160. NANGGUNG.

 Bab 160. NANGGUNG


★★★


Desahan pelan darinya...


"Kenapa kamu juga ada disini?" tatapannya penuh selidik.


"Cari ketenangan" jawabku singkat, tak ingin menghiraukannya.


"Bukankah hidupmu tidak terganggu" cercanya lagi.


"Menurutmu. Tapi aku tidak. Gegara ciuman kemarin aku kena imbasnya" sungutku kesal.


"Bukankah semua sudah kamu bereskan. Aku tahu kamu orangnya tidak pernah menyerah"


"Sudahlah Riko. Aku mau kembali"


"Tunggu"


"Apalagi?"


"Banyak hal ingin ku tanyakan"


"Aku tidak ada waktu. Aku tidak ingin kena masalah lagi seperti kau menahan dulu" aku berbalik karena tak ingin kena masalah serta kena hukum dari wali kelasku atau guru bidang study.


"Sebentar,,," cegahkan lagi, mengejarku.


Naas bagiku...


Riko menarik tanganku kencang, aku tak bisa menahan oleng tubuhku karena ditarik kuat olehnya.


Tubuhku ditangkapnya, membuatku tak terjatuh kebawah.


Riko mendekapku bahkan mukaku begitu dekat dengan mukanya.


Kami sama sama berdiri, Riko menatapku intens dengan senyumku.


Dadaku berdebar, hingga tubuhku bergetar hebat.


Cuuupppp!


Riko melumat bibirku hangat, melumatnya dalam  penuh perasaan.


Aku sampai terbawa suasana, hingga aku tersadar dengan keadaan. Mukaku sudah tentu seperti udang rebus.


"Bibirmu tetap manis, seperti saat pertama aku menciummu, Bening" senyumnya mengembang, penuh kemenangan.


Tentu saja rasanya aku sangat deg-degan, buru buru aku bergegas setengah berlari meninggalkan nya sendirian. Saat ku toleh masih saja tersenyum cool, senyum yang sungguh mempesona bahkan dikasihnya sarangheo kearahku.


Ku percepat langkah untuk turun, keadaan sedikit lengang, aku harus segera ke kelasku tak ingin kena masalah lagi.


----------


Flash back!


"Ha ha haaaa,,,! Ternyata kamu dengan mudah terangsang alias SANGE, Alex. Ckckckkkkkk,,, dasar muna kau,,," cibirku melihat pisang ambonya mencuat tak bisa disembunyikannya lagi.


"Anjinggggggg,,, kau,,,,!" geramnya, tubuhnya berkeringat karena amarahnya meluap.


Hal itu malah membuatnya makin terlihat seksi, bahkan aroma keringat tercium enak, macho, maskulin, campuran cologn.


Plaaakkkk!


"Cukup! mulutmu perlu ku sumpal Alex!" geramku karena sedari tadi berisik melulu.


Ku mendekat kearah mukanya, tadi dia juga meludahiku kini giliranku untuk membuat hal seperti yang telah di lakukannya.


"CUIIHHHH,,,! Bagaimana, kau mau marah, silahkan! Sekalipun kau ku bebaskan kau tidak akan kemana mana, kau tetap di dunia mimpi, tidak akan ada yang menolongmu"


Tentu saja muka basah ludahku. "Kau kira aku tidak berbuat lebih disini. Kau tidak bisa berkutik di alam mimpi ini, Alex"


"Kau manusia tidak punya hati, Bening!"


"Kau anggap dirimu punya hati dengan merusak anak gadis orang, merenggut keperawanannya, serta mengancam mereka. Berapa banyak cewek yang telah jadi korbanku, kau perawanin. Sedangkan aku tidak pernah mengusik kehidupan siapapun, bahkan aku jadi homo tidak pernah merugikan orang lagi, tapi kenapa kau selalu mengusik hidupku. Toh, sekarang aku sudah tidak peduli lagi dengan para cewek kelas dua belas, jika pun kau akan mereka tidak perawan semua aku tidak peduli lagi. Mereka memuakan semuanya, seperti kau juga sangat memuakan, Alex!" dengusku ke mukanya, ku cium bibirnya merah maronnya, ku lumat, ingin aku mengigitnya. Baiklah akan ku coba...


"Hesshhhh,,," ringisnya saat aku memulai aksiku. Lalu ku lepas dan menatapnya.


"Bagaimana, Alex? Bisa ku lakukan untuk membuat bibirmu luka, atau kau menurut saja? Sekali kau membuat kesalahan, maka kau akan rasakan sendiri akibatnya. Mengerti!"


Alex hanya bisa pasrah saja, matanya mengisyaratkan berkedip, tandanya nerima.


"Bagus, nikmati saja permainanku, Alex. Bukankah kau sange tadi, saat dadamu serta perutku ku service, belum lagi adik kecilmu, pasti belum pernah di manjakan oleh cewek manapun, bukan" senyumku miring kearahnya dengan tatapan tajam.


Cetek,,,


Tangan Alex kini terbebas, bibirku sudah mendekati dibibirnya hingga hembusan nafas saling tertaut, hangat.


"Hmmmm,,," gumamnya gemas, kedua bahuku diraihnya sedikit kasar, bahkan dilumatnya duluan bibirku. Hangat, penuh perasaan bukan hanya itu kini ku rasakan debaran yang tak biasa ku rasakan dengan hatiku.


Tidak!


Aku tidak boleh menggunakan perasaanku. Aku tidak boleh memiliki rasa dengan Alex. Tapi, ciuman ini, ciuman yang dilakukan oleh Alex penuh dengan perasaan.


Bahkan salivanya kini telah masuk perlahan hingga secara naluri aku tautkan, hingga kami bergelut saliva. Aku tidak merasakan hal seperti ini sebelumnya dan ini sungguh luar biasa dasyat.


Anganku sampai melayang layang dibuatnya, Alex memang sungguh luar biasa dalam ciuman, bahkan ini ciuman ter-hot yang pernah ku rasakan seumur hidupku. Bahkan ciuman pertama yang diberikan oleh Riko tidak ada apa apanya.


"Bibirmu rasa manis sekali Bening, aroma bunga kenanga. Aku tidak pernah merasakan mencium bibir semanis milikmu, bikin nagih" aku-nya, seperti jujur pada dirinya.


Bahkan cukup lama Alex melumatku, ku biarkan dia menikmatinya dengan puas dan buas.


"Hemmm,,, Bening, ini manis sekali, hemmm,,, aahhhh,,,! Hemmmm,,," Akex terus dan terus melumat bibirku, mengilik lidahnya, menggelitik rongga, saling bertautan.


Nafasnya kian memburu, terengah engah...


Tangannya mulai bergerilya di dadaku, lalu meremasnya pelan, penuh rasa tak hanya itu saja, pucuknya pun di elus pelan, dicubit cubit kecil membuat darahku berpacu, naik kepuncak sampai di ubuu ubun balik lagi dengan derasnya hingga membuat nafasku tersengal sepertinya juga. Hingga kami sama  megap megap.


Lumatannya dilepaskan, ditariknya pelan tubuhku, lidahnya menyusuri leherku, di endusnya penuh nafsu, tidak hanya sampai disitu, ku rasakan perlahan kecupannnya, biasa, makin dalam.


Cuuupppp!


Kissmart yang penuh perasaan dilayangkan oleh Alex. Bahkan dengan berani, kaosku pun dilepaskannya.


Masih bermain main di leherku, dikecupnya dalam dalam seakan sebagai tanda kepemilikannya, tak ada yang boleh memiliki selain dia.


Entah berapa banyak jejak yang ditinggalkan disana. Tangannya juga masih aktif meremas dadaku, mencubitnya bergantian, kadang bersamaan.


"Ahhhh,,, hessshhhh,,,!" erangku pelan, aku tidak mau suaraku sampai keluar karena rasa nikmat yang tak bisa ku kendalikan lagi.


"Bagaimana Bening, siksaanku. Bukan hanya kamu yang bisa menyiksaku. Tapi aku juga bisa melakukannya. Tolong lepaskan kakiku, ku mohon,,," tatap sayu, penuh permohonan. Hal itu membuatku luluh dihadapan nya.


"Tidak untuk saat ini" desahku tertahan, karena aksinya dihentikan padahal rasanya itu luar biasa.


"Ku mohon, aku tidak bisa bebas bergerak. Kamu bisa melakukan apa saja atas diriku, kamu bebas melakukan apa pun padaku. Tapi, tolong, bebaskan aku dulu" rayunya, nafasnya juga memburu karena sange. Alex mengalami apa yang ku rasakan saat ini, gairah yang meletup letup, memuncak.


Tapi, entah mengapa aku belum begitu yakin padanya.


Ragu, masih ada dihatiku membuatku diam sejenak sambil ku perhatikan wajah tegasnya, ada senyum yang menghias. Senyum cool yang membuatku lupa sejenak dengan sekitarku bahkan aku sampai tidak menyadari sedang berada dimana sekarang.


"Kamu masih ragu, Bening" yakinnya dengan anggukan, bahkan senyumnya nampak tulus.


"Kemarilah, kamu bisa rasakan debaran dalam dadaku, kalau aku tidak pernah membohongimu" lanjutnya, kini merengkuhku dalam dekapan hangatnya, bisa ku rasakan debaran dadanya serta detak jantungnya yang berpacu, bahkan nafasnya berat serta sesekali tersengal menahan golakan didalamnya.


"Kamu masih tidak percaya?" kedipnya, menyakinkan. Hingga rasa keraguanku agak memudar.


"Bisa ku pegang ucapanmu"


#bersambung....


---------


Sn 26/09/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.