155. CIBIRAN.
Bab 155. CIBIRAN
★★★
Malam telah menyelimuti dunia hingga tubuh yang lelah perlu di istirahat untuk aktivitas esok hari.
Ibu mengakui atau tidak yang jelas ibu tidak pernah tahu apakah keluarga paman tahu apa tidak mengenai ilmu penjerat mimpi karena dari dulu bibiku sudah bekerja sejak lama di Jakarta.
Kini, aku ingin menemui Ki Ageng kembali, ada tujuannya kenapa menemuinya lagi ke dunia mimpi...
Suasana seperti biasanya, temaram serta ada asap seperti kabut tipis menambah kesan seram ketika memasuki dunia mimpi.
"Penguasa mimpi!" Seperti halnya ketika aku menemuinya, mata Ki Ageng langsung membulat seperti biasa.
"Kau masih mengenaliku orang tua, ku kira kau amnesia tidak mengenaliku"
"Apa mau mu?"
"Tidak banyak, hanya memberitahumu, sekedar berita bagus untukmu kalau aku akan membebasku hari ini"
Wajah Ki Ageng langsung berubah ceria, ada senyum tipis di bibirnya yang agak gelap. Ada sesuatu hal yang dia rencana hingga lagi dia tersenyum picik.
"Benarkah itu Penguasa mimpi?"
"Iya, tapi jangan kau berpikir setelah ini kau akan bebas begitu saja, jika masih mengusikku terlebih membantu manusia yang nama Alex. Jika hal itu kau lakukan, aku pastikan nyawamu tidak akan betah lagi tinggal diragamu, ha ha haaaa,,,"
Ada dengusan kecil. Ki Ageng tidak terima dengan ancamanku, tapi itu resiko buat dia karena berurusan denganku.
"Terima kasih jika kamu mau membebaskanmu"
Akhirnya Ki Ageng hanya bisa pasrah, melawanpun juga percuma.
"Bersiaplah" kataku tersenyum tawar padanya karena Ki Ageng tidak sedikit pun tersenyum, nampak serius.
Cetek, cetek, cetek,,,
Ssseeeeeesssshhhh...
Ada angin lirih berhembus. Ikatannya pun terlepas, ki Ageng terbebas dari tali yang menjeratnya.
"Terima kasih kamu telah membebaskanku dari alam mimpi"
Kini Ki Ageng berdiri menatapku, bahkan belum ada senyum. Kelihatan sekali kalau tubuhnya terasa karena beberapa terkurung disini.
"Pergilah dari sini, dan pernah memgusikku lagi"
Setelah itu....
Cetek, cetek, cetek,,,
Whuuuussshhhhhh!
Sosok Ki Ageng lenyap kembali kedunia nyata, masuk ke raganya.
Aku tersenyum...
"Satu urusan telah selesai, ini saat aku menemuinya" gumamku lirih. Ku lepas penutup wajahku, kalau berhadapan dengan Alex aku tidak takut karena dia sudah tahu identitasku.
Blippp....
"Hmmm,,," gumamku setelah aku pindah tempat karena didunia mimpi tidak ada penghalang bagiku. Mudah bagiku pergi kemana aku suka.
"Heeemmmm,,, eeemmmm,,,!" erangnya tak bisa mengeluarkan suaranya ketika melihat kedatangan sosokku dihapannya dengan mata membulat.
Cetek...
Sumpalan dimulutnya lenyap seketika.
"Lepaskan aku, keparat!" geramnya dengan mata membulat.
"Ternyata kau tidak berubah juga ya,,, Alex" balasku dengan senyum ejekan.
"Lepaskan aku! Ku kamu jika aku berada di dunia nyata,,,"
"Bukan urusanmu, Bening. Aku akan buat perhitungan denganmu. Aku akan buat hidupmu menderita selamanya"
"Oiya, benar begitu Alex. Kau tidak lihat keadaanmu sekarang itu seperti apa, hah,,,"
"Aku tidak takut sama kamu, keparat. Anjing kau,,, Bening,,,," serunya makin meluap emosinya. Setelah mulutnya bebas, bahkan teriak sesukanya. Ku tanggapi dengan senyum miring.
"Bicaralah sesukamu disini, tidak akan ada yang mendengarmu, kecuali aku pun yang menolong tidak akan pernah ada. Aku juga telah membuat Ki Ageng menyesalinya karena berhadapan dengan aku..."
"DASAR KAU HOMO MENJIJIKAN, LEPASKAN AKU BANCI!" bentaknya dengan geram, mengolokku dengan hinaan yang membuat telinga ku panas.
Plakkkk....
Tamparan cukup keras mendarat dimulutnya.
"JAGA MULUT ALEX. KAU KETERLALUAN MENGHINAKU SEPERTI ITU, hiks, hiks, hiks,,," balasku membentak lebih.
"Ternyata kau tidak bisa dibelas kasihani. Baiklah..." geramku sudah tidak bisa ku kontrol lagi.
"Bukankah ucapanku tidak salah. Kau sekedar seorang homo murahan yang menjual harga diri"
"A- L- E- X,,,,!" tidak bisa ku toleransi lagi ucapannya sekalipun benar. Tapi, penghinaannya sungguh keterlaluan.
"Heeegggg,,,,?"
Ku cekik lehernya kuat dengan mata melotot, geram kearahnya. Hatiku tarasa panas hingga tak bisa ku kontrol emosiku.
Tangan Alex menggapai ruang kosong saat memukul. Dia meringis antara kesakitan dan juga tersengal karena tidak bisa bernafas dengan bebas akibat cekikanku yang kuat.
Tanganya masih menggapai gapai tapi itu percuma buat dia karena tidak akan mengenaiku.
"Kau akan mati Alex. Kau akan mati. Kau akan mati!"
Blipppp?
Air mataku luruh tak terasa. Benar ucapan Alex kalau manusia rendah. Aku....
Kini ku buka mataku, telah kembali ke dunia nyata lagi.
Setelah aku membebaskan Ki Ageng aku menumui Alex, aku juga bermaksud membebaskannya, tapi perkataannya membuatku sakit hati walaupun semua perkataannya benar, tidak seharusnya dia mengataiku seperti itu.
Hufffff...
Terdengar suara adzan berkumandang dari masjid, sayup sayup terdengar...
Aku bersiap untuk mandi setelah...
Selang beberapa saat.
Alhamdulillah!
Semua sudah selesai ku kerjakan.
Sambil menunggu waktu luang ku buka buku lks untuk pelajaran hari ini supaya nanti biar lebih enak. Cukup lama ku pelajari pelajaran hari, walaupun yang belum ku mengerti nanti akan ku tanyakan ketika sesi tanya jawab, jika pun yang ku conteng sudah di jelaskan tidak perlu ku tanyakan lagi. Berarti aku sudah mengerti.
---------
Sikap Latifah ku rasakan berubah, entah itu hanya perasaanku atau memang aku jarang berinteraksi.
Atau mungkin gegara kejadian waktu itu hingga sikapnya berubah. Bisa jadi.
Aku merasa tidak enak, terlebih mood ku tidak baik hari ini ditambah lagi sikap Latifah juga kawan kawan yang lainnya berubah total. Bahkan pandangannya nampak berbeda dari biasanya.
Ku ikuti pelajaran hari dengan tidak semangat, pelajaran yang ku pelajari tadi sudah dijelaskan.
Pelajaran sudah selesai, saatnya istirahat.
Selama di sekolah elite ini, aku tidak pernah kemana mana, walaupun ada sebagian gedung yang bertingkat, aku belum pernah kesana.
Semua para siswanya pada keluar, aku sendirian di kelas. Ku edarkan pandanganku aman...
Akh tersenyum.
"Ah, lebih baik ku tenangkan diriku di gedung bertingkat,,," gumamku karena aku pernah melihatnya.
Blippp....
Keadaan diatas sini tentu lengang sekali tidak ada seorangpun yang datang kesini karena disini dilarang untuk seluruh siswa karena bisa melihat kebawah yang pemandangannya sangat menakjubkan.
Kenanganku pun kembali saat ku nikmati pemandangan dari atas ketika aku berkunjung ke monas bersama Riko. Ku rasakan hal yang sangat membahagiakan buatku seumur hidup karena tidak menyangka jika aku bisa naik kemenara paling tinggi dimana terdapat emasnya yang besar.
Kini pemandangan itu ku rasakan lagi, disini sendirian.
Aku tahu waktu setengah jam itu begitu pendek, namun momen itu tidak akan ku sia siakan.
Kini aku juga terngat dengan Riko serta gudangnya yang dulu buat menyekapku hingga hampir empat hari aku dikurung.
Beruntung ada pak Surya yang menolongku hingga menjadiku dekat dengannya serta aku panggil mas sekarang karena kedekatanku dengannya.
Rasanya waktu begitu cepat berlalu...
Ku nikmati waktu kesendirianku. Kini aku di landa kebingungan untuk turun, tentu akan menarik kecurigaan untuk siswa yang lain yang melihatku.
Tadi aku datangnya dalam sekejab, aku dilanda kebingungan sendiri.
Lebih baik aku menuju...
#bersambung...
-------------
Sb 24/09/22.
Komentar
Posting Komentar