157. Hinaan yang sungguh keterlaluan.

 Bab 157. Hinaan yang sungguh keterlaluan.


★★★


Semua seperti apa yang telah ku rencanakan.


"Malam pak guru,,," sapaku lembut serta tersenyum ramah dihadapannya.


Tentu saja aku menemuinya di dunia mimpi. Di alam mimpinya.


"Kau, kau Bening kan, apa yang kau lakukan disini?" ucapnya terkejut melihatku berada tak jauh dari hadapannya.


Pak Lucky memakai pakaian santai, kaos pendek warna putih serta celana setengah tiang casual.


Pak Lucky terlihat tampan dan gagah.


Semula aku simpatik dengannya, tapi karena sikapnya yang selama ini mencibirku, menyindirku hingga membuatku tidak respek lagi.


Niat awalku sudah bulat yaitu untuk memberinya...


"Iya pak aku Bening. Kenapa bapak kaget karena aku bisa menemui bapak disini. Itu tidak penting buatku. Aku sesini hanya ingin memberi pelanjaran sama mulut bapak yang telah lancang ngomongnya"


"Memang kenyataan benar adanya. Kenapa kamu munafik. Aku dapat laporan dari sebagian murid, makanya aku ingin tahu"


"Cukup" bentakku tidak sabar.


"Tapi cara bapak yang salah, mengatakan hal itu didepan kelas, seolah aku ini seperti seorang penjahat"


Pak Lucky terdiam sejenak, berpikir.


"Bukakah semua itu benar"


"Apa buktinya? Apa hanya karena laporan mereka?. Seandai bapak aku laporkan atas tindakan menyembunyikan narkoba, apa bapak bisa terima?"


Ku lihat pak Lucky termenung.


"Tentu tidak bukan" imbuhku.


"Makanya dipikirkan dulu pak jika bertindak. Maaf, atas ucapan bapak aku tidak terima, untuk itu aku harus,,,"


Tatapan ku tajam kearahnya. Tentu saja aku sangat geram atas apa yang telah dilakukannya. Mulutnya sangat pedas melebihi suara emak emak jual sayuran.


Jari telunjukku ku arahkan padanya, runcing berwarna agak hitam kecoklatan.


"Ap- apa yang akan kau lakukan?"


"Untuk membungkam mulut bapak yang tukang koar koar, supaya ini jadi pelajaran buat bapak supaya lebih berpikir jernih serta tahu alasan yang jelas" jelasku. Aku tidak akan main main lagi karena akhir akhir ini merasa sensitif sekali.


Wajah pak Lucky terlihat pucat..


"Kenapa pak? Bapak takut. Bapak pernah berpikir atas tindakan yang lakukan itu bisa merubah keadaan. Itu karena ulah bapak. Aku minta bapak bisa membersihkan namaku karena ini sebagai peringatan terakhirku"


Sseeettttt,,,


"Aaaakkhhhhhh,,,!" ringisnya, dengan mata membeliak kesakitan. Membekap lukanya yang dekat bibirnya. "Hesssshhh,,,, awawww,,,," erangnya lirih, bahkan air matanya sampai bergulir karena rasa sakit yang dirasakannya.


"Jika tidak bapak lakukan, maka aku tidak segan segan untuk membuat nyawamu lepas dari ragamu!" Ancamku tidak pernah main main sebagai pesan terakhir. Ku lihat lukanya memerah tidak mengalir darah, tapi membuatnya meringis kesakitan.


"Kamu kejam, Bening,,," masih memegangi lukanya, terus meringis kesakitan. Seperti ada dendam pada ku.


"Bapak yang telah membuat ku seperti ini, juga para siswa disekolah Permata bangsa yang otaknya pada buruk karena di pikiran mereka orang miskin seperti ku layak untuk di bully serta di kucilkan disini. Karena itulah sikapku berubah. Dulu aku masih bisa menahannya karena aku orang miskin sekolah disini dengan beasiswa. Tapi apa yang ku dapatkan disini, cacian dan hinaan bahkan yang ku dapat bullyan, tapi pihak sekolah tutup mata. Jangan salah aku jika sekarang aku begini, karena pihak sekolah tidak ada penanganan"


"Apa kamu lapor pihak sekolah Bening?"


"Apa orang seperti ku akan didengarkan pak? Aku orang miskin? Gembel, anak seorang pembantu? Apa salah jika aku membalas mereka dengan caraku sendiri, hah?!" sentakku dengan melotot kearahnya.


Ku cengkram wajahnya kuat, membuatnya makin meringis kesakitan.


"Awww,,,heassshhhh,,,aaahhh" ringisnya tertahan. Pak Lucky menggapaiku namun hal itu membuatnya terkejut luar biasa.


Aku hanya bisa tersenyum miring kearahnya.


"Kenapa pak, bapak kaget karena bapak tidak bisa menyentuhku di alam mimpi ini?" ejekku dengan senyuman. "Sampai kapanpun" imbuhku.


"Ku rasa pelajaran malam ini sudah cukup. Ingat pak, jika bapak tidak membersihkan namaku besok. Bersiap siaplah, luka itu tidak aku sembuhkan, silahkan bapak coba sembuhkan kalau omonganku hanya bualan"


Cetek, cetek, cetek,,,


Semua berubah...


Pak Lucky kembali kedunia nyata.


Ku lanjutkan perjalananku untuk menemui seseorang...


Blippp...


"Bening, kau kah ini?"


"Benar Tif, ini aku. Kenapa, kamu kaget aku bisa menemuimu disini?"


"Ini seperti nyata"


"Ini memang nyata Latifah"


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


"Gak usah kau pikirkan hal itu. Perlu kau ketahui Tif, setelah kejadian kali ini, aku tidak bisa menolongmu dan juga teman temanmu lagi terlebih dari ancaman Alex, kau telah membuatku kecewa atas semua sikap yang kau lakukan padaku. Itu sangat memalukanku, Tif"


"Maksudmu apa Bening?"


"Tidak ada"


",,,?" Nampak Latifah merenung.


"Senin depan kau akan tahu dari maksudmu. Bersiap siaplah untuk kejutannya"


"Bening, Bening, tunggu. Apa maksudmu?"


Sosokku menjadi samar dihadapan Latifah, hingga aku pun pergi dari alam mimpinya.


Ku temui seseorang lagi, aku ingin bernego padanya.


"Kau lagi, lepaskan aku homo keparat. Bajingan kau Bening bangsat, homo tengik!" umpatnya kasar, geram penuh amarah.


Mulut Alex masih bebas hingga mengataiku, ternyata apa yang ku lakukan kemarin tidak membuatnya jera malah makin menjadi.


*Ckckkk,,, Alex, kasihan sekali hidupmu. Sudah berapa lama kau terjebak di dunia mimpi ini, hem,,," ledekku tersenyum tawar.


"Bukan urusanmu, homo keparat. Bebaskan aku dari sini. Aku bersumpah akan membuat hidupmu dan keluargamu menderita seumur hidup" kecamnya, hanya mulut yang berkoar tapi tubuhnya masih terikat.


"Dasar kau anak pelacur murahan, dasar gembel miskin, mampus kau Bening, blangsak, ha ha ha,,,,"


"CUKUP ALEX. KAU KIRA AKU TIDAK PUNYA BATAS KESABARAN. KAU MENGUJI KESABARAN, KALI INI SUDAH HABIS" geramku sudah tidak bisa ku tahan lagi.


"Baiklah. Kita lihat, seberapa kau akan kuat dari apa yang ku lakukan kali ini, tidak bisa kau bayangkan sebelumnya. Yaa, aku homo, untuk itu,,,"


Rasanya aku sudah tidak tahan lagi atas hinaannya yang mencercaku sejak awal. Bahkan didunia nyata pun sengit sangat membenciku terlebih namaku sudah tercemar.


"Ap- apa yang kau lakukan homo bangsat?" sentaknya kaget matanya membulat, tegang.


"Kenapa Alex, kau jijik?. Kau takut denganku. Aku tidak akan mengigitmu Alex" senyumku tersungging.


"Jangan dekat, homo haram. Ku bunuh kau Bening. Anjing kau Bening Bangsat!" umpat sekali lagi hingga suara menggema.


"Lakukan Alex kalau kau bisa, ha ha,,," tawaku lirih dengan tatapan mengejek. Aku makin mempermainkannya.


Biar Alex mengumpat, menghina serta makin membenciku seperti Riko dulu.


Kali ini sama kejadiannya yang di alami oleh Alex padaku karena sejak awal membenci. Padahal aku tidak pernah mengusiknya.


Banyak hal yang mendasarinya, hingga membuatnya begitu membenciku sampai ketulang tulangnya.


"Bangsat kau Bening! Keparat kau! Aku tidak pernah memaafkanmu seumur hidupku!" serunya kian histeris.


Krek,,,


Ku sobek kaos dalamnya karena sejak awal dia memakainya.


Serta ku buang sembarangan hingga keadaan tubuh bagian atasnya terekspos.


Keringat dingin mengucur dari tubuhnya.


Nafas Alex tersengal, menahan gejolak amarah didalam dadanya.


Matanya makin membulat, tak terima. Tubuhnya makik gemetar saat aku begitu dekat. Bahkan tinggal beberapa inci didepan mukanya.


Hingga hembusan nafas panasnya menerpa wajahku. Ku sunggingkan senyum picik, senyum ejekan penuh kemenangan.


Aku tahu lengannya sedang terluka...


Ku lirik lukanya yang merah, menganga.


Kini tatapanku intens pada Alex.


Dengus kekesalan Alex begitu nyata,,,


"KAU HOMO BANGSAT, CUIIHHHH!"


#bersambung...


----------


Hal apa yang dilakukan supaya membuat Alex jera?


Sb 24/09/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.