159. KETENANGAN.

 Bab 159. KETENANGAN


★★★


Pagi hari yang ceria dan indah ku rasa.


Lalu lalang kendara ku perhatikan lewat di jalan raya.


Aku bersama ayah mengatarkan ku ke sekolah setiap paginya.


Hemat biaya...


"Ayah terimakasih, aku masuk,,, Assalamualaikum ayah" ku salimi ayah sebelum aku masuk tak ku sunggingkan senyum dibalas oleh ayah dan juga dengan senyum hangatnya.


Setelah ke pergian ayah aku pun melenggang masuk kedalam.


Dalam pikiranku aku teringat dengan seseorang. Entah bagaimana kabarnya, karena agak lama aku tidak bertemu walaupun satu sekolah.


"Dek,,," sapa seseorang yang ku hafal suaranya saat aku tengah berada di area parkiran.


Ku cari lalu ku perhatikan sosoknya, nampak pucat seperti sedang sakit.


"Mas Surya,,," jawabku lirih itu melihat keadaan karena takut mengundang kecurigaan para siswa yang melihat karena keakraban yang terjalin. Kemarin saja aku sudah digosipkan tidak baik karena mencium Riko dan kini dekat dengan mas Surya bahkan tanpa ragu ku sebut dengan panggilan embel embel mas.


"Dek maafkan mas dek, aku salah karena telah membuatmu kecewa dan juga sakit hati" keluhnya, meminta maaf.


Padahal selama ini aku sudah melupakannya, tidak ingin mengingatnya lagi, bahkan aku ingin mengubur masalalu bersamanya. Biarlah semua jadi kenangan tersendiri dihidupku karena telah mengenalnya luar dalam.


"Mas Surya tidak perlu meminta maaf, aku sudah memaafkan mas dari dulu. Aku ingin mengubur semua kenangan bersama mas. Biarlah itu menjadi masalaluku yang kelam. Aku lah yang salah, terlalu egois. Mas berhak memilih kehidupan mas sendiri, tidak usah memikir aku, bahkan tentang perasaanku. Lupakan aku. Bukankah aku pernah meminta hal itu pada mas dulu. Mulai detik ini jangan pernah temui aku lagi, aku mohon sama mas. Masalahku sudah banyak, hingga aku tak ingin punya masalah lagi"


"Benar kamu mencium Riko, dek? Karena itu yang ku dengar dari laporan beberapa murid ke kantor sekolah"


"Tidak usah membahas masalah itu. Semua sudah beres, tidak ada masalah lagi, aku telah menyelesaikannya terutama dengan yang bersangkutan. Ada lagi yang mas perlu bicarakan lagi, aku tidak ada waktu"


"Dek, aku minta maaf,,,"


"Aku sudah memaafkan mas. Apa lagi...?" Aku agak kesal dibuatnya.


Nampak mas Surya bingung...


"Mas baik baik saja kan hubungannya dengan bu Laras?"


Entah mengapa aku kepikiran hal itu?, walaupun hatiku seperti teriris mengingat hal itu tapi perasaan itu ku coba enyahkan.


"Ceritanya panjang. Maukan kamu nginap di apartemenku dek, nanti ku ceritakannya semuanya?" ucapnya serius, seperti ada luka yang terpancar dari sorot matanya yang tajam.


Bukankah hubungannya dengan bu Laras baik baik saja bahkan tidak ada masalah. Bahkan keduanya begitu serasi, satunya cantik dan lembut satunya lagi gagah dan tampan.


"Maaf mas aku gak bisa. Maaf,,," ku tangkupkan tanganku, lalu bergegas dari hadapannya karena aku tak ingin menambah masalah.


Aku tak ingin ada masalah lagi karena dekat dengan seorang laki laki karena semuanya telah curiga padaku.


Bahkan sampai di kelasku pun terasa lama, padahal langkahku ku cepatkan.


Sebenarnya aku merasa kasihan. Terutama nasibnya.


Entah apa yang sebenarnya terjadi sekarang antara mas Surya dan bu Laras.


Atau mereka ada masalah, atau mereka putus?


"Bening aku minta maaf" Latif muncul didepan ku saat aku didepan pintu kelas. Kelas belumlah ramai oleh siswa, bahkan aku tidak tahu kemana kawan kawan nya.


"Lupakan saja, kamu tidak perlu minta maaf. Aku salah. Aku juga salah menilaimu" desahku pelan menatapnya sejenak. Aku sudah tidak ingin berurusan dengannya terlebih kawan kawannya.


",,,, Hiks, hiks, hiks,,, kau tidak mau memaafkan aku Bening"


"Siapa bilang aku tidak memaafkanmu. Kau tidak memgerti perasaan sebenarnya saat ini. Aku tanya satu hal sama kamu, jika kamu diposisiku apa yang kamu lakukan, Tif? Apa aku akan melaporkan kejadian yang aku sendiri tidak melakukannya dengan sengaja sehingga membuat aib diseluruh sekolah, begitu"


"Ak- aku,,, minta maaf. Aku akui aku salah"


"Aku sudah memaafkanmu, cukup!" tegasku. "Mulai sekarang jangan pernah mengusikku. Aku tidak peduli lagi sama kamu, jika pun nantinya kamu ada masalah dengan Alex lagi"


Kemudian aku pun melangkah masuk kedalam duduk dikursinya dengan nyaman, ku buka tasku untuk membaca buku yang nantinya akan dipelanjari oleh guru bernama pak Setiawan Hakiki. Dimana mana Setiawan mengingatkan ku pada guru matematika ku pak Dwi setiawan dan pak Lexi mercilli yang telah mencabuli muridnya sendiri yaitu Riko. Entah bagaimana nasib keduanya karena dulu aku memasung mereka didunia mimpi hampir saja aku kelupaan dengan nasib mereka lalu aku bebaskan mereka. Aku tahu dimana keberadaan keduanya. Hingga detik ini tak pernah ku sampaikan pada keluarga Sanjaya tentang beredaan keduanya saat ini. Mungkin tidak akan pindah lagi. Keduanya bersembunyi ditempat yang aman dan jauh dari keramian.


Mungkin aku tak akan cerita tentang keadaan kedua guru cabulku itu, karena keduanya hidup menderita, karena pak Hendra Sanjaya tidak akan pernah tinggal diam, lambat laun mereka pasti ditemukan keberadaannya.


Kelas pun dimulai...


----------


Kini aku menuju ke atas gedung bertingkat, aku ingin cari tahu juga cari ketenangan. Entah mengapa kini aku ingin melihat lihat keadaan lebih mengenal banyak keadaan sekolah pertama bangsa karena selama ini aku tidak kemana mana. Bahkan sangat monoton.


Tentu saja disini tidak ada satu satpamnya, karena disini keamanan nya juga sangat ketat.


Ada beberapa satpam berjaga itu juga untuk keselamatan para siswa juga ada tukang bersih bersih baik kelas maupun keadaan sekolah hingga murid terfokus pada belajar saja, walaupun mereka di ajari untuk menjaga kebersihan.


"Hey mau kemana kau Bening?" tanya seorang satpam tidak ku perhstikan name tagnya di bajunya karena pikiranku fokus pada tempat yang kemarin ku singgahi.


"Mau keatas, mengambil sesuatu yang tertinggal" kata ku beralasan.


Pak satpam mengernyitkan dahinya ragu, juga terlihat heran bercampur bingung. Mungkin selama ini dia berjaga ditempatnya untuk menjaga keselamatan tidak ada seorangpun yang naik, mungkin setelah aku menjelaskan seperti itu maka timbul pertanyaan bagi pak satpamnya.


"Kapan kamu naik keatas nak Bening? Disini para siswa dilarang naik ke dak atas karena berbahaya karena di atas tempatnya tidak aman" ungkap pak satpam menjelaskan sekaligus nampak bingung.


"Kemarin siang pak?" pungkas ku jujur.


Pak satpam melongo mendengarnya. Tentu saja itu terjadi.


"Tidak mungkin, pasti kamu berbohong, karena selama jarang sekali ada yang naik ke atas, kemarinpun aku jaga disini, bahkan baru kali aku ketemu sama kamu" tentu saja pak satpam bersikukuh karena tidak pernah bertemu terlebih baru sekali ini bertemu, dan juga tidak pernah mengijinkan siapa pun murid yang naik ke atas jika tidak ada kepentingan mau pun dalam pengawasan.


"Ya, waktu itu sepi, mungkin pak satpam lagi kemana gitu?"


"Kamu tahu kan aturan nya disini"


"Paham, pak"


"Ya sudah, kembalilah jangan naik keatas, sangat berbahaya sekali"


"Tapi bagaimana dengan barang saya yang ketinggalan, pak?" keluhku beralasan karena aku ingin ketenangan disana.


"Pak satpam, percayalah saya tidak akan bikin ulah. Saya ingin ketenangan saja. Mohon ijinkan untuk saya, saya tidak akan berbuat macam macam pak, please,,,"


"Hupfff,,, baiklah, ku ijinkan hanya untuk mu nak Bening, tapi untuk yang lainnya tidak ku perbolehkan. Tolong jangan bawa teman temanmu ya"


"Iya pak, saya janji tidak akan bawa siapapun. Hanya saya sendiri karena ingin ketenangan. Terima kasih pak. Permisi, assalamualaikum"


Tanpa menunggu jawaban aku pun bergegas dengan cepat menuju ke atas ingin ketenangan  disana, melihat keindahan dari atas gedung. Sungguh menakjubkan pemandangan dari sini.


Walaupun rasa haus ku rasakan tapi hal itu ku abaikan.


Sungguh aku sedang bersantai disini, semilir angin menerpa sejuk.


Tak ada siapa siapa disini...


"Hmmm,,,"


Aku dikagetkan dengan suara deheman, setelah ku amati.


"Kamu... Kenapa ada disini?"


#bersambung...


--------


Sn 26/09/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.