mengingat semua kejadian yang ku alami selama ini.


Untuk kali ini aku tak ingin menitikan air mata lagi. Ku kuatkan hatiku untuk tegar.


"Nak, ibu tanya satu hal sama kamu,,,"


"Iya bu, apa,,,?"


Entah mengapa hatiku berdebar tidak enak, sepertinya ibuku ingin tahu apa yang ku lakukan selama ini.


"Apa kamu masih menggunakan ilmu penjerat mimpi untuk menjerat sukma seseorang?"


Deg!


Aku tak ingin ibu marah terlebih membenciku.


Tentu saja ada rasa takut, saat ibu tanya akan hal tersebut.


Untuk jujur aku keberatan, kalau tidak jujur pasti ibu akan kecewa padaku.


"Selain Ki Ageng,,," tambahnya karena aku hanya diam termangu.


"Ada bu. Namanya Alex"


"Kenapa nak? Kamu ada masalah dengan anak yang bernama Alex"


"Sedikit. Dia juga sering membullyku tapi bukan itu. Ada hal yang lebih buruk dari hal itu"


"Apa nak?"


"Alex ingin membuat siswi cewek satu kelasku mau dibuat tidak suci lagi"


"Benarkah itu"


Anggukku membenarkan...


"Iya bu, karena tanpa sengaja aku mendengarnya di toilet ketika aku sedang buang hajat, Alex dan gangnya merencanakannya. Sudah banyak yang jadi korbannya, dan rata rata mereka dibawah ancaman Alex tidak bisa berkutik, menuruti semua kemauan Alex karena hidup mereka dalam tekanan"


",,, Jahat sekali orang itu. Apa yang kamu lakukan pada Alex, terutama Ki Ageng"


"Mereka masih ku kurung di dunia mimpi. Aku ingin membebaskan ki Ageng karena suatu hal"


"Apa tidak berbahaya orang yang bernama Ki Ageng itu nak?"


"Sedikit berbahaya, buktinya bisa melukaiku di alam mimpi"


"Jangan kamu bebaskan nak, jika itu membahayakan dirimu"


"Ibu tenang, tidak usah khawatir, aku sudah membuatnya tidak bisa macam macam sama aku juga ibu dan ayah, jika ki Ageng mengusik kekuargay kita, maka siap siap nyawanya melayang" jelasku, membuat mata ibu langsung membulat ngeri.


"Itulah mengapa sebabnya tidak ingin mendalami ilmu penjerat mimpi. Karena sangat berbahaya"


"Apakah ibu juga mengusainya"


Ibuku mengangguk pelan...


"Simbah kakung mu yang memaksa ibu juga ayahmu untuk mempelajarinya, tapi tidak begitu mendalaminya karena kami tahu resikonya sangat mengerikan buat si pemilik ilmu itu"


"Jadi ayah dan ibu bisa ke dunia mimpi?"


"Iya" itulah pengakuan ibuku yang membuatku kaget.


Tapi mengapa ibu masih bisa memiliki keturunan.


"Ibu bukan pewaris syah keturunan ketujuh dari ilmu penjerat mimpi. Hanya saja ayah selalu memaksa supaya aku dan ayahmu mempelajarinya. Hingga aku dan ayahmu punya permintaan yaitu harus punya keturunan dulu bari kita mau mempelajarinya" terang ibuku atas pertanyaan yang mengganjal dipikiranku kini terjawab sudah.


"Apakah keluarga paman Syarif tahu tentang ilmu penjerat mimpi, bu?"


#bersambung....


---------


Jm 23/09/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.