161. TERLALU MENYAKITKAN.
Bab 161. TERLALU MENYAKITKAN
★★★
Lanjut...
--------
Cetek, cetek...
Kaki Alex kini telah lepas, kakinya telah bebas begitupun kursinya ikut lenyap.
Nampak senyum Alex mengembang pancaran matanya menunjukan rasa terima kasih yang mendalam, bahkan berdiri pun tidak menyadarinya, bahkan pisang bulan sabitnya nampak mengacung sempurna dihadapanku. Tidak malu lagi ataupun marah juga amarah yang meluap.
Aku tidak mengerti tentang perubahan sikap Alex yang begitu drastisnya seakan sosok Alex sekarang sungguh sangat berbeda dari sebelumnya.
Nampak lebih hangat, kalem, cool penuh pesona dan macho, bahkan ketampanannya makin terpancar sempurna. Aku semakin mengagumi sosoknya yang begitu sempurna. Terlebih itunya. Homo mana yang tak tergiur dengan sosok Alex yang super ganteng, tajir lagi. Menurutku homo munafik serta buta bila tidak meleleh lihat bodynya terlebih.... Kikikiii....
"Sekarang kamu bebas Alex, tapi tidak kali ini aku membebaskanmu dari alam mimpi ini. Aku perlu memikirnya" desahku lirih. Rasa yang tadi menggebu sekarang perlahan mengedur tapi milik Alex masih saja ngaceng di antara paha kokohnya, terlebih kakinya yang ditubuhi bebuluan lebat, bikin ngiler saja. Rasa itu ku enyahkan, tak ingin larut dalam perasaan yang makin membelengguku. Malah aku yang suka dan jatuh cinta dengan Alex bukan sebaliknya.
"Sekarang terserah apa yang ingin kamu lakukan, lakukanlah Bening, aku pasrah" Alex merentangkan tangannya pasrah bahkan senyuman nampak mengembang seakan tidak ada beban.
Ku hempaskan nafas pelan, ku tatap dengan selidik, mungkin pikirannya lagi error.
"Al- Alex,,, tu-tunggu dulu, ak-aku,,, minta maaf,,,"
Entah mengapa aku malah grogi sendiri, malah merasa tidak enak dengan sikapnya yang kini terlihat biasa.
"Buat apa?" potongnya cepat, agak heran dengan sikapku yang berubah.
"Al, aku tidak bermaksud melecehkanmu. Maaf, aku telah salah melakukan semua ini padamu. Maaf, aku salah"
"Hey, kamu tidak salah. Kamu tidak perlu minta maaf seperti ini. Kamu berhak melakukan ini padaku, karena aku punya kesalahan sama kamu selama ini. Telah membullymu, menghinamu, melecehkan dengan mengataimu. Aku tahu posisimu seperti apa? Jika aku diposisimu mungkin aku tidak ingin hidup lagi. Kini aku menyadari semua kesalahanku. Maka untuk itu aku terima semua hukuman yang kamu berikan ini" tatapan Alex kini meredup, wajahnya sendu, ada rasa sedih disana. Rasa ketegaran yang dimilikinya selama seakan tiada lagi, yang ada hanya RAPUH.
"Bening,,," Alex merengkuhku dalam pelukan hangatnya, bisa ku rasakan debaran dadanya, detak jantungnya yang tak beraturan, bukan karena nafsu, melainkan kepedihan.
"Maafkan aku, maafkan aku atas sikap ku selama ini, aku sangat menyesal telah menyakitimu" lirihnya ditelingaku. Ada isakan lirih ku dengar, bahu kokohnya terguncang.
Semula aku ragu untuk membalasnya, aku masih pasif terdiam, hingga perlahan aku pun mulai lingkarkan tanganku membalasnya.
"Aku memaafkanku, Al,,," bisikku dengan dada bergemuruh, penuh haru.
"Terima kasih" balasnya berbisik, makin mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak pernah merasakan rasa kebahagiaan seperti yang ku rasakan saat ini, saat aku sedang memelukmu seperti ini, Bening" aku-nya, entah itu kejujuran dari lubuk hatinya atau hanya perasaan sesaat. "Boleh aku mencium kembali, bibirmu sungguh manis sekali, rasanya,,,"
Tak bisa ku tahan lagi perasaanku untuk itu, terlebih ciuman Alex begitu hot menurutku.
Ku tatap mata sembabnya, ku yakinkan kalau aku memperbolehkannya, karena ingin merasakan bibirku yang terasa manis, menurutnya.
Dipegangnya bahuku lembut, hingga perlahan bibir Alex mendekat, matanya mengisyaratkan ijin kembali. Maka ku balas, dia pun tanpa ragu lagi melumatku pelan. Intens, penuh perasaan hingga bibirku terbuka, salivanya masuk, tertaut hingga saling tukar saliva. Melumat lagi, seakan Alex seperti tak puas melumat bibirku. Benarkah bibirku begitu manisnya, menurut Alex? Entahlah,,,,? Aku aku tersenyum dalam hati membayangkan hal aneh itu. Bahkan jika memang terjadi. Nanti akan ku buktikan serta ku tanya pada yang lain ketika nanti mencium bibirku apa benar benar manis. Lalu manisnya seperti apa, gula, madu atau,,,?
Flash back end!
----------
Seperti yang diminta oleh mas Surya, aku pun menemuinya serta menunggunya di dekat kantor sekolah karena masih ada urusan.
Hingga nampak mas Surya keluar dengan wajah kusut seperti biasa, saat tadi pagi tadi aku bertemu. Katanya mas Surya ingin cerita banyak tentang yang di alami, itu terlihat jelas dari wajah kusutnya, kucel bahkan seperti kurang tidur.
Tapi, entah mengapa pikiranku malah tertuju pada Alex. Alex! Aku belum juga membebaskannya sampai detik ini.
Entah kapan aku ingin berkunjung kerumahnya Alex ingin melihat keadaannya, juga keluarganya pasti sangat memprihatinkan.
"Kami mikirin apa dek?" tanya mas Surya setengah berbisik itu pun sambil melihat keadaan.
"Eh pak Surya, mau pulang pak. Eh,,, lha ini Bening kan,,," senyum wali kelasku pak Lucky, jelas sekali kalau ada rasa kecut terlihat, senyumpun tidak tulus seperti dipaksa.
"Ngapain kamu disini Bening?" ulasnya rada heran karena berada di area kantor, sedangkan untuk parkiran para guru dan stafnya kisaran limapuluh meter, sengaja aku nunggu mas Surya kelar urusannya.
"Ehmmm,,,," ingin akue jawabnya. Tapi keburu...
"Tadi saya yang manggil Bening kesini, untuk nemui saya pak Lucky" jelas mas Surya supaya tidak timbul rasa curiga.
"Ohhh, saya kira ada masalah apa" namun pak Lucky seperti ragu bahkan menaruh rasa curiga itupun terlihat dari sorot matanya.
"Ehh, gimana luka pak Lucky, sudah sembuh" pancingku, ingin tahu reaksinya karena ku yakin luka dibibirnya tidak akan bisa disembuhkan.
"Maaf pak Surya, saya permisi duluan,,," pak Lucky menjadi kikuk setelah ku tanyakan tentang lukanya.
Syukurin!
'Emang enak, rasain lho, makanya jangan pernah main main denganku' bisik batinku sembari tersenyum memandang kepergiannya. Nampak pak Lucky makin ketakutan dengan tatapan tajamku kearahnya bahkan tidak berani menatapku lagi. He he heeee....
"Kok kamu senyum senyum gitu dek?" pungkasnya melihatku tersenyum simpul tapi tak ku jawabnya. Nanti.
"Ayo mas. Atau aku berubah pikiran,,," desakku tak ingin berlama lama karena waktu terus berlalu.
"Kenapa toh dek kok nyuruh cepet cepet?" senyum tulus diberikannya. Namun, rona dimatanya tak bisa disembunyikan kalau ada duka begitu mendalam.
"Iisshhh,,, sudahlah mas, ayo cepet" sungutku, padahal hanya pura pura. Lihat ekspresinya yang tergesa karena takut aku kecewa terlebih membuatku marah, sumpah,,, hanya tertawa dalam hati.
Mas Surya bergegas kearea parkiran mengambil motornya, ku buntuti sampai aku membonceng dijok belakang.
"Pegang yang kuat" perintahnya. Aku tahu maksudnya, pasti akan ngebut.
Benar saja saat berada dijalan raya, maka mas Surya pun ngebut tak terkontrol hingga mau tidak mau aku pun memegang erat pinggang kokohnya.
"Pegangan yang kenceng dek,,," serunya tertahan diterpa air yang menerpa. Hingga akupun dengan agak berat hati melingkar kan tanganku memegang erat untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi, semisalnya kecelakaan.
Sesampainya di aparteme, mas Surya masuk sedikit mengacuhkanku.
Tapi tetap tersenyum seperti biasanya...
"Dek masuk,,," sikapnya terlihat biasa.
"Kalau haus minum, aku mau mandi dulu,,," sikap sedikit berubah. Tapi karena permintaannya aku kesini karena ada hal yang akan dikatakan.
Lengang,,,
Masih ku dengar sayup gemericik air dari arah kamarnya karena pintunya tidak tertutup.
Tergelitik rasa penasaran hingga tanpa sadar ku langkahkan kaki kedalam.
Benar saja, pintu kamar mandi agak terbuka sengaja dibiarkan, mungkin.
Kenangan masa yang lewat tergambar nyata didepanku. Dikamar mas Surya semua gambar bagai layar bioskop yang pernah ku tonton, hingga ketemu mas Surya sampai terjadi pertengkaran hebat bukan itu saja bahkan saat tidak menepatinya janjinya, memilih pergi dengan bu Laras, rasanya sayatan itu kembali menorehkan luka.
Sakit rasanya dihatiku, dadaku bergemuruh hingga ku temui didalam alam mimpi hingga puncaknya aku tak bisa ku kontrol lagi. Hingga...
Air mataku mengalir tanpa terasa...
"Dek, kenapa kamu nangis?"
Ku tatap tajam mas Surya dalam keadaan...
Deg!?
#bersambung....
-----------
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Ikuti kisah selanjutnya,,,?
Sl 27/09/22.
Komentar
Posting Komentar