156. AWAS,,,!.
Bab 156. AWAS,,,!
★★★
Suara gemericik air terdengar dari salah satu kamar toilet. Sedang menyiram. Keadaan agak sepi karena ini alternatif yang ku tempuh, lebih aman disaat aku dilanda kepanikan karena tadi berada di atas gedung bertingkat. Aroma yang tidak sedap tercium. Aku masuk disalah satu toilet yang terbuka untuk buang hajat.
Beberapa saat aku keluar dari kamar toilet...
Ku berpas-pasan dengan beberapa siswa, ada yang kenal juga tidak.
Yang membikin aku heran dengan pandangan siswa yang mengenalku, seperti...
Tentu saja hati seperti tersayat, perih membuat dadaku bergemuruh karena campur aduknya perasaanku saat ini.
Bahkan semakin aku berpas-pasan dengan siswa yang ku kenal sikap mereka tampak aneh tidak mau menyapa. Padahal sikap mereka sedikit berubah kini mereka seperti membenciku kembali, bahkan terlihat...
"Oh itu toh anak cium laki laki?"
"Ih, homo dong"
"Kok ada yang orang kayak gitu, suka sama laki laki"
"Ih, ngeri. Amit amit jabang bayi"
"Gue ogah kenal orang kayak dia, bisa menular"
"Penyakit kali sob"
"Lu banyangi, lu nyodok buritan. Kayak gak ada lubang cewek yang dimasuki"
"Sadis juga, ngeri gue. Bayangin aja gak nyampek"
"Kok ada ya,,,"
Itulah cibiran sepanjang jalan yang dilontarkan padaku. Hatiku nyesek rasanya.
Begitu besarnya dosa yang ku lakukan padahal itu bukan kehendakku.
Mereka mengolok olokku tapi tidak tahu kebenarannya. Telingaku jadi panas rasanya.
Ingin rasanya aku bunuh mereka satu persatu. Tapi tidak, aku bukan orang yang suka membunuh. Namun rasa geramku sudah sampai ke ubun-ubun.
"KALAU KALIAN TIDAK TAHU MASALAH JANGAN BACOT, MAU KU BUNUH KALIAN SEMUA!" teriakku lantang bahkan angin berhembus tiba tiba. Bahkan awan hitam bergulung datang dari berbagai penjuru arah diatas.
Tentu saja yang ada disitu yang tadi menggunjingku di landa rasa ketakutan.
Bahkan angin bersiuran menerpa membuat mereka tidak bisa beranjak dari tempatnya seperti dipantek.
"KALIAN SEMUA TELAH BERANI MENGUSIKKU. MAKA UNTUK KALIAN HARUS BINASA HARI INI!" geramku sudah tidak ku kontrol lagi. Ku tatapi satu persatu wajah ketakutan mereka. Bahkan sampai ada yang terkencing kencing di celana. Mereka tidak bisa lari kemana kemana.
Krincinggggggggg,,,,!
Ku goyang tangan kananku sekali.
krincingggggg,,,,,,!
Ku goyang dua kali tanganku.
"KALIAN TELAH SALAH BERURUSAN DENGAN ORANG. DULU AKU LEMAH DAN MENGALAH TERUS DENGAN KALIAN. TAPI KALI INI TIDAK. LEBIH BAIK KALIAN MATI SAJA DARI PADA HIDUP MEMBUAT AIB PADA YANG LAIN. APA KALIAN PIKIR DIRI KALIAN ITU SUCI, TIDAK PUNYA DOSA, HAAHHH,,,,!" bentakku ku rentangkan kedua tanganku.
Angin kencang laksana puting beliung seperti menerjang sangat pesat. Gemuruhnya menimbulkan bunyi menderu dasyat.
"SEKALI KU GOYANGKAN TANGANKU SEKALI LAGI, MAKA NYAWA KALIAN PERGI KE ALAM BAKA, HA HA HAAAA,,,,,!" tawaku menggelegar membahana.
Wajah mereka yang ada ditempat tersebut tidak berdarah lagi.
"Maafkan kami Bening, maafkan kami. Kami tidak akan mengulanginya lagi. Kami berjanji"
"Tidak, kami bersumpah tidak akan membullymu"
"Ya kami bersumpah!"
Serentak mereka terduduk tidak berani melihat kearahku. Terlebih dibarengi gemuruh angin yang menderu dasyat hingga semua sampah berterbangan.
"Baik, jika itu sumpah kalian. Aku ampuni selembar nyawa kalian yang tidak berguna. Aku pegang sumpah kalian. Sekali lagi kalian mengusikku. Maka aku tidak ragu lagi memusnah kalian semuanya detik itu juga"
Angin makin menderu dasyat bahkan awan hitam juga bergulung hingga menimbulkan prahara.
Mereka semuanya tertunduk...
Kesempatanku!
Cetek, cetek, cetek,,,
Blippp...
Ahhhh,,,
Aku duduk dengan santai dikelas.
Keadaan kini sudah tenang dan terang, semua wajah ku lihat nampak sok.
Jelas terlihat wajah ketakutan jelas sekali.
Kini semua yang ada didalam kelas nampak bernafas lega. Mereka sangat dengan keadaan yang bagai kiamat, tentunya.
Murid yang sebagian tadi melihatku sedang marah mereka benar benar ketakutan bahkan muka mereka pucat pasi tak berani menatapku. Karena aku menatap kedatangan mereka satu persatu dengan tatapan tajam membunuh.
Hingga mereka duduk santai ditempatnya masing masing hingga kelas sepi, hening, lengang tak ada suara sedikitpun bahkan nafas pun tak terdengar, ada aura kengerian yang melanda.
Bahkan Latifah pun terlihat ikut ketakutan mungkin efek alam yang berubah tadi.
Hingga akhirnya wali kelasku datang, para muridnya nampak terdiam.
Bahkan saat pak Lucky memberi salam tak ada yang menjawab.
"Waalaikum salam" aku lah satu satu murid yang menjawabnya membuat pak Lucky heran. Walaupun jelas wajahnya juga menyiratkan rasa ketakutan yang teramat dalam.
"Ada apa dengan kalian? Saya tahu, kalian pasti ketakutan dengan hal tadi. Itu kejadian biasa, jangan kalian pikirkan ya" pak Lucky coba mencairkan suasana menatapi satu persatu muridnya yang nampak sedang ketakutan.
Walaupun kejadian itu tidak berlangsung lama tapi hal itu membuat mereka sangat trauma sehingga tidak mudah dilupakan.
Aku hanya tersenyum tipis ketika pak Lucky mengarahkan tatapan padaku.
Aku lah satu satunya murid yang bisa senyum dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Hal itu membuat pak Lucky keheranan, tapi aku bisa melihat rautnya itu.
"Kenapa kamu Bening?"
Maksudnya kenapa aku bisa senyum padahal yang lain lagi ketakutan.
"Gak apa apa,,," jawabku singkat.
"Saya mau tanya satu hal sama kamu mengenai isu bahwa kamu mencium Riko ditempat umum. Sungguh memalukan sekali perbuatanmu, mencerminkan akhlak yang bobrok. Apa kamu tidak malu melakukan hal itu?" tuduhnya tanpa tanya dulu alasannya ku lakukan hal itu.
Yang lainnya pada ketakutan tapi pak Lucky malah memojokkanku didepan kelas.
Sedangkan emosi saja belum stabil.
Kini ditambah lagi dengan tujuan pak Lucky tanpa mendengarkan alasanku terlebih dahulu.
"Pak itu cuma kesalahpahaman saja. Hal sebenarnya terjadi bukan seperti itu" kini yang angkat bicara yaitu Latifah, seperti sudah tidak shock lagi dengan keadaan.
"Lha bukannya kalian duluan yang melaporkan kejadian itu pada saya hingga dewan guru banyak dengar" pak Lucky kini keheranan mendapat tanggapan dari Latifah.
Ya Alloh, jadi semua itu telah menyebar kemana mana, dan itu penyebabnya Latifah dan kawan kawan mereka. Sungguh tidak saring, padahal jelas mereka jelas jelas melihat kejadian yang sesungguhnya terjadi, tapi mereka malah berkata yang memojokkanku.
Apa maksud mereka?
"Tolong pak jangan bahas hal itu lagi, itu cuma kesalahpahaman saja, pak" mohon Latifah demi melihat muka ketakutan dari wajah teman teman sekelasnya.
Pak Lucky juga menyadari hal itu hingga beliau tidak membahasnya lagi.
'Awas kau pak Lucky, mulut besarmu itu perlu diberi pelajaran supaya kamu tidak sombong. Kita lihat saja besok, apa kau masih bisa sombong di hadapanku. Aku juga akan memperingati cewek tak tahu diri itu. Menyesal aku telah membelanya mati matian tapi balasan seperti itu' batinku, melirik kearah Latifah yang nampak ketakutan. Entah apa yang membuatnya takutan, mungkin tahu dengan apa yang telah ku lakukan.
Lihat saja nanti?
#bersambung....
------
Sb 24/09/22.
Komentar
Posting Komentar