16. Diabaikan
★★★★
Kami sarapan seadanya, aku, Angga dan Putri hanya beli nasi goreng karena semalam tidurku kurang.
Ibu dan ayahku juga paman dan bibiku juga tidak pulang, karena majikannya memintanya untuk menginap karena anaknya sedang sakit.
Aku tidak pernah berpikir siapa anaknya yang sedang sakit. Yang penting boss ibu dan ayahku itu baik dan murah hati karena setiap ibuku pulang selalu membawa makanan serta buah buahan.
Menurut cerita yang ku dengar dari ibuku kalau kedua biasanya itu jarang pulang kerumah karena suatu urusan. Aku bisa memaklumi kalau orang kaya memang kayak gitu, mungkin sedang ngurusi bisnis. Dugaanku.
Rumah tempat ibuku berkerja itu besar juga sangat mewah bak istana. Sebenarnya aku merasa sangat penasaran kayak apa rumahnya itu, yang mirip istana, atau seperti dalam sinetron, mungkin saja tapi menurut ibuku lebih dari itu. Kata ibuku tak ada rumah sebagus itu dikampungku.
Tak ada waktu untuk ikut kerumah boss ibuku karena aku sibuk belajar dan begadang, semua itu aku urungkan, toh suatu saat nanti aku pasti juga akan tau. Ibuku pasti mengajakku lagi.
Putri pamit, sudah berangkat duluan naik angkot karena memang sekolahnya berbeda, tapi putri sekolah di SMP negri.
Tinggal aku dan Angga yang bersiap untuk berangkat sekolah.
"Mas Bening, sekolah sekarang gak rame ya, gak ada Riko dan Raya. Biasanya, mereka bikin onar" celoteh Angga ketika kami naik becak. Aku memilih untuk diam karena bahasannya gak terlalu penting buatku.
"Bukannya lebih baik" balasku cuek. Aku heran dengan pikiran Angga ini. Maunya apa coba? Kalau mereka ada, aku yakin kalau Angga ditindas dengan semena mena. Mereka memang perlu dikasih pelajaran yang berharga yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya, itu setimpal dengan kelakuan mereka yang telah membullyku habis habisan.
"Mas ngelamun apa?" tanya Angga, mungkin merasa dicuekin lama karena aku lebih memilih untuk diam. Mungkin penasaran tak menjawabnya, padahal saat ini pikiranku entah kemana. Tak mungkin aku menceritakan pada Angga, lebih baik aku diam serta merahasiakan semuanya pada Angga.
"Gak kok Ga. Aku cuma kangen sama ibu dan ayahku, kok gak pulang" balasku beralasan. Walaupun sebenarnya aku sudah kangen pada kedua orang tuaku. Sedih rasanya bila tak bertemu mereka, rasanya ada yang kurang. Mereka berkerja demi aku, membiayai sekolahku dan lain lain. Aku tau sekolah disini mahal walaupun aku dapat beasiswa, tapi yang lainnya juga sangat butuh biaya tak sedikit.
Uang yang ku dapat juga sebagian uang jajanku sebagian ku sisihkan untuk ku tabung.
Nantinya aku ingin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, aku ingin kuliah, dan itu biayanya pasti tidak sedikit, jadi mulai saat ini aku mulai menabung dan irit.
Sampailah kami didepan pintu gerbang dengan tulisan yang sangat besar...
Ku hempasan nafasku pelan...
"Kamu ingin melanjutkan kemana setelah lulus nanti, Ga?" tanyaku kemudian pada Angga setelah jeda agak lama, aku tak ingin membahas tentang Riko ataupun Raya lagi.
"Mungkin manajemen mas. Memang nya kenapa mas?"
"Gak apa apa Ga, cuma nanya, he he,,,"
"Oh, kirain apa?. Mas sendiri kalau sudah lulus mau lanjutin kemana?"
"Aku ingin kuliah jurusan pertanian Ga, aku ingin jadi petani sukses. Aku tau ilmu di Jakarta itu beda dengan di Palembang.
Apa disini, ada lahan luas kayak di kampung ya, Ga?"
"Gak tau mas, lagian aku gak minat masuk jurusan itu, terlebih masuk ke lumpur"
"Huh, sombong. Kamu malah dasi yang ingin kamu pakai, kerja dikantoran. Rugi dong kalau petani itu harus membeli beras. Harusnya menjual beras bukan membelinya" cibirku padanya, hanya dibalas melotot sesaat. Toh, yang aku ucapkan banyak benarnya. Padahal dikampung, kakek sudah memberi warisan sebidang tanah pada pamanku, tapi paman dan bibiku milih pergi ke Jakarta, merantau.
"Bener sih, tapi aku gak suka. Aku lebih suka kerja di kantoran, perlente, keren, gak kumuh"
"Maksud kamu aku kayak gembel, gitu?"
"Aku gak ngomong. Mas, ngerasa gitu, ya,,," ekspresi Angga nyegir, ngehina gitu. Sudahlah, buat apa mikirin hal itu.
"Gak juga, tapi Riko sama Raya juga yang lainnya bilang gitu"
"Ye, udahlah. Gak usah pikirin mereka. Tapi,,,?"
"Tapi apa, Ga?"
"Mereka sakitnya kok bareng. Sakitnya juga mirip, mas" Angga seperti memikirkan sesuatu, entah itu apa. Aku memilih untuk diam saja.
"Hm,,, ya, aku gak tau Ga. Mungkin itu teguran Tuhan buat mereka"
"Benar juga, mas"
"Udah masuk, yuk" ajakku, mengakhiri obrolan ku dengan Angga. Ketika kami akan masuk. Aku dan Angga terkejut ketika ada mobil merah berhenti didekatku.
"Hush, itu mobilnya Raya, mas?" bisik Angga didekatku. Tapi, aku tenang saja tak peduli serta memilih untuk melangkah masuk.
"Bening,,," seru Raya dari dalam mobil memanggilku, sedikit membuka kaca mobil, itu pun tidak berani menunjukan dirinya.
Aku hanya menoleh kearahnya, tanpa peduli ataupun menyahutinya.
Setelah ku lihat dengan seksama kalau kondisinya, penuh perban diwajahnya, ia juga menangis terlihat air matanya bercucuran. Matanya terlihat cekung karena kurang tidur, aku tau pasti dia tidak berani tidur, karena jika itu dilakukannya, berarti maut baginya.
"Mas Bening,,," panggil Angga, aku disuruh mendekat karena sudah agak menjauh dari mobil Raya. Bodo amat! Lagian, siapa yang butuh? Raya anak sombong, perlu dikasih pelajaran biar sekalian mampus!.
"Kenapa?" tanyaku jutek pada Angga karena aku tau kalau Raya ingin menyampaikan suatu hal yang penting padaku.
"Raya mau ngomong sesuatu?"
"Aku males. Aku mau belajar. Mau masuk. Lagian, kalau butuh turun, bukannya didalam mobil. Siapa dia? Seenaknya nyuruh, saudara juga bukan. Bodo amat. Gak sopan. Udah aku mau pergi!" pamitku emosi, buru buru aku masuk ke lingkungan sekolah, sedangkan Raya masih diluar. Aku tidak mau berlama lama melihat wajah gadis yang memuakkan itu, yang telah menghinaku habis habisan.
Ada kalanya rasa maaf itu butuh proses untuk memaafkan orang yang telah menyakiti kita, dan ada kalanya rasa maaf itu mudah kita berikan jika itu tidak melampaui batas.
"Mas Bening, Tunggu,,," seru Angga menahanku, mungkin kasihan dengan keadaan Raya, tapi aku tak peduli pada Angga yang mengejarku ataupun mengenai perasaan Raya.
"Beningggg,,, maafkan aku,,, hiks hiks hiks,,," raung Raya dari dalam mobil karena tidak berani keluar dari mobilnya untuk menemui ku. Dia malu dengan keadaannya yang penuh perban kayak mumi. Aku masih mendengar sayup sayup teriakan Raya, tapi aku makin menjauh dari gerbang sekolah.
Sampailah aku di kelasku, padahal di lorong juga koridor banyak yang menatapku aneh, karena aku berlari tanpa peduli Angga yang mengejar dibelakang ku sambil teriak teriak memanggilku. Dasar sinting.
Aku duduk dikursiku dengan tenang. Ada Angga di sampingku, menatapku dengan nafas yang ngos ngosan, aku sendiri sudah tenang nafasku.
"Mas kok gitu?"
"Maksud kamu apa? Kau malah membela orang yang telah menghina juga membullyku. Apa kamu gak punya perasaan, Hah,,," semprotku emosi padanya dengan nafas memburu.
"Kalau kau berada diposisi ku, kau akan merasakan bagaimana rasanya" tak terasa air mataku tak bisa ku bendung lagi. Dikelas sudah ada ada sebagian siswa yang masuk dan memperhatikan kami. Mana mungkin mereka akan iba denganku yang ada mereka mencibirku dan menghujat ku, mereka senang melihatku menderita. Dimata mereka aku hanya seorang anak miskin dan seorang gembel yang perlu dijauhi serta dihina.
"Bukan begitu, mas,,, aku-?"
"Lalu,,," ku usut air mataku, kini aku lebih tenang, aku tak peduli dengan seisi kelasku yang sedari tadi memperhatikanku.
"Mas liat keadaan Raya,,,"
"Apa peduli ku. Sebaiknya aku pindah duduk. Gak sama kamu" aku bergegas berdiri dari duduk untuk pindah.
Angga mencegahku...
"Mas marah sama aku. Mas itu tem-,,,"
Aku memilih untuk diam, tidak pedulikan Angga yang kaget menatapku. Dan betapa bodohnya aku, malah duduk ditempatnya Riko tanpa ku sadari.
Terlambat...
"Itu tempat duduknya, Riko" ingat Angga sebagian besar siswa sudah masuk dan ada yang memperingati ku, aku bahkan tidak peduli, dengan santai aku duduk di kursinya Riko tanpa pedulikan Angga yang mendekatiku.
"Gak peduli. Kalau orangnya komplain, aku bunuh!" kecamku, melotot pada Angga, aku sudah sampai batas kesabaran ku karena sedari tadi Angga terus memancing emosiku, membuat Angga terdiam seketika tak berani berkata lagi, ditempatnya.
"Mas Bening, maafkan aku, karena telah membuat mas marah begini" rengeknya lembut padahal tadi seperti takut. Tentu saja aku tak bisa marah pada Angga karena dia sepupuku. Aku saja tinggal dirumahnya, tak seharusnya aku marah padanya.
#bersambung....
Km 30 september 2021
Pov Soraya
----------
Niat gue untuk menemui Bening malah orangnya begitu marah pada gue karena sikap egois gue karena keadaan gue yang tidak mungkin untuk keluar dari mobil, gue takut ada yang tau keadaan gue sebenarnya, mereka pasti mencibir gue, tak mau hal itu terjadi sama gue.
Bening berlalu begitu saja, keadaan gue saja belum pulih sepenuhnya, yang bisa gue lakukan cuma menangis dan menyesali didalam mobil gue. Entah dengan apa gue harus meminta maaf lagi, tak mungkin malam ini gue tidur karena gue lihat Bening begitu marah.
Takut nanti Bening datang didalam mimpi gue, membayangkan hal itu membuat gue ketakutan setengah mati karena Bening akan membunuh gue di alam mimpi karena gue telah membuat kesalahan.
Gue juga mendengar info tentang pacar gue tidak masuk sekolah.
Rumah gue begitu sepi, kedua orang tua gue entah pergi kemana padahal keadaan gue baru sembuh itupun belum pulih sepenuhnya.
Mungkin keadaan gue sudah membaik, padahal gue butuh dukungan moril untuk mengatasi problem yang selama ini menghantui gue.
Hanya ada para pembantu dirumah gue yang menyediakan segala keperluan yang gue butuhkan. Saudara gue telah pergi keluar negri karena sibuk dengan urusan masing-masing, hingga rumah gue sepi. Sedih rasanya, jika saat gue membutuhkan dukungan tak ada siapa siapa didekat gue.
Makanpun rasanya gue tak berselera, yang ada hanya rasa ketakutan juga pilu, gue hanya menangis, terlebih jika gue tidur, rasanya gue tak ingin tidur, lebih baik gue mengundang teman teman gue untuk menemani. Tidak!? Itu sama saja gue mempermalukan diri sendiri. Jika itu gue lakukan akan membuat gue makin lelah belum juga rasa malu yang gue rasakan karena cibiran teman teman gue. Lebih baik gue tidak melakukan apa apa. Gue benar benar kacau karena tak tau apa yang gue lakukan untuk menghalau perasaan yang gundah gulana ini.
Huahhh,,, hahhhh,,,
Gue menguap menahan kantuk yang tiba tiba mendera. Tentu saja membuat gue panik karena rasa kantuk ini makin membuat gue tak bisa menahannya. Rasanya gue menyerah, tapi tetap berusaha untuk bertahan, menahannya supaya gue terjaga.
Gue tidak boleh tidur! bisik batin gue karena gue menjadi tidak enak rasanya tubuh gue menahan kantuk yang luar biasa mendera gue. Gue pikir Bening disekolah, tidak mungkin dia datang ke dalam mimpi gue disaat ini. Gue gunakan kesempatan ini untuk istirahat atau tidur sejenak, karena tak mungkin menemui gue dalam mimpi dalam keadaan siang hari seperti.
Perkiraan gue salah, karena apa yang gue lakukan itu adalah awal dari malapetaka yang gue alami. Seandainya gue tau sebelumnya gue tidak tidur ataupun istirahat dikamar, lebih baik gue lakukan hal yang membuat gue tidak tidur. Tapi, nasi sudah menjadi bubur dan semua sudah terlanjur...
Akhirnya gue rebahkan tubuh lelah gue karena kantuk tak tertahankan. Gue menyerah, pasrah seandainya gue harus mati hari ini tak apa. Karena keadaan gue memang belum pulih semuanya, wajah gue saja terkadang masih nyeri.
Tak terasa mata gue pun terpejam terlebih keadaan kamar gue yang nyaman dengan AC yang sepoi gue merasa nyaman dan tentram. Gue merasa tak akan ada gangguan saat ini karena Bening masih disekolah. Jadi kesempatan ini akan gue gunakan sebaik mungkin karena nanti malam gue tidak akan tidur, itu rencana gue biar tidak ada gangguan dari Bening melalui alam.
Benar saja, rasa kantuk yang tak bisa gue tahan membuat gue tertidur hingga gue terbuka tabir mimpi, hal itu membuatku makin shock?
Pov Soraya end!
______________
Akhirnya ku putuskan untuk pulang saja karena aku sangat kecewa dengan Angga. Aku meminta ijin pulang pada wali kelas dan sedikit memaksa untuk pulang hingga aku diijinkan untuk pulang terlebih aku sambil menangis.
Akupun naik angkot biar cepat sampai dirumah.
Setelah sampai dirumah, terasa sepi karena tak ada siapa siapa.
Aku pun masuk kamar lalu kunci pintu kamar biar lebih aman ketika aku melakukan apa saja.
Entah mengapa kini aku teringat Riko dan Raya.
Aku tersenyum sekaligus jengkel dengan Raya karenanya hariku jadi rusak.
Entah mengapa, kini aku sering emosi, dan luapan emosiku aku tujukan pada orang orang yang membullyku.
Rasanya aku puas sekali telah menyiksa mereka.
Entah mengapa malah kayak jadi seperti mereka, aku seperti seorang psikopat yang suka menyiksa.
Kini aku duduk bersila di bad milik Angga karena merasa sudah aman dengan keadaan karena tidak akan orang yang menggangu termasuk Angga karena ku tau kalau Angga pulangnya akan sore.
Aku mulai memejamkan mataku dan konsentrasi.
Kini aku harus menemui Raya.
Aku yakin kalau Raya pasti sedang tidur. Dia mengira kalau aku masih disekolah dan sedang belajar. Perkiraan dia salah karena aku pulang dan itu juga karenanya hingga aku harus bertengkar dengan Angga hingga aku putuskan untuk pulang.
______________
Raya pov...
Betapa gue bagai melihat malaikat maut yang sedang menghampiri gue, betapa tidak karena didepan gue dengan jarak setengah meter Bening berdiri menatap gue dengan tatapan tajam, seakan ingin mengambil nyawa gue.
Karuan saja gue sudah terisak karena gue terjebak di dunia mimpi yang tak ada seorang pun yang bisa membebaskan gue.
"Be, Bening,,, maafin gue. Gue tidak bermaksud apa apa. Gue cuma ingin minta maaf pada Lo" rengek gue memelas menjelaskan duduk persoalannya gue datang ke sekolah menemuinya. Tapi yang gue dapat malah Bening marah pada gue dan kini dia menemui dengan tatapan yang membuat gue ketakutan setengah mati terlebih senyumnya yang membuat gue menahan nafas karena ngerinya.
"Gue mohon sama Lo Bening, maafin gue. Gue cuma ingin minta maaf sama Lo, itu saja" jelas gue dengan isak tangis yang terbendung. Tapi Bening seperti tidak peduli, malah kini mendekati gue, rasanya tubuh gue tidak mempunyai sendi karena tubuh gue mendadak lemas karena permintaan maaf gue diabaikannya.
"Raya kamu pikir aku percaya. Orang sepertimu mana mungkin sadar...
Kamu itu sama saja dengan Riko juga yang lainnya, sama sama sombong" ucapnya membuat gue makin tak berkutik.
Gue tak tau harus ngejelasin gimana lagi sama Bening, seperti tidak akan memaafkan gue.
Tamatlah riwayat gue di dunia mimpi ini...
Hal itu membuat gue makin ketakutan...
"Bening, gue mohon maafin gue. Lo telah bikin keadaan gue seperti ini
Gue sadar klo gue salah Lo, maafin gue Bening" tangis gue semaki menjadi, bahkan gue sampai bersujud dihadapannya karena tidak ada hal lain yang gue lakukan selain merendahkan diri gue dihadapannya supaya Bening memaafkan gue. Karena ini jalan satu satunya yang bisa gue lakuin...
"Kamu pikir aku akan iba sama kamu Raya. Kau telah salah berurusan dengan orang Raya.
Sudah berapa korban kamu disekolah itu, hah?" bentaknya, sepertinya emosinya muncul membuat gue yang kini tertunduk sujud makin ketakutan.
"Pantaskah orang sepertimu di maafkan?"
"Maafkan gue Bening. Ampuni gue, gue memang salah. Kini gue sadar, apa yang gue lakuin itu salah, terlebih sama Lo" gue mengaku karena gue memang salah, terlebih gue selalu ngebantu pacar gue buat orang orang yang tidak gue sukai maupun pacar gue yang sekolah disini supaya tidak betah dan keluar dari sini hal itu gue lakukan sudah lama.
Semua hal buruk yang pernah gue lakukan kini bagaikan rekaman yang diputar ulang, membuat gue makin bersalah serta terisak pilu...
"Gue akui, gue salah. Gue gak akan ngelakuin hal itu lagi Bening, gue janji, gue bersumpah gak akan ngusik hidup Lo" gue sampai gak berani natap wajahnya, karena wajahnya pasti lebih seram dari hantu yang ada di film horor dan sekarang gue sudah ketakutan setengah mati.
"Asal kamu tau, wajahmu tidak akan bisa sembuh Raya. Sebenarnya aku kasihan sama kamu, tapi kamu tidak memberi pilihan sama aku. Aku terpaksa melakukan ini semua sama kamu.
Sebenarnya, aku telah memberi kesempatan, apakah kamu bisa berubah. Tapi, kamu terus dan selalu menghinaku. Batas kesabaran sudah habis Raya" gue bisa melihat kesedihan dari pancaran matanya yang menatap gue tajam ada kesedihan yang mendalam.
Keadaan gue, katanya tidak akan sembuh sekalipun wajah gue di opersi, karena gue tau ketika gue di operasi keadaan gue sedang tidur karena pengaruh obat bius yang sangat kuat, mungkin di saat itulah Bening ngelakuin rencananya buat ngegagalin operasi gue. Kini gue ngerti....
Sekarang apa yang harus gue lakuin, terlebih supaya Bening memaafkan gue...
Semua cara telah gue lakuin tapi semua itu tak membuatnya memaafkan gue...
Gue masih bersimpuh didepannya dengan muka tertunduk dengan menangis tersedu sedu. Hanya menangis serta menghiba yang bisa gue lakukan.
Gue hanya bisa diam ditempat gue, air mata gue terus bergulir.
Mungkin inilah saatnya kematian datang menjemput gue karena Bening tidak mau memaafkan gue.
Gue hanya bisa pasrah, disaat detik detik Kematian gue tidak ada bakal ada orang yang tau sekalipun itu orang tua gue, karena kematian gue melalui mimpi. Hanya Tuhan yang Maha Tahu!? Entah mengapa di saat saat seperti ini gue teringat dengan Tuhan, bahkan selama ini gue seperti melupakan-NYA.
Setelah gue tunggu cukup lama tak ada reaksi dari Bening seperti membiarkan gue saja.
"Bening, gue mohon maafin gue" rintih gue sekali lagi. Kini gue liat mukanya tidak lagi seram seperti di awal. Paling tidak gue bisa bernafas lega, gue bisa aman, sementara.
"Raya, aku pengang janjimu. Jika kau mengusik ku lagi, aku pastikan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit!" ancamnya dengan tatapan tajam ketika gue melihat hingga gue tak berani lama lama menatapnya.
"Iya, iya,,, gue janji Bening-!"
"Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui. Aku tidak suka kamu ucapkan Lo gue, aku berharap kamu bisa merubahnya!" tegasnya, gue tak bisa berbuat banyak selain mendesah berat.
"Baiklah. G- gu,,, nghmmm,,, a- ak- aku akan merubahnya,,,,h" katanya dengan gemetar karena gue gak mau bikin kesalahan lagi karena itu akan berakibat fatal buatku, yaitu kematian.
Cetek, cetek, cetek...
Terdengar hentikan jari tiga kali, hal itu membuatku seperti terbawa sebuah arus hingga membuat gue memejamkan mata karena mendadak kepala gue menjadi pusing tentu saja mata gue pejamkan.
Setelah ku buka mataku, ku dapati aku masih berada di tempat tidurku. Keringat membasahi tubuhku padahal kamarku ada ac-nya.
Mulai saat ini aku tidak akan ngomong Lo maupun Gue, aku janji sekalipun itu dengan teman maupun siapapun itu....
Janjiku!
Raya pov End!
#bersambung....
Mg 10 Okt 2021
Komentar
Posting Komentar