158. Kenikmatan yang tak pernah dirasakan.
Bab 158. Kenikmatan yang tak pernah dirasakan.
★★★
Hinaan yang cukup menyakitkan hati.
Ketegaran hati yang cukup diuji keteguhannya sampai dimana kuatnya.
Akhirnya pertahanku jembol juga diruntuhkan oleh hinaan Alex di alam mimpi.
"Cukup kau terus menghinaku Alex. Apa kau pikir dirimu itu lebih suci dari ku?. Kau juga seorang pecundang, sudah banyak yang jadi korbanmu. Kau maniak sex!" tandasku sekalipun ucapanku tidak berpengaruh pada Alex.
Kedua tangannya masih terikat di kedua sisi kursi, begitu pun kakinya juga terikat tak bisa bergerak. Hanya sesekali kepalanya bergoyang, tapi tidak berarti.
Ku sunggingkan senyum miring, ku perhatikan wajahnya dengan seksama, dari ujung rambut sampai kebawah.
"Jangan macam macam kau Bening! Ku bunuh kau kalau berani menyentuhku!" hardiknya jijik menatapku.
Aku semakin tertantang untuk mengerjainya.
Ku sentuh wajah tampannya yang tegas...
"Ckckkkkk,,, oh Alex" senyumku picik menatapnya tajam.
"Anjing kau Bening! Najis aku disentuh oleh mu. Dasar homo laknat! Lepaskan aku! Lepaskan aku!" umpatnya berusaha mengelak dari sentuhanku.
"Percuma Alex" tak terasa air mataku mengalir deras, tapi aku meneruskan aksiku.
Aku tidak peduli segala macam hinaan yang dilontarkan Alex. Aku benar benar muak dengan sikapnya. Juga mulut pedasnya yang membuatku terpukul.
Maka akan ku buat dia menyesali semua ucapannya.
Kini aku tidak peduli lagi, bahkan tentang perasaan Riko sekalipun. Toh Riko juga sibuk dengan dunianya, bersama gengnya.
Jalan satu satunya kini ku akan ku buat Alex...
Dengan senyum mesum aku pun menuju kearah bawah. Tujuanku untuk membuang celananya. Aku ingin tahu reaksinya seperti apa?
Sumpah serapan serta umpatan terus keluar dari mulutnya.
Kreeekkkkk,,,,!
Celana penutup area terlarangnya sudah ku sobek. Ku buang sembarangan.
Kini keadaan Alex seperti bayi. Bayi besar tanpa penutup ditubuhnya proposional.
Mataku berkilat sesaat menatap tubuhnya yang begitu sempurna.
Wajah Alex kini semakin ketakutan dibuatnya karena tidak bisa mencegah apa yang ku lakukan.
Mulutnya terlalu pedas, menyakitkan ditelingaku.
Maka aku tidak akan pedulikan hinaan serta umpatannya. Aku semakin tertantang untuk lebih mengerjainya.
Bahkan saking takutnya, nampak burung kebanggaannya nampak kerdil di antara semak belukarnya yang rimbun.
"Keparat! Anjing! Homo! Makhluk laknat kau! Menjijikan! Enyah kau ke neraka! Homo blangsak. Homo laknat!" umpatnya makin menjadi.
Ku cengkram kuat mulutnya yang pedas, berbisa dengan bibirku. Ku lumat habis.
Seketika Alex terdiam tak bisa berbuat apa apa.
"Hmmm,,,," ku nikmati bibirnya yang merah maron. Ku lumat, dan terus ku lumat.
Alex ingin mengelak, bahkan mengigitku tapi dia tidak bisa menyakitiku.
Bahkan dadanya yang gempal kini ku remas lembut dengan kedua telapak tanganku. Serta dua buah nipelnya ku cubit cubit kecil, ku remas kembali dadanya. Sambil terus ku lumat.
"Nghmmmmm,,," erangnya pelan karena sedari aku melumatnya tanpa ku pedulikan apakah bisa bernafas atau tidak. Hingga saat ku lemah nampak Alex terengah engah.
Aku masih saja mempermainkanya dada serta buah nipelnya yang ranum secara bergantian.
Kini Alex tidak ngos ngosan lagi karena kehabisan nafas.
Tidak ada umpatan lagi yang terlontar karena jika dia melakukannya lagi maka aku akan melumat bibirnya lagi.
"Bagaimana perasaanmu sekarang Alex? Ya, aku memang homo blangsak, aku pantas masuk neraka, tapi aku akan membawamu ikut serta ke neraka!" senyumku terkulum. Terlihat Alex ingin mengucap, namun aku menghalanginya dengan melumatnya lagi dan lagi.
Bahkan kini nafasnya mendengus. Nafas kami saling bertautan, hangat dan makin panas.
Ku lirik ke bawah pisangnya masih dibentuk semula, bobok cantik. Tapi, aku belum ke menu itu, biar ku nikmati ini dulu.
Lumatanku semakin dalam, dalam dan dalam, tertapaan nafasnya makin memanas, nafasnya sesekali tersengal, tatapan bringas ingin membunuhku tapi semua tiada guna bagiku. Aku tidak peduli hal itu.
Kedua tanganku masih aktif didada serta nipelnya bergantian.
"Oughhh,,, aaahhh,,, lep- lepasss,,, aku,,, hhahhhh,,,," erangnya pelan, sepertinya apa yang ku lakukan membuatnya terangsang hebat. Terlebih jiwa Alex jiwa muda, tentu tubuhnya sangat sensitif dalam bentuk rangsangan, sekecil apapun itu. Karena aku merasakan hal itu, jiwaku masih muda dan aku mudah tergiur serta tergoda.
Bukan itu saja yang ku lakukan, melainkan kini pindah sedikit kebawah di area lehernya.
Lidahku ku susuri kebawah, ku elus elus dada bidangnya, ku jilati lehernya, karena tubuhnya berkeringat maka terasa ada asin asinnya, itu sungguh nikmat.
Akhirnya, aku benar benar menikmati apa yang sedang ku lakukan.
Ke endus, ku kecup lembut hal itu membuat tubuh Alex beraksi hebat membuatnya bergetar karena sensasi yang tercipta.
"Kau homo ternikmat pertama yang ku rasakan" erangnya tertahan dengan nafas tersengal menahan gejolak dari dalam tubuhnya yang membuncah.
Kini Alex mengakui kehebatan ku dalam hal riming, bukan hanya dia saja yang jago menakluknya semua cewek yang jadi incarannya. Kini aku bisa meluluh lantakan hati dan perasaan seorang Alex.
Ku sedot dengan kuat, hal itu makin membuat Alex tak terkontrol. Entah berapa sepongan ku lakukan diarea lehernya, hingga nampak merah kehitaman, membekas disana.
Kini area dada yang jadi sasaranku, sepertinya Alex sudah pasrah dengan apa yang ku lakukan selanjutnya.
Ku jilati dada kirinya dulu karena disitu letak hatinya, karena dengan hal yang ku lakukan ingin hatinya tersentuh serta mengenang terus apa yang ku lakukan.
Ku kenyot pelan seperti nenen walaupun pucuknya kecil berwarna kecoklatan.
"Heessshhhh,,,, aaawwwww,,," erangan hebat keluar dari mulutnya, walaupun terdengar lirih tapi hal itu membuatku makin ingin berbuat lebih. Ada senyum terkulum tersendiri karena aku bisa menakhlukkan Alex.
"Awwwwhhh,, heessshhhh,,,,aaahhhhh,,, lepassss,,, aku tidak kuat lagi! Aku tidak tahan,,, awww, haaahhhhh,,,," dengusnya. "Keparat, homo bangsat kau!"
Bahkan kini giliran sebelah kanan, ku buat hal yang sama dengan sebelah kiri, hal sama pun terjadi bahkan tubuh Alex reaksinya makin berbeda. Kelojotan seperti cancing disiram air garam, menggeliat tak karuan.
Bahkan matanya kini terpejam, dadanya turun naik dengan nafas bergemuruh memburu. Kembang kepis.
Alex berusaha menyembunyikan sesuatu di antara selangkangannya. Tak urung sia sia apa yang di lakukannya.
Tetap saja tak bisa di lakukan karena miliknya mencuat, tak bisa mengontrol.
"Homo keparat kau Bening, haahhhh,,," masih tetap Alex menghardikku sekalipun nafsunya tak bisa dikontrol lagi.
Wow! Ternyata pisang milik Alex seperti pisang ambon lumayan besar bahkan bentuknya agak melengkung, sehingga nampak lucu serta menggemaskan. Bahkan hampir sama dengan milik mas Surya bedanya bentuknya melengkung imut.
Aku masih mengenyot nenennya, ku usap usap perutnya yang ditubuhi bebuluan hingga membuat tubuhnya bergejolak, ada desiran yang mengalir deras dalam tubuhnya hingga naik ke ubun ubun.
"KE- PA- RAT,,, KAU,,, HAAAHHH,,,, AWWW,,," umpatnya dengan nafas tersengal. Dengan mata terpejam tapi masih sempat mengumpatku.
Perutnya makin kembang kempis...
Aku ingin tahu sampai dimana kekuatan, seberapa Alex kuat menahan gairahnya yang makin memuncak.
Tengah perutnya yang ada bebulannya ku jilati hingga sampai ke pusarnya yang ada lubangnya.
Kecupan lembut, serta sedotan ku buat, bahkan lubang udelnya ku kilik kilik.
"AN-JING,,,, KAU,,, BE-NINGGG,,,, AAAAHHHHH!" Alex makin kelojotan.
Tubuhku kini condong agak kebawah, ku buat siksaan lahir batin pada Alex, biar Alex lupa akan dunianya selama ini.
"Homo laknat, aku tidak tahan lagi. Aku tidak kuat. Hentikan, hentikan, hentikan. Jangan buat aku seperti ini,,, haahhhh,,, aaaahhhhhh" dadanya makin bergemuruh naik turun.
Ku yakin gairahnya telah mencapai puncaknya.
Benar benar ku siksa!
"Kau,,,!" geram Alex dengan tatapan berkilat. Aneh!.
#bersambung...
---------
Mg 25/09/22.
Komentar
Posting Komentar